Sunday, 28 June 2015

Mendadak Ekonom (1)

Kata Aristoteles, ekonomi itu ilmu manajemen (keuangan) keluarga. Kini maknanya sudah bergeser cukup jauh. Intisari yang saya peroleh, perekonomian suatu negara pada dasarnya adalah cerminan dari pola yang terjadi dalam level keluarga. Tentu saja, juga berlaku sebaliknya karena berbagai kebijakan seputar perekonomian banyak ditetapkan oleh pemerintah (negara). 

Sebagai kepala keluarga sekarang saya harus melek ilmu ekonomi. Alasannya cukup jelas: Agar tetap berada pada jalur yang benar menuju visi hidup mulia dimanapun di dunia dan selamat di akhirat. Tsaahh. Saya coba memahami apa-apa saja yang sudah terjadi di dunia ini, dari sejarah dan kejadian-kejadian terkini.

Dalam ekonomi, kita tidak bisa lepas dari transaksi yang selalu berhubungan dengan uang. Ini berlaku sejak manusia mengenal perdagangan. Emas dan perak dijadikan standar nilai suatu komoditi. Sampai perang dunia ke-2, sebetulnya segala transaksi keuangan itu, termasuk level suatu negara, masih mempergunakan standar emas atau perak.

Kepemilikian emas yang terbatas, menjadi limit berbelanja. Kredit tetap ada, tapi dengan ‘cadangan’ emas sebagai jaminannya. Saat perang dunia 2, emas banyak berpindah ke amerika karena surplus perdagangannya dalam menyedikan perlengkapan perang. Akhirnya dipakailah dolar amerika sebagai standar baru perdagangan antar bangsa, setara dengan emas (tersisa) yang dimiliki ke-44 negara penandatangan Bretton Woods. 

Tapi karena keinginan konsumsi yang semakin meingkat dan jaminan emas sudah tidak cukup untuk menahan laju kerakusan manusia, akhirnya Nixon melepaskan keterkaitan dolar dengan jaminan emas. Akibatnya? Sejak tahun 1971 standar emas sudah tidak berlaku, digantikan dengan standar USD yang bisa dicetak sekehendak Bank Central Amerika.

Untuk menggelembungkan perekonomian, dihembuskanlah kredit. Boleh menikmati fasilitas barang sekarang, bayarnya dicicil dengan tambahan bunga. Yaps. Sistem riba berlaku dengan sangat-sangat leluasa. Tak ada batasnya. Gak punya emas atau cadangan emas tak cukup lagi? No problem.

Betulkah tidak akan ada masalah? Jumlah uang yang tercetak lebih banyak dari jaminan emas. Akibatnya, nilainya turun. Gaji buruh berpendidikan rendah tahun 1971 gajinya (dalam emas) masih lebih tinggi dibandingkan karyawan berpendidikan tinggi di tahun 2010. Kata orang, inilah inflasi, penurunan daya beli. 

Masalah masih memberikan bonus berupa  riba yang harus dibayar. Bagaimana mau dibayarkan kalau jumlah uang yang dicetak itu hanya setara dengan pokok pinjaman saja? Harus cetak uang lagi dunk, nilai uang trurun lagi… dan beginilah siklus yang terjadi. Inflasi terjadi setiap tahun karena orang-orang melakukan konsumsi lebih dari sumber daya yang dimilki. Kekuatan utang tanpa agunan.

Yang saya rasakan, daya beli anak-anak yang lahir setelah 1971 lebih rendah dibandingkan orang tuanya pada usia yang sama. Untuk membeli rumah dengan luas dan lokasi yang setara, akan dicapai dengan usia yang lebih tua. Pada beberapa kasus bahkan sampai akhir hayat pun ada yang tidak pernah memiliki cukup uang untuk ditukar dengan rumah.

