Sunday, 26 April 2015

[Catatan Keluarga] Potret Meja Makan Kita

Saya terlibat obrolan ringan dengan bos di kantor seputar perkembangan Indonesia. Posisi Indonesia sepertinya melewatkan tahapan sebagai negeri agraris. Belum sempat mencapai kemandirian pangan, kini potret negera industri menjadi target. 

Bila para petani berubah profesi menjadi buruh pabrik, siapa yang akan menyediakan pangan di atas meja makan kita? Para petani-nelayan-peternak di luar negeri? wew, mereka baik sekali....

Saya berpikir potret meja makan sebuah keluarga menjadi cerminan pola yang ada di suatu negara. Itulah gaya hidup rakyatnya. Seberapa banyak produk lokal yang tersaji di sana? Meja makan ini bisa berada di dalam rumah, di warung ataupun restoran. Meja tempat makan, dimana pun lokasinya.

Saat saya masih numpang hidup di Jepang, setiap berbelanja terpampang lokasi suatu produk dihasilkan. Misalkan Apel dari Nagano, Sawi dari Ibaraki, brokoli dari Amrika (impor), jeruk dari Ehime, dsb. Beberapa produk sayuran juga dilengkapi dengan foto petani penghasilnya untuk memastikan keamanan dan ketelusuruan. Bila ingin tahu darimana produknya berasal, bisa juga bertanya ke penjual.

Hal yang cukup berbeda saat berbelanja di negeri ini. Terkadang penjual pun tidak tahu darimana barang dagangannya berasal. 
"Dari pasar induk, Mas" 
Baiklah. Dari jawaban ini ada 2 poin. 
1. Penjual hanya fokus pada barang dagangan, bukan produsennya. 
2. Produsen belum memiliki akses untuk diakui sampai tangan konsumen.

Petani produsen perlu lahan yang luas di pedesaan. Sebagian besar profesi tani adalah buruh yang mengerjakan lahan luas milik tuan tanah. Dari Jaman kumpeni (Baca : company) Belanda (VOC) sampai jaman kumpeni Endonesiah moederen tidak banyak berubah. Mungkin perkapita petani Indoensia tidak memiliki lahan hingga 100 hektar untuk menghasilkan produk tanaman yang bisa mensejahterakan diri dan keluarganya. 


Beberapa hutan juga berubah fungsi menjadi lahan sawit sehingga tidak mungkin dilakukan proses pertanian di sekitarnya. Hama pertanian, tikus, tidak doyan makan kelapa sawit. Mereka masih memepertahankan selera terhadap padi dan umbi-umbian. Petani harus bersaing dengan tikus untuk mendapat sumber karbohidrat. Akhirnya profesi petani harus ditinggalkan bersama lengan-lengan perkasa dan ketekunan mengelola tanah. Buruh perkebunan menjadi pelarian menyambung hidup.

Petani bisa makmur? Bisa tapi dia nampaknya harus menguasai lahan setidaknya 100 hektar per kapita dan memiliki sistem pertanian yang sudah modern. Tidak tergantung pada pupuk kimia yang bahan bakunya masih impor. Punya jalur distribusi ke konsumen tanpa 'pertolongan' tengkulak. 

Sudah sekitar empat tahun saya kembali menjejak bumi Indonesia tapi masih belum paham kenapa harga buah-buahan di negeri ini mahal sekali. Untuk produk impor bahkan lebih mahal dari harga di Jepang. Padahal buah lokal sangat beragam, tapi tidak bisa menembus tempat perbelanjaan moderen sedalam penembusan buah impor. 

Buah-buahan lokal yang 20 tahun lalu jadi cemilan saya seperti duwet (anggur jawa), buah mentega (apel beludru) sulit sekali ditemukan. Punah? Kebun buah berubah wajah menjadi kebun beton? Entahlah.

***

Sebisa mungkin keluarga kami ingin berkontribusi terhadap negeri ini.
1. Belanja di toko milik lokal yang pemiliknya kelihatan, atau dikenal.
2. Memprioritaskan konsumsi produk negeri sendiri. Sayur dan buah sebisa mungkin yg didatangkan dari sekitar tempat tinggal. Memilih protein dengan prioritas ikan-ayam (kampung)-daging (non-impor). Walau sebenarnya ada rasa was-was dg asal ikan tsb. Lautnya tidak tercemar bahan berbahaya khan yak... (kalau di pasar tradisional bisa tanya ke penjual ttg darimana ikan itu berasal).
3. Memberdayakan pedagang kecil (misal : tukang sayur yang narik gerobak dg tenaga manusia ; kakek yang masih teguh jualan buah), kalau semua orang memenuhi kebutuhannya dengan mendorong kereta belanja saja, bagaimana nasib pedagang kecil ini?
4. Kalau makan di luar : Memastikan kehalalan, sebisa mungkin menu yg bahannya banyak kandungan lokalnya.

Alhamdulillah tetangga sebelah rumah kami menyediakan berbagai bahan kebutuhan sehari-hari. Beras yang didatangkan langsung dari penggilingan padi, gas LPG serta air mineral galon yang 2 tahun lalu bahkan belum dijadikannya komoditi. Belanja jadi mudah (iklan? haha), tinggal mengetok pintu, bahkan sebelum jam 6 pagi.

