Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Thursday, 16 January 2014

Rental Mobil Sekitar BSD

Sharing informasi untuk Rental Mobil di sekitar BSD. Kami menjadi pengguna mobil sewaan (Xenia/Avanza/Panther) sekaligus supirnya untuk beberapa keperluan silaturahim atau kepentingan keluarga. :-) 

 1. Alea Rental Car. Lokasinya di kompleks perum Ciater Permai, seberang kompleks kami. Harga sewanya murah. 25K/jam, minimal 6 jam (sudah termasuk supir). 250K/12 jam. HP : 0813-8467-2123

 2. Trinity Rental Car Lokasinya di kompleks Melati Mas. Sewanya 290K/12jam, untuk luar Jabodetabek tambah 50K. HP : 0812-1374-2766 

 3. Silver Dream Express Lokasinya di Sektor 12 BSD. Ini sering kami gunakan untuk antar jemput Bandara Soetta. 130k sekali jalan ke BSD. HP : 0812-8103-8648 Supir sopan, pelayanan memuaskan.  Untuk rental 12 jam, harga standar 350K. 

 4. Marubaya Rental. Lokasinya di jalan masjid Ciater. Belum pernah coba, tarif standar 350K/12jam. HP : 0819-0635-5525 

Pilihan pertama kami biasanya Alea, baru yang lain. Untuk trinity kami agak kurang sreg dengan supirnya. FYI, standar supir untuk setir 12 jam itu 150K. Biasanya kami memberikan Tip sesuai dengan tingkat kepuasan kami, hehe. Pengalaman keliling BSD-Tangerang-Jakarta-Bekasi ke 4 lokasi, bensin dan tol habis sekitar 150K. :-) Well, agenda rekerasi dan silaturahim sudah masuk ke dalam budget, insyaallah pilihan sewa mobil masih sesuai dengan perencanaan keuangan kami. Beli mobil? uhm, penting tapi belum mendesak.


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 7 January 2014

Kampung Batik

Sebelum kembali ke Ibukota setelah berlibur selama sekitar 10 hari, kami menyempatkan untuk keliling kota Surakarta. Tujuan utama kali ini: Kampung Batik. Tak hapal tata letak lokasi di kota ini, akhirnya dikerahkanlah segenap koneksi. Mulai temen adik saya yang dulu juga sempat menjenguk istri tercinta menjelang kelahiran bayi, hingga pejalan kaki dan pengendara motor yang turut terjebak macet seputar jalan Slamet Riyadi. 

Yups. Macet. Kota Surakarta pada hari Sabtu juga mengalami macet, meski tak separah di Jakarta. Lokasi kampung Batik Kauman dekat dengan alon-alon tempat diselenggarakan festival Sekaten, Pusat Grosir Solo (PGS) dan pasar Klewer. Inilah penyebab lain kemacetan yang kami alami : pusat keramaian lokal. 

Sebenarnya ada dua kampung Batik : Kauman dan Laweyan, informasi yang kami peroleh waktu itu hanyalah "kampung Batik", selebihnya kami "diarahkan" oleh pengendara motor dan pejalan kaki setempat menuju Kampung Batik Kauman. Seperti kebanykan nama tempat di Jawa, di Kauman terdapat masjid Agung. Di balik Masjid Agung inilah tersebar butik-butik cantik berjualan batik dalam suasana perkampungan yang unik.

Harga batik di butik-butik ini bervariasi dari puluhan ribu, hingga jutaan rupiah. Kami meimilih batik kombinasi cap dengan tulis. Harga baju dari kain batik 100% tulis sudah di atas 500 ribu. Batik print paling murah karena produksi masal. Batik Cap sedikit lebih mahal dibandingkan batik print namun belum cukup unik sehingga perlu sentuhan batik tulis agar bajunya tidak pasaran. Motif dan warna juga faktor yang penting untuk dipilih. Motif dan warna tertentu sudah ketinggalan jaman dan kurang pantas dipakai ke kantor atau kondangan. 


Alhamdulillah sekarang saya punya konsultan fashion sekaligus manajer keuangan sehingga pilihan baju lebih fokus. Sesuai dengan tren dan fulus :-p. Terakhir kali saya beli batik adalah untuk persiapan acara lamaran dan menikah, 2 tahun lalu. Baju yang sudah dibeli warnanya sudah tidak sesuai aslinya dengan seringnya pemakaian dan kurang telatennya perawatan. Hiks. 


Bagi istri tercinta, kali ini adalah kesempatan pertama belanja baju batik langsung ke pusatnya. Selama menikah, dipikir-pikir saya jarang sekali membelikan baju. banyak kain yang kami terima sebagai kado pernikahan, jadi persediannya pakaian masih cukup selama 2 tahun, tinggal dijahitkan, hehe. Alhadulillah istri cukup sabar :-) Kain-kain khas dari Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra sudah kami dapatkan. Hum, saatnya menambah koleksi batik dari kawasan lain di Indonesia. 

Mengenai harga PGS atau Pasar Kelwer lebih ramah dompet. Namun tujuan beli batik kali ini bukan untuk dijual kembali, sehingga kami memilih kampung batik agar baju yang dibeli didesain menarik tanpa label pabrik. Selain harga, lingkungan juga kami jadikan pertimbangan. Kami membawa bayi 7 bulan, kerumunan banyak orang di Pasar terasa kurang nyaman. Dalam Kampung Batik kauman juga terdapat mushalla dan restoran. Harga makanan? Jangan diragukan. Murah meriah dan lezat. Lima porsi paket makan siang dan dibungkus pulang hanya 100ribuan! Minuman kunyit asam rumahan juga sangat legit. 


Ahem. Jadi kangen ke kampung batik lagi. 
(next, mau jualan? :-p Harganya 50% lebih murah dibandingkan Jakarta hehe)


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 24 July 2013

KRLku kini :-P

Setelah dipindahtugaskan ke Jakarta, banyak disarankan oleh para pendahulu untuk memilih tempat tinggal yang dekat dengan akses kereta. OK lah. Lokasi kantor juga cuman 5 menit pakai ojeg dari Palmerah. Waktu tempuh dari Rawabuntu sekitar 30 menit, sehingga total waktu tempuh dari pintu rumah ke kursi kantor sekitar 50 menit. Cukup ideal bagi saya yang menstandarkan waktu perjalanan rumah-kantor harus kurang dari 1 jam. 