Waktu saya kecil di awal tahun 1990-an, harga sebungkus sarapan sekitar 75 rupiah. Saat pulang kampung tahun 2015, harga sebungkus sarapan menjadi 3000 rupiah. Naik 40 kali lipat dalam 20 tahun. Saya tidak ingat ongkos transportasi, karena waktu SD tinggal menyebrang jalan kalau sekolah dan tidak ada angkutan umum berupa angkot atau bis kota di kota kecil saya. :-P saya juga tidak suka jajan, jadi tidak ingat juga harga jajan atau jumlah uang jajan saya.

Indonesia sudah berumur 70 tahun pemerintahannya. Seharusnya belajar banyak dari sejarah tentang penyebab runtuhnya berbagai kerajaan di masa lalu. Saya membaca kalau Otto Von Bismarck, pemersatu Jerman, pernah memerintahkan seorang sejarwan sekaligus ekonom, Gustav Ruhland, untuk meneliti penyebab runtuhnya imperium romawi, yunani, juga para penjelajah dunia : Inggris dan Spanyol.

Kesimpulan Ruhland : Akar penyebab keruntuhkan imperium itu adalah kebijakan moneternya. Ruhland juga menemukan cirri-ciri suatu imperium menjelang keruntuhannya. Biarpun saat sampai pada kesimpulan, Bismarck sudah tidak menjabat sebagai kanselir, hasil penelitian ini tetap bagus untuk menjadi masukan seorang pemimpin negara -juga pemimpin keluarga, hehe- 

Saya tidak yakin apakah negera modern sejahtera pertama di dunia di bawah pimpinan Otto terbangun karena bisikan mujarab hasil penelitian Ruhland, atau memang karena Otto adalah seorang bervisi jauh ke depan dengan mengambil keputusan-keputusan strategis. Dari langkahnya, saya bisa membaca kalau Otto memerintahkan orang-orang yang komepeten untuk melakukan riset dan mengumpulkan informasi yang benar dan terpercaya untuk mendesain negerinya.

Baiklah, inilah cirri-ciri suatu imperium menuju kehancuran. Versi Ruhland, tentu saja.
1. Perkembangkan kesejahteraan masyarakat umum tertinggal dengan mengorbitnya tingkat kemewahan yang dinikmati sebagian kecil orang.
2. Meningkatnya tanda kebobrokan mental di kelas penguasa (korupsi, keserakahan, kriminalitas, kemewahan) 
3. Meningkatnya pajak rakyat. Militer dipakai untuk memungut pajak.
4. Pemerintah member subsidi masyarakat miskin untuk membuat mereka tetap tenang dengan roti dan sirkus.
5. Meningkatnya kebobrokan moral masyarakat. 
6. Konflik militer dengan luar negeri untuk mempertahakankan status quo atau pengalihan isu. 
7. Bankir ‘menguasai’ pemerintah 
8. Pemerintah ikut campur dalam pasar. 
9. Devaluasi uang (menurunkan kadar logam mulia dalam uang) 
10. Inflasi keuangan. 
11. Perang sipil, kerusuhan. 
12. Kegagalan pemerintahan yang kronis (pemerintah tidak punya kekuasaan) 
13. Penurunan populasi. 
14. Perdagangan secara barter menggantikan ekonomi moneter. 

Bagaimana? Nampaknya beberapa tanda sudah dirasakan di negeri yang mau berulang tahun ke-70 tahun 2015 ini. Pada beberapa titik dalam 20 tahun terakhir ini, Indonesia sudah hampir runtuh namun entah bagimana ceritanya ada invisible hands yang berhasil mempertahankan sebagian besar wilayah kedaulatan, biarpun ada wilayah yang lepas, biarpun arah  kebijakan ekonomi negara dan industri menjadi rancu tentang siapa yang dibela...

Saya belum menemukan bacaan tentang tanda-tanda runtuhnya kekhalifahan. Ruhland tidak menuliskan apakah hasil penelitiannya juga mencakup kekhalifahan islam di beberapa jazirah yang juga runtuh. PR saya berikutnya adalah mencari sumber bacaan yang terpercaya seputar ini. Kekhalifahan Turki Usmani masih berjaya saat itu sehingga tidak menjadi obyek penelitian Ruhland.

