Showing posts with label Uneg2. Show all posts
Showing posts with label Uneg2. Show all posts

Saturday, 28 March 2020

Investasi di Tengah Ancaman Resesi

Tahun lalu, alhamdulillah kami berkesempatan untuk belajar investasi dalam dunia saham. Tentu saja saya belum ahli dalam analisa finance, sehingga untuk investor pemula seperti saya, diversifikasi portofolio sangat penting untuk menimimalisir resiko. Investasi ini untuk 15-20 tahun, sehingga kami tidak perlu khawatir dengan gonjang-ganjing dunia saham.Pilihannya tentu saja perusahaan yang cukup matang/stabil dan membagi dividen secara berkala. Alih-alih memilih perusahaan yang akan berkembang untuk dijual lagi (harus analisa pasar secara aktif), kami memilih menjadi investor 'pasif' dan fokus kepada dividen dibanding kenaikan harga saham. Faktanya, di tengah harga saham yang anjlok, kami tetap mendapatkan dividen selama bulan Feb dan Maret 2020. 


Ada yang berpendapat bawa saat harga saham turun, adalah saatnya membeli sebanyak mungkin. Hal ini berlaku bila kita sudah punya emergency fund (1 tahun biaya hidup) yang cukup sehingga memang ada 'cash' yang bisa dialokasikan untuk menambah portofolio. Kami tetap dalam jalur, membeli saham secara berkala sehingga dalam satu tahun kami memperoleh biaya rerata saat harganya rendah maupun tinggi. 

Hehe, kondisi dunia sedang carut marut dengan adanya Covid19, termasuk ekonomi dan supply chain makanan maupun industri sehingga memiliki uang tunai saat kondisi buruk menjadi pilihan lebih prioritas. Investasi selain dunia saham, juga nampaknya perlu merambah 'insourcing' : pemanfaatan dan pengembangan sumber daya yang sudah dimiliki. Punya sedikit lahan di rumah? Bikin kebun sayur kecil-kecilan. Saat ada stok sayuran, coba bikin asinan yang daya simpannya lebih lama. Surplus tepung, butter dan telur? Coba bikin kue kering. Punya waktu lebih karena tidak harus kerja ke kantor : baca buku, olahraga indoor, bikin dan kejar target jelang Ramadhan. 

Saat terjadi gempa dan tsunami di Jepang tahun 2011 lalu ada himbauan yang masih saya ingat sampai sekarang :

Kakek nenek, inilah saatnya memeras pengalaman hidup untuk menabur nasihat yang baik. Anak-anak, inilah saat untuk menjadi lebih 'matang' dan belajar membantu orang dewasa sesuai kemampuan. Ayah, ibu dan para pemuda , kalianlah tulang punggung masyarakat di lingkungan. Gunakan tenaga muda kalian untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya. 

Setiap orang berusaha menjadi dirinya yang terbaik saat situasi sulit,  mengesampingkan hedonism, pleasure, ambisi, kekayaan dan stimulasi pribadi. Dijelaskan dalam Schartz Circumplex : value yang berseberangan akan sulit dijalankan bersamaan. Dalam kondisi tidak biasa, self-transcedence jauh lebih penting dibanding self-enhancement, dan saya rasa masyarakat Jepang lebih terkondisikan untuk kompromi dan menjaga tradisi. Penanaman value ini penting buat anak-anak, sehingga mereka bisa berkontribusi dalam masyarakat kelak, termasuk dalam mengambil keputusan hidup, pemakaian waktu, uang dan pilihan investasi.


ReAD MoRE・・・

Friday, 26 January 2018

Tentang Mubazir (di OC)

Masih tentang hidup di US, khususnya di Southern California, lebih khusus lagi di Orange County (OC). Berdasarkan pengamatan selama 3 tahun terkahir, berikut adalah hal-hal yang mubazir/tidak efisisen. 

1. Dryer. OC mendapat cahaya matahari hampir 100% sepanjang tahun. Saya tidak melihat keuntungan memakai dryer untuk cucian. Pemakaian listrik bertambah, serat pakaian lebih cepat rusak, warna baju lebih cepat pudar. Dryer berfungsi bila kita perlu baju motor jadi bersih dan dikeringkan pada hari yang sama, namun di OC, saya tidak merasa ada kebutuhan ini. Solusinya : pakai mesin cuci, jemur di bawah matahari (bila memungkinkan) atau dalam ruangan. Insyallah pakaian lebih awet dan kita telah berpartisipasi dalam penghematan energi dan biaya. 

 2. Mobil. Saya setuju bahwa mobil jadi kebutuhan wajib di amerika secara umum. Pemakai sepeda hanya sekitar 1% dari populasi. Tapi, lebih dari satu mobil dalam 1 rumah tangga tidak efisien. Secara teori kita beraktivitas bebas tanpa mobil dalam radius 3 mile (sekitar 5 km) dari rumah. Artinya tempat kerja, sekolah Dan tempat belanja harus bisa terjangkau tanpa mobil. Di OC, selain diberkahi dengan cahaya matahari juga tidak pernah turun salju. Sistem sekolah umum berdasarkan wilayah tempat tinggal ternyata tidak menjadikan kaki lebih ringan melangkah, anak tetap antar jemput dengan mobil ke sekolah. Akibatnya? Kemacetan lokal karena antrian mobil untuk ratusan siswa berlangsung bersamaan pada bel masuk Dan pulang sekolah. 

3. Commuting. Selain waktu yang terbuang, ada konsumsi energi dan pikiran (stress?), juga resiko kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan. Solusinya : cari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja. Waktu pagi akan lebih produktif untuk komunikasi keluarga, berkebun atau membereskan rumah.

4. Ruangan. Rekomendasi pemerintah (bukan regulasi) yang diterapkan sbg aturan sewa membuat sulit mencari apartment yang sesuai kebutuan. Kami yang saat ini cukup dengan 1 bedroom, harus menyewa 2 bedroom, karena max occupant utk apartement 1 kamar adalah 3 orang. (Anak2 masih balita dan tidur dlm kamar yg sama meski pisah kasur). 1 ruangan tidak terpakai. Solusinya : bila memungkinkan, jadikan alat menambah income : sewa/a**bnb. 

 5. Makanan. Secara umum, porsi makan di restaurant lebih dari kebutuhan perut, sehingga hampir selalu ada sisa. Yes, dibuang. Solusinya : bawa pulang atau pesan sesuai kebutuhan. Kebiasan meminimalisir sampah perlu diterapkan. Bila membuat memasak makanan sendiri, habiskan. Energi,waktu, pikiran untuk berbelanja, memikirkan menu, memasak dan menyajikan menguap sia-sia setara dengan makanan jadi yang masuk bak sampah. 

6. Tungku Api/Pemanas. Musim dingin tidak terlalu mnggigit tulang, namun ada rumah/bangunan (tua?) yang dilengkapi dengan tungku di ruang keluarga. Biasanya memakai bahan bakar gas dan dibayar lewat HOA. Artinya dipakai atau tidak, tetap bayar iuran. saya jadi ingat kotatsu atau selimut listrik saat di Jepang, menghangatkan lokasi di sekitar manusia saja, tidak perlu seluruh ruangan. (AC terkadang masih diperlukan karena musim panas bisa panas & lembab sekali, tapi tidak perlu menyala 7 hari seminggu terus menerus) 

7. Garasi. Mobil biasa diparkir di carport atau pinggir jalan, garasi dialih fungsikan menjadi gudang. Jadi sebenarnya.... tidak perlu garasi, ya? barang-barang yang digudang sebagian besar adalah barang-barang yang tidak terpakai. Sewa gudang sebenarnya wajar bila kita pindahan, satu atau dua bulan lah ya, buat penyimpanan sementara. Tapi di Amerika sewa gudang bisa bertahun-tahun, artinya, sebenarnya barang-barang itu tidak diperlukan bukan? Saya jadi ingat tentang acara TV dimana gudang sewaan yang sudah tahunan tidak diakses pemiliknya akhirnya dilelang. Eh, jadi peluang usaha :P

 *saya termasuk yang geregetan dengan perilaku 'mubazir' : membuang makanan (bukan anak kecil); tidak menutup kulkas; menyalakan TV tanpa ditonton; naik mobil untuk jarak dekat; meyimpan barang yang tidak terpakai; setiap tindakan mubazir ada konsekuensinya, entah berupa tambahan biaya atau pemborosan energi = penghamburan harta. Dalam skala kecil kebiasan seperti ini damapak buruknya tentu tidak besar, tapi bila setiap orang dalam sebuah negara perilakunya sama, dampaknya bisa ke stabilitas ekonomi negeri itu. Bacaan : buku2 Juliet Schor*


ReAD MoRE・・・

Thursday, 18 January 2018

Tentang Skill Dasar

Tercetus dari komentar mertua tentang pekerjaan rumah tangga dan laki-laki, pikiran saya melompat tentang keahlian manusia dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Yes, betul. Pangan, sandang dan papan. Saat ketiganya sekarang ini sudah terbeli dengan uang, bagaimana keterkaitannya dengan biaya hidup? Seberapa banyak generasi muda yang terbiasa menanam di pekarangan, menyembelih unggas dan membersihkan bulunya, memancing ikan, memasak, mencuci dan menjahit, serta memiliki skill dasar tukang kayu, tukang cat, tukang las dan tukang listrik? 

Untuk saya sendiri, alhamdulillah bisa dikatakan saya menguasai skill terkait sandang dan pangan.  Pahala untuk almarhumah ibunda yang menghadirkan lingkungan kondusif saat masa kecil saya belajar skill tsb. Tapi mengenai papan, jauh panggang dari api. Saat kecil (SD, SMP), saya bisa membetulkan atap, tapi tidak hal-hal yang berhubungan dengan kayu atau besi. Sekarang keahlian dasar mengelas (besi), tukang kayu dan tukang listrik menjadi 3 skill yang ingin saya kuasai.

Saya mendambakan sebuah keluarga yang berdikari. Hal ini sulit terwujud bila makanan yang tersaji selalu terbeli, baju yang dipakai selalu dipendekkan orang lain, dan perbaikan rumah harus selalu dimintakan bantuan orang lain.

Hal-hal mendasar seperti ini akan terasa sangat besar manfaatnya secara finansial saat hidup di amerika. Serius. Bahan-bahan mentah di Amerika boleh dikatakan lebih murah dari Indonesia. Makanan (sembako, sayur, ayam, daging sapi dan buah), baju dan tanah, boleh dikatakan lebih terjangkau. 

Bila bisa memasak sendiri, bisa me-adjust ukuran baju sendiri dan membangun rumah sendiri, biaya hidup di Amerika akan lebih ekonomis. 

