Tuesday, 7 June 2011

Bintang di Bumi


Memandangi langit malam yang cerah, teringat akan bintang sebagai petunjuk arah. Akibatnya muncullah keinginan untuk mengunjungi Brother Earth, Planetarium terbesar di dunia yang baru diresmikan di Nagoya 19 Maret 2011. Mahasiswa hanya perlu bayar 500 yen untuk mengunjungi planetarium plus museum. Anak usia SMP ke bawah? Gratis tis!


Nakajima Miyuki menyenandungkan manusia terlalu memandangi bintang yang ada di langit sehingga melupakan gemintang di bumi.



Saya coba mencari gemintang yang di bumi dengan bantuan satelit. Akhirnya dapatlah potret rupa bumi dengan gemintang di sana-sini: nighttime light. Bila dipandangi dari ruang angkasa, cahaya-cahaya artifisial yang menunjukkan aktivitas manusia inilah yang seolah nampak sebagai bintang di permukaan bumi. *Ahaha, saya hanya mengulas syairnya secara literal*.


*photo of Aegan sea at night, taken from onorbit.com*


Namun kalau dipikir, tak ada salahnya bila bintang-bintang di permukaan bumi ini dikaji lebih lanjut. Sebagai petunjuk arah? yah, bisa jadi, bukan arah mata angin melainkan arah kebijakan yang diperoleh dari analisa aktivitas manusia hingga memunculkan bintang-bintang di permukaan bumi. Energi. Isu ini akhirnya harus dimunculkan di sini. Iseng saya memasukkan 2 keyword ini ke Oom Google dan muncullah sebuah nama yang sudah menulsi jurnal terkait dengan bintang di bumi dan energi. Orang UK ini dapat beasiswa JSPS pula! Di Tokyo pulaa!! Mumupung secara fisik, jarak nagoya-Tokyo tak sampai 2 jam dengan Shinkansen, bagaimana kalu mengajukan permohonan diskusi secara langsung? Heh? Khan gak kenal.... Err, korespondensi saja kah.

Bicara soal energi, setelah gempa dan tsunami melanda Jepang 11 maret 2011 dan membuat isu PLTN Fukushima naik ke permukaan, orang Jepang mulai mengkaji soal sumber energi terbaharui. Seorang teman Jerman saya muak dan trauma dengan tragedi Chernobyl sehingga dalam kunjungan ke sebuah PLTN di Fukui, tak hentinya dia mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar aman soal nuklir. Hmm... bisa jadi, karena kecelakaan mungkin saja terjadi. Dalam berita NHK jam 21:00 hari ini, juga dibahas kemungkinan implementasi sumber energi domestik : angin, air, panas bumi, tujuannya agar tidak lagi tergantung dengan minyak bumi dan batu bara yang harus di datangkan dari luar negeri.

Saya sendiri merasa kurang puas menguras ilmu soal energi terbaharui ini meskipun sudah dibela-belain ke Jerman dengan segala proposal meminta kucuran dana kampus tahun lalu :-( Eh, ternyata ada kesempatan kedua, kali ini ada seorang CEO Perusahaan Amerika yang datang ke Nagoya University, presentasi tentang Renewable Energi. Catat! 21 Juni 2011 16:00-17:30 di ES Building, Hallroom. Waktu kuliah dulu dia menulis soal implementasi sumber energi terbaharui di India, jadi saya ingin bertanya kasus Indonesia yang punya garis pantai terpanjang di duniaaaaaA.

*Tapi deuh, baru ingat tanggal itu saya harus naik pesawat ke Tokyo jam 8 pagi. Hiks.*

Pikiran saya meloncat lagi, gara-gara menulis batu bara dan minyak bumi. Lah, listrik kita pun kebanyakan dari dua sumber ini bukan? kalau kasus di Urumqi, China sana, batu bara masih tetapt dipakai karena jumlahnya melimpah, harganya murah. Tenaga angin juga dimanfaatkan, namun belum maksimal. Tenaga Surya? Well, harusnya bisa dimanfaatkan karena suhu di sana bisa mencapai 50 derajat Celcius. Sayangnya fakta ini harus disimpan rapat-rapat, karena pemerintah harus mebayar uang extra buat pekerja bila suhu udara melewati 48 derajat Celcius. Seorang saksi hidup, kawan saya, muslim urumqi mengatakan kalau kita meletakkan telur di luar rumah waktu siang hari, telurnya matang terpanggang. *rasanya gimana yah? kayak telur rebus?*

Kembali memandangi langit, waktu subuh masih sekitar satu jam lagi...
Yah, menjelang musim panas, waktu subuh bener-benar masuk sejak dini hari. Di kawasan arctic matahari muncul sepanjang hari selama musim panas!! Waow...!
Dan, ah, yah. Kunjungan ke Brother earth!! Kapan ada waktu yah....


