Showing posts with label eco(logy). Show all posts
Showing posts with label eco(logy). Show all posts

Saturday, 23 July 2011

Listrik Oh Listrik

Sebuah Pesan masuk ke inbox saya :

+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*

Our graduate school will be all closed during a whole day on ***** for saving energy. Please DO NOT come to our Lab and all electricity devices should be off on those days.

*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+

Kata saya : Iyey! Liburrr!! Segera copy data supaya bisa dianalisis di rumah pada hari-hari larangan ngampus. ^__^

Urusan libur tak penting ini disisihkan dahulu karena saya ingin membahas listrik di Jepang. Sepertinya tak semua orang tahu bahwa frekuensi listrik di Jepang berbeda sesuai wilayahnya. Jadi? yah, ada beberapa alat elektronik yang mengalami penurunan fungsi atau bahkan tidak bisa dipakai sama sekali bila anda melewati batas Jepang Tengah (Fujikawa City in Sizhuoka & Itoigawa in Niigata). Dari batas tadi ke arah timur, frekuensinya 50 Hz. Dari batas ke arah barat, frekuensinya 60 Hz. Jepang Tengah (Chubu dan Hokuriku), frekuensinya campur 50/60 Hz, paling aman untuk membawa serta elektronik kalau pindahan.

Kenapa bisa begitu?

Pada era Meiji, mesin pembangkit listrik didatangkan dari luar Jepang. Produk Jerman dengan frekuensi 50 Hz dipakai di Kanto (Jepang Timur dan meluas ke utara sampai Hokkaido) dan produk Amerika dengan frekuensi 60 Hz dipergunakan di Kansai (Jepang Barat dan memanjang sampai ke selatan sampai Okinawa). Oleh karena itulah di Jepang eksis dua macam frekuensi listrik, sampai sekarang. Produk yang harus dicek saat pindahan antara lain: mesin cuci, microwave, oven, mesin pengering cucian dan lampu.

Selain frekuensi, Jepang juga membagi tarif listrik sesuai dengan kontrak dengan pelanggan. Bagi yang paham bahasa Jepang dan tinggal dalam hitungan tahun di negeri ini, ada baiknya memperhatikan opsi-opsi yang ditawarkan oleh perusahaan listrik di wilayahnya. Kenapa? Supaya bisa menghemat beberapa Yen lah ya. :-P Misalnya Penyuplai listrik di Jepang Tengah (Chubu Denryoku) menawarkan produk E Lifetime: membagi tarif listrik berdasarkan waktu pelanggan menempati rumahnya. Detailnya sebagai berikut :

Daytime (jam 9-17) : 31.43 yen/kWh
@Home Time (jam 7-9, 17-23 untuk hari kerja; jam 7-23 untuk weekend dan hari libur nasional): 21.23 yen/kWh
Nighttime (jam 23-7) : 9.33 yen/kWh

Kesimpulannya, bila anda melakukan kontrak dengan opsi E-lifetime, maka biaya pemaikan listrik antara pukul 23 sampai 7 pagi menjadi sangat murah. Mari mencuci, memasak dan menyetrika pada jam-kam ini!!

Saya yang sering pulang malam dan berangkat pagi memang hanya bisa mencuci dan memasak pada jam hemat. Akibatnya yah, tagihan listrik saya jadi murah. Bulan lalu hanya 492 yen!

Bila tidak memakai opsi ini, maka tarif listriknya adalah sama sepanjang hari, yakni 17.05 yen/kWh. Jadi, kira-kira mana yang lebih hemat? Silakan dihitung sendiri. Bagi saya yang di rumah saat tak ada matahari bersinar di langit kota, opsi E-lifetime patut dipilih tanpa ragu lagi. Hmm, sebagian besar mahasiswa seharusnya sih sama. Tapi bagaimana dengan perkakas yang memakan listrik sepanjang waktu, seperti kulkas?

Anggap dayanya 1 kW, maka tagihannya dengan opsi E-lifetime 504.4 yen/hari. Tarif biasa 408.3 yen/hari. Sekilas opsi E-lifetime nampak lebih mahal. Bagaimana dengan hitungan perbulan? Ini mah silakan dihitung sesuai dengan alat listrik dan pola hidup masing-masing. Satu lagi yang perlu dicacat, perusahaann listrik tiap wilayah menawarkan produk-produk kontrak yang bermacam-macam. Di Hokuriku bahkan mencantumkan opsi Whiteplan 1,2,3 yang tidak dijumpai di wilayah lain. *kok kayak softbank saja!* Di Hokkaido menawarkan pilihan untuk wilayah dimana salju lebat sering menumpuk (sepertinya diversifikasi harga berdasarkan musim).

