ReAD MoRE・・・
Thursday, 16 January 2014
Rental Mobil Sekitar BSD
ReAD MoRE・・・
Tuesday, 7 January 2014
Kampung Batik
(next, mau jualan? :-p Harganya 50% lebih murah dibandingkan Jakarta hehe)
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 24 July 2013
KRLku kini :-P
ReAD MoRE・・・
Friday, 9 September 2011
lapar Mata

ReAD MoRE・・・
Monday, 18 July 2011
Road To Tokushima!
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 13 July 2011
Menjaga Kebudayaan
Lalu tarara~ Selamat menikmati beberapa foto di seputar Jalan Masjid, Roma. ^_^
Viale della Moschea : Jalan dimana Masjid berada. InsyaAllah kalau bertanya ke Polisi pun, mereka tau dimana lokasi masjid Roma ini, lah nama jalan rayanya aja Jalan Masjid kok!
Berbagai jajanan halal kreasi para muslim imigran.
Warung tenda yang siap dikunjungi ba'da sholat Jumat.
Suasana di dalam Masjid yang luas dengan pilar-pilar tinggi, kokoh dan indah. Jamaahnya manusia-manusia beragam ras.
ReAD MoRE・・・
Tuesday, 1 March 2011
[Kyushu]Merasai Eropa di Pojok Asia
ReAD MoRE・・・
Thursday, 7 October 2010
Wittenberg
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 29 September 2010
Idul Fitri di Eropa

Siapa pernah membayangkan bahwa di MOSKOW diselenggarakan perayaan Idul Fitri yang diramaikan oleh begitu banyak muslim? Di Eropa saya bertemu banyak muslim. Penduduk pribumi maupun imigran dari negara arab atau Afrika. Ada yang muslim declare, ada yang benar-benar menjalankan syari'at. Bila dilihat dari skala muslim dunia, permasalahan antar golongan di Indonesia jadi terdengar "apa-apaan sih?!" di telinga saya.
Lalu, percayalah, Idul Fitri di Eropa tak kalah meriah dengan di Indonesia meskipun budaya mudik tidak ada. :-D. Jepang gimana? err.... sepertinya masih terkotak-kotak di kedutaan besar masing-masing negara. Iya gak sih?
ReAD MoRE・・・
200 Tahun Oktoberfest

Lima jam sebelum pesawat saya lepas landas menuju Jepang, saya sempatkan mengunjungi OKTOBERFEST. Festival ini terkenal dengan bir, namun saya lebih tertarik untuk mencari ikan bakar yang jarang-jarang bisa dijumpai di Bavaria. :-D
200 Years Oktoberfest in Munich (1810-2010)
The "Historical Oktoberfest" takes place only in 2010 because of the 200th anniversary of the Oktoberfest. Like in old times the historcal "Wiesn" is quiet and family-friendly.
In the tent "Herzkasperl" you'll be entertained by German and Bavarian artists. There is also an animal tent with different species of farm and domestic animals and a museum tent, where you can visit historical objects of the Oktoberfest. Like in the early "Wiesn" years you can see horse races every day at 1.00 and 6.00pm.
I visited this festival 5 hours before my flight back to Japan. I just came at the right time to Munich, eheheheh \^o^/
http://www.oktoberfest.de/en
ReAD MoRE・・・
Tuesday, 28 September 2010
Memaksa Keliling Eropa (dengan waktu terbatas)
ReAD MoRE・・・
Thursday, 2 September 2010
Banyak Jalan Menuju Roma

Dengan memakai tiket eurail, biaya transportasi di Itali terasa murah sekali. Saya hanya membayar 3 euro untuk kereta malam dari Venezia ke Roma. Sayang sekali saya hanya punya waktu kurang dari satu hari untuk menikmati suasana mantan ibukota kerajaan Romawi ini.
Di Kota ini ada Masjid Jami' terbesar di Eropa yang disekilingnya banyak berdiri tenda penjaja makanan tradisional negara-negara islam. Hmm, jadi daya tarik tersendiri selain melakukan ibadah dalam masjid. ^_^
Hanya saja anak kecil terlatih untuk mengemis di kota ini. Tidak jauh berbeda dengan suasana jalanan di kota besar Indonesia. Ah yah, hati-hati terhadap copet!
ReAD MoRE・・・
Thursday, 19 August 2010
Road to Germany!