 Kereta KRL Serpong-Tanah Abang cukup nyaman dengan ongkos 8000 rupiah sekali jalan. Tarif yang masih lumayan murah meskipun harus disambung dengan bus/ojeg menuju kantor. Alternatif lain adalah dengan menggunakan bus Trans BSD yang melewati ratu plaza-FX-Plasa senayan, bisa langsung turun di depan gedung kantor. Hanya saja dengan bertambah padatnya mobil di jalanan, waktu tempuh bus trans BSD ini bisa sampai 2-3 jam. +_+. Hanya saat saya ingin tidur selama perjalanan, saya pakai bus, selebihnya kereta masih menjadi pilihan.

 Seiring dengan naiknya harga premium setelah subsidinya dicabut, tarif progresif KRL pun diberlakukan. Biayanya jadi lebih murah. Dulu saya harus emngeluarkan 8 ribu sekali jalan, sekarang hanya 2 ribu saja.

 Masalahnya adalah, pengguna KRL jadi meningkat tajam. Sekitar bulan Mei,saya masih bisa kebagian kursi saat naik KRL dari stasiun rawabuntu jam 07.42. Sekarang? Buat masuk aja susah! Akhirnya saya memutuskan berangkat lebih pagi, naik kereta pukul 07.19. Hasilnya? sama saja! Harus berdesakan untuk masuk ke dalam gerbong. karena orang-orang ydari beberapa staisun menuju jakarta memaksa naik (Sudimara, Jurang Mangu, Pondok Ranji), pintu kereta tidak bisa ditutup. Akibatnya? Jadwal keberangkatan kereta terlambat! 

 Efeknya lagi, saya terlambat masuk kantor. Padahal biasanya dengan naik kereta 07.42 saya bisa sampai di kantor pukul 8.20. Sekarang dengan naik kereta pukul 07.19 (yang kadang terlambat), saya sampai kantor jam 08.15. Kesimpulannya, sekarang ini harus berangkat lebih pagi untuk berangkat kerja. Biasanya kereta pada jam berangkat kerja sudah fully occupied di stasiun Sudimara. Calon penumpang dari Jurang Mangu atau Pondok Ranji harus berjuang extra keras untuk mendorong massa masuk lebih dalam ke gerbong atau menunggu kereta selanjutnya. Alternatif lainnya, saya naik dulu kereta ke stasiun serpong yang akan berangkat kembali menuju Tanah Abang. 

*ternyata banyak juga yang naik dari rawabuntu/Sudimara ke Serpong untuk kembali lagi menuju Jakarta, kemungkinan untuk bisa duduk lebih banyak. Tetap perlu dicatat bahwa turun di kebayoran/Palmerah, tenaga extra masih tetap diperlukan untuk menembus pagar manusia. Duduk-berdiri-goyang badan, menyelinap-melompat turun-antri keluar gate. Karena banyaknya jumlah penumpang yang diangkut, 2 hari yang lalu kaca/plastik di pintu kereta melengkung sehingga pintu kereta tidak bisa menutup. pada kesempatan lain, ada gerbong yang pintunya bolong. Saya yang senang berdiri dekat pintu -supaya gampang turun- jadi agak syerem kalau-kalau saat kereta berjalan dengan adanya pergerakan masa sekian ratus kilogram yang menekan pintu, kacanya bisa jebol... *sudah mengalami sendiri* 

 Belum ditambah isu adanya copet yang turut menumpang kereta, terustama untuk rangkaian yang hanya 6 gerbong. waspadalah! Beberapa pengguna KRL banyak yang menyesalkan penurunan kualitas ber-KRL menuju Jakarta semenjak diberlakukannya tarif progresif. Ibu hamil, manula dan anak kecil kurang direkomendasikan naik KRL saat jam berangkat/pulang kerja. gerbong wanita pernah dikatakan tetap kurang nyaman buat ibu hamil/bawa anak kecil/orang tua, sesama wanita terkadang lebih tega ya....


ReAD MoRE・・・

Friday, 9 September 2011

lapar Mata


Lapar mata, karena ternyata saya sudah lama tidak membaca. Momen yang tepat saat saya hendak mudik banyak resensi buku yang membuat budget harus dikotak-kotak lagi supaya ada sisa uang untuk membeli buku-buku berikut :

1. 99 Cahaya di Langit Eropa.
*Jeder!!* Keduluan. Sebagai efek samping research saya ke Jerman tahun lalu, menulis tentang jejak kejayaan islam di Eropa sudah diniatkan sejak sebelum naik pesawat dari Jepang. Keinginan menghasilkan 'karya lain' selain laporan tertulis ke universitas sebenarnya menjadi motivasi saat menulis proposal reserach (baca: minta dana :-P ) ke kampus...Ingin membaca buku ini lalu siapa tahu bisa menambahkan poin-poin yang belum tersampaikan yang terjaring dalam pengetahuan saya. *Tapi kapan yah nulisnya? hiks...*

Berikut resensinya [di tulis oleh Mbak Dee (Rahmadiyanti)] :

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia, 2011
Tebal: 424 hlm

Dalam lintasan sejarah, selalu ada sekelompok manusia yang merasa lebih baik, lebih unggul, lebih superior dari manusia lain, yang kemudian melahirkan istilah rasisme. Rasisme juga yang jadi salah satu faktor pendorong diskriminasi, kekerasan sosial, bahkan yang lebih parah: genosida--pembantaian/pemusnahan sebuah kelompok/suku bangsa oleh kelompok lain. Sebut misalnya yang dilakukan Julius Caesar terhadap bangsa Helvetia. Bangsa Anglo Saxon terhadap suku Keltik. Nazi terhadap kaum Yahudi dan Slavia. Khmer Merah terhadap rakyat Kamboja. Hingga pembantaian bangsa Bosnia oleh Serbia dan suku Hutu terhadap Tutsi,di Afrika.

Tanpa bermaksud menafikan rasisme yang juga banyak terjadi pada agama lain, sepertinya abad ini Islam (dan kaum muslim) menjadi sorotan utama dan dalam banyak kasus mengalami berbagai diskriminasi. Peristiwa 911 (tampaknya kejadian ini harus selalu disebut) seperti menjadi faktor penguat Islam vis a vis Barat (baca Amerika dan Eropa). Meski kecurigaan-kecurigaan selalu ada di kedua belah pihak, banyak pihak berusaha mengubah stigma "berhadap-hadapan" tersebut, menjadi stigma "saling menguatkan" (kutipan endorsement Anies Baswedan). Salah satunya buku ini.