Negeri ini subur dan kaya sumber protein. Seharusnya bila petani berdaya dan nelayan perkasa, nasi dan ikan bisa menjadi makanan yang membudaya. Tidak perlu impor sapi atau ayam-ayam berumur 40 hari jadi penghias meja makan kita sehari-hari.

Sayuran dan buah murah, protein hewani tercukupi, asupan gizi menjangkau seluruh generasi. Perut kenyang dari kontribusi bumi dan air, tahapan industri melaju dengan dukungan pondasi kokoh. Tinggal dilengkapi budaya jujur anti korupsi, pewaris negeri ini akan berjaya dengan kehalian dan daya juang tinggi, berdikari dengan sumber daya sendiri. Bilakah terjadi? Jika kebangkitan islam bisa dilihat dari indikasi ramainya jamaah Subuh setara sholat Jumat, mungkin kebangkitan negeri ini bisa terindikasi dari 'hiasan'meja makan penduduknya.


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 15 April 2015

[Catatan Keluarga] Tentang Dholim, level keluarga hingga skala negara

Pagi itu matahari sudah tinggi. Saya sedang bersiap berangkat mencari nafkah. Sekelebat pikiran membuncah. "Ayah ingin mengajarkan tentang dzalim kepada si kecil."
"Oh, langsung saja dengan contoh" istri saya hanya menjawab singkat karena meilhat saya sudah siap dengan peralatan tempur : tas kerja yang sudah terpanggul dan helm yang telah terpasang di kepala. Baiklah, diskusi tentang mendidik si kecil seputar dholim dilanjutkan nanti saja. 

Memasuki usia 20 bulan, si kecil mulai dibiasakan dengan kata "bertanggung jawab". Setelah memulai suatu perbuatan, harus diakhiri dengan membereskannya. Awalnya cukup kaget, karena si bayi 20 bulan sudah terlihat paham. Ambil sendiri susu UHT di kardus, membuka sedotan, menancapkan ke kotak susu, meminumnya  sampai habis, lalu membuang kotak susu yang sudah kosong ke tempat sampah.

Saat hendak tidur dan diarahkan masuk kamar, si kecil dengan sigap memasukkan mainannya -kebanyakan lego- yang berserakan ke wadahnya, meletakkan balok-balok mainan ke tempatnya dan menaruhnya dipinggir ruangan agak tidak terinjak, meminta mematikan lampu ruang keluarga, lalu menggandeng saya ke dalam kamar. 

Saya pikir, menanamkan pemahaman tentang dholim sudah bisa dimulai. Lukmanul Hakim pun menasihati anaknya (yang kemungkinan sudah sempurna akalnya) tentang tauhid, jangan menyekutukan Allah karena termasuk perbuatan dholim yang besar. Tentu saja. Dzalim secara harfiah berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melampaui batas. Menjadikan hal/benda sebagai sesuai yang disembah, selain sang Maha Pencipta, sangat masuk kategori dzalim. 

Untuk level si kecil, saya pikir bisa diawali dengan meletakkan barang-barang sesuai tempatnya. Dan kata ini erat dengan kata "bertanggung jawab" yang saat ini sudah mulai menjadi kebiasaannya. Dua hal pertama yang ingin dibiasakan buat si kecil yang lembut hatinya adalah : 
1. Tidak memakai sepatu di dalam rumah. 
2. Buang Air di toilet.

Mengapa tiba-tiba saya ingin mengenalkan dzalim kepada buah hati yang belum juga genap berumur 2 tahun? Akhir-akhir ini saya terusik dengan isu hangat yang sedang beredar di masyarakat. Saya pikir kondisi dzalim sudah terjadi pada level pimpinan negara hingga rakyat kecil. Dzalim berjamaah. 

Saya rasa mengenalkan kata dzalim dan implementasinya sangat penting agar buah hati saya dan adik-adiknya kelak tidak termasuk ke dalam golongan orang yang dzalim dalam level apapun. Loh? Memangnya penting? Kata saya : Sangat Penting. 

Hukuman buat orang dzalim tersurat dalam Al Quran (Al A'raf : 165) : siksa yang keras karena orang dzalim itu berbuat fasik. Waduh, jangan sampai anak keturunan kami mendapat siksa karena berbuat dzalim.

Kenyataannya ada pemimpin/bangsa yang berbuat dzalim tapi mereka masih baik-baik saja. Kenapa? Well, ada 3 kemungkinannya. 
1. Dibiarkan oleh Allah. Contohnya Fir'aun. Dia tidak langsung diazab, tapi dibiarkan dulu bersenang-senang di dunia. Artinya, belum datang saja giliran buat bangsa/pemimpin yang dzalim itu. 
2. Orang yang dizalimi  juga mendzalimi orang lain. Terjadi kedzaliman berjamah disemua level masyarakat. Tanpa diazab pun bangsa seperti itu kan hancur dengan sendirinya. (iya gak sih?)
3. Karena ada kebaikan dari orang dzalim itu di masa depan (setelah bertaubat). Contohnya : Umar bin Khattab tidak langsung 'dihilangkan dari sejarah' saat beliau masih kafir. Atau, Khalid bin walid :-)

