Monday, 11 February 2008

Topeng Itu Nempel

"Hah? Masak sih kamu lulusan TN?"
"Iyaa, udah kecil, suka ketawa-ketiwi, jago masak lagi!" sambung yang lain.

Apa hubungannya tubuh yang kecil, tawa, dan memasak dengan TN?

"Nah, lulusan TN dalam bayangan kalian gimana?" tanyaku balik.
"Hmm, yah, paling gak tingginya 170, badannya kekar, ngomongnya dikit dan tegas kayak tentara."
"Iya, iya. Lah, aku pikir kamu lulusan sekolah kepribadian! HuakakakakK!"


Saya ikut tertawa. Saya anggap saja kata-kata mereka pujian. Anak yang menurut mereka tak terkategori sebagai lulusan TN ternyata bisa lulus saringan dan sekolah di sana selama tiga tahun. Tapi kata-kata mereka membuat saya berpikir. Seringkali kita menggeneralisasikan obyek sesuai dengan imej umum yang ada. Lupa bahwa setiap orang adalah sosok yang unik.

"Eh, jangan salah, liat Bang Siagian. Gak tampak bataknya sama sekali!"
"Hoo iya! iya! Kelamaan di Jepang kau, sudah lupa jati diri Batak!"
"Iya loh. Aku baru nemu orang Batak yang bersuara lembut."
"Wahh jangan-jangan kamu gak bisa survive klo balik ke Medan nanti!"
"Woo, jangan salah. Liat si Sunu, kalau gak kenal, mana tau kalau dia dari Jawa! Begitu ngomong langsung 'menggelegar'! Hahaha" si abang melempar umpan.
"Bener loh, Sun. Orang Jawa tuh dalam bayanganku kayak Pak T.O. Selalu mengalah. Ya sudahh kalau tidak ada yang mau ambil, saya saja yang ambil. Ya sudah, gitu saja kok repot." si Uda malah menirukan kata-kata dan logat pak T.O.

Teteh, pak dosen, dan si Mbak terkekeh-kekeh.

"Iya deh. Saya bukan tipe orang Jawa yang menurut kalian selalu alon-alon waton klakon, nrimo, suka mengalah, lembut dan medok. Tapiiiiiiiii kalian lupa kalau saya ini orang Jawa Timur. Boleh dong ceplas-ceplos atau nyolot dikit!"

Percakapan ini memberikan bukti hipotesis dugaan saya di atas. Tapi lagi-lagi saya teringat, di kota kelahiran saya pun percakapan seperti ini pernah terjadi.

"Sun, kamu bukan asli sini yah?"
"Woi, enak saja. Asli lah. Bapak Madiun, Ibu Ponorogo. Kok ngomong gitu?"
"Lah, kamu klo bicara aneh sih."
"Misalnya?"
"Untuk mengatakan 'memang begitu' kamu bilang 'pancen ngono'..."
Saya baru sadar.
"Oh iya yah. teman-teman bilangnya 'terah ngono' yah..." saya manggut-manggut dalam hati.


Itu terekam setelah rapat OSIS ketika kelas dua SMP. Waktu mudik tahun lalu, saya mengalami pertanyaan serupa.

"Masnya bukan orang sini yah?"
"Loh, asli, Mbak."
"Logatnya aneh."

Saya tersenyum. Kata-kata itu bukan pertama kali bagi saya. Oh iyah. Saya pernah menginap di Malang selama satu minggu. Waktu itu ada acara khitanan kakak sepupu saya. Saat itulah pertama kalinya saya berada di tempat asing tanpa keluarga. Soalnya ayah dan ibu langsung kembali ke Ponorogo pada hari kedua. Saya merasa aneh dengan percakapan yang terjadi dalam rumah. Meskipun saya paham kata-kata umum yang dipakai dalam bahasa Jawa, saya tak bisa menghindari rasa terkejut.

"Mbak kolahe ning ndi?"
"Wah, nok kene gak onok kolah."
"Mosok? eneke ning ndi?"
"Ning cedak kali"
Terjemahannya kurang lebih begini.
"Mbak, kamar mandi dimana?"
"Wah, di rumah ini gak ada kamar mandi"
"Masak? Adanya dimana dunk?
"Di dekat sungai"

Akhirnya kesalahpahaman ini pecah saat saya menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Kamar mandi di Malang di sebut 'jeding', sehingga ketika saya mengatakan 'kolah' kakak sepupu saya menyangka saya menanyakan kolam. Selama satu minggu itu saya belajar mengenai budaya yang berbeda untuk pertama kalinya. Lalu tanpa saya sadari logat dan kata-kata yang terpakai, ikut terbawa sebagai topeng baru saat saya pulang.


Sekarang saya berada di Jepang. Mau tak mau, di muka saya sudah menempel topeng bernama 'lulusan TN', 'orang Jawa', 'Orang Indonesia' dan juga 'Orang Islam'. Suka atau tidak, orang akan memandang diri saya dari topeng-topeng besar yang terlanjur menempel. Nilai-nilai, pandangan umum, atau kesan yang ada dalam orang asing di sekitar saya akan melihat saya bersama topeng-topeng kasat mata yang saya kenakan. Kalau saya berbuat sesuatu yang buruk, membuat kerusakan, kekecewaan, kerusuhan, kesedihan, otomatis imej orang-orang yang punya topeng sama dengan saya akan hancur. Seketika saat topeng yang saya kenakan tercoreng atau pecah.


Banyak topeng yang ada pada saya tidak terbaca dengan seharusnya. Hanya saja, saya tak ingin topeng terakhir yang saya sebutkan di atas retak oleh ulah diri ini. Di negeri asing ini, saya berharap mampu mengenalkan keindahan topeng itu sehingga lebih banyak orang yang rindu dan berbahagia memiliki, memeluk, juga bangga mengenakannya. Semoga...


**TN : (SMA) Taruna Nusantara

2 comments:

sachroel said...

wuahahhahahaa lucu.....
"bukan asli sini ya mas?"
wekekekek....emang nya turis.

Kujaku said...

^_^;
beginilah nasib orang internasional, gak bisa ngaku2 ke salah satu wadah.-halah- Btw, ada yang mengakui logat bahasa Jawaku itu logat Pekalongan.

hihi