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 21 July 2010
Schengen Visa
Supaya prosesnya cepat, berikut yang perlu disiapkan :
1. Application form, bisa diunduh dari sini ;
http://www.osaka-kobe.diplo.de/Vertretung/osaka/en/01/Visabestimmungen/Schengen.html
2. Reservasi pesawat dan hotel
3. Saldo buku tabungan --> buruan tingkatkan saldo anda sebelum apply visa-->Pinjam kesana-kemari, huehue.
4. Dalam kasus saya, pihak Universitas akan membantu biaya hidup dan tiket selama saya di Jerman, karena itu surat keterangan dari kampus juga perlu. Alhamdulillah suratnya sehari jadi.
5. Travel Insurance.
Sebenarnya aplikasi saya buat asuransi perjalanan sudah memenuhi syarat yang tertulis di situs. Ternyata saya diminta untuk menambah opsi RESCUE selain jaminan kematian, wabah, biaya rumah sakit, kecelakaan dan liability. Secara saya sebenarnya tidak rela bayar asuransi macam ini, sambil menggerutu dalam hati saya keluarkan juga 6800 yen untuk mencover asuransi ini. T_T (baca ini dan ini deh)
Saya acungkan jempol untuk proses visa yang cepat. Tepat seminggu setelah saya mengunjungi Konsulat Jendral Jerman di Osaka, saya menerima paket berisi paspor dengan visa yang sudah disetujui di pondok kediaman Nagoya yang nyaman dan sejuk (halah!) (saya memasukkan aplikasi hari Rabu dan saya menerima visa hari Rabu, 7 hari kemudian).
Pengalaman sedikit kurang menyenangkan adalah kereta saya dari Nagoya terlambat 2 jam dari jadwal gara-gara ada 2 kali bunuh diri di jalur Tokaido Nagoya-Osaka. Begitu pula saat kembali dari Osaka, kereta masih belum beroperasi normal gara-gara ada bunuh diri versi lain yang memerlukan waktu untuk memberihkan rel dari darah dah serpihan daging. :-( Tapi saya tidak terburu-buru soal waktu, jadi tidak masalah sih... cuman panas dan berdesakannya itu loh! Ini khan siang di hari kerja, kenapa banyak banget orang naik kereta di jam-jam segini!!! T_T
::Well, yah begitulah kalau mau pergi dengan tiket kereta murah 18kippu, harus rela berdesakan dengan resiko tidak mendapat tempat duduk. Apalagi memasuki Kyoto, bersiap bernapas dengan mendongakkan kepala ke atas --> nasib manusia ukuran mini macam saya yang bertemu punggung kemanapan menoleh di kereta penuh penumpang T_T::
ReAD MoRE・・・
Saturday, 8 May 2010
Visa (lagi!)
Siap-siap merencanakan hari (dan uang) untuk mengurus visa nih....
Btw, bicara soal penguasa di Indonesia, saya takjub dengan fenomena dwifungsi penguasa di negeri itu....
Pada waktu yang bersamaan, pasar keuangan dunia juga bergejolak. Mendung di Eropa yang dipicu oleh krisis utang Yunani mengempaskan Indeks Dow Jones, yang mengalami kemerosotan mingguan paling tajam sejak Maret 2009.
Kita yakin reformasi telah membuat pelaku pasar domestik kian matang. Pasar tak bereaksi berlebihan. Kita telah cukup berhasil melalui masa-masa sulit.
Yang kita harus lebih peduli adalah bagaimana mempercepat penguatan landasan untuk lebih kokoh lagi menghadapi gejolak, meredam guncangan eksternal, dan mendorong reformasi yang lebih terstruktur dan menyeluruh.
Jika tidak, negara-negara tetangga yang sudah lebih maju akan kian meninggalkan kita, sedangkan negara-negara tetangga yang masih tertinggal akan segera menyalib kita. Lebih baik saja tak cukup!
Di sinilah peran Sri Mulyani sangat menonjol. Yang paling mencolok adalah determinasinya dalam memutuskan saat masa-masa genting, konsistensinya mengawal reformasi birokrasi di kementerian vital yang sarat dengan praktik-praktik kotor, serta keteguhan hatinya mengatakan tidak kepada kekuatan-kekuatan yang kerap merongrong.
Pengakuan internasional terhadap sosok Sri Mulyani sangat tinggi, hampir tanpa cela. Tengok saja pemberitaan media massa asing minggu kemarin. The Wall Sreet Journal menjulukinya ”Top Reformer” dan ”Respected Finance Minister”, Financial Times menyebutnya ”Reform Champion”.
International Herald Tribune menilai kepergian Sri Mulyani ke Bank Dunia dengan kalimat: ”..could be a major setback for a crackdown on graft and tax evasion in Indonesian country, which has the biggest economy of Southeast Asia.”
Dua koran Singapura menurunkan berita yang senada. Bahkan, The Straits Times memuat artikel dengan judul agak provokatif: ”Sri Mulyani: World’s gain, Jakarta’s loss”.