Berbuat dzalim juga menjadi salah satu pintu dipercepatnya azab/hukuman di muka bumi,selain memutuskan silaturahim (HR Abu Daud) Apakah kedzaliman sudah terjadi di negeri ini? Beberapa rekaman kejadian yang tercatat dalam memori saya :
1. Pungutan terhadap rakyat dinaikkan, santunan dihilangkan, sumbangan untuk pejabat ditambahkan. Sudah banyak beritanya. Setelah pemotongan paksa iuran pensiun, kesehatan (yang bagi sebagian orang tidak termanfaatkan), pajak pemandangan(utk apartemen?) juga diwacanakan. Pajak mulai dipungut dalam tingkatan yang membuat... gagal paham.
2. Pemimpin lebih dari 200 juta orang tidak bisa berbicara di forum nasional. Tempatnya menjadi pendengar yang baik, penuang minum yang sopan.
3. Miras dibela untuk menjamin kepastian berusaha?
4. Pengedar narkoba dari negeri tetangga diperlakukan berbeda dengan napi WNI? Kenapa tidak segera dieksekusi saja?!
5. Pungli  dan setoran tak resmi di jalan raya terjadi seperti biasa.
6. Begal bangkit dari tidur di Jabodetabek dan wilayah lainnya. Keluar rumah tidak lagi nyaman.
 
7. Pengemis masa kini : mengesot dalam gelap di jalan raya, mengundang empati karena bahaya.
8. Korupsi yang menggurita : menyelewengkan peruntukan dana rakyat.... ini jelas dzalim.
Mungkin ada fakta-fakta lapangan lain yang terlepas dari pengamatan saya, tapi kedzaliman yang terjadi saat ini sangat-sangat-sangat membuat tidak nyaman. Terjadi begitu dekat dan nyata. Saya tidak bisa berbuat banyak dan kerja-kerja-kerja saja. Kewenangan saya mungkin sebatas level keluarga. Oleh karena itu, setidaknya saat anak-anak saya dewasa nanti, mereka tidak berbuat dzalim dan terbebas dari lingkungan yang dzalim. Sulit mengubah suatu generasi yang pola pikirnya berbuat dzalim adalah budaya biasa saja. Harus dimulai dari sebuah generasi baru yang tajam pikirnya, kuat prinsipnya, trengginas gerakannya.

Reward untuk istri tercinta yang selalu kritis dan terbuka pikirannya terhadap perubahan sambil memperkokoh benteng kami, setiap hari mendidik si buah hati. Pendidikan anti-dzalim dalam keluarga dimulai dari pemimpinnya. Iya, taruh barang pada tempatnya, jangan berbuat berlebihan hingga melampaui batas, gunakan sesuatu sesuai peruntukannya. Kedengarannya tidak sulit dilakukan? Well, ayo segera diimplementasikan. :-)  *Semoga saya tidak menjadi kontributor kedzaliman di negeri ini, kaca, mana kaca...*




ReAD MoRE・・・

Tuesday, 24 February 2015

Pelangi Keluarga (1)

Sebetulnya penyebab awal lahirnya tulisan pelangi keluarga ini adalah kehilangan dompet di bulan Januari. Betul-betul kejutan awal tahun yang sedikit mengganggu cash flow, karena uang reimbursement dari kantor berada di dompet itu, lengkap dengan kartu-kartu identitas, perbankan, hingga kendaraan.

Ternyata Allah menggantinya dengan sangat indah : kajian ilmu yang diisi oleh para ustadz dan ustadzah papan atas yang bisa kami akses dengan mudah. Saat itu kami ingin menambah ilmu agama tentang Allah dan keluarga. Tiba-tiba saja beragam informasi seolah disodorkan dan dengan berbagai keterbatasan yang ada kami sekeluarga bisa hadir dalam berbagai majelisi ilmu itu. Padahal kami baru berniat saja tapi Allah seolah sudah berlari menyambut niatan kami. 

Diawali dengan terlahirnya Fatherhood Forum, hingga kajian seputar pendidikan anak, ekonomi keluarga, peradaban dan mungkin masih akan banyak jalan ilmu lain yang terbuka. Cukup Padat. Skenario Allah membuat berbagai narasumber keren dihadirkan dengan tema serupa saling terkait dan terkonsentrasi di Januari-Februari ini. Istri tercinta bilang, kepalanya sudah full dengan teori saat saya mengajak ikut ke sebuah kajian lain di Jakarta. Sebenarnya saya juga mulai overload dengan teori tapi rasa haus akan ilmu masih tetap menggelora. Mau tidak mau isi otak yang sudah mau overload ini harus dikeluarkan sedikit demi sedikit agar tidak tumpah sia-sia (lupa seiring berjalannya waktu).

Solusinya ada 2.
1. Teorinya Langsung dipraktikan 
2. Diikat dengan tulisan. 

Praktik merupakan aksi yang tidak seketika dan memakan waktu plus tidak bisa sekaligus. Sembari mempraktikkan sedikit demi sedikit saya ikat dulu beragam informasi yang berputar dalam otak ini. Mohon maaf, tulisannya jadi versi Sunu, karena kajian-kajian yang saya ikuti sebenarnya direkam dan tersedia versi audio maupun cetaknya, maka saya menuliskan dengan menambahkan sudut pandang pribadi. 

Secara pribadi, generasi jomblo sekarang nampaknya lebih beruntung karena banyak sekali majelis ilmu yang membahas tema keluarga. Peserta yang hadir pun banyak yang masih mahasiswa (jomblo) maupun pekerja (jomblo), meski tidak sedikit pula pasangan yang hadir dengan buah hatinya. Tulisan ini menjadi ikatan ilmu pertama dalam 2 bulan ini disarikan dari kajian bersama Salim A. Fillah di DT Jakarta 14 Feb 2015.