Berikut hitungan kasarnya (untuk single di gretater Los Angeles) selama satu tahun: 
1. Makanan 
  Masak sendiri :Bahan pangan $20/minggu, gas/listrik untuk memasak sangat murah, $3/minggu, sebulan $92
   Beli Makan 3x sehari (murahnya $8 sekali makan) = 3x$8x30 hari = $720 (belum buah dan snack, tidak termasuk tips)
 (Penghematan : $628/bulan)
2. Angkutan (asumsi jarak rumah-kantor 10 mile)
    Bus + sepeda : $70/bulan (perlu fisik yang sehat untuk bike to work) 
    Mobil : 2 x 10 x 0.545 (biaya commuter dari IRS)x 20 hari = $218 + asuransi $100 = $318, cicilan bulanan $300 = $618 (belum PKB dan parkir, resiko kecelakaan, dkk) 
 (Penghematan : $548/bulan) 
3. Pakaian 
   Baju tidak beli tiap bulan, biaya adjustment jahit sekitar $10 dolar. (kadang jadi lebih mahal dari bajunya sendiri)
4. Rumah 
   Harga rumah jadi sangat mahal, bahkan bila beli rumah rusak dan diperbaiki dengan membayar orang lain, masih tetap mahal. Bila dilakukan sendiri, dari beberapa referensi, biayanya sekitar 20-30% dari membayar tukang. Biaya membangun rumah rata-rata $200/sq ft. Memiliki rumah masih menjadi tantangan besar saat ini.  Untuk perhitungan kali ini, harga sewa untuk apartement studio sekitar $1200/bulan. 

Sekilas biaya hidup single dengan memiliki skill dasar :$16,344 (si A) versus (si B) $30,456 (hampir 2 kali lipat!). UMR di California untuk 2018 adalah $11/jam (gross). 

B perlu bekerja setidaknya 230 jam/bulan atau 11.5 jam sehari untuk bertahan hidup. A perlu bekerja 123 jam/bulan atau 6.2 jam sehari -masih wajar- 

 Bila si A dan B bekerja dengan income yang sama namun gaya hidup yang berbeda, dalam 10 tahun perbedaan tabungannya sebear $140,000! (sayangnya $140K belum cukup untuk membeli condominium/rumah di LA atau OC :-P, intinya kalau mau bisa beli rumah dalam 10 tahun, jangan terima gaji UMR! Berita bagusnya $140K bisa dipakai DP, lalu sebagian renovasi rumah dilakukan sendiri, biaya sewa apartemen untuk cicilan bulanan, masih masuk akal, bukan?) 

Kesimpulan sementara untuk mengakali biaya hidup di Amerika : 
1. Tinggal dalam jarak kurang dari10 mile ke tempat kerja, gunakan sepeda/transportasi umum.
2. Bila perlu kendaraan, beli mobil bekas yang reliable dan hatcback (ScI0N X/H0nD@ Fit/TOY**a Y*RI*, kalau perlu sedan, Coro*a adalah salah mobil bekas terlaris, reliable dan murah). Max mileage pemakaian adalah 200K, cari yang dibawah 50K miles. 
3. Masak sendiri, bawa bekal makan siang. 
4. Bentuk mindset bahwa mobil adalah sebuah kemewahan yang dipergunakan sesekali untuk kebutuhan penting, bukan untuk dipakai setiap hari.
5. Bentuk Mindset bahwa Credit/Hutang adalah hal emergency yang harus segera di atasi (budaya gaya hidup dengan hutang = normal, di negeri ini, waspadalah!)

Terkait dengan skill dasar, semoga kami bisa mengajarkan anak-anak kami kemampuan dasar bertahan hidup dengan mengenali Tuhannya, mahir membaca lingkungannya serta punya financial literacy (baca: bebas secara finansial sebelum 30 tahun). Kemampuan ini akan membuat mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dimanapun mereka nantinya bertebaran di muka bumi.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 11 January 2018

Tentang Kartu Kredit & Hutang

Salah satu hal yang membuat shock di tahun pertama saya di amerika adalah betapa negara ini sangat mengandalkan kredit untuk kegiatan ekonomi. Kartu kredit sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jebakan kartu kredit dan system ini sudah beberapa kali terbukti gagal meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Kesenjangan ekonomi menjadi semakin lebar.
Tahun pertama harus dilalui dengan memutar otak agar bisa menyewa apartemen atau membeli kendaraan. Alasannya? Saya tidak punya kredit score. 

Yes, dengan system perekonomian yang berdasarkan hutang, bila anda belum pernah berhutang dan membayar transaksi terkait hutang, anda tidak punya kredit skor. Tidak punya skor itu lebih buruk daripada memiliki skor yang buruk. Wew. 

Saya pada akhirnya bisa menyewa apartemen dan membeli kendaraan dengan bunga 0%, tapi pilihan untuk itu tidak banyak. 

Saya tahu bahwa krisis finansial tahun 2008 diakibatkan oleh kredit subprime, gagal bayar sebab bank mengucurkan kredit untuk masyarakat yang sebenarnya tidak sanggup membayar angsuran. Namun saya baru ‘ngeh’ bahwa krisis itu disebabkan karena keserakahan bank! Bunga untuk pinjaman ditetapkan dari credit score seseorang, secara rata-rata 5%. Tapi bila terlambat membayar akan kena administration fee dan denda. Tahun 2008 pendapatan 60% keluarga amerika ditopang oleh 2 sumber, suami dan istri yang bekerja di luar rumah, dual income family sudah menjadi hal yang lumrah.

Keluarga menengah ke bawah biasanya bekerja dengan gaji yang dihitung per jam. Bila terjadi sesuatu dalam keluarga, maka salah satu suami atau istri harus sementara tidak bekerja untuk mengurus keluarganya. Taruh anak sakit, sumber pendapatan keluarga akan berkurang karena ibu tidak bekerja, sementara tagihan bulanan (rumah, mobil, asuransi mobil, kesehatan) harus dibayar. Pada suatu titik, tagihan tersebut tidak lagi mampu dibayar karena gap pendapatan dan pengeluaran makin lebar. Salah satu penyebabnya adalah orang cenderung mengambil barang termahal yang sanggup dicicil, bukan barang paling terjangkau yang bisa berfungsi sebagai kebutuhan. 

Dalam hal cicilan rumah, bank menawarkan re-financing : melunasi hutang pada bank lain, lalu peminjam mencicil ke bank baru. Bunganya? Naik secara rata2 jadi 15%. Dengan kata lain, pencicil rumah hanya terbebas dari satu hutang, ke hutang lain yang lebih jahat, hingga akhirnya meletus lah krisis dan para pencicil gagal bayar harus kehilangan rumahnya. 85% credit sub-prime ini di re-finance. Apakah ini membantu keluarga miskin? Orang tua, keluarga muda yang tidak paham dan kaum minoritas yang akses finansialnya terbatas adalah sasaran kredit jahat ini!

Dengan gagal bayar, kredit skor seseorang menjadi jelek dan akses untuk mendapat hutang sehat menjadi tertutup. Ada solusinya? Yes, kartu kredit bisa diberikan dengan bunga sangat tinggi, hingga 41% dalam setahun. Karena kebutuhan dasar harus dipenuhi, pilihan buruk ini pun diambil dan semakian dalamlah  hutang itu tergali….

Belum selesai sampai di situ, bila kredit skor sudah sedemikian buruk, sekarang bank tidak lagi memberikan akses. Buka rekening di bank? Tidak bisa. Sementara itu gaji biasanya diberikan bukan dalam uang tunai, namun cek. Bila seseorang tidak punya rekening di bank, dia harus mencairkan cek itu ke ‘lembaga pencair cek’ dengan membayar komisi dan fee lainnya. Biaya lagi.

Dengan system perekonomian yang semakin canggih, tidak mempunyai akses rekening elektronik/digital menjadi sebuah problema sendiri. Tidak bisa membeli sesuatu dengan uang tunai, maka harus membuat ‘kartu transaksi sendiri’ dengan lembag keuangan bukan bank. Anda memasukkan uang tunai, yang kemudian diubah menjadi uang elektronik. Dan tentu saja ini tidak gratis. Terbaca polanya? Cek –uang tunai—uang elektronik. Seseorang tanpa akses perbankan harus mengeluaran biaya ekstra untuk bisa melakukan transaksi ekonomi.

Data dari biro sensus pemerintah menunjukkan bahwa gaji rata2 keluarga amerika tahun 2011 sama dengan gaji pada tahun 1989, padahal tahun 2011 lebih banyak keluarga dengan dual income.
Sekolah di amerika gratis dari TK sampai SMA, namun wilayah dibagi  menjadi distrik2 sehingga para keluarga akan berebut untuk tinggal di distrik yang ranking sekolahnya bagus. Akibatnya, harga rumah dan sewa apartemen di distrik sekolah yang bagus akan meroket. Secara rata-rata naik 70% dalam 30 tahun. Saya membaca kontrak sewa property dalam 5 tahun, tiap tahun naik 5%. Bila sewa apartemen per bulan saat ini 1500 dolar, dalam 20 tahun akan naik dua kali lipat!

Seiring dengan meroketnya harga property, sebagian besar keluarga hanya akan mampu menyewa. Kepemilikan property akan berubah dari individu ke perusahaan-perusahaan besar, sehingga control terhadap kenaikan harga property semakin dikuasai konglomerasi raksasa. Siapa yang memiliki asset riil rumah itu? Saat krisis dan Saham yang berguguran, siapa yang sekarang menjadi pemiliknya?
Bayangkan bila pendapatan stagnan, mau tidak mau harus ada sumber pendapatan lain untuk kelurga. Istri harus bekerja, bukan pilihan.

Penegluaran untuk rumah 70% up, kendaraan harus punya dua, 12% dari income untuk membayar cc, dan….kelas menengah dalam satu tahun membayar 90 milyar dolar untuk bunga kartu credit! Bunganya saja.

Untuk mencapai taraf kehidupan yang setara dengan orang tuanya, generasi milenial harus bekerja dengan sangat-sangat-sangat keras. Status kelas menengah yang dahulu bisa dicapai dengan pendidikan SMA sekarang bahkan sulit digapai dengan gelar sarjana. Sementara itu biaya pendidikan tinggi juga teramat tinggi, memunculkan solusi perampas kesejateraan masa depan : student loan.

Lulus dengan gelar sarjana belum tentu langsung mendapat kerja, para mantan mahasiswa ini akhirnya kembali tinggal dengan orang tuanya, bekerja paruh waktu untuk membayar tagihan bulanannya. Mereka yang diterima bekerja sudah terkena beban cicilan student loan, membayar cicilan mobil dan paling besar biaya tempat tinggal. Tingginya biaya hidup membuat usia menikah menjadi semakin tua, solusi lain pun hadir : tinggal bersama tanpa ikatan, terkadang beberapa anak biologis terlahir dari pola hidup seperti ini, sebaliknya ada pula, menikah dengan status DINK, double income no kid(s).

