Wednesday, 25 June 2008

Pharaoh China

Fyuh. Dua detlen besar berhasil diselesaikan, menghadiahkan sedikit waktu luang untuk senam otak. Tapi sebuah berita tertanggal 23 Juni 2008 mengusik perhatian saya. Setelah kasus Tibet, Pemerintah China melakukan aksi penghancuran Masjid di Xinjiang. Kebetulan ada beberapa video di youtube terkait dengan aktivitas muslim di Xinjiang Uyghur. Kali ini kunjungan Rabiya Kadir, seorang tokoh Uygur, ke Jepang untuk menyuarakan HAM diliput oleh televisi Jepang,
Waaa. lagi-lagi pingin nerjemahin, tapi saya perlu waktu. +_+



Lalu tiba-tiba saja saya teringat seorang kawan dari China... ini secuplik kisahnya.

Kenapa harus Pharaoh?" saya masih heran dengan nama panggilan itu.
"Entahlah, mungkin nama itu yang dia tau sedikit bersinggungan dengan kawasan Timur Tengah." Duga-duga mulai menyapa.

Saya makin penasaran, kenapa dia memilih nickname itu seolah tak ada nama lain yang lebih baik. Kawan satu negaranya memilih nickname yang umum dipakai bangsa Eropa atau Amerika: Bill, Linda, Sofia, Bob. Hanya dia yang menurut saya cukup unik dengan memilih nama itu. Pharaoh, Fir'aun. Memang bila dibandingkan rekan senegaranya, dia sedikit berbeda. Kulitnya boleh sama-sama langsat, namun matanya lebar dengan tipe wajah asia barat. Bila saya bertemu di jalan tanpa mengenal sebelumnya, mungkin saya tak akan terpikir untuk menyebutkan Cina sebagai asal negaranya.

Dia guru Taichi saya yang cukup populer di kalangan mahasiswi. Banyak di antara rekan saya yang ikut latihan Taichi hanya untuk bertemu dengan Pharaoh. Setidaknya itu yang tak sengaja terdengar dalam obrolan mereka saat duduk istirahat di tengah latihan. Dia memang unik dan punya karakter yang membuat orang mudah dekat dengannya. Tapi bukan itu yang membuat saya termotivasi untuk lebih dekat dengan Pharaoh. Ya, bukan sosok fisiknya. Bukan pula supaya saya ikutan beken. Saya baru tahu kalau dia seorang muslim. Ini yang membuat radar dan sensor saya langsung menyala. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang Pharaoh.

"Saya tidak bisa sholat..." Pharaoh menjawab pertanyaan saya siang itu.
"Apakah ayahmu tidak mengajarkan? "
"Tidak. Ayahku juga tidak bisa sholat."
"Tapi bagaimana kamu masih mendekap identitas sebagai muslim?"
"Kakek. Kakekku bisa sholat, tapi dia tidak mengajarkan kepada anak-anaknya. Madrasah menjadi tempat terlarang dan kami tidak diperbolehkan untuk berkumpul untuk beribadah."
"Sholat Jumat?"
"Ya, hanya orang tua yang boleh ke Masjid. Pemerintah mengawasi dengan ketat."
"Apa kamu mau belajar sholat?"
"Ya, tentu saja. Mau mengajari?"
"Alhamdulillah, tentu saja."

Saya tersenyum. Sebentar lagi Ramadan. Bulan puasa pertama saya di Cikarang sekaligus Ramadan pertama Pharaoh di Indonesia. Ada satu kegiatan yang tertulis dalam agenda saya : Mengenalkan Pharaoh lebih jauh dengan islam. Namun kami tinggal di asrama yang berbeda. Cukup sulit untuk memulai sebuah proses belajar yang intensif sementara terhalang oleh jarak dan kesibukan.

