Thursday, 17 January 2008

Salju, salju!



Minggu ini, musim dingin tengah menuju puncaknya di Jepang. [大寒(daikan):Dingin besar, periode paling dingin selama satu tahun].Jaket lama yang hampir 2 tahun tak pernah aku pakai karena musim dingin yang tak terlalu menggigit akhirnya resmi menjadi pakaian dinas selama beberapa hari ini. Dan, Salju! Dini hari ini turun salju yang pertama kalinya di Ibaraki -untuk musim dingin kali ini-. Meskipun Jepang adalah negeri 4 musim, wilayah yang aku tinggali sekarang nyaris tak pernah disapa salju. Perubahan musim hanya terasa dengan naik turunnya suhu udara dan bergantinya warna tetumbuhan. Ah, waktu sholat juga. Musim ini waktu siang amat pendek, sholat subuh jam setengah tujuh pun masih terkejar.

Salah seorang TA yang menjadi rekan main badmintonku membuat boneka salju di depan gerbang fakultas. Sayangnya salju di sini tak ada yang bertahan lama. Setelah seharian terkena mentari, maka hamparan putih di halaman akan tergantikan rerumputan. Biarpun begitu, tetap saja dingiiiinnN!


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 16 January 2008

3 Jam Saja

Kadang aku berpikir tak ada salahnya tinggal di kota besar. Kalau komputer rusak, ada tempat servis, Kalau pengen ini itu, banyak yang menyediakan. Ingin barang dari luar daerah pun bukan hal sulit untuk mendapatkan. Teknologi dan fasilitas untuk umum pun sampai lebih cepat ke masyarakat. Sebenarnya alasan terakhir ini lah yang menjadi pertimbangan terbesarku.

Dua pekan yang lalu, salah seorang tanteku meninggal setelah terpeleset di kamar mandi. Stroke. Almarhumah baru diketemukan satu hari kemudian dan langsung dibawa ke Surabaya untuk mendapat perawatan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di atas kasur rumah sakit.


Penyakit yang berhubungan sistem sirkulasi pada tubuh manusia kerap menjangkit di Indonesia. OK ok... bukan Indonesia, setidaknya keluargaku deh. Entah pola makan tinggi lemak atau konsumsi gula berlebih yang pada ujungnya menjadi ancaman bagi nyawa. Belum lagi ditambah rokok yang terlanjur mendarah daging pada sebagian masyarakat.

Kakekku juga meninggal karena stroke. Begitu katanya. Almarhum meninggal 5 tahun sebelum aku lahir, jadi sebenarnya aku juga belum pernah ketemu. Cerita dari kerabat yang aku dengar, setelah mendapat serangan, beliau menjadi lumpuh dan kehilangan kemampuan berbicara secara normal.


Pada kebanyakan kasus, orang yang terkena stroke akan mengalami gangguan syaraf anggota gerak dan kemampuan berbicara. Meskipun tahu apa yang ditanyakan, meskipun tahu apa yang menjadi jawaban, tapi proses mengalirnya informasi dari otak menuju mulut berlangsung lambat. Aku sendiri pernah merasa tersiksa karena tak bisa menyampaikan pendapat, apa yang aku inginkan, karena kemampuan bahasa Jepangku yang dibawah standar beberapa tahun lalu. Tak bisa menjawab dalam bahasa Jepang, padahal aku tahu jawaban dan maksud pertanyaan. Mungkin perasaan orang yang terkena stroke hampir sama kah, sebal, geram, kecewa, karena tak mampu mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran.


Apakah tidak ada cara untuk meyembuhkan orang yang terkena stroke hingga normal? Jawabannya ada. Ada enzyme yang mampu mengaktivkan jaringan sehingga menghacurkan pengganjal aliran darah di otak penyebab stroke. t-PA , tissue plasminogen activator. Kasus yang dicurigai sebagai stroke lalu mendapatkan perawatan menggunakan obat ini, 100% pasiennya dapat mengambil alih kembali kontrol anggota gerak dan mampu berbicara dengan normal. Waktu terapi yang dibutuhkan pun hanya 2 minggu, lalu senyum bulan sabit di wajah keluarga dan pasien pun terlihat.