Boleh jadi posisi sebagai salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia cukup prestisius dan sekaligus penghargaan ataupun kepercayaan kepada pribadi Sri Mulyani dan Indonesia.
Namun, sejauh pengenalan penulis atas sosok Sri Mulyani, mengemban tugas negara di negeri sendiri merupakan pilihan pertama baginya.
Bukan merupakan kelaziman kalau pejabat aktif setingkat menteri menyeberang ke lembaga internasional. Yang lazim, justru sebaliknya. Bagaimanapun, bagi seorang nasionalis sejati, seperti juga Sri Mulyani, mengabdi kepada negara adalah yang utama. Setelah teruji sukses di negaranya, barulah setelah pensiun ditarik ke lembaga-lembaga internasional untuk berbagi maslahat dengan komunitas dunia.
Oleh karena itu, terasa kontradiktif dan ganjil membaca penggalan berita utama Kompas (6 Mei 2010) berikut: ”Meski menilai Sri Mulyani salah satu menteri terbaik dalam kabinet yang ia pimpin, Presiden Yudhoyono mengizinkan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Presiden berharap di posisi barunya Sri Mulyani dapat memperkuat hubungan Bank Dunia dengan negara-negara berkembang”.
Jika Presiden yakin bahwa Sri Mulyani adalah aset berharga bagi bangsa, mengapa Presiden tidak menolak seketika permohonan pengunduran diri Sri Mulyani. Kalaupun ditolak, kita agaknya yakin Sri Mulyani tak akan ”mutung”. Justru ia bangga dan semakin teguh melanjutkan pengabdian karena beroleh penguatan komitmen dukungan dari atasannya.
Akan tetapi, kalau pertimbangan politik yang dominan, benar adanya ucapan Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang mengakui bahwa mundurnya Menkeu bisa menjadi faktor penyejuk politik nasional (Kompas, 6 Mei 2010).
Mengabulkan permohonan mundur Sri Mulyani bisa pula merupakan sinyal kurang teguhnya pemimpin tertinggi menghadapi tekanan politik kelompok-kelompok kepentingan yang terganggu kekuatan reformis dan gelombang keniscayaan perubahan. Mereka yang terancam dari comfort zone.
Memang, kita tak memiliki kemewahan untuk menarik garis pemisah yang tegas antara masa otoritarianisme Orde Baru dan masa Reformasi. Akibatnya, kekuatan-kekuatan lama dengan mudah menyusup terang-terangan ke relung-relung kekuasaan. Mereka dengan cepat mengonsolidasikan diri, menghimpun kembali kekuatan. Bahkan, kekuatan mereka sekarang telah berlipat ganda.
Tumpukan utang berganti dengan limpahan kekayaan yang dihimpun dari praktik dwifungsi bentuk baru: penguasa-pengusaha, yang tak lagi berjarak. Dwifungsi yang lebih ”bengis” daripada dwifungsi ABRI.
ReAD MoRE・・・
Friday, 19 February 2010
One Winter Five Dreams
http://www.vancouver2010.com/
(Selengkapnya setelah defense thesis T_T)
ReAD MoRE・・・
Monday, 1 February 2010
Jepang Memang!
Well...
Setelah mendengar cerita seorang senior saya pasca kunjungannya ke Washington DC, ternyata mekin menguatkan kesimpulan bahwa :
1. Orang Jepang jauh lebih ramah.
Tidak pernah terbayangkan kalau saya mengalami kesulitan di tempat umum, stasiun misalnya, lalu petugas yang saya mintai tolong hanya berteriak dari ruangannya sambil memberikan komando. Di Jepang saya terbiasa melihat para petugas tergopoh-gopoh, berusaha memberikan pelayanan yang terbaik. Eh, jangan-jangan saya akan mengalami shock berkelanjutan saat keluar dari Jepang? Ya, itu yang saya alami saat mudik ke Indonesia, atau dalam kunjungan ke negara lain.
2. Subway di Jepang lebih bersih dan nyaman.
Washington DC ternyata sebuah kota tua tanpa banyak bangunan tinggi. Luasnya hanya setengah dati Nagoya. Kecil, dunk. Di sana tak ada kereta, hanya ada subway yang dikisahkan bernuansa seram dan gelap (glek).
Pengalaman seorang sahabat baik saya setelah kunjungannya ke Austria juga menyatakan keterkejutannya. Disangka negara-negara eropa memiliki peradaban lebih tinggi, sehingga yang akan dijumpai adalah kota-kota yang bersih dan masyarakat dengan akhlak yang baik. Hmm, ternyata tidak juga.