Tiba-tiba saya teringat Cheng Wei. Teman sekamar Andi yang kebetulan punya marga sama dengan Pharaoh. Ya, Pharaoh bernama asli Cheng Fei. Dia berasal dari sebuah propinsi dimana muslim hidup sebagai minoritas. A Wei sendiri cukup akrab dengan kami, karena ping-pong. Karena setiap kamar punya sisa 2 tempat tidur yang tidak ditempati, menginapkan Cheng Fei ke asrama bukanlah hal sulit. Satpam asrama sduah seperti kawan sendiri.

Lalu dimulailah proses belajar itu. Asrama pun mulai sepi, anak-anak mudik menjelang Idul Fitri. Hanya ada saya dan beberapa kawan dari jauh yang tidak ada rencana mudik. Ternyata cukup sulit juga untuk mengajari. Selain Cheng Fei buta huruf Arab, komunikasi dalam bahasa Inggris tetap saja tidak senyaman dalam bahasa Indonesia. Bahasa Cina yang saya pelajari masih terlalu jauh levelnya untuk bisa bercakap-cakap.

Waktu berlalu dengan cepat. Tahu-tahu Idul Fitri tiba. Cheng Fei berhasil menyelesaikan puasa pertama di Indonesia, puasa pertama dalam hidupnya. Mungkin baru sekedar menahan lapar dan dahaga, namun setidaknya dia sudah berusaha. Lidahnya masih sulit melafalkan syahadat, gerakan badannya masih kaku saat mengerjakan sholat.

Masih banyak yang ingin saya bagi. Masih segunung rasanya hal yang belum saya sampaikan. Yah, meski tak sendiri, masih tersisa sedikit kekhawatiran mengenai perkembangan Cheng Fei. Tapi saya harus pergi. Ya, akhir Januari itu ada pemberitahuan akan kelulusan saya melanjutkan kuliah di Jepang. Sebuah pengumuman yang penuh makna. Syukur. Namun banyak hal yang terlanjur saya mulai di kampus ini, lalu saya tinggalkan begitu saja. Ada rasa tak rela. Bagaimana rencana mushola kampus? Bagimana rencana buletin islam? Bagiamana kelanjutan pengajian akhir pekan?

Ah, Bagaimana kelanjutan kisah Pharaoh Cina? Saya benar-benar lupa, hingga tak terasa sudah 4 tahun cerita di atas terjadi. Sekarang saya ingin tahu khabar mereka, yang sudah lulus dan bekerja, tersebar ke seluruh pelosok dunia.


ReAD MoRE・・・

Monday, 16 June 2008

Di aR

My personality type: the determined realist. Take the free iPersonic personality test!

Hotondo atteru ne...


Determined Realist (DR)
(Just visiting? Take the free test and determine your personality type!)

Determined Realists like to bear responsibility and welcome challenges. They are stable, reliable persons. External contacts are very important to them; they mix well and are very active. They are excellent organisers and are very happy when things are done correctly and punctually; they can quickly react impatiently if others are not as conscientious, orderly and dutiful as they are. They prefer structured work which produces visible results quickly to abstract, long-drawn-out processes. Determined Realists have no problem with routine as long as it serves efficiency. However, they very much dislike unexpected and unpredictable occurrences which mess up their careful plans. Once they have committed themselves to a cause they do this with dedication and are willing to make considerable sacrifices for it.

Determined Realists do not avoid conflicts and criticism but face up to them and look for solutions. As they have a keen eye for the errors and shortcomings of others and are often quick at expressing criticism, they sometimes rub people up the wrong way especially when they lose their temper and jump to conclusions. Due to their marked sense of justice they are quickly willing to correct themselves and never take offence if someone speaks to them frankly. You do not have to seek hidden motives with them; you always know where you are. Determined Realists are often found in executive positions as they combine commitment, competence and the ability to assert themselves. In their spare time, they often also accept responsibility in clubs and other institutions.

Traditions rate highly with Determined Realists. They attend every family event and never forget a birthday or wedding anniversary. Family and friends are very important to them. With their open, communicative manner, they find it easy to get to know people and have a large circle of friends and acquaintances. They are never superficial, but reliable and loyal friends who are always there when they are needed. Determined Realists take their relationships very seriously - they dream of finding a partner for life. In a love relationship, they seek above all stability and loyalty and here, too, they are willing to invest a lot in a harmonious togetherness. Determined Realists master crises or difficult phases with composure; they would never think of breaking a promise given. As a partner, one can always rely on their support.