Bertutur gaya fiksi, dengan bernas--dan dalam banyak sisi menguras emosi--penulis menyampaikan jejak dan pertautan Islam dengan Eropa melalui perjalanannya menapaki beberapa kota di Eropa, antara lain; Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul. Sekali duduk saja saya membaca buku setebal hampir 400 halaman ini. Penuturan penulis sangat lancar, tak bergenit diksi, tapi tetap meninggalkan rasa sastra yang cukup dalam. Pesan-pesan bertaburan, tapi tersampaikan dengan cantik. Tentang peradaban Islam yang (pernah) memukau, tentang keagungan tokoh-tokoh muslim masa lalu--sekaligus kesalahan besar yang pernah dilakukan, juga tentang "kekalahan" kaum muslim.

Melalui tokoh Fatma misalnya, penulis menyampaikan pesan dakwah yang cantik, membalas perlakukan buruk non muslim dengan kebaikan. Jujur saya iri dengan Fatma, muslimah "biasa" imigran dari Turki yang dengan cerdas menjadi agen Islam.

Melalui tokoh Marion, kita diajak menelusuri "rahasia-rahasia" yang mungkin tak banyak kita ketahui dari Museum Louvre dan Arc de Triomphe yang berkenaan dengan Islam.

Melalui Der Wiener Deewan, sebuah restoran berkonsep All you can eat, pay as wish di Wina, kita diajak menyelami makna ikhlas.

Dan masih banyak keping-keping perjalanan penulis yang akan menyadarkan kita, betapa Islam begitu mulia, begitu agung, tapi seringkali umatnya lah yang membuat jelek imej Islam. Seperti kisah Kara Mustafa Pasha, yang disampaikan dengan begitu menyayat hati.

Setelah Selimut Debu dan Garis Batas, buku ini adalah buku traveling tak biasa yang saya suka. Semoga lekas hadir buku berikutnya dari penulis :)



2. 101 Info tentang Ilmuwan Muslim
[Siap-siap kalau ntar diamanahi anak-anak :-P ]
Penulis : Ridwan Abqari
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal : 68 hal (tipis euy.... )
lmuwan-ilmuwan muslim yang terangkum di dalam buku ini mungkin sebagian sudah sering kita baca di berbagai sumber. Tapi merangkum dan membukukannya dengan simpel, menarik, dan mudah mengerti oleh anak-anak, menurut saya tak mudah. Buku ini berhasil mengumpulkan informasi tersebut dan mengolahnya dengan baik. Bagus banget buat orangtua untuk menambah wawasan dan memotivasi anak. Pesan lain yang juga penting, betapa sebagian besar ilmuwan muslim adalah manusia-manusia multi-talent dan lintas-ilmu. Ya ahli ilmu alam, ya filsuf, ya jago bikin syair indah.


3. HEBATNYA BUNDAKU (Dewi Mulyani) - DAR! Mizan, 2011.

Kumpulan kisah tentang ibunda para sahabat Nabi dan tokoh Islam seperti imam mahzab, dalam mendidik anak. Ada beberapa kisah yang sudah banyak diangkat, tapi sebenarnya kisah seperti ini, dibaca berulang kali pun akan selalu meninggalkan hikmah.

4. The BEST ADVICES OF SAYYIDINA ALI FOR LEADER - GIP, 2009, 58 hlm.
Buku kecil-tipis tapi isinya dahsyat. Surat Ali bin Abi Thalib, r.a, yang kala itu menjadi khalifah, kepada gubernur Mesir, Malik bin Harits Al Asytar. Berisi prinsip-prinsip dasar mengatur negara yang jika saja benar-benar diterapkan pada masa itu (juga masa kini), tak perlu diragukan betapa akan tercipta sebuah negara madani dengan pemimpin yang mumpuni. Dari pesan mengayomi rakyat, memilih staf pemerintah, angkatan bersenjata, hingga soal pajak dan penimbunan barang. Saya membayangkan pemimpin-pemimpin sekarang ketika dilantik juga disodorkan "mou" seperti ini :)


Dicukupkan dulu kana... setelah beli dan baca insyaAllah akan bikin resensi versi sendiri ^_^
(packing-packing-packing-packing-packing laaageeeeeeeeee)



ReAD MoRE・・・

Monday, 18 July 2011

Road To Tokushima!


Akhirnya jadi juga berangkat ke Tokushima setelah merangkap jadi manajer dadakan (ketua PPI Nagoya JJS ke Italy) dan perayu gombal (banyak orang yang awalnya terdaftar terus mengundurkan diri) untuk mangajak orang-orang Nagoya agar mau jadi perwakilan atlet PORMAS 2011-nya PPI Jepang. Syalalala~ Dengan persiapan baru selesai 2 jam sebelum dedline pendaftaran peserta, tim PPI korda Chubu pun berangkat bertanding ke Tokushima. Ah, yah. Saya baru tahu di H-1 kalau pak Ketua PPI chubu memberi nama SATRIA Chubu untuk tim yang berangkat kali ini.

Hasilnya? Well, not bad lah. Kami meraih 1 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu, sekaligus menjadi juara umum ke-3 setelah PPI Tohoku ( 2 emas dan 3 perunggu!) dan PPI Kyushu-Okinawa (2 emas). Alhamdulillah ini hasil maksimal kami dengan persiapan yang sangat minim. Dua orang teteh pun terpaksa didaftarkan untuk ikut tanding ganda putri badminton, padahal niatnya cuman ngikut suami. Heuheu. Ketua PPI Chubu yang awalnya cuman hadir untuk rapat PPI diikutkan ganda tenis meja (dan ajibnya bisa dapet medali emas! Yiihaa~~ * sukses nih jadi manajer :-D * )

Sayangnya kamera saya habis batere saat hari-H! HadooohhH!! Kalau begini terasa enaknya punya kamera ber-charger, bukan seperti kamera dengan batere yang biasa saya buat pakai jalan-jalan. Kenapa? yah, di sekitar lokasi Pormas dan penginapan TIDAK ADA kombini. Ini Jepang bukan sih? *kata temen saya dari Tokyo yang lupa gak bawa sikat gigi dan sabun mandi :-P *


Foto-fotonya insyaAllah akan di upload setelah dapet data rampasan perang dari para pemilik kamera nikon, supaya terlihat bagus.

*Entah kenapa terasa capek sekali yah. Saya ternyata tidak terbiasa main badminton single, capekkkkkkkkkkkkkkk. Padahal kalau main ganda selama 3 jam pun capeknya tidak separah ini. Keadaan di dalam GOR memang sangat pannas, duduk di lantai aja kepanasan. Sewaktu bertanding, apalagi. Baru pertama ini saya merasa ingin cepat-cepat game selesai tanpa peduli kalah atau menang. Panasnya tiada tara!*


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 13 July 2011

Menjaga Kebudayaan




Well, banyak orang mengatakan bahwa keluarga adalah pangkal peradaban. Dalam islam sendiri, sudah ada tuntunan dalam memulai langkah paling awalnya : memilih pasangan :-)

Pikiran saya barusan terkuras untuk satu dedline hari ini, sehingga daripada menulis yang berat-berat, saya memilih untuk napak tilas petualangan menuju Masjid Raya Roma pada bulan Syawal tahun lalu.