Orang tua yang menikah dan memutuskan untuk mempunyai anak akhirnya harus terus ‘berlari’ untuk sekedar survive. Bisnis daycare pun berkembang pesat.

Satu tahun ini saya merasa sangat tidak nyaman dengan system yang berlaku di negeri ini. Di negara bagian tempat sekarang saya tinggal, biaya hidup termasuk yang paling tinggi di US. Orang-orang terasa ‘berlari terus’ untuk sekedar memompa jantung keuangan. Semua dihitung dengan materi  yang sarat perangkap di sana-sini, digelembungkan dengan hutang yang menghancurkan. 

Saya jadi ingat supernova yang cahayanya akhirnya sampai bumi dan bisa dilihat  dengan mata telanjang bulan Juni 2015 di Chile. Para ilmuwan menamakannya, ASASSN-15lh: Supernova paling benderang yang pernah tercatat dalam sejarah, kalau terjadi di galaksi kita, bumi bisa mengalami siang terus selama berminggu-minggu. Alhamdulillah, bintang ini berasal dari galaksi yang jauh.

Usia bintang yang mengalami supernova ini 3.80 milyar tahun cahaya. Artinya supernova terjadi 3.8 milyar tahun yang lalu dan kita baru bisa menyaksikannya di bumi, 3 tahun lalu…. MasyaAllah.

Saya teringat dengan hutang, dia terjadi sekarang, akibatnya bisa bertahun-tahun kemudian, kita kenal dengan krisis keuangan. Krisis ini bisa terjadi di negeri yang jauh dan kita hanya mendengar beritanya saja, tidak tahu dahsyatnya seperti apa.

Bila kita tidak punya uang, tapi perlu suatu barang, kita akan berhutang. Malu-malu pinjam ke orang, perlu saksi dan tercatat, bila mengikuti ajaran islam. Hutang adalah beban, tapi di negeri ini akses hutang semudah menggesek kartu dalam genggaman. Tidak punya kartu kredit? Jangan kuatir, begitu anda punya kredit skor yang bagus, kartu kredit diantarkan sampai pintu rumah anda, tawaran datang bertubi-tubi. 

Jangan sampai budaya hutang mendarah daging hingga orang sudah tidak tahu arti “uang” lagi. Financial literacy terasa penting sekali.


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 1 March 2017

Tentang Pendidikan Anak dan Masa depan

Salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk pindah domisili adalah pendidikan anak. Ya, betul. Mencari lingkungan yang lebih kondusif untuk pendidikan karakter, setidaknya semaksimal yang kami mampu dalam keterbatasan kami. Yes, keterbatasan dalam pengetahuan, pengalaman, penguasaan informasi, juga kondisi finansial.
 
Di negeri ini, pendidikan dasar dan menengah di sekolah umum gratis, namun kualitas diragukan sebagian orang sehingga yang punya kelebihan uang akan memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Biaya untuk kuliah sangat mahal dibandingkan dengan negara maju lainnya. Imbasnya pilihan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi banyak ditinggalkan karena urusan perut lebih prioritas. Solusinya gampang. Hutang untuk kuliah. Yes, student loan. Secara hitungan, pemerintah Amerika menamakan hutang ini sebagai investasi, namun banyak juga yang menjelang usia senja terpaksa masih menanggung student loan.
 
Dalam laporan keuangan mereka student loan ini dianggap sebagai aset. Entah sejak kapan definisi pendidikan menyempit menjadi sebuah gelar yang diperoleh dari sekolah formal dan lembaran ijazah itu tidak menjamin tingkat keahlian seseorang dalam bertahan berjaya dalam kehidupan (dunia)nya. Dan yah, kesempatan untuk menunut ilmu secara terjangkau dan berkualitas nampaknya akan semakin terbuka tanpa ada sekat-sekat wilayah dan bahasa.
Ada masa dimana orang berjalan kaki ribuan kilometer hanya untuk menjadi murid seorang yg berilmu. Apprenticeship. Belajar langsung kepada aslinya dan silsilah penurunan ilmu itu jelas. Model menimba ilmu seperti ini pun sudah berlangsung selama ribuan tahun sebelum sekolah formal mengambil alih makna pendidikan. 
 
Ibu rumah tangga, madrasah keluarga. Mengasah kemampuan anak sesuai dengan bakatnya. Ilmu dan keterampilan yang tidak dikuasai oleh orang tuanya bisa dipelajari dari ahlinya. Saya rasa itu fungsi sekolah, karena para pengajar ya seharusnya punya kualitas untuk memberikan keilmuan dan keterampilan yang diturunkan kepada murid2nya. Bila fungsi ini hilang dan sekolah berubah jadi wahana mendulang uang yang menjual gengsi dan ijazah atau tempat penitipan anak, maka terlalu berharga rasanya bila anak-anak diceburkan dalam tempat seperti ini.

Mungkin akan datang masa dimana anak-anak kami akan berguru langsung pada ahli-ahli di bidangnya, level keilmuan dimana kami sebagai orangtua tidak menguasainya.... sehingga mereka kelak menjadi value creator dan problem solver yang sigap mengambil tindakan, bukan sosok yang mudah berkeluh kesah menyalahkan lingkungan.
 
Anak-anak kami namanya diawali dengan huruf E. Tidak ada yg kebetulan, katanya. Saya pernah membaca tentang kriteria potensi yang berkembang itu sikenal dengan 4E : Easy, Enjoy, excellent, earn. Saya juga pernah bertemu langsung dengan keluarga yang sukses mendidik dan mengarahkan anak-anaknya sesuai dengan kriteria 4E di atas.  Mereka sudah "earn" sesuatu dari bidang yang digelutinya. Disini kami mulai memetakan bidang apa yang sesuai untuk didalami oleh jiwa2 yang dititipkan pemiliknya kepada kami. Suatu keahlian yang mudah dan menyenangkan bagi mereka, dikuasai hingga predikat ahli, dan dengan itu bisa menghasilkan,  "earn",  baik materiil ataupun kepuasan non-materiil.
 
Tugas kami adalah mengarahkan mereka dan menunjukkan koridor yang halal dan diridhai saat menjalaninya. Tantangan yang akan mereka hadapi pada masanya tentunya akan berbeda dengan yang kami alami saat ini. Dalam bayangan saya, sekat geografis akan makin menipis sehingga lebih banyak orang yang bisa memperoleh rejeki dari berbagai negeri sesuai dengan keahliannya. Orang akan lebih bebas memilih dimana akan tinggal dan menikmati hidupnya tanpa harus terkonsentrasi di suatu wilayah dengan kualitas hidup kurang layak hanya karena di situlah Roda ekonomi lebih kencang berputar. DI california ada beberapa pilihan untuk pendidikan dasar dan meniengah, termasuk homeschool. Informasinya bisa dibaca di sini : http://www.hsc.org/homeschoolinghelp/brief-legal-information.html

Jadi sebenarnya, kantor tempat kerja akan pindah lokasi. Posisi lebih strategis dekat ke bandara dan pusat finansial di Orange County. Biarpun sudah tahu wacana pindah lokasi ini, saya tetap kaget karena rencana ini akan direalisasikan tahun ini, lebih cepat setahun dari rencana awal. Berhubung si anak sulung sudah masuk usia sekolah tahun depan dan saat ini homeschooling belum kami jadikan pilihan, maka masa berburu school district menyapa kami lebih cepat.

Pertimbangannya adalah kemanana dan kemyamanan. Tidak semua wilayah ramah terhadap orang asia. Pertimbangan tempat tinggal pun jadi lebih penting lagi. Ada beberapa kota yang komposisi etnisnya cukup beragam sehingga aman. Namun pertimbangan berikutnya ialah rak dari kantor baru. Irvine bisa djadikan pilihan karena setengah penduduknya adalah orang asia, namun kota ini sedang mengalami bubble, harga sewa apartemennya bisa bikin sesak napas.

 Irvine juga menjadi kota paling aman se-Amerika. hmm, bisa jadi karena wilayah baru yang berkembang cukup cepat dan harag property yang tinggi menyebabkan orang kelas tertentu saja yang bisa tingga di sini. Orang item dan etnis hispanik jangan terlalu harap betah di sini. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa kota ini terlalu asia (baca : Ch*na), karena OKB dari sebrang pasifik rajin investasi dengan membeli rumah dengan cash! wow, cerita serupa pernah saya dengar saat masih kuliah dulu, orang dari negeriini mau beli vila milik mantan perdana menteri Jepang.

Saat tulisan ini ditulis, kami masih menunggu beberapa variable lain untuk dijadikan pertimbangan. Teman di kantor bilang, dia tidak betah tinggal di Irvine karena oemandangan yang monotn (setiap perempatan mirip, awas tersesat!), ada juga beberapa alas an lain yang agak terdengar rasis karena ada etnis mayoritas yang membuat suasana kurang nyaman (bahkan bagi orang kulit putih).

Ini salah satu tulisan di forum diskusi tentang Irvine :

Facts- My wife and I have concluded that it is very difficult to Make REAL Friends in Irvine, California. There is too much cultural diversity and Financial Stress. We don't even know our neighbors. We have tried to introduce ourselves or invite them to dinner but they are too busy for us. It seems like most people you meet here are trying to sell you something and are not interested in getting to know you first. It's very EXPENSIVE to live in California and most people are just trying to survive and become self-absorbed with money first/friendship mentality.

No matter how much money you make in California, it seems that your bank account is very low. We make over six figures a year and we almost went into debt trying to keep up with the California "Lifestyle". We recently had an AH-HA Moment-Life is not all about how much money you make, it's about making REAL FRIENDSHIPS and helping others. Most people in Irvine, Ca. are too self-absorbed/selfish. Showing off and driving German/Japanese Sports Cars BMW's Mercedes Lexus and keeping up with the Jones's.