Adjectives which describe your type :
extroverted, practical, logical, planning, direct, structured, conscientious, responsible-minded, self-confident, critical, honest, orderly, reliable, controlled, objective, able to concentrate, resolved, purposeful, communicative, with a sense of duty, tradition-conscious, stable, able to deal with conflicts, solution-oriented, relationship-oriented, efficient, impatient, warm-hearted, competition-oriented


These subjects could interest you :
clubs, associations, going out, sport, travel, music, trekking, camping, hiking, cooking, handicrafts, nature, strategy games, politics





ReAD MoRE・・・

Saturday, 31 May 2008

[INFO] Beasiswa Ke Jepang untuk Lulusan SMA

Sudah dibuka pendaftaran beasiswa Monbusho (Kementerian Pendidikan Olahraga Budaya dan IPTEK Jepang) untuk lulusan SMA. Nampaknya persyaratannya lebih ketat dibanding saat saya lulus SMA dahulu. Buruan! Batas waktu pendaftarannya sampai 25 Juni 2008!
***

Kedutaan Besar Jepang menawarkan Beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) kepada siswa-siswi Indonesia lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas (S-1), College of Technology (D-3) atau Professional Training College (D-2) di Jepang mulai tahun akademik 2009 (April 2009). Pelamar hanya bisa mendaftar 1 (satu) program dari S-1, D-3, atau D-2.Syarat-syarat pengambilan formulir bagi calon pelamar sebagai berikut:

(1) Lahir antara tanggal 2 April 1987 dan tanggal 1 April 1992.
(2) Nilai rata-rata ijazah dan rapor kelas 3 semester/cawu terakhir minimal:
8,4 untuk program S-1
8,0 untuk program D-3
8,0 untuk program D-2*
Jika pada saat penutupan (25 Juni 2008) nilai ijazah asli belum bisa dikeluarkan, maka nilai ijazah sementara dari Kepala Sekolah bisa diterima.
(3) Pelamar harus lulus dari SLTA.

Formulir pendaftaran dapat diperoleh secara gratis untuk mereka yang memenuhi ketiga persyaratan tersebut di atas di Kedutaan Besar Jepang (Bagian Pendidikan: 8:30-12:00, 14:00-15:30), Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Medan, dan Makassar mulai 30 Mei 2008.
Mereka yang tinggal di luar JABODETABEK, Surabaya, Medan, dan Makassar dapat melamar melalui surat yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Jepang (Jl. M. H. Thamrin 24 Jakarta Pusat 10350), Konsulat Jenderal Jepang Surabaya, Medan, atau Makassar. Surat itu harus berisi nama, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, program pilihan (S-1, D-3, atau D-2), 3 (tiga) bidang studi yang ingin dipelajari dan dilampiri fotokopi rapor, ijazah, serta nilai ijazah.
Formulir harus dikembalikan ke Kedutaan Besar Jepang atau Konsulat Jenderal Jepang lengkap dengan fotokopi rapor, ijazah, dan nilai ijazah sampai tanggal 25 Juni 2008.
Sumbernya di link berikut :
Soal ujian tahun lalu bisa diakses melalui link berikut :

Selamat Berjuang! Semoga sukses!




ReAD MoRE・・・

Sunday, 25 May 2008

I Can Do it!

Yeah, I can do it. InsyaAllah.

Satu minggu lalu saya menang tender. Tender dengan diri sendiri untuk menyelesaikan sebuah proyek pada organisasi S yang secara ajaib diamanahkan kepada saya. Tidak mudah, sulit, menyita pikiran, energi, juga waktu. Tapi insyaAllah bisa terwujud kalau saya berpikir mampu menyusunnya hingga potongan terakhir. Bismillah...