Sebenarnya petualangan mengunjungi pusat-pusat kebudayaan islam di Eropa menyimpan banyak gambar, sayangnya memory card yang saya pakai waktu itu ikut terkirim bersama kamera yang dipinjam adik buat tugas lapangan. Doh! Padahal puncak petualangan di bekas Ibukota Islam di Andalusia sangat-sangat-sangat menarik untuk dibagi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, isi video dari y*utu*e di atas terasa sekali (Terlepas dari akurasi angka-angka dan tahun yang disebutkan di dalamnya). Waktu memanjangkan kaki di bekas wilayah Jerman Barat, di stasiun-stasiun besar muslimah berjilbab lebar berjalan bersliweran seolah saya berada di sebuah negeri muslim saja. Masjid-masjid juga lebih mudah ditemui dibandingkan di Jepang. Mungkin benarlah, kejayaan islam akan kembali salah satunya dengan banyaknya populasi muslim yang tersebar si seluruh penjuru negeri.

Lalu tarara~ Selamat menikmati beberapa foto di seputar Jalan Masjid, Roma. ^_^


Viale della Moschea : Jalan dimana Masjid berada. InsyaAllah kalau bertanya ke Polisi pun, mereka tau dimana lokasi masjid Roma ini, lah nama jalan rayanya aja Jalan Masjid kok!


Nampang dulu di lantai 2. :-D
Tinggi menara masjid ini hampir sama dengan kubah gereja Vatican, makanya sempat menuai protes waktu pembangunannya. Lokasi Masjid yang berada di lembah akhirnya menjadi alasan yang 'menentramkan' karena tingginya tidak akan bersaing dengan tempat peribadatan pribumi. :-P





Masjid nampak dari jalan. Masih harus muter dulu untuk masuk dari gerbang utama.



Berbagai jajanan halal kreasi para muslim imigran.



Warung tenda yang siap dikunjungi ba'da sholat Jumat.



Suasana di dalam Masjid yang luas dengan pilar-pilar tinggi, kokoh dan indah. Jamaahnya manusia-manusia beragam ras.




Pikirkan bila tempat-tempat ibadah umat islam dibangun dan diramaikan oleh keturunan-keturunan yang tinggi kualitas imtaq-nya di berbagai sudut dunia. Dan di sini, di Nagoya, kami pun sedang bermimpi membangun sebuah kampung muslim, mumpung populasi Jepang sedang berada puncaknya saat ini. Maksudnya? Mari membeli tanah dari orang-orang tua yang tidak punya keturunan. :-P



ReAD MoRE・・・

Tuesday, 1 March 2011

[Kyushu]Merasai Eropa di Pojok Asia

Masih terbayang petualangan di Eropa summer 2010 lalu. Kalau sedang berada di Jepang dan ingin merasakan suasana Eropa tanpa harus mengurus visa ke sana, maka Huis Ten Bosch (House in Forest) di Kyushu bisa menjadi alternatif yang direkomendasikan.

Well, asyicknya kalau ke sini dengan pasangan masing-masing biar romantis. Hiks. Kalau sekarang (bujang) kok terasa sayang yah..... :-(((
Secara pribadi saya lebih memilih resort ini daripada Disney :-P


Sayang sekali waktu ikut conference di Nagasaki tahun 2009 yang lalu tidak cukup waktu untuk memanjangkann kaki sampai sini. Tapi alhamdulillah deh, ada tempat selain Hokkaido dan Okinawa yang bisa dijadikan terget wisata murah selanjutnya :-D




ReAD MoRE・・・

Thursday, 7 October 2010

Wittenberg



Dokumentasi kunjungan ke Wittenberg Lutherstadt. Ting tong! Adakah lampu mneyala di kepala anda? Yup! INi tempat kelahiran Marthin Luther, pembawa paham Protestant dalam gereja. Ternyata kotanya kecil euy, ada di kawasan bekas Jerman Timur. Here are the pictures:



Kafe-kafe seperti ini banyak menjamur di antara gedung-gedung yang sambung menyambung menjadi satu.
Berbagai lambang dalam pigura...
Wittenberg dari atas...

Patung-patung kecil 4 warna, lokasi dekat sini sering dipergunakan untuk acar kumpul-kumpul, studytour atau rapat tertentu...


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 29 September 2010

Idul Fitri di Eropa



Siapa pernah membayangkan bahwa di MOSKOW diselenggarakan perayaan Idul Fitri yang diramaikan oleh begitu banyak muslim? Di Eropa saya bertemu banyak muslim. Penduduk pribumi maupun imigran dari negara arab atau Afrika. Ada yang muslim declare, ada yang benar-benar menjalankan syari'at. Bila dilihat dari skala muslim dunia, permasalahan antar golongan di Indonesia jadi terdengar "apa-apaan sih?!" di telinga saya.

Lalu, percayalah, Idul Fitri di Eropa tak kalah meriah dengan di Indonesia meskipun budaya mudik tidak ada. :-D. Jepang gimana? err.... sepertinya masih terkotak-kotak di kedutaan besar masing-masing negara. Iya gak sih?


ReAD MoRE・・・

200 Tahun Oktoberfest



Lima jam sebelum pesawat saya lepas landas menuju Jepang, saya sempatkan mengunjungi OKTOBERFEST. Festival ini terkenal dengan bir, namun saya lebih tertarik untuk mencari ikan bakar yang jarang-jarang bisa dijumpai di Bavaria. :-D


200 Years Oktoberfest in Munich (1810-2010)

The "Historical Oktoberfest" takes place only in 2010 because of the 200th anniversary of the Oktoberfest. Like in old times the historcal "Wiesn" is quiet and family-friendly.

In the tent "Herzkasperl" you'll be entertained by German and Bavarian artists. There is also an animal tent with different species of farm and domestic animals and a museum tent, where you can visit historical objects of the Oktoberfest. Like in the early "Wiesn" years you can see horse races every day at 1.00 and 6.00pm.

I visited this festival 5 hours before my flight back to Japan. I just came at the right time to Munich, eheheheh \^o^/

http://www.oktoberfest.de/en


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 28 September 2010

Memaksa Keliling Eropa (dengan waktu terbatas)

Entah kapan lagi ada kesempatan ke eropa..