Masalahnya, t-PA hanya bisa diberikan paling lambat 3 jam setelah serangan. Kenapa? Dalam 3 jam, jaringan pembuluh darah yang tidak mendapatkan nutrisi -karena aliran darah tersumbat- akan mengalami kerusakan. Bila t-PA diberikan setelah 3 jam, ada kemungkinan terjadinya pendarahan dalam otak. Darah yang kembali lancar akan merembes langsung ke sel otak karena pembuluh darah yang seharusnya menjadi wadah terlanjur rusak kekurangan nutrisi. Makanya penting untuk tahu kapan terjadi serangan, atau gejala-gejala sebelum serangan.


Hmm, tapi waktu 3 jam cepat sekali. Aku tak yakin apakah setiap rumah sakit di kota kecilku mempunyai obat ini. Di Jepang pun tak semua rumah sakit memilikinya. Tiga jam saja, mungkin suatu saat akan terasa bobot pentingnya.


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 15 January 2008

Makanan yang Hilang

Jepang yang terkenal ketat masalah impor barang aku pikir sedikit keterlaluan. Kardus yang sedikit lecet atau cacat sedikit pada barang di kargo yang sampai akan disortir dan dibuang meski cacat yang ada tidak mempengaruhi kualitas barang. Makanan siap santap yang dijual di minimarket pun harus diberesken lebih cepat dari tanggal kadaluarsanya, sayur dan buah yang tak sempurna pun harus tersisih menjadi sampah tanpa sempat bertengger di rak pasar. Meskipun Jepang mengimpor 60% kebutuhan pangannya, 40% sampah basah berasal dari makanan rumah tangga yang tak habis dikonsumsi,belum lagi makanan siap santap yang dibuang sebelum kadaluarsa maupun bahan pangan yang bahkan belum tersentuh tangan. Kelaparan di Jepang bukanlah masalah kekurangan, melainkan distribusi.

Menyadari kenyataan ini, berdirilah bank makanan di Jepang yang berperan dalam menyalurkan bahan pangan layak konsumsi yang dianggap tak pantas sampai ke konsumen. Keberadaannya menguntungkan pihak 'pembuang' yang tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk pembersihan sekaligus membantu kaum miskin dan terlantar yang kesusahan memperoleh makanan. Tuna wisma mendapat jatah makanan ini tiap pekan, panti asuhan untuk anak terlantar pun tak perlu khawatir dengan masalah gizi. Makanan yang ada tak perlu mubazir terbuang sebelum waktunya.

Masalahnya, keberadaan bank makanan di Jepang belum mampu mendistribusikan seluruh 'sampah' yang ada ke tangan yang membutuhkan. Solusinya ada 2, menambah kekuatan personil bank makanan, atau mengurangi produksi 'sampah'. Setidaknya, masyarakat mulai diajak untuk tidak berbelanja berlebihan, membuat makanan secara berlebihan, atau sebisa mungkin tidak menyisakan makanan.

Padahal tahun lalu banyak terungkap kasus pemalsuan bahan makanan, penggunaan susu basi untuk jajanan, pencampuran daging sapi dengan babi dan ayam, hingga pemanjangan tanggal kadaluarsa. Seharusnya mereka tak hanya ketat terhadap barang impor, tapi juga hasil produksi dalam negeri sendiri. hmmph... .
Rasanya masalah pangan kita sedikit beda dengan Jepang, selain masalah distribusi, Indonesia juga tersendung masalah ketersediaan. Bank Makanan sepertinya masih terlalu dini untuk muncul.btw...

*Setiap hari 35000 anak di dunia meninggal karena kelaparan.
*Anak-anak di Nicaragua harus mengais sampah untuk hidup, makanan adalah barang langka.
*Dibalik tembok restoran salah satu negara afrika, orang-orang kelaparan menunggu sisa makanan tamu.