ReAD MoRE・・・

Friday, 23 May 2008

Tentang Senyum

Rasanya sudah banyak orang yang tahu bahwa senyum itu ibadah. Kali ini saya merasakan senyum yang indah dari seorang manusia mungil. Manusia yang kini sudah berhak saya sebut bocah dalam usianya yang memasuki 8 bulan. Bocah yang dilahirkan dari dua orang yang saya anggap abang dan kakak di Jepang.

Orang tuanya masih kuliah master tingkat akhir. Yah, sejak bayi dia belajar tentang pengorbanan. Pengorbanan karena harus rela dititipkan saat orang tuanya harus menuntut ilmu. Tapi dia juga belajar tentang rindu, rindu tentang kehangatan seorang ibu yang juga rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk naik turun bukit ke tempat penitipan untuk menyusui. Dan malam itu saya sadar kalau segala penat orang tua itu bakal hilang saat melihat senyum buah hatinya. Tangan yang serasa mau patah menjinjing buku-buku berat entah mendapat kekuatan darimana hingga kuat mengangkat tubuh itu. Wajah yang sudah lelah bisa berubah menjadi bergairah melihat si mungil.



Darinya saya juga belajar tentang keajaiban manusia. Tentang penciptaan. Proses pembelajaran Al Quran yang bisa disaksikan langsung dan nyata. Bayi mungil itu sudah tumbuh pesat menjadi sosok menggemaskan berusia 8 bulan. Saat telapak kakinya mulai merasakan geli, saat sebulan kemudian dia akan belajar berdiri, berjalan, lalu berlari!



Terima kasih atas senyum itu. Senyum lebar dengan gigimu yang baru ada tujuh. Senyum yang membuatku jadi ingin tersenyum. Senyum dengan pijar mata yang begitu hidup. Lagi-lagi saya merasa bahwa anak kecil itu begitu lucu.

Sayangnya senyum-senyum lucu ini mungkin tak bisa dijumpai sesering dulu di negeri ini. Angka kelahiran menurun drastis seiring dengan banyaknya wanita yang bekerja. Apa hubungannya? Bukankah seorang wanita bekerja tetap mendapat cuti hamil dan melahirkan? Ternyata masalahnya tidak putus sampai di sini.

Karakter orang Jepang yang cenderung tertutup menyebabkan mereka mudah stress. Ini hanya asumsi pribadi, tanpa penelitian atau bukti. Wanita yang bekerja akan dituntut menyelesaikan pekerjaan di kantor tepat waktu, belum ditambah tanggung jawab rumah tangga sebagai istri. Bila dia cuti hamil, otomatis pekerjaannya akan menjadi beban buat rekan di kantor. Dengan munculnya anak, dia harus meluangkan waktu untuk menjemput di tempat penitipan dan tidak bisa kerja lembur. Artinya, pekerjaan yang ada harus bisa selesai dalam waktu yang terbatas.


Lagi-lagi kebiasaan enggan merepotkan orang lain membuat orang memilih tidak memiliki anak supaya pekerjaan tidak terganggu. Selain itu masih berlanjut dengan berbagai keperluan anak, tentang ASI, perhatian, dan kasih sayang. Sekarang sudah mulai banyak tempat penitipan anak di kantor, universitas atau tempat yang dibuka secara khusus di dekat stasiun. Tujuannya supaya wanita bekerja bisa tetap melanjutkan karirnya dengan tenang karena dukungan sosial. Ini dianggap meminimalisir (bukan mengatasi) penyebab menurunnya angka kelahiran karena kurangnya dukungan terhadap ibu yang bekerja.


Tapi bagaimana dengan sisi psikologi anak yang dititipkan? Bukankah dia tak hanya sekedar memerlukan gizi dari susu botol yang diminumkan? Entahlah, tapi bila setiap orang tahu bahwa senyuman seorang anak bisa memberikan energi secara ajaib, mungkin jumlah bayi yang lahir di negeri ini tak perlu membentuk grafik berbentuk lereng menurun.


ReAD MoRE・・・