Pada sisi lain, jumlah muslim di Jepang semakin banyak. Teman satu angkatan saya yang jadi mualaf tahun lalu bercerita tentang cita-cita menempelkan label halal dalam produk-produk di Jepang. Kalau proyek ini terwujud, subhanallah, hidup di Jepang akan semakin lebih mudah.
Kesimpulan saya : Setelah tinggal di Jepang dimana semuanya terasa baik, indah, praktis dan mudah, akan membuat rawan culture-shock saat mengunjungi negeri lain. Jadi, sebelum shock yang ditimbulkan makin parah, segera tinggalkan Jepang. Atau, berusaha agar tidak keluar Jepang sekalian. Huehuehue
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 27 January 2010
Debu-debu Intan
Sebagai penikmat musim dingin saya takjub melihat fenomena debu-debu intan yang disoroti dalam siaran berita pagi ini. Kenapa? Debu intan yang biasa terjadi di Jepang Utara ternyata dijumpai pula di Gifu, sekitar 1 jam dari apartemen saya yang jelas masuk Jepang bagian tengah. Dalam suhu minus 20 derajat celcius kristal-kristal air jatuh berkilauan, menciptakan sensasi keajaiban alam yang luar biasa : Diamond Dust.
Diamond dust hanya terjadi saat langit cerah dan suhu mininal 20 derajat di bawah titik beku. Penulis Saint Seiya ternyata belajar ilmu meteorologi juga. Penulis memang perlu mengadakan riset. Saya pikir inilah daya tarik komik dan anime Jepang. Pengetahuan memang selalu memiliki daya tarik bagi siapapun, entah sadar atau tidak.
ReAD MoRE・・・
Sunday, 22 March 2009
Lost In Hongkong [1]
Saya bersyukur sekali menemukan suasana yang begitu mengindonesia di Hongkong. Teriakan menjajakan gorengan, pecel, bakso, soto, nasi campur, sampai kartu telepon membahana sepanjang trotoar di Nathan Road. Kebanyakan mereka menyangka bahwa saya sedang berkunjung dalam rangka lawatan bisnis. Hihi. Tapi setelah saya cerita, eh, saya malah dijamu dengan bakso, teh hangat, lalu dipandu menyusuri lorong kereta bawah tanah plus bonus tiket dari Wan Chai sampai stasiun terdejat ke hotel tempat saya menginap. Alhamdulillah. Rasa persaudaraan sebangsa seagama itu begitu indah!
*to be continued*
ReAD MoRE・・・
Friday, 13 March 2009
Satu Awal
Ceritanya saya mengirimkan aplikasi untuk KAUST Discovery Scholarship bulan Desember 2008. Setelah sekitar 3 bulan menunggu -well sebenarnya tidak segitunya juga, soalnya sibuk juga dengan urusan kuliah, laporan, ujian, baito, ...- alhamdulillah sekitar seminggu yang lalu ada telepon dari perwakilan IIE (institute of international education) yang menyatakan bahwa saya lolos ikut wawancara yang akan diselenggarakan di Hongkong.
Wawancara akan dilaksanakan dalam bahasa Inggris, makanya saya sedikit mencari tips-tips soal interview plus cara meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dalam dua minggu. Iseng saya bertanya ke prof. Gobel -bule australi muslim,teman badminton saya- , jawabannya adalah :Gak mungkinn!! Kalau memang mau meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yah harus banyak bacot dengan native, begitu kata beliau. Sebenarnya ada kesempatan untuk menjadi guide dadakan buat Daniel, bule Inggris yang mau melancong ke Kyoto -dia rekan maen badminton juga, wew, banyak manfaat juga neeh maen badminton, huhu- sayangnya saya tidak ada waktu luang sehari pun sampai tanggal 22 nanti. Baito saban hari, kalau tidak baito yah sudah ada acara lain yang terlanjur diiyakan sejak beberapa pekan yang lalu. Jalan terakhir yah, otodidak. Mendengarkan BBC sambil sok-sok menirukan pelafalan penyiar radionya. :-D
Soal tiket pesawat, hotel, dan segenap akomodasi lain ditanggung oleh pihak pewawancara. Alhamdulillah saya tinggal menyiapkan, mental, fisik dan baju sahaja. Orang Indonesia tidak perlu mengurus visa ke Hongkong. Suhu Hongkong di akhir Maret sudah hangat, jadi saya tidak perlu membawa jaket tebal seperti yang masih saya kenakan di Jepang sekarang. Hmm... Bismillah. Semoga Allah memberikan yang terbaik dan memudahlan awal jalan ini.
ReAD MoRE・・・
