ReAD MoRE・・・
Friday, 17 June 2011
Berdarah Dingin. Ingin?
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 30 April 2008
Penyakit Bulan Mei
Banyak referensi yang menuliskan bahwa "Penyakit Bulan Lima" muncul akibat adanya kesenjangan antara idealisme, cita-cita, angan, saat menempuh tahun ajaran baru di bulan April dengan kenyataan yang dialami selama satu bulan pertama. Penyebabnya bisa jadi ketidakmampuan beradaptasi, kekecewaan, dan stress. Saya pun terancam akan mengidap penyakit ini. saya memenuhi persyaratan yang diperlukan. Kampus baru, lingkungan baru, kota baru, orang-orang baru. Masih ditambah dengan segudang rencana dan angan tentang kehidupan di kota ini saat-saat hendak pindahan. Apakah rencana dan angan saya itu mendekati kenyataan? Atau justru terasa sulit untuk diwujudkan? Hehe, bisa jadi jawabnya akan muncul dengan go gatsu byou, saya akan menyandangnya atau tidak.
Saya enggan mengakui, tapi akhir-akhir ini badan terasa lemas dan rasa kantuk lebih sering mampir. Kadang saya melewatkan perjalanan di kereta sambil memejamkan mata karena tak ada tenaga. Weittsss... jangan-jangan saya sudah terjangkit!
ReAD MoRE・・・
Tuesday, 29 April 2008
Runutan Boga
Namun ternyata ada hal lain yang menarik perhatian saya untuk ditelaah lebih lanjut. Selain saya, hadir pula rekan lain dari Surabaya, Yogya, Jakarta, Padang, errm... bisa dikatakan kami berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia. Lalu apa yang menarik? Kebiasaan makan, lebih spesifik lagi urutan makan. Kenapa? Hmm, saya sudah bersilaturahmi ke beberapa rekans Indonesia yang di Jepang, dan dari lawatan itu saya mempelajari pola makan mereka. Oopss...saya melakukan pengamatan tanpa ijin. Tapi boleh, khan?
Kebetulan seorang sahabat mengingatkan tentang kebiasaan makan kami Ramadhan tahun lalu. Buka puasa langsung dikebut sampai kekenyangan. Memang sih berhubungan dengan pola makan, tapi kali ini bukan, bukan itu. Dia membaca sebuah bab tentang adab makan dalam buku yang ditulis oleh Ibnu Qudamah berjudul Minhajul Qaashidin. Isinya cukup mencenangkan karena bertolak belakang dengan kebiasaan makan selama ini. Dalam bab tersebut ditulis bahwa salah satu adab menghidangkan makanan adalah menghidangkan buah-buahan sebelum yang lain.
Beliau berargumentasi pada ayat al Qur'an surah al Waqi'ah ayat 20-21 yang menyatakan bahwa di surga buah-buahan dihidangkan terlebih dahulu sebelum daging (burung) itu "Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan".
Berikut rangkuman dari bahan yang saya baca, dengar, atau saksikan :
1. Awali makan dengan berdoa. Menu pertama adalah yang mengandung banyak air, untuk mengondisikan perut, bisa buah-buahan, yoghurt, atau sup.
2. Lanjutkan dengan makanan yang mengandung banyak serat. Manfaatkan gigi yang masih ada untuk mengunyah. Saya menyaksikan di salah satu TV Jepang (hmm... kebenarannya entahlah), seseorang bisa merasa kenyang dengan mengkonsumsi 200 gram kubis setelah mengunyahnya selama 5 menit. Dikatakan sensasi kenyang juga bisa diperoleh dari seberapa lama rahang digerakkan untuk mengunyah.
3. Akhiri dengan makanan yang disukai untuk menciptakan sensasi kepuasan.
Sekalian ingat, saat belajar membuat kue eropa akhir maret lalu, saya menyadari bahwa kue erora sangat manis. Kenapa? Karena mereka mengambil gula dari sini. Tak ada gula ditambhakan dalam teh/kopi, tak ada gula dalam resep masakan. Oleh karena itulah kue yang manis menemani saat minum teh
Di Indonesia, sepertinya teh dan kopi belum bisa merdeka dari gula, padahal kita juga makan kue, mengkonsumsi kecap, dan mendapat asupan gula dari menu lain. Hmm, nampaknya untuk mengubah kebiasaan makan yang turun-temurun bukan hal mudah. Kecuali ada kesadaraan tentang pola makan dan hidup sehat.
ReAD MoRE・・・
Friday, 29 February 2008
H+1
Akhirnya saya pergi Jumatan saja tanpa menyelesaikan prosedur perpanjangan visa lebih lanjut.