Mumpung ada sedikit waktu sebelum tahun ajaran dimulai di Jepang dan membuat laporan, saya berusaha mengoptimalkan waktu yang tersisa. Well, tulisan ini sudah terpajang di Notes FB saya sebenarnya. Tapi siapa tahu ada yang nyasar ke blog ini lalu menemukan bahwa informasi semacam ini perlu juga.

So, Berbekal Eurail yang masa berlakunya tinggal seminggu dan dukungan easyjet yang tiketnya murah meriah, saya berhasil mengunjungi 13 kota di 6 negara dalam 7 hari setelah Idul Fitri.



Rutenya : Munich-Paris-Portbau-Barcelona-Grenada-Malaga-Milan-Venezia-Roma(dan Vatican)-Bologna-Verona-Trento-Innsburg-Zurich-Munich
Dengan rute ini, tidak perlu menginap di hostel karena bisa memanfaatkan kereta malam.
Well, sebenarnya rencana awal saya adalah Munich-Paris-Barcelona-Madrid-Cordoba-Granada-Malaga-Milan-Vennezia-Roma-Wina-Praha-Munich, namun karena satu dan lain hal terpaksa harus diubah--->Terutama gara-gara keterlambatan kereta!


Castello, Milano

Paris : Eiffel & Louvre
Barcelona : Sagrada Familia, Casa Mila, Espana
Madrid : city centre
Cordoba : Katedral dalam Masjid
Granada: Al Hambra, kebun olive, city centre--> nikmatilah paella


Al Hambra, Granada
Malaga : cuman numpang naik pesawat doang~
Milan : Duomo, Monza, Castello, Buenos Aires street --> makan pasta n pizza
Venezia : Santo Marco (kotanya kecil sih, 2 jam juga udah muter kemana-mana, bila ada waktu lebih bisa menyebrang ke pulau lain atau buang duit naik gondola (mahal! 80 euro! mending naik bus air, 16 euro buat 12 jam)
Roma : Coleseo, Vatican, City centre --> Nikmati Tiramisu dan Es krim, oleh2 murah!! (dibanding negara eropa lain)
antara Bologna-Zurich : suasana pegunungan~~


Pengalaman selama perjalanan :
1. Bikin reservasi dekat hari-H saja supaya memungkinkan perubahan rencana. Siapa tahu setelah sampai di suatu kota muncul keinginan untuk mengeksplorasi lebih jauh.

2. Bikin reservasi untuk jarak terjauh dalam satu negara lalu dilanjutkan dengan kereta lokal yang melewati perbatasan bisa menghemat 75% biaya. \^o^/ ----> Dibandingkan bila melakukan reservasi untuk 2 kota besar di 2 negara berbeda.

3. Pakai pesawat murah jarak jauh untuk menghemat waktu. Kali ini saya terbang dari Malaga (spanyol) ke Milan (Italia) dengan 40 euro-an saja. Kata teman saya kalau lagi murah (reservasi 3 bulan sebelumnya) bisa 15 euro-an. Ehem, bagi saya 40 euro masih murah untuk penerbangan internasional jarak jauh macam ini, apalagi saya melakukan segala reservasi H-2 keberangkatan.

4. Selain ingin menikmati hidangan lokal dengan suasana elegan, belilah keperluan perut di supermarket untuk menjaga ketebalan dompet. (ingat hari Minggu gak ada yang buka, kecuali toko di stasiun!). Makanan andalusia dan Itali sedap!! --> mungkin karena terbiasa makanan di Jerman yg gak banyak variasi....

5. Penuhilah panggilan alam di McD (huehue ato restoran lah, McD ada dimana-mana sebagai WC gratisan), kereta atau bandara. Kencing di stasiun bayar dan antri!! -> apalagi di kota wisata. Well, Beberapa tempat di Vatican dan Spanyol toiletnya gratis.


6. Aktif bertanya supaya tidak ketinggalan kereta. Ada kalanya pengumuman hanya disampaikan dalam bahasa lokal dan kereta datang terlambat. Untuk kasus saya di Italia, saat diumumkan dalam bahasa Inggris "....NOW DEPARTING FROM LINE NUMBER..." keretanya tuh udah jalan, sehingga saya cuman melonggo sambil bawa barang bawaan. >_<; --> Kirain masih ada satu menit buat nekad melompat ke gerbong T_T

7. Pemandangan gunung yang eropaaaa banget saya jumpai antara Italia dan Austria, setelah masuk Austria pemandangannya justru kurang cantik (bisa jadi yg bagus terlewat saat saya tidur), Memasuki swiss, keretanya lewat pinggir danau, waowwW (pilihlah tepat duduk di sisi kanan deket jendela). Eniwei, pemandangan gunung yang bagus lebih bisa diperoleh di stasiun kota kecil ala Trento atau Bolzano, begitu sampai Innsburk ke atas, udah tertutup dengan gedung T_T

8. Tidak semua menu di restoran kebab adalah halal. Kalau mau selektif, pilih yang pasang label halal di tokonya. Well, kalau ayam masih bisa diterka, kalau daging katanya udah campur-campur euy....

Tautan :

Bertualanglah selagi muda (dan single) . Diskon 35% dari harga biasa bagi mereka yang berumur 25 tahun atau lebih muda saat hari pertama perjalanan dimulai.Bisa dibeli dari jauh-jauh hari, lalu diakivkan saat hendak memulai perjalanan sesampainya di Eropa.

Situs kereta nasional Jerman, bisa dipakai untuk cek jalur di Eropa.

Bila hanya ada satu barang bawaan berukuran 25x45x56 dengan berat berapapun, memakai pesawat terkadang lebih murah dibandingakn biaya reservasi kereta highspeed. Obrak-abrik saja sampai ketemu.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 2 September 2010

Banyak Jalan Menuju Roma



Serigala, Romulus dan Romus. Legenda yang dibatukan di tengah kota Roma.

Dengan memakai tiket eurail, biaya transportasi di Itali terasa murah sekali. Saya hanya membayar 3 euro untuk kereta malam dari Venezia ke Roma. Sayang sekali saya hanya punya waktu kurang dari satu hari untuk menikmati suasana mantan ibukota kerajaan Romawi ini.

Di Kota ini ada Masjid Jami' terbesar di Eropa yang disekilingnya banyak berdiri tenda penjaja makanan tradisional negara-negara islam. Hmm, jadi daya tarik tersendiri selain melakukan ibadah dalam masjid. ^_^

Hanya saja anak kecil terlatih untuk mengemis di kota ini. Tidak jauh berbeda dengan suasana jalanan di kota besar Indonesia. Ah yah, hati-hati terhadap copet!


ReAD MoRE・・・

Thursday, 19 August 2010

Road to Germany!



