Friday, 8 May 2009

Buruk Muka after Berkaca

Kenapa kehidupan sekarang terasa begitu berat? Waktu menghimpit, tak ada lagi melalang buana dalam senggang. Itu pertanyaan saya akhir-akhir ini. Pertanyaan yang turut saya bawa ke sebuah rumah yang saya kunjungi.

Wangi teh melati begitu menggoda. Aroma nasi yang ditanak bersama daun salam menyeret selera makan mendekat. Tata cahaya yang menentramkan dan semarak berbagai tanaman hias dalam ruangan selalu menemani kunjungan saya ke kediaman beliau. Ya. Hari ini sekali lagi saya bersilaturahmi ke rumah seseorang yang banyak memberikan pelajaran dalam setiap pertemuan. Pelajaran tentang hidup yang tak selalu manis. Saya sering menemukan pantulan diri dari cermin bening : Kisah muda beliau. Bedanya adalah saya menyimpan keluhan dalam pikiran, terkadang merasa bahwa menjalani keseharian begitu berat. Kenyataannya, setelah saya sedikit curhat tentang beratnya ritme hidup saya, justru saya merasa malu. Selalu berulang begitu. Kehidupan beliau saat seumuran saya jauh lebih berat, namun beliau tidak mengeluh.

Singkat cerita, beliau mengambil S2 di Jakarta. Mulai pagi bekerja sampai pukul 17.00, lanjut dengan kuliah sampai jam 11. Mengulang pelajaran lalu istirahat pukul 1 dinihari. Kegiatan kehidupan dimulai lagi pukul 5 pagi. Sabtu minggu diwarnai berbagai agenda. Siaran radio, MC, hingga menjadi pelantun beberapa jingel iklan TV. Sekarang beliau menjadi seorang GM sebuah perusahaan Nasional yang sukses pengubah pola kerja cabang yang beliau pimpin di Nagoya.
"Ada hasilnya, tapi tidak sekarang..." beliau berkata begitu setelah saya curhat.

Kenyatannya belau sempat masuk rumah sakit karena tipus. Wajar. Dengan ritme hidup yang padat tanpa diimbangi pemenuhan hak tubuh untuk istirahat dan asupan gizi agar tetap sehat.

"Wahh... kalau bisa, pengennya sih bisa bertahan dengan ritme padat tanpa harus kena tipus. Hehehe" ujar saya sekenanya.
"Wah, ya enggaklah. Ini kan Jepang. Kamu tidak perlu banyak mikir soal transportasi yang macet.
"Iya yah... Jakarta macet."
"Betul. Apalagi jarak dari tempat kerja saya ke Salemba lumayan jauh."
"Di kampus tidak ada kantin, Pak?"
"Ada sih. Cuman gak kayak di sini. Kalau kuliah malam dapat makan. Nah, kalau malam masih lapar khan jajan seadanya di pinggiran jalan. Itu kali yang bikin kena tipus..."

Ada hasilnya, tapi tidak sekarang. Satu rasa dengan berbagai pertanyaan dalam diri : Jawaban akan datang, tapi tidak sekarang. Saat itu mungkin saya kan menyadari betapa indahnya skenario Allah yang luar biasa. Marilah berluas hati untuk hal-hal yang terlanjur terjadi dan tak bisa diubah lagi. Mari merencanakan dan memperjuangkan kebaikan untuk masa datang. Jangan putus asa. Jangan lemah hati. Jangan pernah menjauh. Segala sebab akibat yang berkelimpangan akan terasa indah pada saatnya. Jawaban akan datang, tapi tidak sekarang.

Saya mengucap syukur. Buruk muka saya segera terlihat setelah berkaca.

2 comments:

Anonymous said...

saya juga sering menilai diri sendiri secara negatif palagi fisik.
tapi setelah difikir kembali itu artinya tidak mensyukuri nikmat. Wallahu alam. kalau komentar negatif itu mengenai ruhiah yang banyak cela (sombong, dengki, iri, egois)
gpp dan harus dibiasakan.kikikik
Oiy, sosok yang dibicarakan kali ini termasuk orang yang langka, khususnya di Indonesia dimana pemudanya banyak yang enggan berjuang dan lebih suka budaya hidup instan

sunuhadi said...

Langka? Betul. Maka saya ingin menyerap ilmu-ilmu beliau ini mumpung kesempatan terbuka lebar!

^_^