Hari ini saya disangka sebagai orang Jepang oleh orang Jepang yang datang ke Masjid. Padahal dari segi wajah, warna kulit dan hal-hal yang berbau ras, bisa dikatakan saya tidak mirip orang Jepang. Mungkin saja dia membandingkan saya dengan mayoritas jamaah : orang Bangladesh dan Pakistan. Kalau dibandingkan mereka, kekerabatan fisik saya boleh lah lebih dekat dengan orang Jepang. -hehe, gak penting-
Setiap selesai sholat Jumat diadakan perjamuan siang. Penyelenggaranya bergantian, tapi menunya mirip terus. Nasi dengan kare ayam. Makanya saya membayangkan menu serupa siang ini. Kebetulan yang mendapat giliran hari ini adalah brother Alam -yang biasa mengatar jemput saya dari stasiun- . Dugaan saya meleset, menu siang ini bukan kare ayam, tapi kare ikan. Cumaaannn lauknya khan masih tetap kare, isinya saja yang lain. Haha, nampaknya tiap Jumat memang tak bisa lepas dari kare.
Beberapa jam setelah makan saya sakit perut. Bukan. Bukan karena keracunan makanan. Saya kebanyakan makan. Selama ini saya belum pernah nambah. Untuk menghormati brother Alam -halah- maka saya minta tambah sedikit saja. Tapi versi sedikit saya dengan mereka ternyata lain. Akibatnya, saya harus memulurkan waktu untuk menghabiskan makanan di piring. Setelah itu, saya masih harus menegakkan punggung, memaksimalkan volume rongga perut, karena masih ada bubur manis, desert, dan setelah saya diam kekenyangan pun masih ditawarkan teh susu rempah. Oh tidak. Ada dua kemungkinan buruk yang harus saya hadapi :
1. muntah karena sudah perut sudah tak muat
2. Kesulitan menggenjot sepeda dari stasiun ke asrama karena perut penuh.
Untung saja saya masih bisa menolak tawaran-tawaran itu. Takutnya, sebagian mereka tidak suka kalau niat baiknya ditolak, atau makanan bersisa. Pengen jaga perasaan saja.
Alhamdulillah saya bisa kembali ke asrama dengan selamat meski perut membulat.
Sebenarnya setelah ashar saya anti tidur. Tapi hari ini perasaan benar-benar tidak enak setelah kekenyangan. Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, yakk. Tidur sore membuat kondisi sedikit membaik. Saya bisa main ping-pong setelah maghrib, dan rongga perut bisa terisi udara juga akhirnya. Yah, perut memang perlu dibagi untuk makanan, minuman dan udara secara seimbang.
ReAD MoRE・・・
Tuesday, 22 January 2008
Waktu Kecapekan
rlu pake bonito, pakai irisan tomat saja.Cara membuat :
ReAD MoRE・・・
Wednesday, 16 January 2008
3 Jam Saja
Penyakit yang berhubungan sistem sirkulasi pada tubuh manusia kerap menjangkit di Indonesia. OK ok... bukan Indonesia, setidaknya keluargaku deh. Entah pola makan tinggi lemak atau konsumsi gula berlebih yang pada ujungnya menjadi ancaman bagi nyawa. Belum lagi ditambah rokok yang terlanjur mendarah daging pada sebagian masyarakat.
Pada kebanyakan kasus, orang yang terkena stroke akan mengalami gangguan syaraf anggota gerak dan kemampuan berbicara. Meskipun tahu apa yang ditanyakan, meskipun tahu apa yang menjadi jawaban, tapi proses mengalirnya informasi dari otak menuju mulut berlangsung lambat. Aku sendiri pernah merasa tersiksa karena tak bisa menyampaikan pendapat, apa yang aku inginkan, karena kemampuan bahasa Jepangku yang dibawah standar beberapa tahun lalu. Tak bisa menjawab dalam bahasa Jepang, padahal aku tahu jawaban dan maksud pertanyaan. Mungkin perasaan orang yang terkena stroke hampir sama kah, sebal, geram, kecewa, karena tak mampu mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran.
Apakah tidak ada cara untuk meyembuhkan orang yang terkena stroke hingga normal? Jawabannya ada. Ada enzyme yang mampu mengaktivkan jaringan sehingga menghacurkan pengganjal aliran darah di otak penyebab stroke. t-PA , tissue plasminogen activator. Kasus yang dicurigai sebagai stroke lalu mendapatkan perawatan menggunakan obat ini, 100% pasiennya dapat mengambil alih kembali kontrol anggota gerak dan mampu berbicara dengan normal. Waktu terapi yang dibutuhkan pun hanya 2 minggu, lalu senyum bulan sabit di wajah keluarga dan pasien pun terlihat.
Masalahnya, t-PA hanya bisa diberikan paling lambat 3 jam setelah serangan. Kenapa? Dalam 3 jam, jaringan pembuluh darah yang tidak mendapatkan nutrisi -karena aliran darah tersumbat- akan mengalami kerusakan. Bila t-PA diberikan setelah 3 jam, ada kemungkinan terjadinya pendarahan dalam otak. Darah yang kembali lancar akan merembes langsung ke sel otak karena pembuluh darah yang seharusnya menjadi wadah terlanjur rusak kekurangan nutrisi. Makanya penting untuk tahu kapan terjadi serangan, atau gejala-gejala sebelum serangan.
Hmm, tapi waktu 3 jam cepat sekali. Aku tak yakin apakah setiap rumah sakit di kota kecilku mempunyai obat ini. Di Jepang pun tak semua rumah sakit memilikinya. Tiga jam saja, mungkin suatu saat akan terasa bobot pentingnya.
ReAD MoRE・・・