Wilkommen!!

Akhirnya bisa juga mewujudkan pesan Ayahanda untuk mengunjugi Jerman. Katanya, salah satu adab terhadap orang tua adalah memenuhi keinginannya. Maka saya sedikit terburu-buru menunaikan amanah ini. Ayah keburu meninggal sebelum saya sempat melaporkan lawatan saya ke negeri ini. Setelah sebulan menjadi graduate student, persiapan buat ke Jerman segera dilakukan. Korespondensi dengan Prof di Jerman sambil menyiapkan proposal ke kampus di Jepang, melobi supervisor plus menyicil ini dan itu untuk visa. Alhamdulillah, semuanya lancar sehingga dalam 2 bulan, tiket sudah di tangan dan semakin menggelembunglah angan-angan.

Stasiun Berlin sangat megah! Jalur keretanya bertingkat-tingkat. Jujur saja, terlihat lebih keren daripada stasiun manapun di Jepang. terlihat? Iyah, soalnya meskipun stasiun di Jepang juga ada yang bertingkat, tapi bertingkatnya ke bawah tanah jadinya tak terlihat megah, huehue.

Jadi, petualangan di Jerman segera dimulai!!



ReAD MoRE・・・

Wednesday, 21 July 2010

Schengen Visa

Seminggu yang lalu, saya apply visa buat ke Jerman. Ternyata visa ke sana jenisnya macam-macam. Daripada bingung mau apply yang mana dan tidak tahu bertanya ke siapa, saya mengirim email ke Konsulat Jerman di Osaka untuk memperoleh informasi yang terpercaya. Katanya, visa yang pas buat saya adalah schengen visa, selain Jerman saya juga bisa mengunjungi 14 negara Eropa yang lain dengan visa ini. yey!

Supaya prosesnya cepat, berikut yang perlu disiapkan :


1. Application form, bisa diunduh dari sini ;
http://www.osaka-kobe.diplo.de/Vertretung/osaka/en/01/Visabestimmungen/Schengen.html
2. Reservasi pesawat dan hotel
3. Saldo buku tabungan --> buruan tingkatkan saldo anda sebelum apply visa-->Pinjam kesana-kemari, huehue.
4. Dalam kasus saya, pihak Universitas akan membantu biaya hidup dan tiket selama saya di Jerman, karena itu surat keterangan dari kampus juga perlu. Alhamdulillah suratnya sehari jadi.
5. Travel Insurance.
Sebenarnya aplikasi saya buat asuransi perjalanan sudah memenuhi syarat yang tertulis di situs. Ternyata saya diminta untuk menambah opsi RESCUE selain jaminan kematian, wabah, biaya rumah sakit, kecelakaan dan liability. Secara saya sebenarnya tidak rela bayar asuransi macam ini, sambil menggerutu dalam hati saya keluarkan juga 6800 yen untuk mencover asuransi ini. T_T (baca ini dan ini deh)

Saya acungkan jempol untuk proses visa yang cepat. Tepat seminggu setelah saya mengunjungi Konsulat Jendral Jerman di Osaka, saya menerima paket berisi paspor dengan visa yang sudah disetujui di pondok kediaman Nagoya yang nyaman dan sejuk (halah!) (saya memasukkan aplikasi hari Rabu dan saya menerima visa hari Rabu, 7 hari kemudian).

Pengalaman sedikit kurang menyenangkan adalah kereta saya dari Nagoya terlambat 2 jam dari jadwal gara-gara ada 2 kali bunuh diri di jalur Tokaido Nagoya-Osaka. Begitu pula saat kembali dari Osaka, kereta masih belum beroperasi normal gara-gara ada bunuh diri versi lain yang memerlukan waktu untuk memberihkan rel dari darah dah serpihan daging. :-( Tapi saya tidak terburu-buru soal waktu, jadi tidak masalah sih... cuman panas dan berdesakannya itu loh! Ini khan siang di hari kerja, kenapa banyak banget orang naik kereta di jam-jam segini!!! T_T

::Well, yah begitulah kalau mau pergi dengan tiket kereta murah 18kippu, harus rela berdesakan dengan resiko tidak mendapat tempat duduk. Apalagi memasuki Kyoto, bersiap bernapas dengan mendongakkan kepala ke atas --> nasib manusia ukuran mini macam saya yang bertemu punggung kemanapan menoleh di kereta penuh penumpang T_T::




ReAD MoRE・・・

Saturday, 8 May 2010

Visa (lagi!)

Ceritanya saya sedang ikut seleksi konferensi mahasiswa se-dunia (kata penyelenggaranya. Beneran? Berapa negara pesertanya yah....). Iseng-iseng saya mencari informasi soal visa ke negera yang bersangkutan, ternyata WNI harus mengurus visa terlebih dahulu. Oh tidak. Ternyata hanya sedikit negara yang membebaskan visa untuk WNI.

Kata Oom wiki, berikut negara-negara yang membebaskan visa buat pemegang paspor Indonesia :



Setelah dibaca dari atas ke bawah, balik dari bawah ke atas, jumlah negaranya terbatas. Bahkan tidak semua negara ASEAN membebaskan VISA bagi WNI untuk mengunjungi negaranya. T_T

Siap-siap merencanakan hari (dan uang) untuk mengurus visa nih....

TOLONG DOOONGGG PERBANYAK HUBUNGAN BILATERAL UNTUK MEMPERMUDAH URUSAN VISAAAAAAAA

Btw, bicara soal penguasa di Indonesia, saya takjub dengan fenomena dwifungsi penguasa di negeri itu....

Bahaya Terselubung dari Mundurnya Sri Mulyani
FAISAL BASRI

Paruh kedua pekan lalu, pasar keuangan Indonesia tertekan. Setelah muncul berita pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, nilai tukar rupiah turun hampir Rp 300 atau sekitar 3 persen terhadap dollar AS. Kemerosotan lebih tajam terjadi di pasar saham. Indeks harga saham gabungan melorot 7,4 persen. Reaksi seketika juga terlihat dari peningkatan imbal hasil obligasi negara.

Pada waktu yang bersamaan, pasar keuangan dunia juga bergejolak. Mendung di Eropa yang dipicu oleh krisis utang Yunani mengempaskan Indeks Dow Jones, yang mengalami kemerosotan mingguan paling tajam sejak Maret 2009.

Kita yakin reformasi telah membuat pelaku pasar domestik kian matang. Pasar tak bereaksi berlebihan. Kita telah cukup berhasil melalui masa-masa sulit.