***
Visi Keluarga Surgawi, inilah tema besar yang menjadi muara beberapa kajian di Januari-Februari ini. Jurusan Membangun keluarga tidak muncul dalam kurikulum resmi di sekolah maupun universitas. Supaya kita tidak salah arah, mencari rujukan sumber terpercaya jadi solusi. Dalam Al Quran sendiri, pasangan hidup dan keluarga diceritakan dalam kisah para Nabi yang terjadi bahkan 20 ribu tahun yang lalu agar kita bisa mengambil pelajaran. 

Dua puluh ribu tahun yang lalu di bumi ini tiba-tiba muncul lompatan peradaban. Ditemukan jejak sejarah yang menjadi bukti tiba-tiba saja di bumi ini ada peradaban baru. Tiba-tiba? Menurut perhitungan Ibnu Abbas, Nabi Adam turun ke bumi sektar 19500 tahun yang lalu, beda tipis dengan temuan sejarah tentang beradaban manusia di bumi. 

Mengapa Adam sampai turun ke bumi? Kita sudah tahu kisahnya. Iblis yang sudah sujud kepada Allah selama 40 ribu tahun tiba-tiba diperintahkan untuk sujud kepada mahkluk baru yang diciptakan dari tanah. Kenapa bisa? Kenapa ada makhluk baru yang lebih dicintai Allah daripada iblis? Turunnya Adam ke muka bumi tercetus dari rasa hasad iblis yang ingin lebih dihargai, dicintai, disayangi Allah. 

Keinginan untuk disayangi Allah bukanlah hal yang buruk, asalkan tidak dengki terhadap sesuatu yang lebih disayangi Allah. Hal yang mirip terjadi pada putra Adam, Habil dan Qobil. Seseorang bisa membunuh saudaranya sendiri disebabkan hasad atas qurban yang diterima oleh Tuhan. Keinginannya hanyalah qurbannya dinilai yang terbaik, namun tidak menjadi kenyataan. Hasad seputar ibadah ternyata bisa bermuara menjadi hal buruk. 

Sebagai manusia hasad menjadi penyakit hati yang berpotensi merusak hal besar. Jangan sampai ada hasad yang muncul saat melihat orang lain ibadahnya lebih, ilmunya lebih tinggi, amalnya lebih banyak. Iblis yang sudah sujud 40 ribu tahun saja masih bisa merasa lebih baik daripada Adam,bagaimana dengan kita yang mungkin sujud 5 menit saja sudah kesemutan? :-D Well, api memang bisa menerangi dan memberikan kehangatan, tapi harus ada sesuatu yang 'dimakannya' untuk bisa seperti itu, bila tidak ada api itu akan padam. Sementara tanah bersifat lembut dan fleksibel dibentuk apapun. Harga korek api juga tidak banyak berubah, tapi harga tanah naik terus tiap tahun. Hehe. Jadi sebenarnya mana yang lebih baik?

Nabi adam menjadi pengingat nilai kita sebagai manusia. Nilai dasar kemanusiaan bisa kita renungi dari kisahnya dan keturunannya. Pelajaran berikutnya adalah kisah nabi Nuh tentang keteguhan dakwah dan ibadah. 

Surat Nuh diturunkan saat Nabi SAW dalam cobaan yang berat dari perlakuan kaumnya, tahun 11 kenabian. Seruan beliau diabaikan. Saat berjalan dilempari batu. Saat sujud kaki beliau diinjak dan disiram isi perut onta yang menjijikkan. Lalu diceritakanlah kisah nabi Nuh, yang baru diangkat menjadi Nabi saat berusia 450 tahun dan berdakwah selama 500 tahun. Putra nabi nuh sendiri berakhir tidak termasuk dalam golongan orang yang beriman. 

Rasullullah SAW terlecut lagi semangat juangnya setelah wahyu ini. Sebelas tahun dakwahnya belumlah apa-apa dibandingkan dakwah yang dilakukan 500 tahun oleh nabi Nuh. Kebanggaan sebagai manusia ada pada ketaqwaannya. Masalahnya taqwa itu tidak terlihat, jadi bagaimana mau dibanggakan? Kalau di jidat kita muncul layar indikator tingkat ketaqwaan, tentunya lebih mudah sungkem ke orang yang tingkat ketaqwaannya tinggi atau bergegas berbenah saat tingkat ketaqwaan menurun. 

Menurut 'Aisyah, inti manusia adalah sifat tawadu', down to earth, makin bertaqwa harusnya makin rendah hati, jadi bukan untuk dibangga-banggakan. Setelah membahas tentang konsep kemanusiaan dan keteguhan dalam berdakwah, selanjutnya adalah kisah keluarga-keluarga bervisi surgawi. Ada kisah nabi Ibrahim dan keluarga Imron. Ini cerita tentang salah satu keluarga yang dipilih oleh Allah untuk menjadi cermin semesta sepanjang zaman. 

Keluarga Ibrahim.