Sedekat yang saya tahu, opsi E-lifetime (namanya berubah sesuai wilayah, ada yang menyebut e-CuteTime, E-eco-Time dsb) tersedia di semua wilayah. Sesuaikan kontrak dengan pilihan yang ada di wilayah anda tinggal. Dannn~~ Selamat bersimulasi untuk memperoleh pilihan mana yang lebih cocok untuk berhemat.

*Baru tahu kalau tarif Listrik di Kansai dan Tohoku lebih murah dibandingkan Chubu. huhu*
*Okinawa paling mahal. Err, karena kepulauan jadi biaya pengiriman ke rumah-rumah lebih memakan ongkos?*


ReAD MoRE・・・

Saturday, 19 April 2008

Kerusakan yang teratur

Pernah mengalami kesulitan dalam menemukan alamat seseorang? Saya pernah dan pengalaman ini justru saya peroleh di negeri saya sendiri. Kadang saya berpikir tidak adakah cara pendataan yang lebih mudah dimengerti tanpa harus menghapalkan nama-nama jalan yang jumlahnya puluhan itu? Kenapa tiba-tiba saya menulis masalah ini? Hehe, sebenarnya karena hobi lama saya : Menggambar tata kota, mendadak minta dieksplorasi lebih dalam.

Saya sempat berpikir kalau bencana tsunami di Aceh justru membawa kesempatan untuk menjadikan Aceh sebagai kawasan percontohan kota modern. Kota modern yang tidak semrawut, teratur dengan baik mulai saluran pembuangan air, limbah rumah tangga, kawasan hijau, lingkungan perumahan, pusat perekonomian, hingga pelayanan administrasi praktis dalam satu atap. Hal ini juga didukung dengan mengalirnya bantuan dari berbagai pihak, termasuk luar negeri, sehingga pikiran saya mungkin terealisasi. Ahaha, okelah, siapa sih saya hingga ide seperti ini harus terwujud? Namun sebaliknya, saya ingin bertanya, tidak adakah orang-orang yang berwenang di atas kursi pejabat sana yang punya pandangan untuk "menyulap" kawasan yang nyaris 100% porak poranda menjadi wilayah cantik yang teratur?


Sudah 3 tahun terlewat, khabar tentang perkembangan Aceh pasca Tsunami mulai jarang terlihat. Berarti angan-angan saya tentang sebuah perubahan yang baik, sama sekali jauh dari mendekati kenyataan. Orang-orang yang kaya tetap leluasa mendirikan bangunan seenak perutnya sedangkan yang tak punya uang memenuhi sela-selanya. Perlahan tapi pasti, perkembangan yang terjadi adalah sebuah kerusakan yang teratur. Teratur oleh perundangan yang tidak mengatur. Bukankah menjadi lebih mudah kalau UU Agraria juga mengatur tentang pengaturan tanah terhadap korban bencana dilengkapi dengan pengaturan wilayah dan perumahan? Atau negeri saya itu dirasa masih terlalu luas, hingga tanah dan pasirnya pun dibiarkan saja untuk memperluas wilayah negara Singapura? Atau, tak adakah orang yang peduli? Yang penting diri sendiri makmur, aman, sentosa, sejahtera... oh la la. Artinya membenarkan bahwa semboyan bhineka tunggal ika diartikan sebagai perbedaan yang dipaksa bersatu! Biar situ menderita yang penting sini sentosa?? Hahaha... jiwa nasionalisme hanya akan muncul bila ada ancaman dari luar, seperti saat lagu-lagu daerah diserobot negeri jiran, atau saat mendukung atlet negeri berjuang dalam ajang internasional, atau saat negeri sendiri direndahkan bangsa lain?