#1 A majority %85 of Californians are on some kind of legal or illegal mind-altering drugs due to FINANCIAL STRESS. They are either pill poppers vicodin, oxy or pot heads or coke heads. It blew us away how many "normal" Californian's hide their drug addictions.
#2 You waste a lot of time driving your car getting around, nothing is close by. Wanna go to the Irvine Spectrum? Good luck finding parking. Would you like to wait one hour plus to eat your dinner? How about sitting next to someone that doesn't speak English? It happens all of the time in Irvine, Ca.
#3 Unless you own your own business or have highly specialized skills forget about working for a job in Irvine, Ca. California has one of the Highest Unemployment Rates in the US.
#4 California is #1 on the 10 states in the worst financial health and highest financially stressed residents according to the Pew Center on the States. #1 being the worst.
#5 Since 90% of California residents are stressed, they have the Dog eat Dog mentality, which makes them some of the most Rude, Unfriendly, Flakey, Materialistic, Stressed out/Fake people ever seen in one area.
#6 Californians are not interested in being involved in a true community. Money First-Friendship Last mentality. Californians are too worried about their finances and too high on their drugs to care about you. Money First/Friendship Last State.
#7 Horrible place to raise a Family due to Bad Influences. 2 out of 3 high school students use drugs. California has a 75.54% DIVORCE RATE one of the highest in the USA.
#8 Too much cultural diversity/diversity sucks. Thousand of foreigners/immigrants from screwed up countries that don’t care to assimilate into US culture or speak English. Most immigrants are in California to milk the socialist liberal system and to make as much money as they can, wire it back home and eventually leave California.
#9 Highest taxes in the USA and HIGHEST FINANCIAL STRESS .
#10 Everything is Super-Expensive/No value for your money. Costly Housing, real estate taxes, expensive food ($3.50 for an Iced Tea!) and highest gas prices because State of California taxes the crap out of everything they can get their greedy hands on!
#11 If you’re not earning at least $160,000/year in California you are eternally forced to rent a small/expensive crappy apartment from rich foreign landlords.
#12 Over 23% of homeowners are underwater on their homes, Foreclosures Everywhere.
#13 A nasty over-crowded Suburban Sprawl nightmare with insane traffic jams.
#14 Worst state to own a business since it’s an Anti-business environment with tons of Red Tape and stupid regulations. Thousands of good companies have left California for better Pro-Business States due to excessive taxes and endless fees.
#15 California has largest “lawsuit climate” meaning every idiot who thinks you are rich is going to try to sue you for money. Scum bag lawyers love California.
#16 California is Broke for $25 Billion. Governor Brown will find a way to get your hard earned money by raising taxes/fees.
#17 California has many corrupt mafia style unions (teachers, police, firefighters) that control California’s government/economy via lobbyists. They suck all of the state's tax dollars dry. Union Fire Fighters can make more than a Doctor with their over-time pay!
#18 Since California has so many illegals, they help their fellow Illegal immigrants to take advantage of every stupid Liberal Law such as the illegal/unfair Dream Act.
#19 California rewards those who are lazy with their welfare system which stinks(20% of LA County Residents get public aid welfare!)
#20 1 of 3 Californians has NO HEALTH INSURANCE
 #21 California is home to millions of scary Liberals.
#22 California has the worst gun laws in the US/weakest 2nd Amendment Rights almost impossible to get a CCW unless you are a corrupt cop/prison guard(criminals don’t need licenses or waste money on stupid CA fees to get guns in California!).Criminals have access to all kinds of illegal cheaper guns while the honest, law-abiding California residents cannot have access to guns to protect their families. Think about it, in California, if some violent criminal breaks into your house and murders your Family, he will just get life in prison which is a slap on the wrist joke. If you shoot and kill this criminal his family will turn around and sue you for millions and probably win 70% of the time.
#23 If you're single it is an extremely difficult environment to find a suitable mate/Partner due to high transient levels. People are always moving to and from California.
#24 The Irvine Police care more about writing you a revenue generating traffic ticket that protecting you from criminals,
#25 California has the Third Highest Income Tax Rate in the US.
#26 Earthquakes and Fires.
#27 Dirtiest Air Pollution in the USA. Stinks like crap and you’re breathing it in everyday in Ca
#28 Anti-Business Liberal minded state run by a corrupt career politician Jerry Brown who screwed up BIG TIME back in 1983. The idiotic liberal majority in California voted failure Jerry Brown back into office again for another round of anti-business punishment!
#29 California prisons are a JOKE and career criminals love it. Prisoners don’t have to work. They can get their college degrees, watch cable and buy drugs/cell phones from corrupt prison guards.
#30 If you get Divorced in California and you make more money than your Spouse in California, the California Divorce Courts will take 50% of your assets plus a large monthly alimony for many years.

If you are a Super Rich Flaming Liberal or part of a tight knit immigrant community, then Irvine, California is for you!"


ReAD MoRE・・・

Monday, 15 August 2016

i.d.e.n.t.i.t.a.s

Kenapa menikah? Bukankah hal-hal yg diperoleh dg menikah juga bisa didapatkan tanpa menikah? Anak bisa adopsi. Sperma bisa dibeli. Tinggal pilih fenotype seperti apa yg diinginkan. Bosan dg pasangan toh bisa putus hubungan dan cari pasangan baru. Pengen punya temen hidup pun bisa tinggal bersama tanpa harus menikah.  

Pertanyaannya, mentalitas seperti apa yg dimiliki generasi penerus yg dihasilkan dari generasi bebas seperti di atas? Saat di Jerman saya punya seorang teman yang ibunya belum pernah menikah. Dia punya 2 adik dari 2 ayah yang berbeda. Adik lain dr pihak ayah biologis dr ibu yang berbeda. Dan dia baru tau ada saudara separuh darah saat sudah dewasa. Terdengar rumit bagi saya. Nasab keluarga tidak telas. 

Anak seolah hanyalah perpaduan genetik hasil pembuahan sel kelamin. Binatang pun secara natural berkembang biak. Kalau perilakunya sama saja, apa yang membedakan manusia dengan hewan? Akal, dimana akal? Oh, iya, manusia bisa adopsi, memilih dan membeli sperma, atau bahkan minta legalitas hubungan anonoh sejenis. Metode seperti ini gak bisa ditiru binatang. Apakah ini bedanya?

Bagaimana dengan identitas diri? Ketika anak-anak yang menjadi sebuah generasi ternyata adalah seonggok tulang-daging yang bisa bicara. Nilai seperti apa yang mereka bawa? Kehidupan seperti apa yang akan mereka atur? Identitas apa yang akan mereka wariskan?
Identitas. Siapa saya? Nama yang disandang adalah pemberian orang tua. Tanpa sebuah nama, individu seperti apa diri ini? Ketika segenap aksesori diri, nama, jabatan, profesi, gelar, bangsa/kewarganegaraan, jaringan, keturunan diibaratkan pakaian, bila semua itu dilepaskan, siapakah anda saat 'telanjang' sendirian saja?

 Identitas apa yang anda cari? Apakah itu berarti ketika misalkan anda seorang diri di pulau terpencil yang tak dihuni? Apakah itu berarti saat kita kembali ke pemilik Jiwa yang sejati? Mungkin saat seperti inilah manusia mendekati fitrahnya. Mendekati rasa ketika jiwa bersaksi siapa tuannya. Mendekat ke arah penciptanya. Seperti Ibrahim as mencari lalu menemukan Tuhan. Seperti Muhammad saw ketika menerima wahyu. Ya, hakikat diri ternyata adalah hamba yang tidak berdaya tanpa kasih sayang dan kemurahan yang Maha Kuasa. Lalu kenapa masih tidak mau mengikuti aturanNya? Bukankah Petunjuk itu adalah anugerah yang wajib disyukuri dan dipatuhi agar tak tersesat? 

Identitas manusia dimulai dari orang tuanya, lalu lingkungan yang memasukkan informasi. Seseorang bisa menjadi orang tua biologis dan itu sumber identitas pertama. Dalam islam, setiap anak yg terlahir dari hasil pembuahan diluar nikah tidak mendapat Nasab ayahnya. Artinya hukum-hukum syariah tidak berlaku, si ayah tidak bisa menjadi wali si anak saat menikah, mereka tidak saling mewarisi.

Berbagi DNA tidak selalu berarti berbagi hak dan kewajiban, apalagi berbagi harta. Anak yang lahir diluar nikah dan tau ayahnya siapa dengan anak yang lahir dr hasil pembuahan donor sperma, serupa dihadapan hukum. Apakah si anak bisa menuntut warisan dari pemilik DNA yang menjadi penyusun tubuhnya? Atas dasar apa? 

 Saat berada di negeri multi etnis, dimana kewarganegaraan seseorang tidak hanya mutlak dinilai dari warna kulit atau penampakan fisik saja, identitas apa yang harus dimiliki? Hukum apa yang harus diikuti? 

Politik dipakai untuk menguasai orang-orang, kemudian membuka akses kepada kepemilikan, entah melalui pajak atau kekuasaan atas bumi, air dan kekyaan alam di dalamnya. Maalik, Malik. Pemilik dan Raja. Maalik disandingkan dengan hari kemudian seluruh alam, tidak terbatas zaman. Malik disandingkan dengan manusia. Manusia saja yang cukup rakus, ingin menjadi malik bagi manusia lain, lalu tambah rakus ingin menjadi maalik untuk menyatakan kepemilikan atas harta benda, bahkan bumi pun dikotak-kotak diberi batas wilayah plus sertifikat lalu diperjualbelikan, padahal siapa yang sebenarnya yang punya? 

 Seberapa sadar atas identitas diri sendiri?
 
***Identitas berupa kotak-kotak kewarganegaraan inilah yang akhirnya menjadi sekat bagi seseorang untuk menjalanakan suatu peran di negeri yang terkotaki politik. Saya teringat obrolan dengan Bapak Mertua seputar perlu tidaknya khilafah. Hmm, khilafah terdenger lebih mudah bagi saya, dalam artian sekat kewarganegaraan itu pupus tanpa tali bahasa, suku atau wilayah. Identitas yang sama dalam kedudukan yang setara. Permainan identitas ini kadang dipakai untuk membunuh karakter seseorang sehingga segala kebaikan besar yang bisa terjadi melalui dia akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan seiriing dengan lenyapnya sosoknya bersama potensi kewenangan yang ada.... Phffhh.***Jaman sekarang tidak perlu membunuh untuk menghilangkan musuh, cukup sosok/nama baiknya dihancurkan, lalu segenap dukungan akan menghilang. Ngeri. Pengalihan isu?***


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 10 August 2016

Merindu Zaman

Masih kental suasana ramadhan, bulan diturunkannya pegangan hingga akhir jaman. Berakhirnya bulan ditutup dengan penuh kesyukuran, melantangkan takbir, mengagungkan kebesaran Tuhan. Selipan doa berjejalan agar masih bisa bertemu lagi bulan suci tahun depan.

Fitnah sudah merajalela. Kebenaran sulit diterka hanya mengandalkan pendapat yang bertebaran di social media. Lalu bagaimana kita akan menghadapi fitnah paling kuat yang katanya menjadi salah satu ciri akhir zaman? Yes, yang itu. Saat neraka dajjal sesungguhnya surga dan surganya sejatinya adalah neraka.

Maka umat muslim disunnahkan untuk membaca surat Al kahfi setiap pekannya. Bagimana ayat-ayat dalam surat ini bisa melindungi dari fitnah dajjal? Yang saya pahami, bukan karena kita membunyikannya (tilawah), tapi dengan kita membacanya (iqra).