Yang kita harus lebih peduli adalah bagaimana mempercepat penguatan landasan untuk lebih kokoh lagi menghadapi gejolak, meredam guncangan eksternal, dan mendorong reformasi yang lebih terstruktur dan menyeluruh.

Jika tidak, negara-negara tetangga yang sudah lebih maju akan kian meninggalkan kita, sedangkan negara-negara tetangga yang masih tertinggal akan segera menyalib kita. Lebih baik saja tak cukup!

Di sinilah peran Sri Mulyani sangat menonjol. Yang paling mencolok adalah determinasinya dalam memutuskan saat masa-masa genting, konsistensinya mengawal reformasi birokrasi di kementerian vital yang sarat dengan praktik-praktik kotor, serta keteguhan hatinya mengatakan tidak kepada kekuatan-kekuatan yang kerap merongrong.

Pengakuan internasional terhadap sosok Sri Mulyani sangat tinggi, hampir tanpa cela. Tengok saja pemberitaan media massa asing minggu kemarin. The Wall Sreet Journal menjulukinya ”Top Reformer” dan ”Respected Finance Minister”, Financial Times menyebutnya ”Reform Champion”.

International Herald Tribune menilai kepergian Sri Mulyani ke Bank Dunia dengan kalimat: ”..could be a major setback for a crackdown on graft and tax evasion in Indonesian country, which has the biggest economy of Southeast Asia.”

Dua koran Singapura menurunkan berita yang senada. Bahkan, The Straits Times memuat artikel dengan judul agak provokatif: ”Sri Mulyani: World’s gain, Jakarta’s loss”.

Boleh jadi posisi sebagai salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia cukup prestisius dan sekaligus penghargaan ataupun kepercayaan kepada pribadi Sri Mulyani dan Indonesia.

Namun, sejauh pengenalan penulis atas sosok Sri Mulyani, mengemban tugas negara di negeri sendiri merupakan pilihan pertama baginya.

Bukan merupakan kelaziman kalau pejabat aktif setingkat menteri menyeberang ke lembaga internasional. Yang lazim, justru sebaliknya. Bagaimanapun, bagi seorang nasionalis sejati, seperti juga Sri Mulyani, mengabdi kepada negara adalah yang utama. Setelah teruji sukses di negaranya, barulah setelah pensiun ditarik ke lembaga-lembaga internasional untuk berbagi maslahat dengan komunitas dunia.

Oleh karena itu, terasa kontradiktif dan ganjil membaca penggalan berita utama Kompas (6 Mei 2010) berikut: ”Meski menilai Sri Mulyani salah satu menteri terbaik dalam kabinet yang ia pimpin, Presiden Yudhoyono mengizinkan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Presiden berharap di posisi barunya Sri Mulyani dapat memperkuat hubungan Bank Dunia dengan negara-negara berkembang”.

Jika Presiden yakin bahwa Sri Mulyani adalah aset berharga bagi bangsa, mengapa Presiden tidak menolak seketika permohonan pengunduran diri Sri Mulyani. Kalaupun ditolak, kita agaknya yakin Sri Mulyani tak akan ”mutung”. Justru ia bangga dan semakin teguh melanjutkan pengabdian karena beroleh penguatan komitmen dukungan dari atasannya.

Akan tetapi, kalau pertimbangan politik yang dominan, benar adanya ucapan Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang mengakui bahwa mundurnya Menkeu bisa menjadi faktor penyejuk politik nasional (Kompas, 6 Mei 2010).

Mengabulkan permohonan mundur Sri Mulyani bisa pula merupakan sinyal kurang teguhnya pemimpin tertinggi menghadapi tekanan politik kelompok-kelompok kepentingan yang terganggu kekuatan reformis dan gelombang keniscayaan perubahan. Mereka yang terancam dari comfort zone.

Memang, kita tak memiliki kemewahan untuk menarik garis pemisah yang tegas antara masa otoritarianisme Orde Baru dan masa Reformasi. Akibatnya, kekuatan-kekuatan lama dengan mudah menyusup terang-terangan ke relung-relung kekuasaan. Mereka dengan cepat mengonsolidasikan diri, menghimpun kembali kekuatan. Bahkan, kekuatan mereka sekarang telah berlipat ganda.

Tumpukan utang berganti dengan limpahan kekayaan yang dihimpun dari praktik dwifungsi bentuk baru: penguasa-pengusaha, yang tak lagi berjarak. Dwifungsi yang lebih ”bengis” daripada dwifungsi ABRI.





ReAD MoRE・・・

Friday, 19 February 2010

One Winter Five Dreams

I am man of winter. Saya ini lelaki musim dingin. Mungkin lebih tepat, penyuka musim dingin karena kebanyakan olahraga di musim ini saya gemari. Sudah dua kali ini saya mengikuti perkembangan Olimpiade musim dingin (dengan menjadi pendukung Jepang tentunya). Tahun ini Olimpiade dilaksanakan di Vancouver, konon adalah kota yang paling nyaman untuk tinggal di dunia. Saya sendiri mengenal kota ini berawal dari sebuah gantungan kunci berwujud daun maple yang menjadi lambang Canada dari kunjungan Ayahanda ke Vancouver sekian tahun yang lalu. (huhu, siapa yang nanya?!) .

http://www.vancouver2010.com/

(Selengkapnya setelah defense thesis T_T)


ReAD MoRE・・・

Monday, 1 February 2010

Jepang Memang!

01022010 <--- dibaca dari depan atau belakang sama. Hueqeqeq.

Well...
Setelah mendengar cerita seorang senior saya pasca kunjungannya ke Washington DC, ternyata mekin menguatkan kesimpulan bahwa :

1. Orang Jepang jauh lebih ramah.
Tidak pernah terbayangkan kalau saya mengalami kesulitan di tempat umum, stasiun misalnya, lalu petugas yang saya mintai tolong hanya berteriak dari ruangannya sambil memberikan komando. Di Jepang saya terbiasa melihat para petugas tergopoh-gopoh, berusaha memberikan pelayanan yang terbaik. Eh, jangan-jangan saya akan mengalami shock berkelanjutan saat keluar dari Jepang? Ya, itu yang saya alami saat mudik ke Indonesia, atau dalam kunjungan ke negara lain.

2. Subway di Jepang lebih bersih dan nyaman.
Washington DC ternyata sebuah kota tua tanpa banyak bangunan tinggi. Luasnya hanya setengah dati Nagoya. Kecil, dunk. Di sana tak ada kereta, hanya ada subway yang dikisahkan bernuansa seram dan gelap (glek).

Pengalaman seorang sahabat baik saya setelah kunjungannya ke Austria juga menyatakan keterkejutannya. Disangka negara-negara eropa memiliki peradaban lebih tinggi, sehingga yang akan dijumpai adalah kota-kota yang bersih dan masyarakat dengan akhlak yang baik. Hmm, ternyata tidak juga.

