Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, 12 April 2010

Goodbye, Daddy.




Dad,
Knowing that you are going to be gone,
Wont make it any easier.
Our love to you is infinity and beyond,
your name will always be in our prayer.


Beberapa hal yang baru saya tahu setelah ayahanda meninggal :
1. Ayah adalah orang yang rajin menyambung tali silaturahim, termasuk ke sepupu jauh dalam keluarga besar kami. Waktu beliau meninggal, banyak telepon dan sms yang dalam perkenalannya menjelaskan silsilah keluarga dan hubungan kekerabatan dengan ayah. Saya sendiri baru ingat kalau waktu SMP dulu pernah diajak berputar-putar di Jakarta dan Bogor dari pagi sampai malam hanya untuk mengunjugi saudara-saudara yang saya sendiri bingung bagaimana silsilahnya.

Deuh, ayah. Menyesal sekali saya dengan tidak mengingat kelebihanmu yang satu ini. Semoga saya bisa mengikuti jejakmu untuk tetap menjaga silaturahim dengan keluarga jauh kita.

2. Sepertinya ayah menunggu kepulangan saya. Meski di hari-hari pertama saya di rumah beliau masih belum mengenali saya, namun akhirnya beliau mau saya suapi dan tangan kanannya yang masih bisa digerakkan selalu berusaha untuk memegang tangan atau merangkul saya. Selama saya di rumah, beliau sepertinya ingin mengajak bicara, namun saya tidak menangkap apa yang dimaksudkan oleh beliau. Saat saya berpamitan hendak kembali ke Jepang, tiba-tiba beliau bisa bicara dengan jelas dan tangannya tak lagi berusaha menangkap tangan saya. Setelah saya kembali ke Jepang, kondisi beliau langsup drop.

Deuh ayah, andai saya berani mengacuhkan urusan visa dan perkuliahan, sebenarnya ingin hati ini berada di dekatmu saat engkau kehilangan keperkasaan masa mudamu.

3. Dua hari sebelum beliau meninggal, tangan kanan beliau sering melambai, seperti memanggil seseorang. Satu hal yang membuat ibu cukup heran adalah ayah tersenyum! Padahal setelah stroke, otot di sekitar mulut beliau seperti susah sekali untuk mengukir bulan sabit pada bibir beliau. Yah, menjelang meninggal, beliau sering tersenyum. Satu hal yang sulit sekali beliau lakukan semenjak sakit.

4. Jasad ayah sangat ringat saat diusung menuju liang lahat. Padahal, sewaktu saya di rumah perlu 3 orang untuk membantu membuat beliau duduk.

Semoga engkau termasuk golongan orang yang khusnul khatimah.

5. Tak ada tanda khusus kalau beliau akan meninggal. Pagi dan siang harinya beliau masih makan dan minum susu seperti biasa. Hanya saja arah pandangan mata beliau sering lurus ke atas.

Ya Allah, lapangkanlah kubur Ayah. Pertemukanlah kami kelak dalam indahnya jannah.


*This is the last picture of us which was taken by mom, before I went back to Japan (16 March 2010) *

*I'll save it here as a reminder for me, about life, Love dan destiny*


ReAD MoRE・・・

Saturday, 16 May 2009

Tsurumai Hujan

Langit dijejali awan-awan kekenyangan. Penuh titik air, menjelma garis, terjun ke bumi, menggandeng kesejukan. Tsurumai Hujan, membilas tetanaman yang dihijaukan.


Tsurumai Hujan. Gempita segenap isi taman.

Pagi yang tenang. Entah kenapa burung tiada berdendang.
Aku diam. Mata terpejam. Saatnya pendengaran menjamah alam.


ReAD MoRE・・・

Sunday, 24 August 2008

Ramadan, welcome to my heart.



Welcome to Ramadan, the month of mercy.

Sit yourself calm and witness the beauty.
Feel the pure breeze under the shade of palm trees,
Forgiveness - even if sins stretch seven seas.

The month of reflecting on the life we’ve spent
And how it healed after every dent.
The time to realize your true objective
And to live Islam fully and not selective.

The time to appreciate the food and drink.
To unite rich and poor and provide the link.
The month of the struggle to grasp your soul,
For the next eleven months, in full control.

This is the time when the gates of hell are shut.
The devil is locked up and his work is cut.
The doors of mercy are opened up wide
And Allah’s blessings are always on your side

This is the month when the Qur’an was revealed,
The last revelation – the door had been sealed.
A true guidance for the whole of mankind,
No better words elsewhere will we ever find.