Surat yang melindungi orang beriman dari fitnah terkuat yang memutar balikkan surga dan neraka itu diawali dengan mengucap pujian, kesyukuran atas hadirnya pedoman hidup yang akan menjadi acuan saat kebenaran dan kebatilan sudah bercampur-aduk.
Beberapa fakta yang terjadi tentang rancunya kejadian yang disokong sekelompok manusia saat ini.

1. LaGiBeTe dianggap normal dan diakui secara legal di beberapa negara.
2. Seorang anggota Parlemen Inggris dibunuh sebelum Brexit.
3. Pada hari nasional Perancis (14 Juli), supir truk dengan pendingin menabrak keramaian lalu menembaki orang-orang di Nice. 84 orang tewas. –Kebenaran (pembenaran?) apa yang melandasi aksi ini?
4. Kudeta Turki. Lanjutan beritanya masih hangat sampai saat tulisan ini ditulis.
5. Pembakar masjid Tolikara diundang makan-makan ke istana negara.
6. Donald T*ump menjadi calon Presiden negeri adidaya terlepas dari haluannya yang jelas rasis. Eh? 
7. Mengikuti kisah awkarin? Pendukungnya banyak loh. Masih muda-muda pula.
8. Pro-kon capres pemilu 2014. Baunya masih tetap terasa.

Saya pikir akan masih banyak kejadian yang membuat sebagian orang bingung. Mana yang benar? Kemana harus memihak? Bagaimana harus bersikap?
Akhir pekan lalu kebetulan sempat bertemu dengan seorang bule muslim yang sudah membaca banyak referensi, hingga disebabkan oleh keterbatasan ingatan, agak bercampur hal-hal yang disebutkan dalam Al Quran, Hadits, atau pendapat orang (dalam hal ini ulama/ustadz). Saya yang terlibat dalam diskusi, cukup senang karena kami sepakat menjadikan Al Quran sebagai pedoman. Yes, itu yang utama. Sumber lain boleh menjadi pelengkap selama tidak bertentangan dengan petunjuk utama. Informasi yang bercampur semacam benang kusut insyaallah bisa terurai menjadi pemahaman yang lurus berdasarkan sumber yang terjamin kebenarannya.

Bukankah kebenaran mukjizat ini sebenarnya pernah dipertaruhkan dengan memasukkan berita kemenangan bangsa Romawi atas Persia yang baru terbukti beberapa tahun kemudian?

Saya mendapatkan istri yang kuliah di jurusan matematika. Bonus seorang ayah mertua yang kritis filosofis. Interaksi secara langsung maupun tidak, turut mengasah logika. Dan ini cukup membantu saya dalam melihat suatu isu.
Misalkan, eksistensi Tuhan, teori evolusi Darwin, dll. Kebenaran dalam logika matematika disebut dengan aksioma/postulat. Hal ini tidak perlu pembuktian. Misalkan semua bilangan yang dikalikan dengan 0 akan menjadi 0. Atau 1+1 = 2.

Teorema adalah konjektur yang terbukti.
Konjektur adalah pernyataan yang belum terbukti kebenarannya.

Dalam hal ini, Tuhan adalah aksioma. Kalau ada konjektur yang menyatakan Tuhan tidak ada, maka suruh mereka yang membuktikannya, bukan sebaliknya. Aksioma tidak untuk dibuktikan, tapi diuji konsistensinya, kalau bahasa audit : verifikasi.

Uji kebenaran bisa dengan permodelan dengan memasukkan beberapa variable lalu hasilnya ditulis menjadi tesis lalu dapet gelar master/doctor deh. Wkwkwk. Hasil verifikasi akan mendapat sertifikat :-P

Teori evolusi adalah teorema atau bahkan cuman sekedar konjektur saja, harus dibuktikan dengan fakta ilmiah. Bukan urusan kita lalu jadi sibuk mikirin cara mematahkannya, minta saja fakta ilmiah dari pendukungnya. Saya membaca bahwa evolusi memang terjadi pada virus dan bisa diamati secara real-time, namun evolusi yang merubah satu spesies jadi spesies lain yang sama sekali berbeda itu ada missing link yang membuat derajatnya masih sekedar ide atau konjektur saja.

Ada yang lebih parah, yakni Hoax. Konjektur dan Hoax ini kalau sudah beredar luas dan disepakati bersama, secara de jure dia akan menjadi kebenaran. Mengerikan.

Saat ini sedang berlangsung MTQ di Nusa Tenggara Barat, semoga akan datang masa MIQ (MQQ?) menjadi popular, forum verifikasi ayat-ayat Quran secara ilmiah yang mencerahkan umat. Mungkin modelnya seperti NAK dan yang berkumpul adalah anak-anak muda diawal aqil balighnya. Generasi emas yang paham tentang Al Furqon dan tidak galau dengan identitas dirinya. Ini menjadi PR besar bagi setiap keluarga : bagaimana menanamkan konsep yang membuat anak-anak yakin dan mengembangkan nalarnya, bukan berkata emang udah dari sononya atau katanya begitu dari dulu....


ReAD MoRE・・・

Monday, 3 August 2015

Mendadak Ekonom (2)

Ilustrasi di atas bisa berlaku untuk banyak kasus. Termasuk seorang pembelajar yang punya banyak ilmu tapi tidak bisa membuatnya terstruktur untuk mencari solusi, ilmu-ilmu itu tidak akan banyak bermanfaat. Well, sedikit ada irisannya dengan tulisan tentang portofolio yang lalu.


Dalam rangka membuat koneksi antar cabang pengetahuan agar membentuk struktur yang bagus dalam membaca fenomena dan mencari solusi, kita harus dipaksa untuk berpikir dan mengerahkan pundi-pundi pengetahuan itu. Dalam kasus saya, akhir-akhir ini sedang mencoba menjadi ekonom. Bukan level  negara, belum lah. Ekonom level keluarga saja, yang sedang mencerna fenomena dunia dan cari solusi untuk menyelamatkan keluarga. Tujuan yang sederhana, bukan? wkwkw.  *ekonom = orang yang paham manajemen (keuangan) keluarga, sesuai kata aristoteles.



Dalam tulisan sebelumnya saya menuliskan hasil penelitian tentang ciri suatu sistem (negara, imperium) menuju kehancurannya. Allah pun menyebutkan dalam Al Quran bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereba mengubahnya sendiri. Tuhan sudah mencukupkan rezeki manusia dimana dia berada.  Rejekinya setara dengan kebutuhan masyarakat. Bila mereka bertakwa, bertambahlah nikmatnya. Kalau merasa kurang, berarti ada yang salah. Bila ternyata kondisi suatu tempat secara obyektif sangatlah tidak layak untuk hidup, maka opsinya adalah hijrah. Simple?


Sejarah mencatat bahwa awal-awal peradaban manusia adalah dimulai di tempat yang subur, dimana alam begitu terberkahi dengan hasil buminya. Kebutuhan manusia masih tercukupi tanpa merusak hukum Allah tentang keseimbangan. Peradaban berkembang dikomandoi manusia dengan bekal akal yang dipakai berpikir.

Pertanian memegang kunci pembuka peradaban. Tumbuhan menyimpan kelebihan hasil fotosintesis. Tanaman ini dioptimalkan lewat pertanian dan perkebunan. Surplus pertanian disimpan atau diperdagangan ke luar wilayah. Kebiasaan menyimpan sesuatu yang berlebih adalah sesuatu yang alami, natural. Tumbuhan saja begitu.Manusia dengan akalnya sering menjadikan 'kelebihan' sebagai bahan spekulasi atau investasi atau hiper-konsumsi.

Kini dengan teknologi (dan utang modal?), daerah gersang dan panas pun bisa diubah menjadi kawasan elit untuk golongan tertentu. Perubahan yang baik dengan me-utilisasi sebuah kawasan sehingga naik nilai tambah dan manfaatnya. Persoalannya muncul saat hukum ekonomi tentang permintaan dan penawaran mulai termanipulasi. He? Maksudnya, ada kalanya permintaan itu muncul karena diciptakan pihak lain, bukan karena lahir dari kebutuhan. Ini salah satu sisi Marketing. ---ya, baiklah, sekarang bidang ilmu ini jadi pekerjaan saya saat ini--

Prinsip yang saya pahami sekarang, kita harus bisa melakukan valuasi terhadap suatu materi berdasarkan nilai intrinsiknya untuk menghindari spekulasi dan tertipu. Memajukan perekonomian bisa dilakukan dengan memberdayakan sumber yang ada. Bila ternyata uang tidak cukup, bisa diubah dengan bentuk sumber daya yang lain : manusia.

Hal ini dilakukan sejak jaman manusia membangun piramida di mesir, atau candi Borobudur di Indonesia atau, tidak perlu terlalu jauh kembali ke masa lampau, India melakukannya tahun 1956-1969 : membangun Bendungan dengan puluhan ribu tenaga kerja. Hal ini dilakukan  sebab kekurangan dana sehingga untuk menghindari utang luar negeri, dipergunakanlah sumber daya mereka : populasi dan batu (bukan beton). Menariknya proyek ini berhasilkarena kerjasama yang baik anatara pekerja, arsitek, insinyur dan pemerintahnya.

Di periode yang sama, Indonesia sibuk dengan berbagai manipol, peleburan Irian (Ikoet Repoeblik Indonesia Anti Netherland), Ganyang Malaysia, sampai hiperinflasi tahun 1965.  Baiklah, di Indonesia pun sebenarnya  ada infrastruktur yang terbangun pada masa yang sama seperti  GBK, jalan layang (?) semanggi dkk sebagai persiapan Asian games tahun 1962. Tapi.... beda fungsi  dengan bendungan tadi donk.

Bangunan di Indonesia manfaat langsung ke produktivitas rakyatnya tidak terasa selain sebagai ajang pamer saat para tamu asing bertandang ke Jakarta. Indonesia dimunculkan agar nampak kaya makmur dan sejahtera. Duitnya pun dari USSR a.ka. ngutang. Saya pun baru ngeh kalau ternyata dari awal Republik ini berdiri pemerintah sudah hutang ke sana-sini, kalau dulu cenderung ke blok timur, sekarang cenderung ke blok barat (?).

Okay. Baiklah. Cukup sudah contoh yang ditunjukkan oleh pemerintah dan pelajaran yang berharga telah dicatat dalam 70 tahun Indonesia dalam sejarah. Kedaulatan suatu bangsa bersumber dari kedaulatan setiap keluarga dalam wilayahnya. Mau bicara tentang kedaulatan pangan, kedaulatan beragama, kedaulatan berpendapat dst, suatu bangsa terlihat dari kondisi komunitas terkecilnya.