 *Ambil napas. *

Sekarang saya coba memahami sistem pendapatan suatu sistem. Pada dasarnya ada 2 sumber pendapatan negara : Pungutan (pajak dan non-pajak) dan Utang. Uang hasil pungutan inilah yang dipakai membayar hutang. Saya lupa berapa nominalnya, yang saya ingat pernah ada perhitungan yang menyatakan bahwa setiap anak yang lahir di Indeosnia sudah menanggung hutang (negara) sekian ** juta rupiah (jumlahnya mungkin sekarang berubah seiring perubahan kurs dan pelunasan sebagian).

Sistem keluarga juga punya 2 sumber pendapatan : gaji (cash) dan utang. Sama dengan negara, cash ini yang dipakai untuk membayar utang. Cash akan dipakai memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bila tingkat konsumsi (lets say pertumbuhan ‘kemakmuran’) sudah tidak bisa dipenuhi lagi dengan cash, maka utang (kredit) menjadi solusi. 

Demikian pula dengan negara, saat sumber pendapatan negara sudah tidak bisa menutupi keperluan belanjanya, utang luar negeri (dan dalam negeri) menjadi pelarian. Siapa yang harus membayar utang pemerintah itu? Ya, siapa lagi kalau bukan kita dan anak kita dan cucu kita dan cicit kita dan anak-cicit kita. Saya, anda dan anak keturunan kita lah yang menanggung utang itu lewat pajak. Sampai kapan? Tergantung besarnya pajak dan kemampuan mencicil kita. Kalau ternyata saat jatuh tempo pemerintah gagal bayar, apa yang terjadi? Well, mungkin kita bisa belajar dari kasus Yunani di era Uni-Eropa (bukan jaman polis Athena, apalagi Hercules). 

Bila dalam level keluarga kita bisa melepaskan asset untuk membayar hutang, apa yang bisa dilakukan dalam level negara? Saya belum paham, apakah dengan menjual wilayah? Atau memberikan hak exploitasi selama sekian ratus tahun? Entahlah, sejarah akan menjawabnya sendiri.

Kali ini saya mengulang kembali konsep dasar ekonomi : income vs outcome. Outcome sendiri membengkak lebih kepada target, keinginan, bukan kebutuhan. Income juga bisa dibengkakkan dengan utang. Tapi merujuk ke tulisan saya sebelumnya, lebih baik menjadi seorang muzakki daripada debitur bertahun-tahun. 

Cerita soal uang, perdagangan, nilai tukar dan lain-lain akan dipelajari dan dituliskan dalam tempoh sesingkat-singkatnya. InsyaAllah. Dalam 4 tahun terakhir, rata-rata dari total negara di dunia menurun cadangan emasnya, tapi ada 3 negara yang naik cukup significant : Jerman (550%), China (196%) dan India (17%). Apakah 3 negara ini melihat tanda-tanda kerapuhan sistem ekonomi tanpa agunan mulai nampak dan mulai menyimpan uang sejati? Apakah ini ada hubungannya dengan kelesuan perdagangan dan industri Indonesia di semester pertama 2015 ini? Well, lagi-lagi waktu akan menjawabnya. Ekonomi bukan ilmu pasti sih hehe.


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 23 June 2015

[Catatan Keluarga] Suamiku, Apakah Rejeki Kita Barokah? (3)

Ramadhan menjadi bulan perhitungan. Hitung-hitungan amal, lebih rajin lagi agar dilipatgandakan. Hitung-hitungan untuk lebaran. Utamanya hitung-hitungan zakat juga. Biarpun biasanya sudah dilakukan di luar Ramadhan, target menjadi fitri setelah bulan suci, menjadikan diri lebih sensitif untuk mensucikan harta.

Tahun lalu saya berdiskusi cukup panjang dengan istri terkait zakat. Betul. Seiring dengan perkembangan ilmu fiqh, macam zakat bukan sekedar zakat fitrah dan zakat maal (harta) saja. Ada zakat profesi namanya. Pertimbangannya, bila petani saja dikenai beban zakat 10% untuk mensucikan pendapatannya, kenapa pekerja kantoran yang dapat gaji tiap bulan hanya bayar setahun sekali?