Setelah penantian yang panjang hingga rambut beruban, kulit keriput, dan tubuh uzur; dari Sarah yang jelita, berdarah bangsawan, lagi cendikia itu kelak Allah mengaruniakan Ishaq. Sebelumnya; Hajar yang kehitaman kulitnya, pendek tubuhnya, ikal rambutnya, dan bekas sahaya telah melahirkan Isma’il. Salam sejahtera dan doa sentausa atas mereka semua. Tentang akan lahirnya Ishaq; Allah berfirman dalam Surah Al Hijr ayat ke-53; “Sesungguhnya Kami akan beri kabar gembira padamu dengan seorang bocah yang amat ‘ALIM.”

 Adapun tentang Isma’il Allah firmankan; “Maka Kami berikan kabar gembira pada Ibrahim dengan seorang bocah yang amat HALIM.” Demikian seperti tertera dalam Surah Ash Shaaffat ayat ke-101. Pilihan kata dalam Al Quran selalu menakjubkan. Antara ‘ALIM yang jadi sifat Ishaq & HALIM yang jadi sifat Isma’il hanya berbeda 1 huruf. Tetapi sungguh akan menjadi tafakkur mendalam betapa ia adalah karunia yang terpatri menjadi watak bagi para putra kebanggaan ayahnya itu. 

Bahkan akan menjadi renungan dahsyat bagaimana masing-masingnya terwaris pada kedua garis nasab yang mulia ini. ‘Alim; pandai serta berilmu; menjadi sifat keturunan Ishaq melalui Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, terus hingga ke Zakariya, Yahya, dan juga ‘Isa; pada mereka terhatur shalawat dan cinta. Bahkan juga; keturunan Bani Israil yang banyak ingkar sejak moyangnya hingga hari ini, tetap Allah karuniai kepandaian dan ketekunan dalam ilmu yang menakjubkan. Seakan-akan gerbang pengetahuan dari langit terbuka mencurah-curahkan isinya pada otak mereka yang pintunya juga menganga.

Maka tak hanya soal Al Kitab dan Al Hikmah, berbagai-bagai bidang sains yang memberi manfaat maupun madharat bagi manusia, Allah ilhamkan melalui mereka; keturunan Ishaq. Penegasan tentang “bocah ‘alim” ini diulang lagi dalam Surah Adz Dzaariyaat ayat ke-28; menunjukkan betapa banyak keturunan Ishaq beroleh karunia kealiman.

Adapun Isma’il, hanya sekali dia disebut dengan sifat indah itu; HALIM. Tetapi watak itu mencakup sifat santun, penyabar, tahan menderita, dan pemaaf. Pada diri Isma’il; paling nyata ia tampak dalam kesediaannya tuk diqurbankan. Tak banyak keturunan Isma’il yang menjadi Nabi, tapi satu yang jadi pamungkas cukuplah sudah; Muhammad ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam. Dialah puncak perwujudan sifat HALIM yang Allah sematkan pada Isma’il; terbaca di sepanjang Sirah-nya. (dinukil dari http://salimafillah.com/nasab-dan-pewarisan; sudah tertulis dg rapi, jd tidak perlu dicertitakan kembali dg bahasa saya  )

Doa nabi Ibrahim agar negeri Mekkah diberkahi terjawab sekitar 4200 tahun setelah dipanjatkan. Allah bahkan melebihkan doanya sehingga tidak hanya mekkah tapi semesta alam dengan kelahiran seorang rasul akhir jaman yang ajarannya berlaku hingga datang hari kiamat. 

Dalam konteks keluarga dan keturunan, seseorang yang tingkat keimanan dan ketaqwaannya paling tinggi akan mampu mengangkat garis moyang dan keturunannya ke dalam tingkatan yang sama dalam surga. Oleh karena doa agar diberikan keturunan yang shaleh harus tetap giat dipanjatkan karena kita tidak pernah tahu kapan doa ini akan dikabulkan. 

Bisa jadi bukan pada saat kita masih hidup, tapi generasi cicitnya cicitnya cicitlah keturunan terbaik itu dilahirkan. Dari kisah keluarga Imron, kita terinsprasi mengenai cita-cita yang patut ditanamkan kepada anak-anak kita. Soal cita-cita yang tercantum dalam al quran. Apa coba? presiden? (tet toot). Gubernur ?(tet tottt). sebelum mesin tetot rusak, ada dalam kisah keluarga Imron (Q.S 3: 35) ... aku nadharkan kepadaMu seorang anak yang menjadi mucharor (hamba yang berhidmat)... 

Ternyata yang lahir adalah bayi perempuan (Maryam), sebagai mucharor (skrg ta'mr masjid, atau menurut persepsi saya adalah orang-orang yang hati dan pikirannya terikat dengan masjid), rejekinya dijamin oleh Allah. Sampai nabi zakaria heran setiap kali masuk ke mihrab Maryam ada saja rejeki (makanan) yang tersedia. 

Makanya untuk anak-anak sebaiknya diberikan cita-cita seperti ini : menjadi seorang abdi yang memuliakan rumah Allah. Pekerjaan utama ta'mir masjid, sambilannya pengelola 100 hotel. Main Job ta'mir masjid, sampingannya pengusaha ekspor impor omzet 1 triliun sebulan. pekerjaan utama ta'mir masjid, sampingannya boleh jadi presiden.

Setelah ada contoh-contoh keluarga yang diceritakan dalam Al Quran sebagai panutan, bagimana ciri keluarga yang sakinah itu? Ciri sakinah ada 3. 