Ah, maaf saya terkadang melantur kemana-mana kalau memikirkan negeri sendiri. Bukan tak cinta, itu bukti kalau saya masih peduli. Saya tak rela membiarkan kerusakan justru diatur secara resmi, tapi saya geram karena tak berdaya. Mungkin saja kekecewaan akan membuat saya menyerah, lalu saya kabur, ogah kembali ke tanah kelahiran, bersikap apatis, cuek, membiarkan peraturan membentangkan jalan menuju kerusakan. Tapi sekarang saya masih tak tega.


Oke, kembali ke masalah tata kota. Sekarang saya tinggal di Nagoya. Kota terbesar ke-3 di Jepang yang sedang kebingungan mencari tempat pembuangan sampah. Kota ini terlanjur menjadi hutan beton ditambah sampah yang dihasilkan penghuninya hingga hitungan ton. Sebuah tempat yang direncanakan menjadi kawasan pembuangan sampah adalah delta sungai yang sekarang masih ramai dikunjungi burung. Sebuah kawasan penangkaran. Tentu saja aktivis lingkungan mengutuk aksi penggusuran habitat burung akibat ulah manusia. Tapi, mau pilih mana: Hidup bersama sampah atau mengorbankan burung untuk kepentingan rakyat?


Setelah mengalami diskusi alot, akhirnya diputuskan untuk mengurangi produksi sampah. Caranya? Recycle! Saya rasa masyarakat Nagoya cukup sensitif dengan masalah pemisahan sampah. Hampir tiap kali saya bertemu dengan orang Jepang dari berbagai instasi, mulai pegawai asrama, dosen di kampus, pejabat international affair, hingga satpam selalu menyisipkan pesan tentang pemisahan sampah. saya pikir wajar saja, karena kebijakan pengurangan sampah ini diresmikan setelah melewati berbagai perdebatan. *sigh*


Dengan daur ulang, sampah bisa dikurangi hingga 50% (kata senior saya yang sedang mengambil master bidang lingkungan). Hasilnya memang bisa disaksikan dengan mudah. Kertas yang dipakai oleh instasi pemerintahan adalah 70% hasil daur ulang -hmm, setidaknya itu yang tertulis dalam produk yang saya beli atau saya dapatkan-. Oke, salut buat semangat daur ulangnya. Sayangnya saya masih merasa cukup ribet dengan aturan pemisahan sampah, penggunaan kantung sampah khusus, jadwal pembuangan sampah. Benarkah daur ulang ini efektif mengurangi jumlah sampah? Kalau toh benar, apakah tidak membuat pola berpikir baru dalam masyarakat : Ahhh... belanja saya banyak-banyak, ntar bakal di daur ulang jugaaa. Maksudnya, produksi sampah justru meningkat. Bisa jadi sampah bisa dikurangi hingga 50% dengan daur ulang, tapi jumlah 50% itu khan dari total sampah yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin khan kalau setengah jumlah sampah tahun ini ternyata lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Satu lagi, daur ulang belum tentu lebih efisien. Untuk mendaur ulang botol plastik, misalnya, masih diperlukan hasil olahan minyak bumi, dan biayanya ternyata lebih mahal dibandingkan memproduksi botol baru. Belum lagi soal energi yang diperlukan. Daur ulang pun perlu dikaji, dan yang lebih penting jangan suka nyampah!
Nah loh koq malah lari ke masalah sampah. Bagaimana sih tata kota di Jepang? Yang pasti bukan sistem bongkar pasang ala ibukota Jakarta. Hihi, masak mau pasang kabel baru, harus menggali jalan, menutup galian lalu bikin jalan baru. Memangnya anggaran berlimpah ruah tanpa harus direncanakan?

Oke-oke... tata kota di Jepang mudah dimengerti -setidaknya saya belum sempat tersesat kalau membaca alamat-. Setiap distrik dibagi menjadi blok yang teratur, sehingga dengan membaca angka yang ada, bisa dikira-kira seberapa jauh lagi sampai di tujuan. Bahkan satuan menit untuk berjalan kaki dikonversikan untuk jarak. Misalkan 10 menit dari stasiun artinya 1 kilometer. Kecepatan rata-rata orang berjalan dalam 1 menit adalah 100 meter. Kalau misalkan tujuan belum tercapai sesuai dengan waktu yang tertulis ada dua kemungkinan :
1. Anda berjalan terlalu lamban
2. Anda tersesat


Oahhmm... sudah malam. Mungkin saya sedikit memaksa menyatukan ide yang berloncatan agar pikiran ini sedikit tenang. Oahmmm... selamat malam!