Kesimpulannya waktu itu, saya tidak keberatan mengeluarkan sejumlah harta. Tapi belum bisa menerima sebutan zakat untuk itu. Di sini titik masalahnya. Zakat itu wajib, sedangkan sedekah lain ‘hanya’ Sunnah saja level tertingginya. Poin saya seputar zakat adalah nisab dan waktu. Ada nilai tertentu yang dimiliki selama satu tahun. Pengeluarannya pun setelah dikurangi dengan beban rumah tangga dan hutang sehingga nilai tersisa yang diam selama satu tahun inilah yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Waktu itu, istri tetap mengeluarkan sejumlah nominal , tapi bagi saya itu bukan zakat, sesuai definisinya. Nisab untuk pendapatan sendiri ditetapkan oleh ahli fiqih modern, sesuai dengan mata uang masing-masing negara (?). pemikiran ini yang belum bisa saya terima. Apakah nisab zakat untuk orang yang tinggal dan bekerja di Jakarta akan sama dengan yang tinggal dan bekerja di Tangjungpura, misalnya. Nilai rupiah sekarang naik turun drastis, berbeda dengan emas yang lebih stabil, biarpun naik-turun juga.

Poin saya adalah perbedaan gaya hidup dan pola pikir yang demikian jauh. Orang yang tinggal di kota besar, bisa jadi menjadi penerima zakat karena pola hidupnya. Ada yang bilang namanya miskin perkotaan. Gaji 10 juta, tapi cicilan ini itu 9 juta. Nah loh. Kenyatannya, pola pikir kalau bisa dicicil kenapa beli tunai sudah menjadi kebiasaan. Hutang yang mulanya sesuatu yang sangat-sangat-sangat dihindari karena menyangkut harga diri dan beban ahli waris bila ditinggal mati, kini bukanlah sesatu yang ditakuti. Orang justru berebut memperoleh hutang untuk memuaskan konsumsi. 

Sistem pun mendukungnya. Ambil kasus masalah papan (rumah). Rumah mahal? Iya. Susah beli, akhirnya ambil KPR. Akadnya apa? Jual beli? Siapa yang jual dan siapa yang bayar. Di sini sudah cacat secara akad. Punya uang 30% dari nilai property sudah cukup!. Bahkan katanya Juni ini akan diturunkan lagi batas LTVnya hingga 10% doank. Nah loh, kalua si suami mati, gimana? Gampang! Pakai asuransi, cicilan langsung lunas begitu ada surat kematian, anak istri gak perlu kuatir. Semua senang. Apakah semua akan baik-baik saja dengan begitu?

Sistem ini akan tetap berlangsung karena ada yang memakai. Banyak lagi. Akhirnya, konsumsi yang dibangun atas dasar hutang akan memberikan data ekonomi yang salah sasaran. Konsumsi masyarakat tinggi bukan berarti kesejahteraan masyarakat sudah tinggi pula. Akan sulit dibedakan orang-orang yang Nampak kaya dengan yang benar-benar kaya. Terutama untuk kaum menengah. 

Siapa itu kaum menengah? Tergantung yang bikin definisi, katanya sih yang punya pendapatan 150 juta per tahun atau lebih. Kalau kata saya, kaum menengah itu, golongan yang mempunyai pilihan untuk mengalokasikan uangnya ke hal-hal yang dia suka. Apakah hal-hal itu akan membuatnya ‘nampak kaya’ atau akan membuatnya kaya (pada saatnya).Bila harta yang dipegang tak cukup, golongan menengah ini termasuk bank-able dan lebih mudah mendapat kucuran kredit.
Bila si golongan menengah ini memilih untuk memakai hartanya agar tampak kaya, pembelian barang-barang untuk mendukung gaya hidup (mewah)  statusnya yang bank-able akan mendorong pengajuan hutang ke bank. Semakin banyak orang seperti ini, makan banyak yang tidak naik kelas. terperangkap hutang konsumtif dan gagal menjadi golongan ekonomi atas. Biarpun tampaknya begitulah seleksi yang berlaku dalam piramida. Populasi yang ada di atas selelau lebih sedikit dibandingkan kelompok di bawahnya.Yang gagal mengelola hartanya bisa turun status, dari wajib mengeluarkan zakat menjadi berhak menerima zakat. 