Pada sisi lain, jumlah muslim di Jepang semakin banyak. Teman satu angkatan saya yang jadi mualaf tahun lalu bercerita tentang cita-cita menempelkan label halal dalam produk-produk di Jepang. Kalau proyek ini terwujud, subhanallah, hidup di Jepang akan semakin lebih mudah.

Kesimpulan saya : Setelah tinggal di Jepang dimana semuanya terasa baik, indah, praktis dan mudah, akan membuat rawan culture-shock saat mengunjungi negeri lain. Jadi, sebelum shock yang ditimbulkan makin parah, segera tinggalkan Jepang. Atau, berusaha agar tidak keluar Jepang sekalian. Huehuehue


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 27 January 2010

Debu-debu Intan



Saya mendengar debu-debu intan pertama kali dalam serial Saint Seiya di kala saya masih kecil. Waktu itu saya tidak terlalu peduli hubungan debu, intan dan salju. Hanya sebuah keheranan tersisa, kenapa Hyoga yang sempat bertualang di Siberia pakai jurus debu intan ala Martapura? Deuh, betapa kurangnya sumber bacaan saya sehingga bertahun-tahun kemudian sbaru tahu kalau debu-debu intan hanya terjadi di negeri dingin. Bertahun kemudian setelah mengikuti serial Saint Saiya pula saya baru tahu kalau Hyoga dalam bahasa Jepang berarti gletser alias padang es berjalan.

Sebagai penikmat musim dingin saya takjub melihat fenomena debu-debu intan yang disoroti dalam siaran berita pagi ini. Kenapa? Debu intan yang biasa terjadi di Jepang Utara ternyata dijumpai pula di Gifu, sekitar 1 jam dari apartemen saya yang jelas masuk Jepang bagian tengah. Dalam suhu minus 20 derajat celcius kristal-kristal air jatuh berkilauan, menciptakan sensasi keajaiban alam yang luar biasa : Diamond Dust.

Diamond dust hanya terjadi saat langit cerah dan suhu mininal 20 derajat di bawah titik beku. Penulis Saint Seiya ternyata belajar ilmu meteorologi juga. Penulis memang perlu mengadakan riset. Saya pikir inilah daya tarik komik dan anime Jepang. Pengetahuan memang selalu memiliki daya tarik bagi siapapun, entah sadar atau tidak.





ReAD MoRE・・・

Sunday, 22 March 2009

Lost In Hongkong [1]

Ceritanya saya tidak langsung beradaptasi dengan kondisi di Hongkong. Tapi saya cukup beruntung karena mudah sekali menemukan lawan bicara berbahasa jawa/Indonesia. Sungguh! Di hari libur orang-orang Indonesia berserakan di pusat-pusat keramaian, perempatan, dan tentu saja bisa dipastikan anda bisa menjumpai para pejuang devisa di sekitar Islamic Center di Kowloon. Berkat merekalah saya bisa menemukan masjid Wanchai, setelah nekad berangkat berbekal peta dan beberapa dolar Hongkong dalam dompet.


Saya bersyukur sekali menemukan suasana yang begitu mengindonesia di Hongkong. Teriakan menjajakan gorengan, pecel, bakso, soto, nasi campur, sampai kartu telepon membahana sepanjang trotoar di Nathan Road. Kebanyakan mereka menyangka bahwa saya sedang berkunjung dalam rangka lawatan bisnis. Hihi. Tapi setelah saya cerita, eh, saya malah dijamu dengan bakso, teh hangat, lalu dipandu menyusuri lorong kereta bawah tanah plus bonus tiket dari Wan Chai sampai stasiun terdejat ke hotel tempat saya menginap. Alhamdulillah. Rasa persaudaraan sebangsa seagama itu begitu indah!

*to be continued*


ReAD MoRE・・・

Friday, 13 March 2009

Satu Awal

Salah tangkap. Itu yang saya pahami dari beberapa telepon yang masuk akhir-akhir ini. Berawal dari email permohonan doa yang saya lontarkan ke sebuah milis tentang rencana S2. Ya. Alhamdulillah saya lolos seleksi administrasi dan insyaAllah hari Minggu tanggal 22 maret nanti saya akan berangkat wawancara. Lah terus salah tangkapnya? Itu dia. Wawancara saya diselenggarakan di Hongkong. Lalu, orang-orang yang membaca email saya secara sepihak menganggap bahwa saya akan melanjutkan kuliah ke Hongkong. Padahal tidak.


Ceritanya saya mengirimkan aplikasi untuk KAUST Discovery Scholarship bulan Desember 2008. Setelah sekitar 3 bulan menunggu -well sebenarnya tidak segitunya juga, soalnya sibuk juga dengan urusan kuliah, laporan, ujian, baito, ...- alhamdulillah sekitar seminggu yang lalu ada telepon dari perwakilan IIE (institute of international education) yang menyatakan bahwa saya lolos ikut wawancara yang akan diselenggarakan di Hongkong.

Wawancara akan dilaksanakan dalam bahasa Inggris, makanya saya sedikit mencari tips-tips soal interview plus cara meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dalam dua minggu. Iseng saya bertanya ke prof. Gobel -bule australi muslim,teman badminton saya- , jawabannya adalah :Gak mungkinn!! Kalau memang mau meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yah harus banyak bacot dengan native, begitu kata beliau. Sebenarnya ada kesempatan untuk menjadi guide dadakan buat Daniel, bule Inggris yang mau melancong ke Kyoto -dia rekan maen badminton juga, wew, banyak manfaat juga neeh maen badminton, huhu- sayangnya saya tidak ada waktu luang sehari pun sampai tanggal 22 nanti. Baito saban hari, kalau tidak baito yah sudah ada acara lain yang terlanjur diiyakan sejak beberapa pekan yang lalu. Jalan terakhir yah, otodidak. Mendengarkan BBC sambil sok-sok menirukan pelafalan penyiar radionya. :-D

Soal tiket pesawat, hotel, dan segenap akomodasi lain ditanggung oleh pihak pewawancara. Alhamdulillah saya tinggal menyiapkan, mental, fisik dan baju sahaja. Orang Indonesia tidak perlu mengurus visa ke Hongkong. Suhu Hongkong di akhir Maret sudah hangat, jadi saya tidak perlu membawa jaket tebal seperti yang masih saya kenakan di Jepang sekarang. Hmm... Bismillah. Semoga Allah memberikan yang terbaik dan memudahlan awal jalan ini.



ReAD MoRE・・・