Tuesday, 19 February 2008

Yugo, Tito, Kosovo

Pertama kali telinga saya mendengar nama negara ini adalah saat duduk di bangku kelas 5 SD. Saat saya mulai akrab dengan pelajaran sejarah dan buku-buku. Saat saya terpikat oleh kemahiran guru IPS menerangkan tautan pemikiran antar negara. Saya merasakan sesuatu yang khusus dengan negara ini. Kesan baik dan simpati saya rasakan begitu tahu bahwa negara ini mendukung usaha perdamaian dunia. Ya. Yugoslavia tercatat sebagai salah satu pendiri GNB tahun 1961. Apalagi presiden waktu itu namanya sama dengan guru matematika sekaligus wali kelas sewaktu kelas satu SMP: Tito.


Namun saya baru tahu bahwa Yugoslavia memendam konflik etnis selama ratusan tahun.

Yugoslavia terpecah menjadi Slovenia, Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro dan Macedonia pasca perang.Satu etnis satu negara. Pemerintah komunis pernah berencana membentuk pemerintahan otonomi Kosovo tapi kandas tanpa sempat diikrarkan. Etnis Albania yang tinggal di Kosovo mendapat perlindungan ketika Tito memerintah. Tahun 1967 beliau menggusur Alexander Rankovic, seorang pejabat sentral Serbia yang dibenci di Kosovo. Atas jasa Tito inilah populasi Albanian meningkat dari 64% menjadi 71% dalam 4 tahun. Kondisi berbalik ketika Tito meninggal tahun 1980. Milosevic sebagai pemegang kekuasaan pasca Tito banyak menggunakan kekerasan untuk mengatasi perpecahan.



Masih jelas terbayang kisah tragis Bosnia-Herzegovina, dan kini Kosovo muncul ke permukaan setelah memprokamasikan kemerdekaan dua hari yang lalu. Kosovo masih menunggu pengakuan negara lain, sambil bersiap menghadapi serbia.

Entah kenapa serbia terkesan kejam dan bengis banget. Lebih tepat: kuat. Padahal mereka pernah dibabat oleh Kroasia. Mungkin kesan ini terlanjur terekam dan sulit dihapus saat tragedi Bosnia terjadi. Alasan Serbia ogah melepaskan Kosovo karena di situ terdapat gereja bersejarah yang sudah ratusan tahun menjadi simbol keagamaan. Etnis Albania memang nasrani pada mulanya, namun berhijrah ke islam mulai tahun 1489 saat Turki Usmani berjaya. Dan kini 90% populasi Kosovo adalah etnis Albania yang menjadi saudara seiman.

Ayo dong, ramai-ramai mengakui kedaulatannya. Sepertinya itu yang paling mereka butuhkan sekarang. Waktu yang tepat memberikan bukti persaudaraan. Saatnya mengulang sejarah yang sama saat Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia.

:::Maaf saudaraku, tak banyak yang bisa kulakukan sekarang:::

2 comments:

sachroel said...

kita lihat aja nanti....apa dunia mau mengakui...kita tetap mendukung dong

Kujaku said...

Sip dukung yuk! Tumben Amerika mendukung yak. Rusia nolak.