Kalau hutang jangka panjang (10-20 tahun?) terus didekap, apakah mungkin nisab 85 gram emas itu tercapai sebelum hutang itu lunas? Saya termasuk yang pesimis...

Bagi saya pelajaran soal zakat ini adalah manajemen uang yang sangat apik. Pertama, menstimulasi untuk memutar kekayaan sehingga dengan perpindahan uang ke lebih banyak orang akan lebih meratakan kesejahteraan. Tidak terpusat pada simpul-simpul penguasa ekonomi tertentu saja. Jangan sampai ada uang yang diam saja tidak bermanfaat. Bahkan uang yang didiamkan saja akan tergerus nilainya. Kalau pas banget kena nisab, tahun-tahun berikutnya bisa jadi sudah tidak wajib dikeluarkan zakatnya karena sudah tidak mencapai nisab lagi. (apalagi kalau hartanya tersimpan dalam wujud rupiah dalam rekening bank).

Kedua, membiasakan untuk melakukan pembukuan harta yang rapi. karena zakat ini dihitung setiap tahun. Apakah perputaran aset kita menghasilkan harta diam selama satu tahun? Apakah aset-aset itu lebih banyak berputar memberi manfaat atau diam tergolek  setiap saat?

Bisa jadi sejumlah uang yang diam dalam satu tahun, mencapai nisab sehingga harus dikeluarkan zakatnya itu lebih barokah dbandingan bila dijadikan modal berhutang. Bila target yang ingin dimiliki belum bisa dibeli sehingga harus menambah 'tabungan' lagi,  tahun berikutnya simpanan harta tak bergerak itu kena nisab dan harus dikeluarkan lagi zakatnya... dan tahun berkitnya, dan tahun depannya lagi, sampai cukup untuk transaksi jual beli. 

Bisa jadi...nominal zakat yang dikeluarkan lebih kecil dari beban riba yang dipakaikan sekaligus membuat rejeki lebih barokah. Eefeknya? kalau menurut perhitungan suatu barang yang ingin dimilki baru bisa menjadi kenyataan 10 tahun lagi, mungkin saja bisa terjadi lebih cepat, 3 atau 4 tahun saja, misalnya. Sedikit bersabar dengan mempertahankan gelar wajib zakat terdengar lebih keren. :-)   *dalam kasus golongan menengah yang ingin beli rumah dengan bantuan pihak ke-3, DPnya saja sudah kena nisab, bukan yak? *

Seputar Hutang :“Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berhutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya hutang adalah kehinaan di siang hari kesengsaraan di malam hari, tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah-tengah manusia selama kalian hidup.” Lihat kitab Umar bin Abdul Aziz Ma’alim Al Ishlah wa At Tajdid, 2/71, karya DR. Ali Muhammad Ash Shallabi (Asy Syamela).
Well, semoga rejeki yang barokah itu bisa tercapai dengan bebas hutang dan menjadi wajib zakat maal. (bukan wajib pajak, hiks hiks...) [Update] Kebijakan keluarga tahun 2015 : zakat penghasilan tahunan dikeluarkan sesuai kriteria (tentunya setelah dikurangi beban/tanggungan reguler rerata bulanan, sehingga gampang itungannya :-))






ReAD MoRE・・・

Saturday, 2 May 2015

[CATATAN KELUARGA] Suamiku, Apakah rejeki Kita Barokah? (2)

Melanjutkan posting sebelumnya seputar keuangan keluarga. Well, kali ini untuk melakukan evaluasi untuk caturwulan pertama di 2015. Temanya tentang portofolio keluarga. #Sebelumnya : ini

Istri saya yang lebih ahli seputar portofolio karena menjadi bagian penelitiannya semasa kuliah. Jadi urusan pembelanjaan pengelolaan keuangan keluarga sedikit banyak mendapat tidakpersetujuan dari istri, haha. Saya cenderung untuk mengambil resiko besar sehingga pilihan investasi ini itu beserta difersifikasinya ingin segera dilakukan. Istri saya, sebaliknya. Manajemen resiko menjadi isu yang cukup lama digelutinya sehingga pertimbangannya panjang dan cenderung berhati-hati. Tapi saya akui, masukan dan tidakpersetujuan istri cukup mujarab pada kebanyakan kasus. Ada sisi-sisi resiko yang terkadang luput dari pandangan saya.

