Tuesday, 20 February 2018

Tentang Sekolah (Anak)

Tak hanya kaum elitis di Indonesia , di Amerika, persaingan orang tua terkait  sekolah anak-anaknya juga terjadi, khususnya di kelas menengah (ke atas). 

“…parents will spend down their last dollar (and their last borrowed dollar) on their kids’ education: In a society with dramatic income inequality and dramatic educational inequality, the cost of missing out on the best society has to offer (or, really, at the individual scale, the best any person can afford) is unfathomable.”



Secara umum, pola pikir mengenai masalah perekonomian terbagi menjadi 2 : kebijakan elit politik dan golongan super kaya yang mengeruk sebagian besar 'kemakmuran", di sisi lain adalah  pola hidup masyarakat yang over-konsumtif. Saya pikir hal inilah yang menjadi dua pemeran utama dalam panggung politik : Demokrat yang cenderung"membela' rakyat kecil dengan berbagai subsidi (rakyat kecil semakin miskin karena sistem kapitalis, harus dibantu secara sistemik),  Republik yang cenderung "mendukung" orang kaya dengan potongan pajak karena subsidi dinilai tidak tepat sasaran (orang-orang itu harusnya bekerja dan penghasilannya cukup untuk hidup tanpa subsidi). 

Pola pikir dengan polaritas berbeda ini menjadi tarik ulur kebijakan pemerintah, dan  ya, presiden yang menjadi motor pengatur arah kebijkan memerankan fungsi penting. Berdasarkan pengalaman 2 tahun terakhir,  memang betul bahwa potongan terbesar dari gaji adalah 'jaminan sosial'. Pajak penghasilan memang progresif namun dengan memiliki pendapatan "median", pajak ini relatif kecil, bahkan dengan kondisi khusus (migrasi, biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, dkk) yang terjadi tahun sebelumnya, kita bisa mendapatkan tax credit dari Pemerintah  (tidak perlu bayar pajak, malah dapat bantuan langsung tunai). 

Terkait sekolah, setiap wilayah dibagi menjadi zona-zona sekolah berdasarkan daerah tempat, hanya anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah tersebut yang boleh mendaftar. Akibatnya, wilayah dengan sekolah favorit lebih diminati oleh orang tua sehingga harga properti  naik. Dalam jangka lebih panjang  mucullah kawasan elit dan slum. Sekolah memang "gratis", namun ada dinding tak terlihat yang membatasi mobilitas manusia. Sisi sekonomi inilah yang cenderung memisahkan tempat tinggal orang-orang berdasarkan kelasnya... (golongan super kaya akan tinggal di kawasan super ekslusif di tebing pinggir pantai atau pulau pribadi :-p )

Golongan menengah yang peduli dengan  sekolah anak akan berusaha  untuk tinggal di kota dengan ranking yang bagus : biaya hidup lebih tinggi dan secara umum  lebih kompetitif (banyak les tambahan untuk anak-anak di luar sekolah : biola, piano, renang, kum*n, dkk).  Terkadang jarak kota seperti ini dengan kantor tempat bekerja cukup jauh, sehingga anak-anak harus dititipkan setidaknya dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. (Ya, ya, dulu manusia cenderung bekerja dan beraktivitas tak jauh dari lokasi rumahnya, kaki dan sepeda sudah cukup menjangkau segala tempat untuk keperluan sehari-hari.  Saat ini lokasi tempat mencari nafkah yang jauh dari rumah pun tetap dijadikan pilihan seiring pergeseran nilai, kebutuhan dan makin kuatnya daya tarik ekonomi kota besar..., Tapi ini isu lain...)

Bagi kami pendidikan anak juga penting. Bukan ke arah kualitas sekolah, namun lebih cenderung lingkungan yang kondusif. Kenapa? Banyak kasus dar-der-dor! yang menyasar sekolah di Amrik. Dikarenakan belum bisa commit 100% untuk homeschooling, lingkungan dimana orang tua saling sapa dan peduli cukup penting. Manfaatkan statistics seberapa banyak keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah :-P.  Sekolah yang kami pilih harus berbeda lokasi antara SD, SMP dan SMA untuk meminimalisir pengaruh dari perbedaan umur. Yes, ada beberapa school district yang menjadikan lokasi SD, SMP dan SMA berdekatan. Selain menciptakan kemacetan lokal yang cukup parah saat bel masuk dan pulang, menurut saya ada efek yang kurang bagus bagi anak-anak SD.

Di luar sekolah beberapa hal berikut patut dijadikan pertimbangan :
1. Say no to TV cable & broadcast TV service. Sebagai gantinya harus ada akses internet super cepat, komputer/laptop & HP. Selain itu ada pilihan untuk langganan Netf*ux, H*lu, dkk tanpa harus memakai pilihan 100+ channel yang belum tentu ditonton.
2. Menjaga akses minimal akan mobil, selalu siap berjalan/bersepeda : menambah waktu mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal, berpartisipasi dengan tidak menambah polusi udara dan pemakaian BBM.
3.Memaksimalkan akses ke alam (Yes, banyak sekali national park (gunung, gurun, pantai) di California, kesempatan untuk tafakkur alam yang sulit ditemukan di belahan bumi lain). Berkemah dengan sedikit akses akan memicu insting survival dan insourcing, selain menguatkan ikatan dalam keluarga.
4. Memaksimalkan akses olahraga untuk anak-anak di sekitar rumah (taman bermain, sepeda, kolam renang, etc). Beladiri juga berkuda, hehe.
5. Meminimalisir kegiatan terjadwal untuk anak-anak dengan menambah self-guided activities. Rasa bosan  dan keterbatasan bisa menjadi trigger untuk kreativitas.
6. Mainan edukatif (sedikit mahal gpp :-P ): Lego Mindstorm ; VEX IQ robotic ;  Kemah kode gratisan --- dimana kita harus “figure things out” daripada “buy a solution”  yang akan memberikan cara pandang yang keratif dan berbeda tentang dunia. Computer time (pada komputer beneran, bukan PeEs / Wii) akan memberikan efek yang sangat-sangat berbeda dari melihat iklan TV dan kartun, dan bukan tak mungkin menumbuhkan minat menuju computer competency. :-). Anak juga bisa belajar sendiri dari Khan Akademi  untuk hampir semua mata pelajaran.

Yes, kesimpulan sementara, sekolah di luar rumah hanyalah sebagai alternatif pendidikan di luar rumah, tempat anak-anak mengenal dunia luar. Pendidikan di rumah tetap harus menjadi pilar utama kegiatan anak. Selain menambah kedekatan anggota keluarga juga ramah dompet (apalagi  kalau anak tidak perlu disekolahkan dengan biaya tinggi plus antar jemput pakai mobil :-) )


No comments: