ReAD MoRE・・・
Saturday, 23 July 2011
Listrik Oh Listrik
ReAD MoRE・・・
Saturday, 19 April 2008
Kerusakan yang teratur
Sudah 3 tahun terlewat, khabar tentang perkembangan Aceh pasca Tsunami mulai jarang terlihat. Berarti angan-angan saya tentang sebuah perubahan yang baik, sama sekali jauh dari mendekati kenyataan. Orang-orang yang kaya tetap leluasa mendirikan bangunan seenak perutnya sedangkan yang tak punya uang memenuhi sela-selanya. Perlahan tapi pasti, perkembangan yang terjadi adalah sebuah kerusakan yang teratur. Teratur oleh perundangan yang tidak mengatur. Bukankah menjadi lebih mudah kalau UU Agraria juga mengatur tentang pengaturan tanah terhadap korban bencana dilengkapi dengan pengaturan wilayah dan perumahan? Atau negeri saya itu dirasa masih terlalu luas, hingga tanah dan pasirnya pun dibiarkan saja untuk memperluas wilayah negara Singapura? Atau, tak adakah orang yang peduli? Yang penting diri sendiri makmur, aman, sentosa, sejahtera... oh la la. Artinya membenarkan bahwa semboyan bhineka tunggal ika diartikan sebagai perbedaan yang dipaksa bersatu! Biar situ menderita yang penting sini sentosa?? Hahaha... jiwa nasionalisme hanya akan muncul bila ada ancaman dari luar, seperti saat lagu-lagu daerah diserobot negeri jiran, atau saat mendukung atlet negeri berjuang dalam ajang internasional, atau saat negeri sendiri direndahkan bangsa lain?
Ah, maaf saya terkadang melantur kemana-mana kalau memikirkan negeri sendiri. Bukan tak cinta, itu bukti kalau saya masih peduli. Saya tak rela membiarkan kerusakan justru diatur secara resmi, tapi saya geram karena tak berdaya. Mungkin saja kekecewaan akan membuat saya menyerah, lalu saya kabur, ogah kembali ke tanah kelahiran, bersikap apatis, cuek, membiarkan peraturan membentangkan jalan menuju kerusakan. Tapi sekarang saya masih tak tega.
Oke, kembali ke masalah tata kota. Sekarang saya tinggal di Nagoya. Kota terbesar ke-3 di Jepang yang sedang kebingungan mencari tempat pembuangan sampah. Kota ini terlanjur menjadi hutan beton ditambah sampah yang dihasilkan penghuninya hingga hitungan ton. Sebuah tempat yang direncanakan menjadi kawasan pembuangan sampah adalah delta sungai yang sekarang masih ramai dikunjungi burung. Sebuah kawasan penangkaran. Tentu saja aktivis lingkungan mengutuk aksi penggusuran habitat burung akibat ulah manusia. Tapi, mau pilih mana: Hidup bersama sampah atau mengorbankan burung untuk kepentingan rakyat?
Setelah mengalami diskusi alot, akhirnya diputuskan untuk mengurangi produksi sampah. Caranya? Recycle! Saya rasa masyarakat Nagoya cukup sensitif dengan masalah pemisahan sampah. Hampir tiap kali saya bertemu dengan orang Jepang dari berbagai instasi, mulai pegawai asrama, dosen di kampus, pejabat international affair, hingga satpam selalu menyisipkan pesan tentang pemisahan sampah. saya pikir wajar saja, karena kebijakan pengurangan sampah ini diresmikan setelah melewati berbagai perdebatan. *sigh*
Dengan daur ulang, sampah bisa dikurangi hingga 50% (kata senior saya yang sedang mengambil master bidang lingkungan). Hasilnya memang bisa disaksikan dengan mudah. Kertas yang dipakai oleh instasi pemerintahan adalah 70% hasil daur ulang -hmm, setidaknya itu yang tertulis dalam produk yang saya beli atau saya dapatkan-. Oke, salut buat semangat daur ulangnya. Sayangnya saya masih merasa cukup ribet dengan aturan pemisahan sampah, penggunaan kantung sampah khusus, jadwal pembuangan sampah. Benarkah daur ulang ini efektif mengurangi jumlah sampah? Kalau toh benar, apakah tidak membuat pola berpikir baru dalam masyarakat : Ahhh... belanja saya banyak-banyak, ntar bakal di daur ulang jugaaa. Maksudnya, produksi sampah justru meningkat. Bisa jadi sampah bisa dikurangi hingga 50% dengan daur ulang, tapi jumlah 50% itu khan dari total sampah yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin khan kalau setengah jumlah sampah tahun ini ternyata lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Oke-oke... tata kota di Jepang mudah dimengerti -setidaknya saya belum sempat tersesat kalau membaca alamat-. Setiap distrik dibagi menjadi blok yang teratur, sehingga dengan membaca angka yang ada, bisa dikira-kira seberapa jauh lagi sampai di tujuan. Bahkan satuan menit untuk berjalan kaki dikonversikan untuk jarak. Misalkan 10 menit dari stasiun artinya 1 kilometer. Kecepatan rata-rata orang berjalan dalam 1 menit adalah 100 meter. Kalau misalkan tujuan belum tercapai sesuai dengan waktu yang tertulis ada dua kemungkinan :
Oahhmm... sudah malam. Mungkin saya sedikit memaksa menyatukan ide yang berloncatan agar pikiran ini sedikit tenang. Oahmmm... selamat malam!
ReAD MoRE・・・
Saturday, 2 February 2008
Bumi dan Perut
cuali kesan pemubadziran terhadap jerih payah pembuat makanan itu. Aksi lain adalah freegan. Free + VeGan (Veganisme : vegetarian ketat yang tidak mau memakan produk hewani sebagai protes kekerasan terhadap binatang), freegan bisa diartikan sebagai gaya hidup menentang pola konsumtif dengan memakan produk sisa supermarket yang terbuang namun masih bisa dikonsumsi. Bukan berarti mereka miskin seperti homeless yang pernah aku pergoki, hanya saja itu dilakukan sebagai aksi protes ala environmentalist. Artikel tentang ini pernah dimuat di majalah Newsweek halaman 46-48.
Freegan banyak dijumpai di Inggris atau Amrika, sejujurnya aku sendiri belum pernah berjumpa dengan orang bergaya hidup serupa di Jepang. Mungkin orang sering mengatakan untuk menghabiskan makanan di piring karena dibelahan bumi yang lain banyak anak yang kesulitan untuk sekedar makan. Heh, bukannya kita makan habis ataupun sisa sebenarnya tidak akan merubah kondisi anak yang di belahan bumi lain itu. Iya gak sih? Hanya saja kesadaran untuk menghargai makanan aku rasa tetap penting. Pesan moralnya : Selama di bumi ini masih ada orang yang kelaparan, berperilaku konsumsi secara berlebihan adalah tindakan kriminal!
Yah, tak perlu menjadi seekstrim freegan untuk mendukung lingkungan. Cukup mematikan lampu saat tak terpakai, tidak berbelanja berlebihan, membeli makanan secukupnya, sebisa mungkin memanfaatkan barang tanpa sia-sia. Setiap orang normal yang sadar dan peduli dengan lingkungan insyaAllah tahu caranya, tanpa perlu aku sebutkan lebih lanjut.
Harga barang yang merangkak naik tentunya menjadikan prioritas terisinya perut daripada isu lingkungan -termasuk kandungan zat dalam sayur bla bla blah- bagi sebagian besar rakyat negeriku. Semoga saja kesadaran mengkonsumsi barang tidak terhenti pada status halal saja tapi bernajut hingga thayib. Makanan yang halal dan baik bagi tubuh. Sekarang sampai sejauh mana yah pola pikirnya...
ReAD MoRE・・・
Saturday, 12 January 2008
Dapur Tanpa Api
Sebenarnya aku ingin melihat-lihat suasana asrama yang insyaAllah akan aku tinggali mulai April selama satu tahun ke depan. Sayang,gedungnya direnovasi hingga pertengahan Maret, dan rasanya tak ada untungnya menyusup masuk ke dalam hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu. Seiring dengan isu lingkungan yang sedang heboh, termasuk plastik bungkus di pasar yang tak lagi boleh diberikan secara gratis mulai bulan depan, nampaknya upaya-upaya menuju teknologi ramah lingkungan tengah digalakkan di Jepang. Dalam selebaran yang aku terima, salah satu fasilitas yang diperbarui adalah pemanas IH. Apaan sih IH? -mungkin dah banyak yang tahu kalee-
IH singkatan dari Induction Heating (pemanasan melalui induksi), yaitu proses pemanasan objek logam mela
lui induksi elektromagnetik. Sejak tahun 2003, penggunaan pemanas IH ini mulai banyak dipakai dalam rumah tangga. Pertama kali aku menjumpainya tahun 2004 ya iyaa lah, dateng ke Jepang juga tahun itu saat berkunjung ke asrama salah seorang kawan. Kompor di rumah saja masih pakai minyak tanah, kadang pake arang atau kayu bakar, bersentuhan dengan kompor gas masih jarang, eh langsung ketemu dengan kompor yang flat seperti layar TV datar. Waktu itu sempat heran, tanpa api dan tidak terasa panas, pegimane caranya bisa untuk masak?
Karena penasaran (tapi punya kesempatan nulis baru sekarang ^__~; )akhirnya nyari-nyari prinsip kerja mesin ini via internet deh. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut: (ingat2 pelajaran SMA lagi yukkK)
- Kalau kawat konduktor dialiri arus listrik, maka di sekelilingnya akan terbentuk
garis gaya magnet. - Jika kawat konduktor itu dibentuk kumparan dan di dekatnya diletakkan materi
yang dapat menghantarkan listrik (biasanya logam), maka logam tersebut akan
menerima pengaruh garis gaya magnet lalu di dalam logam tersebut akan mengalir arus eddy - Nah, setiap logam biasanya memiliki hambatan listrik, dan arus yang mengalir dalam logam tersebut akan menghasilkan joule heating sebesar P = I^2 × R,
dimana P adalah daya, I untuk arus, dan R untuk hambatan, daya inilah yang keluar sebagai panas dan proses yang berlangsung dinamai pemanasan lewat induksi.
Lalu kenapa pihak asrama sampai rela mengganti kompor gas yang ada dengan kompor tipe ini? Tentunya ada beberapa kelebihan pemanas ini dibandingan dengan kompor biasa.
1. Bertenaga (Powerful) dan Efisien
Pada kompor IH, energi yang terbuang hampir tidak ada, pengubahan energi listrik ke panas berlangsung dengan efektif. Sehingga dengan daya listrik lebih kecil, kompor IHmampu mendidihkan air lebih cepat dari kompor gas. Tapi, jika dibandingkan dengan sistem pembakaran seperti pada kompor gas yang menyebabkan daerah sekeliling panci juga ikut panas, sistem IH hanya memanaskan daerah sekitar alas. sehingga akan ada beberapa jenis masakan yang kurang cocok jika menggunakan sistem IH ini. kesimpulannya adalah: efektifitas panas yang dihasilkan di sini tidak selalu disertai dengan efektifitas dalam proses memasak.
2. Tidak mengeluarkan api
Berbeda dengan pemanasan yang menggunakan api, sistem IH yang tidak menggunakan api ini menghasilkan kemungkinan terjadi kecelakaan luka bakar yang rendah dan tingkat keamanan yang tinggi. selain itu, proses ini juga tidak memanaskan udara di sekitarnya, sehingga orang yang sedang berada di dekat alat masak IH tidak akan merasa kepanasan.
3. Mudah dalam mengatur tingkat kepanasan
Melalui pengaturan jumlah arus listrik yang mengalir di kumparan, tingkat kepanasan IH dapat dengan mudah disesuaikan dengan panas yang dibutuhkan.
4. Tingkat keamanan yang tinggi
Hal ini sesuai dengan keuntungan nomer 2 di atas, karena tidak mengeluarkan api resiko luka bakar hampir tak ada. Resiko kebakaran karena jilatan api yang menari-nari karena angin jugabisa dikatakan mendekati nol. Selain itu, dalam keadaan kumparan teraliri arus listrik, permukaan IH tidak akan terasa panas jika disentuh dengan jari yang hanya akan teraliri listrik dalam jumlah kecil (dalam kondisi tidak sedang menggunakan logam seperti cincin, gelang, dkk). Tidak adanya proses pembakaran menyebabkan tidak adanya risiko terjadinya kekurangan oksigen dalam ruangan. Tapi ingat, menyentuh panci, wajan atau alat masak dalam keadaan panas tentu saja bisa menyebabkan luka bakar loh.
5. Cantik
Kenapa? Karena wujudnya saja mirip TV layar datar yang dihadapkan ke atas. -halah- Cara membersihkannya juga mudah dan terhindar dari ancaman ditumbuhi jamur nakal saat lembab. Hal ini bisa dijelaskan oleh tak adanya api, sehingga tak ada proses pembakaran yang menghasilkan uap air di udara penyebab kelembaban.
6. Ekonomis
Dengan kemampuan tak jauh berbeda dengan kompor gas, kompor IH memerlukan lebih sedikit energi untuk keperluan yang sama sehingga tagihan listrik juga lebih murah. Selain ramah lingkungan, kompor ini juga ramah dompet.
Meski kelebihannya banyak, tidak semua panci/wajan bisa dipakai dengan kompor ini. Menurut persamaan di atas, semakin besar hambatan semakin besar pula daya yang dihasilkan. Makanya logam berhambatan listrik rendah seperti aluminium (yang cepat panas-> cocok buat bikin mie instant!!) tidak cocok dipakai untuk kompor ini . Setelah pindahan nanti tetap harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja peralatan masak. Apanya yang ramah dompettTt... iklannya nipu!
ReAD MoRE・・・