***

Punya Rumah bagi orang Indonesia adalah isu paling besar berdasarkan survei yang dilakukan lewat mesin pencari google.ini.  Sementara itu berdasarkan hasil survei ini, berikut adalah hal yang paling banyak dicari oleh penduduk suatu negeri :
Malaysia   : Mobil dan tato
Singapura  : Pembantu rumah tangga
Thailand    : PSK
Filipina      : Pensiun
Korea         : Operasi Plastik (hidung)
Jepang     : Semangka (well, mulai 1 Mei diterapkan coolbiz, pakaian kerja tanpa dasi, lengan pendek, jelang musim panas. Semangka biasanya menjadi buah penyegar di musim ini)

Rumah juga menjadi kata kunci yang paling banyak dimasukkan ke mesin pencari di negara lain seperti Oman dan Guatemala. Penduduk Indonesia tidak sendirian :-)
*** 

Baiklah. Selama 3 tahun pernikahan, kami telah melakukan diversifikasi pengelolaan harta. Ada yang kami simpan dalam bentuk emas, ada pula sekuritas, sebagian deposito jangka pendek, mata uang asing. 

Terhitung April 2015 ada sertifikat tanah & bangunan serta BPKB kendaraan Alhamdulillah tercatat atas nama saya. Tanah dan bangunan itu tidak kami tempati sementara ini, tapi diutilisasi dengan baik untuk keperluan pendidikan dan ketahanan keluarga. Tsaah.

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang mencari rumah (sebagai tempat tinggal), saya pun bukan pengecualian. Harga rumah yang melangit dan jebakan riba kredit selalu menguntit. Kami sepakat untuk tidak terlibat lebih jauh. Beli rumah tanpa riba atau tempati saja rumah orang lain dengan menyewa. 

Saat ini anggota keluarga kami baru 2 orang dewasa dan 1 bayi. Rumah dengan bangunan seluas 50 meter persegi masih mencukupi untuk ditinggali. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, secara pribadi saya berpendapat kalau ruang gerak per orang adalah sekitar 20m2. Dengan demikian bila anggota keluarga saya nanti bertambah, luas tempat tinggal juga harus ditambah agar tidak terasa crowded. Kalau anak-anak kelak sudah mandiri dan punya keluarga sendiri, maka rumah tinggal saya pun luasnya harus dikurangi, agar tidak capek mengurusnya.

Dalam perhitungan saya, rumah luas diperlukan saat usia pasutri 25-45 tahun. Anak-anak dilahirkan dan secara umum masih tinggal dengan orang tuanya. Pengeluaran keluarga paling tinggi dimulai sekitar kepala 4, karena anak sulung akan terjun ke bangku kuliah. Biayanya? sekarang aja sudah puluhan (ratusan?) juta kalau bayar sendiri tanpa beasiswa. Setelah 50 tahun pengeluaran lebih besar untuk kesehatan...

Sementara itu kebanyakan orang Indonesia berumur 25-45 tahun belum berkemampuan membeli rumah. Beda kalau mencicil :-) Untuk kondisi sekarang ini rumah dengan luas sekitar 100m2 (bangunannya) di Jakarta dan sekitarnya tersedia dengan harga di atas 1M. Dengan gaji rata-rata sekitar 200 juta pertahun saja, secara hitungan matematis keluarga tersebut belum mampu membeli rumah. 

Bila setelah menikah dan dalam 5 tahun ingin membeli rumah pantas, maka pendapatan keluarga per bulan minimal 40 juta rupiah dan menabung 15 juta per bulan. Hal ini pernah dinyatakan oleh gubernur DKI : kalau mau beli rumah di Jakarta, gaji minimal 40 juta. tohohoho.