Yang pertama menjaga suami dari perbuatan hina dan menyelamatkan istri dari perbuatan yang dimurkai. Hasilnya, suami dan istri tercegah dari perbuatan keji dan dosa dengan adanya ikatan jiwa. Maka misalkan di jalan ada wanita/lelaki penggoda, segeralah temui pasanganmu.

Yang Kedua. Hati itu cenderung kepada pasangannya Misalnya saat masih jomblo liat gadget baru maunya langsung beli, saat sudah berkeluarga sudah beda rasa. Begitu lihat gadget baru, yg terpikir kulkas di rumah perlu lebih besar, baju anak udh kekecilan, dsb dsb.

Yang ketiga, bisa bicara tanpa kata, bisa mengerti tanpa bicara. Misalnya istri pengen bakso, sms ke hp suami , padahal sedang dicharge di kamar. Suami yg di masjid tiba-tiba terinspirasi beli bakso biarpun sms istri tidak sampai ke dirinya saat itu. Suami dan Istri merasa tenteram saat bersama maupun ketika sedang berpisah. Saat bersama suami istri saling bersyair memuji memupuk cinta, saling bercerita untuk lebih menguatkan. Jangan sampai suami/istri jsutru merasa lebih tenteram kalau tidak bersama pasangannya.

Bila visi yang terbentuk sudah sama, maka gangguan dari luar bisa diatasi dengan mudah. Setelah rama tinggal bersama, memakan makanan yang sama, berpikir dengan pola yang sama, lama-lama wajah suami istri itu jadi mirip. (katanya..). 

Contoh kasus saat perang Khandak, istri-istri kaum muslimin didatangi wanita munafik. "
Duh, ibu2, kasihan yah sering ditinggal pergi suami buat perang mulu. Siapa yang cari nafkah?" 

Ibu-ibu kaum mulsimin sih cuek beibeh, "yang pergi itu tukang makan ya bu ibu. Kalau yang ngasih rejeki mah gak kemana-mana kok. Allah masih ngasih rejeki kok buat kita-kita."

Karena visi keluarga sudah sama, persepsi tentang segala sesuatu tidak akan jauh berbeda. 

 *** 

Dari kajian ini beberapa poin yang bisa saya ambil : 

1. Visi keluarga haruslah jangka panjang, karena kita akan membentuk sebuah komunitas antar jaman yang akan disatukan kembali setelah kematian. Posisi paling nyaman di surga nanti akan ditentukan oleh nenek moyang atau cucu moyang kita. Karena kita tidak benar-benar tahu kualitas keimanan nenek moyang kita, doa yang dcontohkanpun tentang meminta keturunan yang sholeh. 

2. Menikah harus menjadi nafas dan daya hidup lingkungannya. Kalau tentara saja bisa berkomunikasi dengan sandi meski terhalang bukit. Suami istri bisa berkomunikasi secara ‘ruh’ dengan iman. Karena perantaranya adalah sang pencipta ruh. Jadi, memilih istri harus sekufu imannya.

 3. Membangun ruh yang satu, gimana cara? jadi teringat bahwa Hawa tercipta dari rusuk Adam. Kenapa rusuk? Karena posisinya dekat dengan jantung, wanita harus dicurahi perhatian karena dia melindungi jantung hati. Rusuk juga tak jauh dari tangan, laki-laki dengan tangannya lah yang harus melindungi wanita. Chieeh. 

***

 Tulisan kedua insyaAllah versi aplikatifnya. Setelah ada contoh keluarga panutan dalam Al Quran, di era sekarang bagaimana membangun keluarga dan mendidik anak dengan visi surgawi? - akan disarikan dari fatherhood Forum dan beberapa kajian lain yang diikuti bbrp waktu lalu, Insyaallah-


ReAD MoRE・・・

Friday, 21 November 2014

[Catatan Keluarga] Suamiku, Apakah Rejeki Kita Barokah? (1)

Ambil napas dulu. Sudah 3 tahun berlalu dan sekarang Allah begitu banyak memberikan pembelajaran tentang kekurangan saya sebagai seorang suami. 

Fyuh. Baiklah. Sekarang kembali fokus untuk membina dan mengarahkan bahtera yang tengah kami naiki agar bisa berlabuh dengan selamat dan barokah. Rejeki Barokah? Betul. Judul posting kali ini adalah sebuah pertanyaan yang diajukan belahan jiwa kepada saya. Jawaban iya atau tidak meluncur tidak dengan spontan dari lisan ini. Saya harus berpikir. Saya harus melakukan evaluasi. Lagi. 

  "The effects of the collonial infiltration of the western mind-set into the belief system of Muslims in Southeast Asia is clearly in evidence today ... regarding Islam as a religion of rituals than of spiritual or moral substances... Muslim in name only, they are conscious of their faith but not their responsibilities as Muslims. Others, in contrast, seemed to be obsessed with the rituals promulgated in the five pillars of Islam without fully understanding the underlying Islamic values and still others have tended to rationalise their actions as dharurat (which allows exceptions to matters that are normally disallowed). The last mentioned type probably represent a popular "escape" route for the otherwise conscientious Muslims, especially in the case of Southeast Asian Muslims who are not operating in an Islamic economy" (Willet & Sulaiman, 2001, American Journal of Islamic Social Sciences  p 80). 