This is the month in which falls the Night of Power,
‘Better than a thousand months’, the blessings shower.
The angels descend on us so that they may see
The faces of believers in tranquility.

Don’t ignore this Ramadan; it could be your last.
Strive to obtain Allah’s pleasure and hold your fast.
Tomorrow could be your final day, be prepared.
Seize today by the neck and have no chance spared.


-tahir rashid-


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 23 July 2008

Hanya

Jalanan masih mengepul, sejak pagi hingga senja hari. Kilau dalam terik, tapi bukan air yang gemericik.

Hanya, fatamorgana makin merajalela
Hanya, siang kembali mengerutkan malam
Hanya, thermometer yang membisikkan kota ini serasa oven raksasa
Hanya, mimpi kembali beterbangan saat realita mencoba
Hanya, itu-itu saja.

Kejadian yang hampir sama. Tiap tahun di penghujung bulan tujuh.

Hanya itu-itu saja...
Bukan luar biasa.
Hanya 37 derajat.






ReAD MoRE・・・

Saturday, 23 February 2008

Kisah Angin

Angin masih menderu. Tapi maaf, hari ini kita tak bisa bersama melaju. Kau lebih memilih berhembus bersama beku.


Sore yang membatu. Daun-daun tergulung, terbang menemani debu. Berputar, mengetuk-etuk tanah, jendela, menghantam bangku.

Dedaunan masih melesat, dalam corak kering menguning. Hampir coklat. Melesat pasrah, menubruk, membentur, menari dalam lelah. Nyanyian angin terdengar sembilu. Bertualang segala penjuru.


Angin masih menderu. Inikah secercah keperkasaanmu? Orang-orang menyebutnya takut, saat dengan ombak kau bercumbu. Saat dengan api kau berlari. Juga saat kau pusing berputar seperti gasing. Padahal kau hanya patuh. Menuruti sang penguasa waktu.
Mengisyaratkan peringatan.
Membagikan pesan.
Menggemerincingkan ilmu.

Angin masih menderu. Apakah kau tahu? Di belahan bumi sana, sekelompok manusia mengolok penyeru Tuhanmu. Ada risau yang menggema di Darfur, Palestine, Iraq, Kosovo, juga dibawah atap-atap yang akrab dengan derita.


Angin, masihkah kau mengembangkan layar-layar? Mengibarkan renda-renda langit senja, juga memeriahkan pendar pijar bintang dan purnama? Ya, kutahu kau disana. Bawakan sejuk untuk mereka, menggantikan risau karena celoteh ini bisu. Bawakan kilau bahagia di mata, yang lebih cemerlang dari kilau gemintang di langit malam.

*+*+*+*+*+*



"Ya Allah, aku memohon kepadaMu kebaikan dari angin ini,kebaikan yang terdapat di dalamnya dan kebaikan yang Engkau perintahkan melalui angin itu. Aku berlindung kepadamu dari keburukan angin ini, keburukan yang terdapat didalamnya dan keburukan yg Engkau perintahkan melalui angin itu"


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 6 February 2008

Tidakkah Lelah?

Tidakkah lelah?
Melayangi puncak musim
Dalam pelukan dingin


Salju diam damai di luar sana
memolekkan putih polosnya

Tidakkah Lelah?
Menjejak isyarat kata
dalam lena membuai mata

Salju masih mengeja cecabang doa
Yang menghablur dalam asa


Tidakkah lelah?
Terus memanjangkan langkah
menampik gigitan suhu, demi secuil berkah?



Tidak!

Saat batin ikhlas ceria
Menyibak bebayang tirai cahaya




ReAD MoRE・・・

Saturday, 2 February 2008

Nilai Pemuda

Bersabarlah atas pahitnya hukuman dari seorang guru
sebab di dalam kemarahan guru
mengendaplah ilmu

Siapa tidak pernah sedikit pun merasakan susahnya belajar
ia harus menenggak rendahnya kebodohan seusia terhampar

Dan bagi siapa yang di waktu mudanya enggan menuntut ilmu
bertakbirlah untuknya empat kali,
sungguh ia telah mati

nilai seorang pemuda, demi Allah,
adalah di ilmu dan taqwa
ketika keduanya tidak ada,
tidaklah dianggap keberadaannya...


(Imam Syafi'i)


ReAD MoRE・・・