Tuesday, 26 July 2011

Kalian

Ya ya Yay. Ternyata selama satu minggu ini saya bisa menulis blog setiap hari. Kualitas tulisannya? Uhm. Entah. Tapi soal kuantitas dan produktivitas bolehlah sedikit disebut. Sedikit saja, karena saya tak tahu apakah keluangan waktu dan semangat menulis ini akan bertahan sampai berapa lama.

Di posting sebelumnya saya sempat menyebutkan soal produktivitas saya bertahun lalu. Pemicunya sebenarnya karena terkagum-kagum dengan sebuah negeri yang baru ditapaki. Iya. Jepang, dimana nyaris 1/3 umur saya sudah dihabiskan di sini. Saking kampungannya saya waktu itu, semuanya ingin diceritakan. Orang-orang yang jalannya super cepat di Shibuya. Ada cerita saat berjalan keluar stasiun, tiba-tiba seorang sensei kami menyalib dari belakang, lalu tap-tap-tap berlenggang kencang menuju arah kampus. Tentang Futon. Tentang diskon di hari Rabu. Tentang Sakura. Tentang masakan survival saya. Tentang toilet yang bisa menyemprot otomatis. Yah, kebanyakan isinya memang tak penting. Seputar kehidupan sehari-hari yang waktu itu begitu terasa warna-warni. Karena banyak hal yang dilakukan baru pertama kali. Karena itu adalah tahun-tahun awal proses adaptasi.

Semuanya ingin diceritakan, sehingga setelah dibaca-baca kembali sungguh melelahkan. Banyak informasi bercampur hingga membuat tulisan tidak fokus. Belum ditambah logika saya yang melompat-lompat. Padahal salah satu tujuan menulis saya adalah untuk melatih komunikasi. Sampai lulus SMA saya belum pernah bicara di depan publik sambil memegang mic. Lalu tiba-tiba saja di Negeri ini saya ditodong untuk jadi MC, di hadapan pejabat lagi. Deuh, saya si anak bawang yang lulus SMA baru kemaren sore kok bisa-bisanya ketiban sampur. Lalu terjadilah. Sebuah kata tabu saya ucapkan untuk menyebut para undangan: Kalian.

Setelah acara berakhir kena semprotlah saya.
"Kok berani-beraninya kamu menyebut KALIAN di depan."
Saya sama sekali tidak sadar bahwa sudah menyebut kata yang dinominasikan kurang sopan dalam sebuah acara resmi.
"Eh? Iya toh?! saya menyebut 'kalian' yah tadi..." jawab saya polos. Sejak kejadian ini saya berusaha untuk berhati-hati dalam bicara. Karena yang sudah diucap dan didengar tidak bisa diedit lagi. Tidak bisa di-tipe-ex, tidak bisa di-delete maupun dihapus pakai tombol backspace. Terhitung sejak kejadian bertahun lalu itu hingga sekarang, tanpa disengaja profesi MC sering dipercayakan ke saya. Padahal saya ini tidak mahir melucu, tempo bicara kadang terlalu cepat, kadang bingung pula melanjutkan kalimat. Kok bisa-bisanya.... *karena gak ada orang lain kali yah, huehuehe*

Namun saya percaya bahwa bahasa lisan juga turut dipengaruhi oleh bahasa tulisan. Setidaknya kesan tentang seseorang bisa ditelaah dari tulisann-tulisannya. Bagaimanapun saat menulis, munculah pemikiran, nilai, perasaan yang biarpun berusaha ditutup serapat apapun akan tetap kelihatan. Dengan tulisan saya berusaha belajar memilih diksi yang baik dengan harapan mahir menyusun kalimat-kalimat efektif. Betul. Kalimat efektif yang singkat, tidak ambigu, tidak banyak bumbu yang mengganggu.

Kalimat efektif. Ini salah satu pelajaran yang saya dapatkan di awal-awal bergabung dalam sebuah milis kepenulisan. Tulisan saya dibantai karena terlalu banyak ber-haha-hihi. Bagi para sesepuh milis waktu itu, mungkin bahasa saya adalah bahasa alay kalau diibaratkan bahasa gaul anak jaman sekarang. Saya kapok dengan model tulisan macam itu. Bahkan saking ingin merubah imej dari sok gaul menjadi sok resmi, awal-awal kata ganti orang pertama adalah AKU, sekarang, yah, seperti yang anda baca, SAYA menjadi pilihan kata ganti orang pertama.

Salah satu pengalaman yang cukup berkesan terjadi dalam sebuah kelas bahasa Jepang bertahun lalu. Waktu itu ada tugas mengarang. Deuh dari dulu saya tidak terlalu merasa berbakat dengan urusan ini. Menulis dalam bahasa Indonesia saja baru diniatkan belajar lagi. Singkat cerita, hari pengembalian karangan tiba juga.

"Ada sebuah karangan yang menarik untuk contoh." Ono sensei berkata sambil membagikan lembaran kopian. "Penulisnya Sunu-san."

Eh? Apa saya tidak salah dengar? Ucapan selamat dari tetangga meja sedikit meyakinkan kebenaran kalimat yang masuk ke telinga saya.

But, why? Naze? Kok Bisa? Bahasa Jepang saya tentu saja belepotan dan karangan saya cuma 2 baris lebih banyak dari setengah halaman.

"Jangan dilihat kesalahan grammar-nya. Silakan dilihat bagaimana alurnya. Karangan ini singkat. namun padat dan diakahiri dengan manis." Ono sensei memberikan penjelasan.