Saya terdiam namun pikiran ini melesat. Istri tercinta bertanya tentang barokahnya rejeki yang kami terima. Gaji saya. Saya paham bahwa istri saya tidak berterus terang bahwa jatah gaji bulan ini sudah nyaris terpakai semua. Saya juga mengerti bahwa ini baru memasuki minggu kedua setelah tanggal gajian. Jadi, apakah hal ini menjadi indikasi bahwa rejeki kami kurang barokah karena kami terancam kesulitan menyambung hidup setengah bulan ke depan? 

 Dalam sitiran di atas, sekarang ini terlihat jelas bahwa sebagai akibat masuknya pola pikir barat, muslim di Asia Tenggara tinggalah nama (termasuk Indoensia tentunya). Mereka paham mengenai konsep keimanan tetapi tidak sadar akan tanggung jawab sebagai muslim. mereka terlalu fokus untuk pelaksanaan rukun islam secara ritual tanpa memahami value di dalamnya. Sebagian lain menilai beberapa tindakan  adalah karena kondisi darurat untuk melegalkan pilihan, dimana pada kondisi normal haram dilakukan. Hal ini terjadi apada negeri dimana ekonomi islam tidak beroperasi.

Saya menggaris bawahi tidak beroperasinya sistem ekonomi islam dan mencoba mengaitkan dengan kebarokahan rejeki. Well, mungkin ada baiknya  juga saya baca dulu buku lapis-lapir keberkahan karya Salim A. Fillah. 

Ada ulama yang menyatakan bahwa ciri rejeki yg barokah itu membuat penerimanya merasa cukup, tenang dan harta tsb bermanfaat. Istri saya rajin mencatat pengeluaran utk evaluasi bulanan. Selama ini saya percaya bahwa kebutuhan kami bisa tercukupi dengan gaya hidup saat ini. Kami juga sepakat utk menghindari riba dan semaksimal mungkin membersihkan harta kami dari hak orang lain di dalamnya. 

Lebih kurang setengah tahun ini kami hidup dari seperempat gaji saya. Hampir 50% kami alokasikan utk rencana masa depan. 15 persen sisanya untuk menyokong kerabat. Dari 2.5% kami sisihkan utk zakat, 7.5 persen adalah jatah bulanan utk silaturahim dan rekreasi biarpun hanya cukup untuk tol dan bensin saja sebenarnya. Jatah ini pun seringkali habis untuk hal mendesak lain seperti biaya kesehatan atau maintenance aset. Jadi sebenarnya, saya harus menghargai istri saya yang tetap bisa mempertahankan gaya hidup meski dengan alokasi dana yg jauh lbh kecil dibandingkan 6 bulan yg lalu. Well done, honey. 

Dan sungguh, saya merasa Allah mencukupkan rejekinya terhadap kami. Saat kami mendapat informasi bahwa seorang kerabat sedang sakit dan dirawat, kami berniat utk menjenguknya. Saat itu sudah tidak ada alokasi dana tersisa, tinggal jatah makan dan uang transport harian saya ke kantor. Tapi H-1 rencana menjenguk, saya menemukan uang di saku celana. Jumlahnya pas utk ongkos tol dan membawa buah tangan seadanya. 

Cerita lain saat saya harus ke Bandung dan belum mendapat tiket di hari-H. Saya sudah memutuskan utk naik bus dr Jakarta, namun iseng ngobrol dg seorang teman, dia juga mau ke Bandung dg travel dan mengajak saya barengan. Nekad go show dan antri waiting list, ternyata saya jd org terakhir yg bisa naik travel. Alhamdulillah. 

Saat hendak kembali ke Jakarta, tiket travel pagi dan kereta pun sudah habis terpesan. Saat pesan lewat indomaret, tinggal 1 tiket tersisa dan sudah tidak bs diproses. Akhirnya saya lgs ke stasiun dan mendapat tiket terakhir ke Jakarta. Alhamdulillah. Kemudahan dari Allah bukankah merupakan wujud rejeki pula? 

Kesimpulan sementara, insyaAllah rejeki kami barokah. Biarpun gaji yang masuk segera terbagi ke pos-pos kebutuhan dan kewajiban, setiap kali ada keperluan Allah membukakan jalan. Dalam 3 tahun ini, saya merasa bertambah sayang dengan sang belahan Jiwa dan nampaknya harus mulai mengurangi ketergantungan (biar gak terlalu manja sama istri, huehehe) sehingga akal dan qolbu tidak  membatu. Semoga kami tetap dikuatkan hati, pikiran dan raganya untuk membesarkan anak dan mengelola keluarga tanpa riba serta bisa menjaga kebarokahan rejeki plus on-track menuju taqwa.


ReAD MoRE・・・

Setahun Terlewati, Ongkos Naik Lagi.

Dalam suasana kenaikan biaya hidup seiring naiknya harga bbm subsidi, ada hal-hal yang menyejukkan hati.

1. Sepasang renta penjual nasi di sekitaran Senayan. Suatu siang saya digratiskan makan siang karena mereka tidak punya kembalian. Padahal uang sekian ribu rupiah itu lebih berharga untuk menambah modal berjualan keesokkan hari karena nilainya yang tak sampai ongkos tranposrtasi saya dalam sehari. Batin saya gerimis. Mereka keukeuh menolak uang dari saya meski saya katakan besok atau kapan-kapan bisa diambil kembaliannya. Mereka inilah orang-orang yang tidak kalah dengan edannya jaman. 