ReAD MoRE・・・

Saturday, 2 February 2008

Bumi dan Perut

Juli tahun ini akan diselenggarakan Konefrensi Tingkat Tinggi negara G8 di Hokkaido untuk membahas isu lingkungan yang sedang marak : pemanasan global.

Mulai awal tahun ini pula berbagai dirintis berbagai usaha memperlambat peningkatan suhu bumi dengan trik hemat energi, pengurangan sampah, hingga penyebarluasan informasi terkait kepada masyarakat umum. Silakan baca jadwal penayangan acara bertema lingkungan di NHK Jepang, hampir setiap hari bisa disaksikan.
Hal dari dekat yang bisa diperhatikan antara lain :

1. Mulai 1 februari 2008, tas plastik tak lagi diberikan secara gratis di pasar swalayan. Tokoh pemerintah pun muncul dalam kampanye "my Bag" di TV untuk mengajak masyarakat memiliki tas khusus barang belanjaan guna mengurangi penggunaan tas plastik.
2. Gencarnya promosi produk elektronik yang ramah lingkungan sekaligus hemat energi.
3. Mulai tahun lalu, dilakukan uji coba pengubahan energi gelombang yang dihasilkan derap langkah penumpang di Stasiun Tokyo menjadi energi listrik
4. Aturan pemisahan sampah yang semakin ketat, juga usaha recycle, Padahal recycle belum mutlak ramah lingkungan karena bisa menghabiskan biaya yang lebih besar dibandingkan produksi barang baru.
Hmm, ternyata gak banyak amat.

Hanya sajaaaa. Masalah perut tetap menjadi utama bagi negara maju seperti Jepang sekalipun. Beberapa waktu lalu ditemukan zat berbahaya yang terkandung dalam makanan beku impor dari Cina. Akibatnya, produk makanan beku Cina sejenis ditarik dari pasar, penanganan dan penyelidikan lebih lanjut pun gencar dilakukan. Bahkan bagi yang masih menyimpan barang tersebut dirumah, akan didatangi petugas dari toko dimana dia membeli, lalu diberikan ganti uang tunai gratis tis sebagai ganti rugi. Pelayanan terhadap masyarakat memang patut diacungi jempol.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, Jepang ketat sekali soal makanan. Tak jarang sayur atau buah yang masih layak makan namun sedikit layu akan terketak di rak khusus dengan label diskon. Produk susu, ikan, dan makanan lain pun akan mengalami nasib serupa : mendapat tempelan potongan harga. Maka waktu belanja yang paling ekonomis adalah saat malam, karena banyak sekali barang yang harganya bisa jadi setengah harga dibanding saat pagi/siang harinya. Restoran pun demikian. Kabarnya mereka tidak akan menyimpan makanan lebih dari satu hari kecuali hanya dijadikan pengisi bak sampah.

Ah iyah. Pernah juga sewaktu belanja di atas jam 10 malam ada kejadian yang cukup unik. Homeless berkumpul di supermarket! Untuk apa? Untuk mendapatkan makanan siap santap (bento, gorengan dll) yang tidak habis terjual hari itu. Wow!

Apakah orang diam saja melihat pembuangan sampah makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi seperti ini? Tentu saja tidak. Selain dikelola lebih lanjut oleh Bank Makanan, pada umumnya sisa makanan itu akan diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau pupuk. Tak ada yang percuma, kecuali kesan pemubadziran terhadap jerih payah pembuat makanan itu. Aksi lain adalah freegan. Free + VeGan (Veganisme : vegetarian ketat yang tidak mau memakan produk hewani sebagai protes kekerasan terhadap binatang), freegan bisa diartikan sebagai gaya hidup menentang pola konsumtif dengan memakan produk sisa supermarket yang terbuang namun masih bisa dikonsumsi. Bukan berarti mereka miskin seperti homeless yang pernah aku pergoki, hanya saja itu dilakukan sebagai aksi protes ala environmentalist. Artikel tentang ini pernah dimuat di majalah Newsweek halaman 46-48.


Freegan banyak dijumpai di Inggris atau Amrika, sejujurnya aku sendiri belum pernah berjumpa dengan orang bergaya hidup serupa di Jepang.