Sewaktu liburan Lebaran lalu, saya sempat berbincang dengan banyak saudara. Saya bertanya sewaktu para paman yang menjalani hidup sekitar tahun 60-an, apakah benar terjadi kekuarangan pangan? Pelaku-pelaku sejarah itu menceritakan bahwa mereka sempat makan bulgur (pakan kuda?), berbagai umbi pengganti nasi, sampai cerita beras artifisial dari plastik, eh, dari singkong untuk menghiasi meja makan. Tapi ada pula yang berkata, eh? kami tidak pernah kekuarangan pangan, beras selalu tersedia, karena keluarga punya sawah dan tidak pernah membeli beras.

Kenapa kondisinya berbeda? Ada yang sampai tidak tahu negara kekurangan pangan, ada yang menderita kekurangan pangan? Well, karena masih kecil, bisa jadi pelaku sejarah itu tidak terlalu ngeh dengan kondisi bangsa saat itu. Saya melihat ada keluarga yang berdaulat pangan, ada yang tidak.

Ceita lain saya dengar tentang suatu "kompleks kota mandiri' dimana wilayahnya terbagi menjadi sarana pendidikan, pertanian, rumah sakit dan pasar. Biaya hidup di 'kota' itu tidak berubah selama puluhan tahun. Nilai dolar naik terus terhadap rupiah pun tidak berpengaruh. Saya rasa inilah potret negeri yang berdaulat, efek luar tidak banyak berdampak terhadap kelangsungan kehidupan warganya. Sumber daya yang berada di wilayah kedaulatannya diberdayakan dengan baik dan dikelola dengan penuh amanah.

Saat mulai melihat gejala suatu negeri menuju kehancuran, maka protofolio yang terbangun dan informasi yang berserak harus segera disusun. Aset-aset riil produktif akan lebih banyak manfaatnya dibandingkan aset-aset dalam nominal besar tapi nilai riilnya tak lebih dari kertas bertanda tangan. Yah, saya bisa memahami saat dalam suatu ceramah ada ajakan untuk membangun suatu komunitas mandiri. Produksi dan konsumsi barang hasil buatan sendiri, menghindari produk asing agar bisa berdikari. Sistemnya pun secara bertahap melepaskan diri dari uang fiat yang terlanjur menggurita, heum, naiss.

Ya, saya rasa di sinilah peran golongan menengah yang sudah punya keleluasaan untuk mengalokasikan kemana uangnya hendak dipergunakan. Gaya hidup diproyeksikan agar menjadi permanen muzakki, aset-aset riil segera dimilki, bermain di pasar modal bila ilmu sudah mencukupi. Uang sejati yang mempertahankan daya beli (emas & perak) boleh disimpan, kertas-kertas bertandatangan gubernur bank central disimpan secukupnya untuk sehari-hari,  kelebihannya dirubah ke aset riil. Itu kesimpulan saya saat ini.

Intermezzo : Anak saya dibelikan anak ayam seharga 10 ribu/ 3 ekor akhir tahun lalu. Lebaran ini anak ayamnya sudah berumur 7 bulan (baca : jadi ayam betina dewasa), siap dijadikan lauk (;p) dan sudah bertelur 2 hari sekali. Tidak sampai satu tahun, aset anak saya sudah bernilai 10 kali lipat dengan bonus belasan telur. Aset yang produktif, bukan? :-p

Intermezzo 2: peta negara dunia beberapa kali berubah disebabkan gejolak keuangan/keruntuhan suatu negara ataupun perang. Bila suatu negara bangkrut, bagaimana kelanjutannya? jual wilayah? Jual kewarganegaaan untuk orang asing yang mau invest besar? terima dana talangan asing dengan kontrak eksploitasi (kalau punya SDA)? heum, menarik diikuti kelanjutan kisahnya.










ReAD MoRE・・・

Sunday, 28 June 2015

Mendadak Ekonom (1)

Kata Aristoteles, ekonomi itu ilmu manajemen (keuangan) keluarga. Kini maknanya sudah bergeser cukup jauh. Intisari yang saya peroleh, perekonomian suatu negara pada dasarnya adalah cerminan dari pola yang terjadi dalam level keluarga. Tentu saja, juga berlaku sebaliknya karena berbagai kebijakan seputar perekonomian banyak ditetapkan oleh pemerintah (negara). 

Sebagai kepala keluarga sekarang saya harus melek ilmu ekonomi. Alasannya cukup jelas: Agar tetap berada pada jalur yang benar menuju visi hidup mulia dimanapun di dunia dan selamat di akhirat. Tsaahh. Saya coba memahami apa-apa saja yang sudah terjadi di dunia ini, dari sejarah dan kejadian-kejadian terkini.

Dalam ekonomi, kita tidak bisa lepas dari transaksi yang selalu berhubungan dengan uang. Ini berlaku sejak manusia mengenal perdagangan. Emas dan perak dijadikan standar nilai suatu komoditi. Sampai perang dunia ke-2, sebetulnya segala transaksi keuangan itu, termasuk level suatu negara, masih mempergunakan standar emas atau perak.

Kepemilikian emas yang terbatas, menjadi limit berbelanja. Kredit tetap ada, tapi dengan ‘cadangan’ emas sebagai jaminannya. Saat perang dunia 2, emas banyak berpindah ke amerika karena surplus perdagangannya dalam menyedikan perlengkapan perang. Akhirnya dipakailah dolar amerika sebagai standar baru perdagangan antar bangsa, setara dengan emas (tersisa) yang dimiliki ke-44 negara penandatangan Bretton Woods. 

Tapi karena keinginan konsumsi yang semakin meingkat dan jaminan emas sudah tidak cukup untuk menahan laju kerakusan manusia, akhirnya Nixon melepaskan keterkaitan dolar dengan jaminan emas. Akibatnya? Sejak tahun 1971 standar emas sudah tidak berlaku, digantikan dengan standar USD yang bisa dicetak sekehendak Bank Central Amerika.

Untuk menggelembungkan perekonomian, dihembuskanlah kredit. Boleh menikmati fasilitas barang sekarang, bayarnya dicicil dengan tambahan bunga. Yaps. Sistem riba berlaku dengan sangat-sangat leluasa. Tak ada batasnya. Gak punya emas atau cadangan emas tak cukup lagi? No problem.

Betulkah tidak akan ada masalah? Jumlah uang yang tercetak lebih banyak dari jaminan emas. Akibatnya, nilainya turun. Gaji buruh berpendidikan rendah tahun 1971 gajinya (dalam emas) masih lebih tinggi dibandingkan karyawan berpendidikan tinggi di tahun 2010. Kata orang, inilah inflasi, penurunan daya beli. 

Masalah masih memberikan bonus berupa  riba yang harus dibayar. Bagaimana mau dibayarkan kalau jumlah uang yang dicetak itu hanya setara dengan pokok pinjaman saja? Harus cetak uang lagi dunk, nilai uang trurun lagi… dan beginilah siklus yang terjadi. Inflasi terjadi setiap tahun karena orang-orang melakukan konsumsi lebih dari sumber daya yang dimilki. Kekuatan utang tanpa agunan.

Yang saya rasakan, daya beli anak-anak yang lahir setelah 1971 lebih rendah dibandingkan orang tuanya pada usia yang sama. Untuk membeli rumah dengan luas dan lokasi yang setara, akan dicapai dengan usia yang lebih tua. Pada beberapa kasus bahkan sampai akhir hayat pun ada yang tidak pernah memiliki cukup uang untuk ditukar dengan rumah.

Waktu saya kecil di awal tahun 1990-an, harga sebungkus sarapan sekitar 75 rupiah. Saat pulang kampung tahun 2015, harga sebungkus sarapan menjadi 3000 rupiah. Naik 40 kali lipat dalam 20 tahun. Saya tidak ingat ongkos transportasi, karena waktu SD tinggal menyebrang jalan kalau sekolah dan tidak ada angkutan umum berupa angkot atau bis kota di kota kecil saya. :-P saya juga tidak suka jajan, jadi tidak ingat juga harga jajan atau jumlah uang jajan saya.

Indonesia sudah berumur 70 tahun pemerintahannya. Seharusnya belajar banyak dari sejarah tentang penyebab runtuhnya berbagai kerajaan di masa lalu. Saya membaca kalau Otto Von Bismarck, pemersatu Jerman, pernah memerintahkan seorang sejarwan sekaligus ekonom, Gustav Ruhland, untuk meneliti penyebab runtuhnya imperium romawi, yunani, juga para penjelajah dunia : Inggris dan Spanyol.

Kesimpulan Ruhland : Akar penyebab keruntuhkan imperium itu adalah kebijakan moneternya. Ruhland juga menemukan cirri-ciri suatu imperium menjelang keruntuhannya. Biarpun saat sampai pada kesimpulan, Bismarck sudah tidak menjabat sebagai kanselir, hasil penelitian ini tetap bagus untuk menjadi masukan seorang pemimpin negara -juga pemimpin keluarga, hehe- 

Saya tidak yakin apakah negera modern sejahtera pertama di dunia di bawah pimpinan Otto terbangun karena bisikan mujarab hasil penelitian Ruhland, atau memang karena Otto adalah seorang bervisi jauh ke depan dengan mengambil keputusan-keputusan strategis. Dari langkahnya, saya bisa membaca kalau Otto memerintahkan orang-orang yang komepeten untuk melakukan riset dan mengumpulkan informasi yang benar dan terpercaya untuk mendesain negerinya.

Baiklah, inilah cirri-ciri suatu imperium menuju kehancuran. Versi Ruhland, tentu saja.
1. Perkembangkan kesejahteraan masyarakat umum tertinggal dengan mengorbitnya tingkat kemewahan yang dinikmati sebagian kecil orang.
2. Meningkatnya tanda kebobrokan mental di kelas penguasa (korupsi, keserakahan, kriminalitas, kemewahan) 
3. Meningkatnya pajak rakyat. Militer dipakai untuk memungut pajak.
4. Pemerintah member subsidi masyarakat miskin untuk membuat mereka tetap tenang dengan roti dan sirkus.
5. Meningkatnya kebobrokan moral masyarakat. 
6. Konflik militer dengan luar negeri untuk mempertahakankan status quo atau pengalihan isu. 
7. Bankir ‘menguasai’ pemerintah 
8. Pemerintah ikut campur dalam pasar. 
9. Devaluasi uang (menurunkan kadar logam mulia dalam uang) 
10. Inflasi keuangan. 
11. Perang sipil, kerusuhan. 
12. Kegagalan pemerintahan yang kronis (pemerintah tidak punya kekuasaan) 
13. Penurunan populasi. 
14. Perdagangan secara barter menggantikan ekonomi moneter. 