Saya lebih suka makan di warung rakyat sambil ngobrol seputar kehidupan di Jakarta daripada tempat makan berbau asing. Heum, sebenarnya lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, kemana dan untuk apa harta dihabiskan. Atau... sensitivitas saya terhadap palakan pendapatan bernama pajak yang  belum meyakinkan saya dikembalikan secara optimal untuk rakyat kecil. Mendingan langsung saya putar dan dimanfaatkan langsung oleh rakyat kecil (menurut definisi subyektif saya tentunya).  PPh saya tahun lalu bisa digunakan untuk membeli  hampir 9000 bungkus nasi pecel, tapi entah dipergunakan untuk apa saja. Well, masalah Pajak ini insyaAalah akan dibahas di lain posting.

2. Ojeg langganan di stasiun Kebayoran. Biarpun langganan, saya tidak membayar sekaligus untuk satu bulan karena terkadang ada tugas ke luar kota (atau luar negeri hehe).Saya sering terbantu karena mereka siap sedia mengantar saya juga dari kantor menuju stasiun atau halte bus alternatif ke BSD di saat gawat (hujan badai, trans BSD over kapasitas, kereta mogok, dll). Sampai saat ini mereka tidak menaikkan tarif. Saya selalu memberikan uang lebih tapi selalu dikembalikan. Mereka juga termasuk golongan yang tidak (belum?) memanfaatkan momen kenaikan harga BBM ini untuk mendongkrak pendapatan. Kebalikannya ojeg di BSD (yang menurut beberapa orang tarifnya paling mahal se Tangerang Selatan, hehe) otomatis menaikkan tarif 2000 rupiah sekali jalan. Trans BSD juga naik 2000 rupiah (sekarang 16 ribu sekali jalan).

 Oktober 2013, ada kenaikan biaya transportasi juga sekitar 30%. Beberapa taksi resmi mengumumkan kenaikan tarif seiring dengan diberlakukannya tarif jalan tol yang baru. Tarif ojeg sendiri naik 50% saat itu. Tarif angkutan umum naik sekitar 25%. Di tambah efek kenaikan BBM per 18 Nopember 2014, berarti dalam satu tahun ini sudah terjadi lompatan biaya tranportasi sebesar 60-70%. Padahal gaji saya tidak naik 70%. Dengan kata lain dengan kenaikan gaji sekitar 10% saja, saya lebih miskin di bandingkan tahun lalu karena daya beli menurun.

Pesimisme ataupun sikap skeptis terkadang menjadi kekuatan menuju kebaikan. Bagi saya, kemakmuran rakyat (termasuk keluarga kecil kami) sulit dicapai bila mengandalkan pemerintah (politisi) saja. Justru pemerintah berperan memiskinkan rakyat dengan menarik pajak dan mempergunakannya dg tidak produktif, bahkan menggerus nilai mata uang dengan ketidakbijakan paksa yang diimplementasikan dan harus dipilih oleh rakyat ataupun penghilangan income negara potensial dan aset generasi masa depan. Tsaaah. :p Intinya agar tidak dikerjai poliTIKUS (dan anteknya) sebisa mungkin menghindari pengaruhnya dalam kehidupan. Misalkan tidak mudah percaya dengan angka ataupun pernyataan yang dikontrol, peroleh data yg muncul sebagai hasil mekanisme pasar. Kuasai aset dan kekayaan sendiri. 

Dalam bidang keuangan, pemerintah melalui BI menyatakan tingkat inflasi, tingkat suku bunga, bla blah. Urgh. Ogah kena jebakan bunga kredit. Naik gaji lebih dr inflasi (yang angkanya ditetapkan pemerintah)? Inflasi riil jauh lebih besar. 

 Tindakan yang mungkin : 
1. Tidak (seumur produktif) menjadi karyawan perusahaan, pendapatan dipotong pajak di luar kontrol, kenaikan gaji dipengaruhi tingkat inflasi yang nilainya diminimalisasi. 
2. Tidak menyimpan uang berlebih di Bank. Tarik tunai kena biaya, cek saldo kena biaya. Menjadikan rakyat kecil punya akses ke Bank? Mereka belum tentu layak dianggap calon debitur. Npwp blom tentu punya, mesin atm entahkah ada di lingkungannya. Uang disimpan, 5 tahun kemudian nilainya turun jd setengahnya. Wedew. 
3. Tidak membiasakan pakai barang subsidi untuk aset pribadi. Nampaknya ini wujud revolusi mental, mental gratisan jd mental mandiri. Punya mobil pribadi bbm subsidi itu tidak keren sama sekali. Pakai LPG 3 kg padahal bisa mengalokasikan penghasilan untuk konsumsi kredit ilusi jutaan rupiah selama bertahun-tahun, apatah patut dipuji?

Saya setuju penghapusan subsidi yang tidak tepat sasaran dan menjadi beban. Namun selama rakyat masih terus dihisap darahnya untuk menggaji para poliTIKUS, entah kapan kemakmuran yang merata itu bisa terwujud. Pada saat harga minyak mentah dunia trennya turun, menghapus subsidi tidak sama dengan menaikkan harga. Tanpa subsidipun, bisa jadi harga gasoline RON88 tidak perlu naik. Saya gagal paham kenapa budget untuk subsidi tidak bisa dialihkan ke sektor prioritas lain saat harga minyak turun, dan harga bbm yang (tidak perlu disubsidi lagi) justru naik. Semoga segera menemukan pencerahan tentang hal ini.


ReAD MoRE・・・