Mungkin orang sering mengatakan untuk menghabiskan makanan di piring karena dibelahan bumi yang lain banyak anak yang kesulitan untuk sekedar makan. Heh, bukannya kita makan habis ataupun sisa sebenarnya tidak akan merubah kondisi anak yang di belahan bumi lain itu. Iya gak sih? Hanya saja kesadaran untuk menghargai makanan aku rasa tetap penting. Pesan moralnya : Selama di bumi ini masih ada orang yang kelaparan, berperilaku konsumsi secara berlebihan adalah tindakan kriminal!


Yah, tak perlu menjadi seekstrim freegan untuk mendukung lingkungan. Cukup mematikan lampu saat tak terpakai, tidak berbelanja berlebihan, membeli makanan secukupnya, sebisa mungkin memanfaatkan barang tanpa sia-sia. Setiap orang normal yang sadar dan peduli dengan lingkungan insyaAllah tahu caranya, tanpa perlu aku sebutkan lebih lanjut.

Kembali soal makanan. Produk Cina mulai dikritisi oleh masyarakat Jepang sehubungan dengan kejadian makanan beku yang aku tulis di atas. Dari segi harga, makanan cina bisa sepertiga lebih murah dibandingan barang yang sama made in Japan. Dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Jepang sekarang, mereka bisa selektif memilih produk yang aman untuk kesehatan. Tapi bagaimana dengan negaraku sendiri yah? Produsen Cina sendiri mengatakan, kalau Jepang tidak lagi bersedia menerima ekspor produk kami, negara-negara timur tengah dan asia tenggara masih banyak yang bersedia membeli dengan harga lebih mahal. Tuh khan! Padahal orang di daratan cina sendiri perlu mencuci, membilas, merendam dengan garam sampai memakai sabun cuci khusus sayuran untuk membersihkan kandungan pupuk semprot yang mengendap dalam sayuran.


Harga barang yang merangkak naik tentunya menjadikan prioritas terisinya perut daripada isu lingkungan -termasuk kandungan zat dalam sayur bla bla blah- bagi sebagian besar rakyat negeriku. Semoga saja kesadaran mengkonsumsi barang tidak terhenti pada status halal saja tapi bernajut hingga thayib. Makanan yang halal dan baik bagi tubuh. Sekarang sampai sejauh mana yah pola pikirnya...


ReAD MoRE・・・

Saturday, 12 January 2008

Dapur Tanpa Api

Sebenarnya aku ingin melihat-lihat suasana asrama yang insyaAllah akan aku tinggali mulai April selama satu tahun ke depan. Sayang,gedungnya direnovasi hingga pertengahan Maret, dan rasanya tak ada untungnya menyusup masuk ke dalam hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu. Seiring dengan isu lingkungan yang sedang heboh, termasuk plastik bungkus di pasar yang tak lagi boleh diberikan secara gratis mulai bulan depan, nampaknya upaya-upaya menuju teknologi ramah lingkungan tengah digalakkan di Jepang. Dalam selebaran yang aku terima, salah satu fasilitas yang diperbarui adalah pemanas IH. Apaan sih IH? -mungkin dah banyak yang tahu kalee-

IH singkatan dari Induction Heating (pemanasan melalui induksi), yaitu proses pemanasan objek logam melalui induksi elektromagnetik. Sejak tahun 2003, penggunaan pemanas IH ini mulai banyak dipakai dalam rumah tangga. Pertama kali aku menjumpainya tahun 2004 ya iyaa lah, dateng ke Jepang juga tahun itu saat berkunjung ke asrama salah seorang kawan. Kompor di rumah saja masih pakai minyak tanah, kadang pake arang atau kayu bakar, bersentuhan dengan kompor gas masih jarang, eh langsung ketemu dengan kompor yang flat seperti layar TV datar. Waktu itu sempat heran, tanpa api dan tidak terasa panas, pegimane caranya bisa untuk masak?

Karena penasaran (tapi punya kesempatan nulis baru sekarang ^__~; )akhirnya nyari-nyari prinsip kerja mesin ini via internet deh. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut: (ingat2 pelajaran SMA lagi yukkK)




    • Kalau kawat konduktor dialiri arus listrik, maka di sekelilingnya akan terbentuk
      garis gaya magnet.