Bagaimana? Nampaknya beberapa tanda sudah dirasakan di negeri yang mau berulang tahun ke-70 tahun 2015 ini. Pada beberapa titik dalam 20 tahun terakhir ini, Indonesia sudah hampir runtuh namun entah bagimana ceritanya ada invisible hands yang berhasil mempertahankan sebagian besar wilayah kedaulatan, biarpun ada wilayah yang lepas, biarpun arah  kebijakan ekonomi negara dan industri menjadi rancu tentang siapa yang dibela...

Saya belum menemukan bacaan tentang tanda-tanda runtuhnya kekhalifahan. Ruhland tidak menuliskan apakah hasil penelitiannya juga mencakup kekhalifahan islam di beberapa jazirah yang juga runtuh. PR saya berikutnya adalah mencari sumber bacaan yang terpercaya seputar ini. Kekhalifahan Turki Usmani masih berjaya saat itu sehingga tidak menjadi obyek penelitian Ruhland.

 *Ambil napas. *

Sekarang saya coba memahami sistem pendapatan suatu sistem. Pada dasarnya ada 2 sumber pendapatan negara : Pungutan (pajak dan non-pajak) dan Utang. Uang hasil pungutan inilah yang dipakai membayar hutang. Saya lupa berapa nominalnya, yang saya ingat pernah ada perhitungan yang menyatakan bahwa setiap anak yang lahir di Indeosnia sudah menanggung hutang (negara) sekian ** juta rupiah (jumlahnya mungkin sekarang berubah seiring perubahan kurs dan pelunasan sebagian).

Sistem keluarga juga punya 2 sumber pendapatan : gaji (cash) dan utang. Sama dengan negara, cash ini yang dipakai untuk membayar utang. Cash akan dipakai memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bila tingkat konsumsi (lets say pertumbuhan ‘kemakmuran’) sudah tidak bisa dipenuhi lagi dengan cash, maka utang (kredit) menjadi solusi. 

Demikian pula dengan negara, saat sumber pendapatan negara sudah tidak bisa menutupi keperluan belanjanya, utang luar negeri (dan dalam negeri) menjadi pelarian. Siapa yang harus membayar utang pemerintah itu? Ya, siapa lagi kalau bukan kita dan anak kita dan cucu kita dan cicit kita dan anak-cicit kita. Saya, anda dan anak keturunan kita lah yang menanggung utang itu lewat pajak. Sampai kapan? Tergantung besarnya pajak dan kemampuan mencicil kita. Kalau ternyata saat jatuh tempo pemerintah gagal bayar, apa yang terjadi? Well, mungkin kita bisa belajar dari kasus Yunani di era Uni-Eropa (bukan jaman polis Athena, apalagi Hercules). 

Bila dalam level keluarga kita bisa melepaskan asset untuk membayar hutang, apa yang bisa dilakukan dalam level negara? Saya belum paham, apakah dengan menjual wilayah? Atau memberikan hak exploitasi selama sekian ratus tahun? Entahlah, sejarah akan menjawabnya sendiri.

Kali ini saya mengulang kembali konsep dasar ekonomi : income vs outcome. Outcome sendiri membengkak lebih kepada target, keinginan, bukan kebutuhan. Income juga bisa dibengkakkan dengan utang. Tapi merujuk ke tulisan saya sebelumnya, lebih baik menjadi seorang muzakki daripada debitur bertahun-tahun. 

Cerita soal uang, perdagangan, nilai tukar dan lain-lain akan dipelajari dan dituliskan dalam tempoh sesingkat-singkatnya. InsyaAllah. Dalam 4 tahun terakhir, rata-rata dari total negara di dunia menurun cadangan emasnya, tapi ada 3 negara yang naik cukup significant : Jerman (550%), China (196%) dan India (17%). Apakah 3 negara ini melihat tanda-tanda kerapuhan sistem ekonomi tanpa agunan mulai nampak dan mulai menyimpan uang sejati? Apakah ini ada hubungannya dengan kelesuan perdagangan dan industri Indonesia di semester pertama 2015 ini? Well, lagi-lagi waktu akan menjawabnya. Ekonomi bukan ilmu pasti sih hehe.


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 23 June 2015

[Catatan Keluarga] Suamiku, Apakah Rejeki Kita Barokah? (3)

Ramadhan menjadi bulan perhitungan. Hitung-hitungan amal, lebih rajin lagi agar dilipatgandakan. Hitung-hitungan untuk lebaran. Utamanya hitung-hitungan zakat juga. Biarpun biasanya sudah dilakukan di luar Ramadhan, target menjadi fitri setelah bulan suci, menjadikan diri lebih sensitif untuk mensucikan harta.

Tahun lalu saya berdiskusi cukup panjang dengan istri terkait zakat. Betul. Seiring dengan perkembangan ilmu fiqh, macam zakat bukan sekedar zakat fitrah dan zakat maal (harta) saja. Ada zakat profesi namanya. Pertimbangannya, bila petani saja dikenai beban zakat 10% untuk mensucikan pendapatannya, kenapa pekerja kantoran yang dapat gaji tiap bulan hanya bayar setahun sekali?

Kesimpulannya waktu itu, saya tidak keberatan mengeluarkan sejumlah harta. Tapi belum bisa menerima sebutan zakat untuk itu. Di sini titik masalahnya. Zakat itu wajib, sedangkan sedekah lain ‘hanya’ Sunnah saja level tertingginya. Poin saya seputar zakat adalah nisab dan waktu. Ada nilai tertentu yang dimiliki selama satu tahun. Pengeluarannya pun setelah dikurangi dengan beban rumah tangga dan hutang sehingga nilai tersisa yang diam selama satu tahun inilah yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Waktu itu, istri tetap mengeluarkan sejumlah nominal , tapi bagi saya itu bukan zakat, sesuai definisinya. Nisab untuk pendapatan sendiri ditetapkan oleh ahli fiqih modern, sesuai dengan mata uang masing-masing negara (?). pemikiran ini yang belum bisa saya terima. Apakah nisab zakat untuk orang yang tinggal dan bekerja di Jakarta akan sama dengan yang tinggal dan bekerja di Tangjungpura, misalnya. Nilai rupiah sekarang naik turun drastis, berbeda dengan emas yang lebih stabil, biarpun naik-turun juga.

Poin saya adalah perbedaan gaya hidup dan pola pikir yang demikian jauh. Orang yang tinggal di kota besar, bisa jadi menjadi penerima zakat karena pola hidupnya. Ada yang bilang namanya miskin perkotaan. Gaji 10 juta, tapi cicilan ini itu 9 juta. Nah loh. Kenyatannya, pola pikir kalau bisa dicicil kenapa beli tunai sudah menjadi kebiasaan. Hutang yang mulanya sesuatu yang sangat-sangat-sangat dihindari karena menyangkut harga diri dan beban ahli waris bila ditinggal mati, kini bukanlah sesatu yang ditakuti. Orang justru berebut memperoleh hutang untuk memuaskan konsumsi. 

Sistem pun mendukungnya. Ambil kasus masalah papan (rumah). Rumah mahal? Iya. Susah beli, akhirnya ambil KPR. Akadnya apa? Jual beli? Siapa yang jual dan siapa yang bayar. Di sini sudah cacat secara akad. Punya uang 30% dari nilai property sudah cukup!. Bahkan katanya Juni ini akan diturunkan lagi batas LTVnya hingga 10% doank. Nah loh, kalua si suami mati, gimana? Gampang! Pakai asuransi, cicilan langsung lunas begitu ada surat kematian, anak istri gak perlu kuatir. Semua senang. Apakah semua akan baik-baik saja dengan begitu?

Sistem ini akan tetap berlangsung karena ada yang memakai. Banyak lagi. Akhirnya, konsumsi yang dibangun atas dasar hutang akan memberikan data ekonomi yang salah sasaran. Konsumsi masyarakat tinggi bukan berarti kesejahteraan masyarakat sudah tinggi pula. Akan sulit dibedakan orang-orang yang Nampak kaya dengan yang benar-benar kaya. Terutama untuk kaum menengah. 

Siapa itu kaum menengah? Tergantung yang bikin definisi, katanya sih yang punya pendapatan 150 juta per tahun atau lebih. Kalau kata saya, kaum menengah itu, golongan yang mempunyai pilihan untuk mengalokasikan uangnya ke hal-hal yang dia suka. Apakah hal-hal itu akan membuatnya ‘nampak kaya’ atau akan membuatnya kaya (pada saatnya).Bila harta yang dipegang tak cukup, golongan menengah ini termasuk bank-able dan lebih mudah mendapat kucuran kredit.
Bila si golongan menengah ini memilih untuk memakai hartanya agar tampak kaya, pembelian barang-barang untuk mendukung gaya hidup (mewah)  statusnya yang bank-able akan mendorong pengajuan hutang ke bank. Semakin banyak orang seperti ini, makan banyak yang tidak naik kelas. terperangkap hutang konsumtif dan gagal menjadi golongan ekonomi atas. Biarpun tampaknya begitulah seleksi yang berlaku dalam piramida. Populasi yang ada di atas selelau lebih sedikit dibandingkan kelompok di bawahnya.Yang gagal mengelola hartanya bisa turun status, dari wajib mengeluarkan zakat menjadi berhak menerima zakat. 

Kalau hutang jangka panjang (10-20 tahun?) terus didekap, apakah mungkin nisab 85 gram emas itu tercapai sebelum hutang itu lunas? Saya termasuk yang pesimis...

Bagi saya pelajaran soal zakat ini adalah manajemen uang yang sangat apik. Pertama, menstimulasi untuk memutar kekayaan sehingga dengan perpindahan uang ke lebih banyak orang akan lebih meratakan kesejahteraan. Tidak terpusat pada simpul-simpul penguasa ekonomi tertentu saja. Jangan sampai ada uang yang diam saja tidak bermanfaat. Bahkan uang yang didiamkan saja akan tergerus nilainya. Kalau pas banget kena nisab, tahun-tahun berikutnya bisa jadi sudah tidak wajib dikeluarkan zakatnya karena sudah tidak mencapai nisab lagi. (apalagi kalau hartanya tersimpan dalam wujud rupiah dalam rekening bank).

Kedua, membiasakan untuk melakukan pembukuan harta yang rapi. karena zakat ini dihitung setiap tahun. Apakah perputaran aset kita menghasilkan harta diam selama satu tahun? Apakah aset-aset itu lebih banyak berputar memberi manfaat atau diam tergolek  setiap saat?

Bisa jadi sejumlah uang yang diam dalam satu tahun, mencapai nisab sehingga harus dikeluarkan zakatnya itu lebih barokah dbandingan bila dijadikan modal berhutang. Bila target yang ingin dimiliki belum bisa dibeli sehingga harus menambah 'tabungan' lagi,  tahun berikutnya simpanan harta tak bergerak itu kena nisab dan harus dikeluarkan lagi zakatnya... dan tahun berkitnya, dan tahun depannya lagi, sampai cukup untuk transaksi jual beli. 