Haiyahh.. koq jauh-jauh amat. Di Indonesia sekarang aja lagi krisis tahu tempe. Negara luas gini kok yah ikut kocar-kacir saat Brazil n Amerika dilanda kekeringan. Padahal tahu tempe udah jadi makanan sehari-hari rakyat kecil. Beginilah kalau kedelai sebagai bahan baku lauk rakyat masih 70% impor. Lalu saat petani di negara pengekspornya mengalihkan tanaman komoditas dari kedelai menjadi jagung sebagai bahan baku bioethanol -haiah, isu lingkungan lagi kahhh-, produksi dalam negeri gak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Adalagi kemungkinan sanak saudara di Indonesia masih harus bersabar setidaknya 2 tahun ke depan, karena sampai 2010 harga kedelai masih dipatok di tingkat harga yang sekarang.

Pantas saja waktu nelpon rumah terakhir kali, ibu cerita kalau tempe seharga 1000 rupiah besarnya menyusut. Mungkin pedagang mikir daripada menaikkan harga, mendingan menyesuaikan ukuran sahaja. Lagian masih banyak juga yang masih kesusahan memperbaiki rumah akibat banjir kemaren. Huhuhu... Jangan sampai tahu-tempe menjadi makanan yang hilang dunk...
Kembalikan tahu tempe-kuuuu!!!



link :
(salah satu foodbank di Jepang)


ReAD MoRE・・・

Visa ke Jepang

Sejak tahun lalu diterapkan kebijakan pengambilan sidik jari dan foto bagi WNA saat masuk ke Jepang, setelah itu..... muncul kebijakan ini. Denger-denger pula, pemerintah Jepang mau mendatangkan tenaga medis (perawat) asing (baca : Indonesia) yang akan dilatih dan dipekerjakan di Jepang mulai tahun depan. Hmm...
===========================================================

Kebijakan Penerbitan Visa Jepangdalam rangka Memberantas Perdagangan Manusia (Trafficking)


Untuk meningkatkan kesempatan para warganegara asing untuk berkunjung ke Jepang, Kementerian Luar Negeri Jepang telah berupaya menyederhanakan prosedur pemeriksaan terhadap setiap permohonan visa Jepang. Sementara itu, juga ditingkatkan upaya untuk mencegah kegiatan illegal di Jepang.


Sebagai bagian dari pengawasan keimigrasian tersebut, bila diperlukan, setiap permohonan visa akan dilakukan pemeriksaan secara ketat. Khususnya, akhir-akhir ini, yang menjadi keprihatinan pemerintah Jepang adalah teridentifikasinya cukup banyak korban perdagangan manusia (trafficking) di kalangan wanita asing yang dibawa ke Jepang melalui organisasi-organisa si kejahatan, terutama dari Asia, Eropa Timur, Rusia, dan Amerika Latin.

Dari sisi kemanusiaan serta dan guna melindungi hak asasi para wanita asing dan anak-anak, pemerintah Jepang telah berupaya memerangi perdagangan manusia(Rencana Aksi Jepang berupa Tindakan-tindakan untuk Memerangi Trafficking :http://www.mofa.go.jp/policy/i_crime/people/index_a.html).


Kedutaan Besar Jepang dan Konsulat Jepang di seluruh dunia telah berupaya untuk memeriksa setiap permohonan visa secara hati-hati, dan upaya ini akan terus dilanjutkan guna mencegah terjadinya trafficking . Berkaitan dengan hal tersebut, seluruh Konsulat Jepang di Indonesia mulai menerapkan pemeriksaan permohonan visa secara ketat, termasuk permohonan visa kunjungan sementara.
Dalam hal ini, ada kemungkinan terjadi kasus di mana proses pemeriksaan permohonan visa diperlukan waktu yang lebih lama daripada waktu biasa, yaitu rata-rata 4 hari kerja; atau bisa saja pemohon diminta untuk menyampaikan dokumen tambahan dan/atau diperlukan wawancara (tanya-jawab) , khususnya bila pemohon adalah wanita muda atau anak-anak yang rentan terhadap trafficiking manusia.


Untuk itu kami mohon pengertian dan kerjasama anda.Berikut ini dicantumkan beberapa petunjuk yang mungkin anda perlukan sebelum anda mengajukan permohonan visa ke Jepang :


● Sudahkah anda membaca dan tahu tentang undang-undang keimigrasian dan peraturan-peraturan Jepang ?Bila anda mengajukan permohonan untuk "temporary visitor visa" (visa kunjungan sementara), maka anda TIDAK BOLEH bekerja di Jepang.