Alhamdulillah.
Hati saya sumpek. terlalu sesak oleh bunga yang bermekaran. -halah!- Sebenarnya kejadian ini yang menorehkan percaya diri pada saya. Ternyata saya tidak bodoh-bodoh amat. Hari itu saya mendapat pengakuan. Karya saya diperbanyak, dibagikan dan dibaca oleh seluruh penghuni kelas. Ya, Allah, begitu indah caramu memberikan pelajaran. Sebelumnya saya memang terkena krisis percaya diri.

Lah Bagaimana tidak? teman seangkatan saya yang datang ke Jepang banyak yang jebolan atlet Olimpiade. Ada yang ikut Fisika, ada pula Matematika, Kimia pun hadir. Iseng saya pernah memasukkan nama mereka ke google,lalu muncullah tautan ke berita propinsi maupun nasional. Yah, mereka juga pernah masuk TV karena ikut kuis Siapa Berani dan Who wants To be Millionaire. Salah satunya bahkan pernah duduk berhadapan dengan pembawa acara, Tantowi Yahya. Wuih, ternyata saya hidup satu atap dengan selebritis kecil-kecilan. Sementara saya? Uhm, bukan siapa-siapa. Hanya seorang lulusan SMA biasa yang cukup beruntung memperoleh beasiswa yang sama.

Oops. Arah tulisan ini mulai kemana-mana. Saya menganggap teman-teman itu sebagai rival. Bukan musuh atau saingan. Memang beda?
Kalau musuh : Harus dikalahkan! Saya akan merasa senang kalau mereka susah dan berusaha menyusahkan jalan mereka secara langsung maupun tak langsung.
Kalau saingan : Harus dikalahkan supaya hanya saya yang kelihatan bersinar. Kalau dia berhasil saya iri, kalau dia gagal saya tertawa.
Rival bisa diartikan sebagai a companion in duty. Indah bukan? Seseorang yang bersama-sama berjuang dalam suatu kewajiban dimana satu sama lain memberikan suntikan semangat biarpun secara tak langsung.

Rival terberat saya adalah mantan atlet olimpiade Fisika yang dibentuk di bawah bimbingan Yohanes Surya. Sudah pernah mewakili Jepang (!) dalam lomba International, mendapat juara satu dan diberitakan dalam koran berhuruf kanji, hiragana dan katakana. Lulusan terbaik sejurusan, mengalahkan puluhan orang Jepang dan mahasiswa asing yang lain. Heu heu. Secara prestasi akademis, makhluk satu ini susah dikejar.... namun Allah maha adil, beliau menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Terkadang kita terpukau dengan seseorang karena dia terlihat begitu bersinar dengan segala kelebihannya. Itu artinya kita belum kenal orang itu sepenuhnya. Bila sudah tahu kekurangannya atau ketidaknyamanan yang akan kita rasakan bila kita menjadi dia, insyaAllah tidak akan ada rasa iri dan kagum yang muncul pun tidak akan berlebihan.

Btw, satu hal yang cukup membahagiakan adalah saat kami berkumpul saya bisa leluasa menyebut mereka dengan KALIAN. Semoga silaturahim kami tetap terjaga hingga bertahun ke depan sehingga kata KALIAN masih bisa dipergunakan. Iseng saya membayangkan hari tua kami berisi diskusi tentang nasib sebuah negeri. Mereka jadi ahli-ahli teknologi, sementara saya jadi bosnya saja deh. :-P *karena teman seangkatan saja tidak akan cukup, semoga banyak ahli yang terlahir dari senpay-tachi dan kohay-kohay yang sudah dan akan datang ke Jepang, supaya saya nambah rival. Eh, enggak juga, Supaya bawahan saya orang-orang yang hebat. *heuh, kena timpuk nih xD xD Bangun! Bangun! Matahari sudah tinggi!!**

3 comments:

[L]ain said...

yap, mausia diciptakan dengan kelebihan masing2..

jujur, saya iri lho sama mas sunu. Bisa sebegitu beruntungnya dapet beasiswa ke jepang. Dan jujur juga, kadang saya kesal dan ngedumel sama Allah, "lha kok yang punya blog ini rejekinya bagus amat. Saya?"

mas sunu itu, justru orang yahng bersinar dan sulit dikejar buat saya

sunuhadi said...

Wew. gak usahlah iri dengan saya. Cukup jadikan rivalsaja, supaya saling memotivasi ke arah yang lebih baik. :-) Suer, banyak gak enaknya klo jadi saya, loh. Kamu sepertinya hanya melihat asyiknya dapet beasiswa, bisa ke Jepang, bisa jalan-jalan sampai eropa pula.
Udah tahu susahnya belum?

Ujian itu datang bersamaan dengan kemudahan. kalau dibalik, dalam setiap kemudahn itu ada ujiannya. Cuman karena manusia itu suka lupa, yang dilihat mudahnya saja. makanya Allah akan menambah ni'mat bagi mereka yang bersyukur, karena lebih banyak orang yang kurang pandai bersyukur.

Satu lagi, yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. makanya saya suka menjalankan banyak rencana sekali waktu, baru deh minta petunjuk mana yang baik. Rasanya terlalu PD klo yakin suatu pilihan itu baik lalu memohon segala kemudahan untuk mencapainya. Kalau ternyata gak baik gimana?

Ehehe, maaf yah kalau malah jadi kemana-mana....

Feranisa Prawita Raras said...

Mas Sunu, saya mampir. Waktu pormas ppi jepang kan jadi MC, bagus kok..

btw itu siapa aja senpai-senpai cemerlangnya? pada keren-keren euy senpaitachi..