Bisa jadi...nominal zakat yang dikeluarkan lebih kecil dari beban riba yang dipakaikan sekaligus membuat rejeki lebih barokah. Eefeknya? kalau menurut perhitungan suatu barang yang ingin dimilki baru bisa menjadi kenyataan 10 tahun lagi, mungkin saja bisa terjadi lebih cepat, 3 atau 4 tahun saja, misalnya. Sedikit bersabar dengan mempertahankan gelar wajib zakat terdengar lebih keren. :-)   *dalam kasus golongan menengah yang ingin beli rumah dengan bantuan pihak ke-3, DPnya saja sudah kena nisab, bukan yak? *

Seputar Hutang :“Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berhutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya hutang adalah kehinaan di siang hari kesengsaraan di malam hari, tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah-tengah manusia selama kalian hidup.” Lihat kitab Umar bin Abdul Aziz Ma’alim Al Ishlah wa At Tajdid, 2/71, karya DR. Ali Muhammad Ash Shallabi (Asy Syamela).
Well, semoga rejeki yang barokah itu bisa tercapai dengan bebas hutang dan menjadi wajib zakat maal. (bukan wajib pajak, hiks hiks...) [Update] Kebijakan keluarga tahun 2015 : zakat penghasilan tahunan dikeluarkan sesuai kriteria (tentunya setelah dikurangi beban/tanggungan reguler rerata bulanan, sehingga gampang itungannya :-))






ReAD MoRE・・・

Saturday, 2 May 2015

[CATATAN KELUARGA] Suamiku, Apakah rejeki Kita Barokah? (2)

Melanjutkan posting sebelumnya seputar keuangan keluarga. Well, kali ini untuk melakukan evaluasi untuk caturwulan pertama di 2015. Temanya tentang portofolio keluarga. #Sebelumnya : ini

Istri saya yang lebih ahli seputar portofolio karena menjadi bagian penelitiannya semasa kuliah. Jadi urusan pembelanjaan pengelolaan keuangan keluarga sedikit banyak mendapat tidakpersetujuan dari istri, haha. Saya cenderung untuk mengambil resiko besar sehingga pilihan investasi ini itu beserta difersifikasinya ingin segera dilakukan. Istri saya, sebaliknya. Manajemen resiko menjadi isu yang cukup lama digelutinya sehingga pertimbangannya panjang dan cenderung berhati-hati. Tapi saya akui, masukan dan tidakpersetujuan istri cukup mujarab pada kebanyakan kasus. Ada sisi-sisi resiko yang terkadang luput dari pandangan saya.

***

Punya Rumah bagi orang Indonesia adalah isu paling besar berdasarkan survei yang dilakukan lewat mesin pencari google.ini.  Sementara itu berdasarkan hasil survei ini, berikut adalah hal yang paling banyak dicari oleh penduduk suatu negeri :
Malaysia   : Mobil dan tato
Singapura  : Pembantu rumah tangga
Thailand    : PSK
Filipina      : Pensiun
Korea         : Operasi Plastik (hidung)
Jepang     : Semangka (well, mulai 1 Mei diterapkan coolbiz, pakaian kerja tanpa dasi, lengan pendek, jelang musim panas. Semangka biasanya menjadi buah penyegar di musim ini)

Rumah juga menjadi kata kunci yang paling banyak dimasukkan ke mesin pencari di negara lain seperti Oman dan Guatemala. Penduduk Indonesia tidak sendirian :-)
*** 

Baiklah. Selama 3 tahun pernikahan, kami telah melakukan diversifikasi pengelolaan harta. Ada yang kami simpan dalam bentuk emas, ada pula sekuritas, sebagian deposito jangka pendek, mata uang asing. 

Terhitung April 2015 ada sertifikat tanah & bangunan serta BPKB kendaraan Alhamdulillah tercatat atas nama saya. Tanah dan bangunan itu tidak kami tempati sementara ini, tapi diutilisasi dengan baik untuk keperluan pendidikan dan ketahanan keluarga. Tsaah.

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang mencari rumah (sebagai tempat tinggal), saya pun bukan pengecualian. Harga rumah yang melangit dan jebakan riba kredit selalu menguntit. Kami sepakat untuk tidak terlibat lebih jauh. Beli rumah tanpa riba atau tempati saja rumah orang lain dengan menyewa. 

Saat ini anggota keluarga kami baru 2 orang dewasa dan 1 bayi. Rumah dengan bangunan seluas 50 meter persegi masih mencukupi untuk ditinggali. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, secara pribadi saya berpendapat kalau ruang gerak per orang adalah sekitar 20m2. Dengan demikian bila anggota keluarga saya nanti bertambah, luas tempat tinggal juga harus ditambah agar tidak terasa crowded. Kalau anak-anak kelak sudah mandiri dan punya keluarga sendiri, maka rumah tinggal saya pun luasnya harus dikurangi, agar tidak capek mengurusnya.

Dalam perhitungan saya, rumah luas diperlukan saat usia pasutri 25-45 tahun. Anak-anak dilahirkan dan secara umum masih tinggal dengan orang tuanya. Pengeluaran keluarga paling tinggi dimulai sekitar kepala 4, karena anak sulung akan terjun ke bangku kuliah. Biayanya? sekarang aja sudah puluhan (ratusan?) juta kalau bayar sendiri tanpa beasiswa. Setelah 50 tahun pengeluaran lebih besar untuk kesehatan...

Sementara itu kebanyakan orang Indonesia berumur 25-45 tahun belum berkemampuan membeli rumah. Beda kalau mencicil :-) Untuk kondisi sekarang ini rumah dengan luas sekitar 100m2 (bangunannya) di Jakarta dan sekitarnya tersedia dengan harga di atas 1M. Dengan gaji rata-rata sekitar 200 juta pertahun saja, secara hitungan matematis keluarga tersebut belum mampu membeli rumah. 

Bila setelah menikah dan dalam 5 tahun ingin membeli rumah pantas, maka pendapatan keluarga per bulan minimal 40 juta rupiah dan menabung 15 juta per bulan. Hal ini pernah dinyatakan oleh gubernur DKI : kalau mau beli rumah di Jakarta, gaji minimal 40 juta. tohohoho.

Idealnya begitu. Umur 25, pendapatan 40 juta per bulan, menikah, saat umur 30 sudah punya rumah sendiri. Tapi tapi tapi, saya kira sangat sedikit orang yang memiliki kriteria tersebut. Pilihan lainnya adalah menyediakan tempat tinggal yang pantas untuk keluarga. Misalnya, menyewa rumah seluas 1000 m2 saat ortu berusia 35 tahun dan anak-anak perlu ruang eksplorasi yang luas. Masa kecil mereka tentunya puas dengan menikmati fasilitas tempat tinggal yang ada dibandingkan memaksaan mencicil rumah seluas 45m2.

Lah terus kapan punya rumah sendiri? Ya, kalau sudah punya cukup uang. Karir lelaki biasanya berada di puncaknya sekitar usia 50 tahun. Anak-anak mungkin sudah mulai mandiri, jadi tak perlu rumah luas lagi di kota. Eh, udah 'tua' doank. Yah gak papa donk. Anak-anak sudah bisa menikmati rumah luas dan kenangan yang membuat hati puas. Orang tua akhirnya bisa menikmati 'hidupnya' atau menyerahkan sebagian hartanya untuk mendukung anak-anaknya memiliki properti produktif. :-)  
Jadi, fokusnya adalah menyediakan tempat tinggal yang nyaman buat anak-anak yang mendukung tumbuh kembang dan pendidikan mereka. Standarnya? uhm, diserahkan ke pandangan masing-masing orang tua. 

Weits, properti menjadi salah satu portofolio (aset?) fisik keluarga. Namun selain bangunan fisik, rejeki yang dianugerahkan Allah sudah sewajarnya dipergunakan untuk mengembangkan portofolio yang lain: kualitas diri. 

Portofolio adalah satu set keahlian yang bisa diberdayakan untuk menyelesaikan masalah. Isinya berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman yang bisa menjadi bekal bagi seseorang untuk menjalankan sebuah pekerjaan/peran. Namun suatu pengalaman/keterampilan belum tentu menjadi portofolio. Misalkan kemampuan bahasa Jepang saya tidak akan banyak bermanfaat bila saya bekerja sebagai karyawan BUMN dan tidak ada bisnis dengan Jepang. Akan lebih baik saya menjadi interpreter freelance :-P

Dalam konteks kualitas diri dan keluarga pengetahuan itu berupa pemahaman yang baik terhadap ajaran islam termasuk hafalan Quran, keterampilan untuk menjalankan perintah agama (misalnya menyembelih binatang, mengajari anak-anak, muamalah, mengelola harta, berkuda, berenang, dll), Pengalaman saat mempergunakan keterampilan yang ada, belajar dari kesalahan atau menganalogikan pengalaman di masa lalu untuk mencari solusi di kondisi sekarang dan akan datang. 

Terkait portofolio ini banyak sekali yang harus dipersiapkan. 
1. Kemampuan bahasa (kami mengharapkan anak-anak kami setidaknya fasih 4 bahasa) 
2. Peta masa depan (memiliki gambaran apa yang dilakukan di masa depan, apa yang diinginkan, usia berapa dicapai, punya rencana apa-apa yang harus dipersiapkan).
3. Cita rasa hidup : tidak sekedar menjalani, Percaya diri, punya mimpi dan kemampuan melisankankan pendapat secara gamblang. Prinsipnya : izzah (kemuliaan, kehormatan) dan peningkatan imtaq. Dua prinsip ini yang menjadi dasar bertindak.
4. Pertemanan : berusaha dikelilingi orang-orang sholih biar ikutan sholih, dikelilingi orang-orang yang bisa memperbaiki & menjaga diri agar input informasi yang masuk lebih berkualitas.

Saat membuat peta masa depan, kita akan melihat ada level-level yang perlu diraih. Untuk menggapainya kita perlu melihat kualifikasi seperti apa untuk bisa menempati level tersebut. Dengan adanya kualifikasi yang jelas, kita akan fokus untuk memenuhinya.

Saat usia saya 40 tahun nanti, portofolio seperti apa yang harus saya miliki sebagai kepala keluarga? portofolio seperti apa yang perlu dibangun untuk menjadi, err... presiden direktur, misalnya. Portofolio apa yang diperlukan istri dan anak-anak saya nanti agar bisa survive dimanapun di dunia dan di akhirat nanti? Wew...

Semoga Allah melimpahi kami dengan rejeki yang barokah sehingga keluarga kecil kami yang membelanjakannya bisa memiliki portofolio yang pantas untuk hidup mulia di dunia dan selamat di akhirat. Semoga Allah melindungi kami dari menjadi pengembara  tanpa makna saat bekerja di dunia. 


ReAD MoRE・・・