● Bila anda mengajukan permohonan untuk "working visa" (visa untuk bekerja), maka anda harus lulusan pendidikan tinggi atau punya pengalaman kerja tertentu sebagai seorang profesional di suatu bidang. TIDAK diizinkan bekerja sebagai waitress (pelayan), hostess, maid (pembantu) dan PSK (pekerja seks komersial). Jangan menjadi korban yang terperangkap oleh bujukan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan demikian, hal itu dapat akibatkan terjadinya trafficking manusia.


● Apakah semua dokumen yang anda miliki seperti paspor, kontrak, sertifikat, dan formulir aplikasi visa sudah diperiksa dengan seksama oleh anda sendiri? Apakah keterangan pada masing- masing dokumen itu benar dan tepat ? Apakah memang anda sendiri yang menandatangani dokumen-dokumen itu ?


● Apakah anda tahu benar apa yang akan anda lakukan/kerjakan di Jepang ? Bila anda akan bekerja di Jepang, apakah anda tahu tentang persyaratan kerja dan aturan upahnya ? Apakah anda sudah punya nomor telpon darurat di Jepang, seperti kedutaan besar, konsulat atau kantor perwakilan negara asal anda ?


● Apakah anda telah membayar uang dalam jumlah besar untuk mendapatkan visa ke Jepang ? Atau anda telah meminjam uang dalam jumlah besar yang akan anda kembalikan dengan penghasilan yang nanti anda akan peroleh di Jepang ?


Perlu anda ketahui bahwa ada sejumlah agen dan broker (calo) yang mencoba mengeksploitasi (memeras) anda dengan mengirim anda ke Jepang.Kalau ada hal yang ingin anda tanyakan atau timbul keraguan dalam prosedur permohonan visa ke Jepang ini, silakan anda hubungi petugas visa di Kedutaan Besar Jepang atau Konsulat Jepang.


Sumber: HP Kedutaan Besar Jepang di Indonesia


ReAD MoRE・・・

Monday, 14 January 2008

Pesona Hitam Putih

Yay yay ya... sebenarnya cukup terlambat untuk membuat review dengan tema ini. Tapi mendingan terlambat asal selamat daripada tidak sama sekali.


Ada salah satu film animasi hitam putih yang memenangkan beberapa penghargaan tahun lalu. Persepolis(Perancis). Film ini menceritakan seputar Revolusi islam di Iran dalam pandangan seorang anak kecil hingga dewasanya. Meski menuai protes dari pemerintah Iran sekarang, tak ada salahnya sekedar melihat sebagai brain-storming. Lagipula sampai hari ini juga sudah muncul film anak negeri yang mengangkat tema seputar masa revolusi -yang sampai sekarang kebenarannya masih abu-abu-. [Haduh... sampai khawatir kalau pelajaran sejarah Indonesia yang ada selama ini tak lebih dari karya cipta para penguasa.]








Satu lagi video klip yang cukup aku suka. Idenya mirip dengan wayang, memanfaatkan bayang-bayang. Tsubomi (kuncup), dari kobukuro, salah satu grup vokal Jepun yang belakangan digemari seorang kawanku yang bersuara merdu. silakan nikmati di... (klik gambarnya yak ^_^ )


Barang hitam putih yang bulat adalah... Yup! Bola sepak! Konon untuk menaikkan pamor persepakbolaan agar lebih terlihat di TV jaman dulu, warna bolanya pun dibuat paling kontras. Aku tak menyangka kalau orang-orang tak hanya memperhatikan kemana bola berlari, tapi juga baju apa yang dipakai bola itu sendiri. Bola hitam putih dalam TV hitam putih. Ah, bukankah bola dengan warna apapun tetap saja mampu menyihir jutaan orang di dunia saat disepak, dioper dan digiring di lapangan hijau? Bola lain tak perlu iri, karena riwayat bola kaki ini dirunut paling tua dalam sejarah perbolaan.