ReAD MoRE・・・

Monday, 30 May 2011

最近ハマッタやつ

Dari beberapa pilihan Al Quran 'digital', saya menyukai cara 'pengunggahan' oleh user ini. Dilengkapi cara baca dalam alfabet dan arti dalam bhs Inggris. Ramah user, ehehehe.
Selamat Menikmati ^_^ *lumayan membantu buat cek hafalan sambil nge-Lab*

http://www.youtube.com/user/ReadSurahsnDuas#p/u


ReAD MoRE・・・

Saturday, 28 May 2011

[IKLAN] NU & LTFS

Well, numpang iklan. Kebetulan ada orang yang mengunggah profil kilat Nagoya University di youtube dan La tahzann for Student sudah bisa direview via googlebook ^_^. Beberapa waktu lalu beredar email dari bagiann penerimaan mahasiswa asing mengenai info SMA di Indonesia yang siswanya pintar dan kaya sehingga bisa ditarik ke Nagoya. Dengan adanya program Global 30 dari Kementrian Pendidikan Jepang, bermuncullah program dalam bahasa Inggris sehingga kalau mau kuliah di Univ negeri Jepang tidak perlu lagi rugi umur kayak saya. Perkiraan pribadi, sepertinya Univ-univ ini mulai meniru APU yang menyelenggarakan kuliah secara bi-lingual.

(Taepi tetepppp saja mahal dan tak terjangkau bagi saya waktu mo lulus SMA dulu. Hiks. Alhamdulillah Allah memudahkan jalan bagi saya yang tidak terlalu pintar dan tidak pula kaya untuk bisa kuliah di Jepang dengan beasiswa, meskipun harus 'rugi' 2 tahun untuk menunggu pengumuman dan belajar bahasa Jepang)

Celotehan bisu saya dicukupkan sampai di sini, Silakan ditelusuri :


Orang Iran yng di video ini adalah teman sebangku di kelas bahasa Spanyol (gak penting :-P )


Link ke LTFS :


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 24 May 2011

[MOVIE] Valley of The Wolves Palestine 2011



Jadi pengen belajar bahasa Turki euy....


ReAD MoRE・・・

Sunday, 15 May 2011

Daya Beli

Adik saya mendadak panik karena nilai dirham melewati angka 50 ribu rupiah bulan ini. Artinya, biaya kostnya di Yogya bakal naik sekian persen dari pembayaran sebelumnya. Bila dipikir, rentan sekali alat tukar kegiatan ekonomi yang kita sebut dengan uang itu. Nilainya berubah setiap waktu, berdampak pada daya beli pemegangnya.

Daya beli? Saya sedang berpikir tentang daya beli. Modalnya diberi oleh Sang pemberi Hidup. Namanya waktu, satuannya detik, menit, jam, hari, pekan, minggu, windu, bulan, tahun, abad, milenium, atau apalah manusia menyebutnya. Bila waktu itu dihitung dalam yen, gaji rata-rata parttimer di Nagoya adalah 880 yen/jam, artinya 15 yen masuk ke kantung setiap menit anda bekerja. Lima belas yen, sama dengan sekitar seribu lima ratus rupiah. Perlu diingat bahwa kita tidak bekerja dalam 24 jam, anggap saja kita bekerja 8 jam/hari, artinya bila kita bekerja setiap hari selama 8 jam selama 60 tahun, yen yang masuk ke kantung adalah 126,720,000.

Apakah seumur hidup kita akan bernilai sebesar nominal itu? 127 juta yen, 12, 7 Milyar rupiah?


Tulisan di atas hanyalah perhitungan sederhana bila nilai waktu kita 15 yen per menit. Nilai waktu kita yang sesungguhnya, ada di pikiran kita untuk mengaturnya. Setiap menit dalam 24 jam sehari milainya akan bervariasi tergantung cara kita menukarnya. Apakah kita menggadaikan waktu itu untuk tidur? Apakah kita menghabiskannya untuk bersenda-gurau? Apakah kita membelanjakan waktu kita sebagian besar di kampus?

Betapa beruntungnya kita, setiap hari modal kita kembali. Nominalnya masih tetap sama, 24 jam, dan kita diberi kebebasan untuk membelanjakannya. Sebagian kita tukar dengan uang melalui pekerjaan. Sebagian lagi kita tukar dengan ilmu saat kita belajar. Sebagian yang lain nilainya merugi karena dosa yang kita perbuat. Setiap kita mendapat jatah yang sama setiap hari, tergantung cara kita menggunakannya.

Lalu berapakah total nilai waktu kita? Allah Yang Maha Teliti perhitungannya terus memberikan nilai dengan adil sebagai balasan terhadap cara pemanfaatan modal yang 'dipinjamkan-Nya'. Modal yang nilai per-harinya stabil, terus menumpuk hingga kontrak kita di dunia berakhir. Waktu adalah sumber daya yang tidak terbaharui. Kita tak pernah tahu kapan dia tak bisa lagi dipergunakan. Daya beli kita setelah hari kebangkitan kelak kuncinya ada di pemanfaatan sumber saya ini.

Jadi?



ReAD MoRE・・・