    • Jika kawat konduktor itu dibentuk kumparan dan di dekatnya diletakkan materi
      yang dapat menghantarkan listrik (biasanya logam), maka logam tersebut akan
      menerima pengaruh garis gaya magnet lalu di dalam logam tersebut akan mengalir arus eddy

    • Nah, setiap logam biasanya memiliki hambatan listrik, dan arus yang mengalir dalam logam tersebut akan menghasilkan joule heating sebesar P = I^2 × R,
      dimana P adalah daya, I untuk arus, dan R untuk hambatan, daya inilah yang keluar sebagai panas dan proses yang berlangsung dinamai pemanasan lewat induksi.

Lalu kenapa pihak asrama sampai rela mengganti kompor gas yang ada dengan kompor tipe ini? Tentunya ada beberapa kelebihan pemanas ini dibandingan dengan kompor biasa.



1. Bertenaga (Powerful) dan Efisien


Pada kompor IH, energi yang terbuang hampir tidak ada, pengubahan energi listrik ke panas berlangsung dengan efektif. Sehingga dengan daya listrik lebih kecil, kompor IHmampu mendidihkan air lebih cepat dari kompor gas. Tapi, jika dibandingkan dengan sistem pembakaran seperti pada kompor gas yang menyebabkan daerah sekeliling panci juga ikut panas, sistem IH hanya memanaskan daerah sekitar alas. sehingga akan ada beberapa jenis masakan yang kurang cocok jika menggunakan sistem IH ini. kesimpulannya adalah: efektifitas panas yang dihasilkan di sini tidak selalu disertai dengan efektifitas dalam proses memasak.

2. Tidak mengeluarkan api


Berbeda dengan pemanasan yang menggunakan api, sistem IH yang tidak menggunakan api ini menghasilkan kemungkinan terjadi kecelakaan luka bakar yang rendah dan tingkat keamanan yang tinggi. selain itu, proses ini juga tidak memanaskan udara di sekitarnya, sehingga orang yang sedang berada di dekat alat masak IH tidak akan merasa kepanasan.

3. Mudah dalam mengatur tingkat kepanasan


Melalui pengaturan jumlah arus listrik yang mengalir di kumparan, tingkat kepanasan IH dapat dengan mudah disesuaikan dengan panas yang dibutuhkan.

4. Tingkat keamanan yang tinggi


Hal ini sesuai dengan keuntungan nomer 2 di atas, karena tidak mengeluarkan api resiko luka bakar hampir tak ada. Resiko kebakaran karena jilatan api yang menari-nari karena angin jugabisa dikatakan mendekati nol. Selain itu, dalam keadaan kumparan teraliri arus listrik, permukaan IH tidak akan terasa panas jika disentuh dengan jari yang hanya akan teraliri listrik dalam jumlah kecil (dalam kondisi tidak sedang menggunakan logam seperti cincin, gelang, dkk). Tidak adanya proses pembakaran menyebabkan tidak adanya risiko terjadinya kekurangan oksigen dalam ruangan. Tapi ingat, menyentuh panci, wajan atau alat masak dalam keadaan panas tentu saja bisa menyebabkan luka bakar loh.


5. Cantik


Kenapa? Karena wujudnya saja mirip TV layar datar yang dihadapkan ke atas. -halah- Cara membersihkannya juga mudah dan terhindar dari ancaman ditumbuhi jamur nakal saat lembab. Hal ini bisa dijelaskan oleh tak adanya api, sehingga tak ada proses pembakaran yang menghasilkan uap air di udara penyebab kelembaban.


6. Ekonomis


Dengan kemampuan tak jauh berbeda dengan kompor gas, kompor IH memerlukan lebih sedikit energi untuk keperluan yang sama sehingga tagihan listrik juga lebih murah. Selain ramah lingkungan, kompor ini juga ramah dompet.


Meski kelebihannya banyak, tidak semua panci/wajan bisa dipakai dengan kompor ini. Menurut persamaan di atas, semakin besar hambatan semakin besar pula daya yang dihasilkan. Makanya logam berhambatan listrik rendah seperti aluminium (yang cepat panas-> cocok buat bikin mie instant!!) tidak cocok dipakai untuk kompor ini . Setelah pindahan nanti tetap harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja peralatan masak. Apanya yang ramah dompettTt... iklannya nipu!


ReAD MoRE・・・