Entah kenapa permainan ini dimasukkan juga dalam kategori olahraga. Catur. Papan petak hitam putih dengan pion hitam putih juga. Catur sudah dimainkan beratus tahun silam di Persia, China dan India. Permainan yang mengadu strategi memacu otak agar berputar lebih gesit. Jepang juga punya catur sendiri, shogi, dengan petak 9x9, lebih besar dari papan catur internasional. Sayangnya dia tercoret dari kategore kali ini karena tidak memakai pion hitam putih, tapi batangan kayu coklat dengan simbol tertentu. Tapi iGO masuk kategori ini. iGo bahkan menjadi tema penting dalam manga dan anime hikaru no go. Meski tercatat iGo berasal dari Cina, permainan ini juga populer di Jepang dan Korea.
Waktu aku kecil dulu, aku sering diajak main iGo oleh kakak sepupuku. Sayangnya, aku selalu jadi bulan-bulanan -karena paling kecil- dan kenangan yang kurang menyenangkan inilah yang membuatku tidak mahir bermain iGo sampai sekarang. Huhuhu


Selanjutnya adalah permainan yang berasal dari perfecture (propinsi) tempatku berada sekarang, Ibaraki. Permainan ini sudah mendunia hingga ada pertandingan internasional yang diselenggarakan di Mito bulan oktober dua tahun yang lalu. Othello. Aturannya tidak serumit Go, bisa dimainkan langsung oleh orang baru pertama kali sekalipun!Karena berasal dari tempat aku tinggal sekarang, aku bahas sedikit detail deh. -Huahh, ada yang langsung ngantuk, skip, skip, skippp saja!-

Sejarah Othello berawal tahun 1945, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. September 1945, Hasegawa Goro yang tengah duduk di kelas satu SMP menerima pelajaran sembari duduk di tanah di bawah langit biru. Mito juga menjadi sasaran pengeboman hingga kastil dan bangunan bersejarah lain ikut habis dalam kobaran api. Dalam suasana seperti itulah permainan ini dilahirkan. Aturan awalnya, bila batu milik lawan diapit oleh batu milik kita, maka batu lawan menjadi milik kita. Permainan ini cukup merepotkan karena harus memakai batu dengan 2 warna, hingga akhirnya dipakai kertas yang diwarnai hitam pada salah sisi dan putih pada sisi yang lain.


Tahun 1964, Hasegawa mengajarkan othello kepada istrinya yang akhirnya berkembang dengan pesat. Aturannya mudah dipahami dan setelah paham segera ingin menguasai. Dikatakan, satu menit untuk mempelajari, tapi perlu seumur hidup untuk menguasai permainan ini. Hasegawa memperoleh ide menjadikan tutup botol susu sebagai pion othello, membawanya ke tempat kerja lalu diberikannya kepada 2 orang rekan dekatnya. Keesokan harinya ada fenomena yang cukup mengejutkan. Hampir semua pekerja wanita bermain othello pada jam istirahat siang !


Pada lain kesempatan, Hasegawa yang bekerja pada perusahaan obat mendapatkan masukan dari apoteker salah satu rumah sakit langganan. Permainan ini dinilai mampu berperan dalam rehabilitasi pasien. Setidaknya dalam pemakaian otak dan menghasikan waktu. Othello pun menjamur di rumah sakit itu dan digemari para medis hingga pasien. Othello terus berkembang hingga ada pertandingan othello bagi tuna netra dan muncullah juara wanita othello se-Jepang.


Sebenarnya darimana asal kata Othello itu sendiri? Tentunya bukan dari bahasa Jepang. Ayah Hasegawa Goro, memberikan nama ini dari salah satu karya Shakespeare dengan judul yang sama. Othello, seorang kulit hitam yang mempunyai istri kulit putih yang cantik bernama Desdemona. Kisah yang romatis kah? Tsah....


Alasan lain yang membuat othello mampu mendunia adalah warana papannya yang sejuk dipandang mata : hijau. Warna hijau menentramkan mata, alat permaiannya mudah dibawa, mudah dimainkan, nyaman dilihat dan dengan mebolak-balikkan pion saja bisa memperoleh kepuasan. Sebenarnya pertama kali aku melihat permainan ini adalah saat SMA, saat anak-anak ramai berkumpul dalam asrama. Yay, nostalgia SMA kah, penuh juga dengan hitam putih kenangan.










ReAD MoRE・・・