Idealnya begitu. Umur 25, pendapatan 40 juta per bulan, menikah, saat umur 30 sudah punya rumah sendiri. Tapi tapi tapi, saya kira sangat sedikit orang yang memiliki kriteria tersebut. Pilihan lainnya adalah menyediakan tempat tinggal yang pantas untuk keluarga. Misalnya, menyewa rumah seluas 1000 m2 saat ortu berusia 35 tahun dan anak-anak perlu ruang eksplorasi yang luas. Masa kecil mereka tentunya puas dengan menikmati fasilitas tempat tinggal yang ada dibandingkan memaksaan mencicil rumah seluas 45m2.

Lah terus kapan punya rumah sendiri? Ya, kalau sudah punya cukup uang. Karir lelaki biasanya berada di puncaknya sekitar usia 50 tahun. Anak-anak mungkin sudah mulai mandiri, jadi tak perlu rumah luas lagi di kota. Eh, udah 'tua' doank. Yah gak papa donk. Anak-anak sudah bisa menikmati rumah luas dan kenangan yang membuat hati puas. Orang tua akhirnya bisa menikmati 'hidupnya' atau menyerahkan sebagian hartanya untuk mendukung anak-anaknya memiliki properti produktif. :-)  
Jadi, fokusnya adalah menyediakan tempat tinggal yang nyaman buat anak-anak yang mendukung tumbuh kembang dan pendidikan mereka. Standarnya? uhm, diserahkan ke pandangan masing-masing orang tua. 

Weits, properti menjadi salah satu portofolio (aset?) fisik keluarga. Namun selain bangunan fisik, rejeki yang dianugerahkan Allah sudah sewajarnya dipergunakan untuk mengembangkan portofolio yang lain: kualitas diri. 

Portofolio adalah satu set keahlian yang bisa diberdayakan untuk menyelesaikan masalah. Isinya berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman yang bisa menjadi bekal bagi seseorang untuk menjalankan sebuah pekerjaan/peran. Namun suatu pengalaman/keterampilan belum tentu menjadi portofolio. Misalkan kemampuan bahasa Jepang saya tidak akan banyak bermanfaat bila saya bekerja sebagai karyawan BUMN dan tidak ada bisnis dengan Jepang. Akan lebih baik saya menjadi interpreter freelance :-P

Dalam konteks kualitas diri dan keluarga pengetahuan itu berupa pemahaman yang baik terhadap ajaran islam termasuk hafalan Quran, keterampilan untuk menjalankan perintah agama (misalnya menyembelih binatang, mengajari anak-anak, muamalah, mengelola harta, berkuda, berenang, dll), Pengalaman saat mempergunakan keterampilan yang ada, belajar dari kesalahan atau menganalogikan pengalaman di masa lalu untuk mencari solusi di kondisi sekarang dan akan datang. 

Terkait portofolio ini banyak sekali yang harus dipersiapkan. 
1. Kemampuan bahasa (kami mengharapkan anak-anak kami setidaknya fasih 4 bahasa) 
2. Peta masa depan (memiliki gambaran apa yang dilakukan di masa depan, apa yang diinginkan, usia berapa dicapai, punya rencana apa-apa yang harus dipersiapkan).
3. Cita rasa hidup : tidak sekedar menjalani, Percaya diri, punya mimpi dan kemampuan melisankankan pendapat secara gamblang. Prinsipnya : izzah (kemuliaan, kehormatan) dan peningkatan imtaq. Dua prinsip ini yang menjadi dasar bertindak.
4. Pertemanan : berusaha dikelilingi orang-orang sholih biar ikutan sholih, dikelilingi orang-orang yang bisa memperbaiki & menjaga diri agar input informasi yang masuk lebih berkualitas.

Saat membuat peta masa depan, kita akan melihat ada level-level yang perlu diraih. Untuk menggapainya kita perlu melihat kualifikasi seperti apa untuk bisa menempati level tersebut. Dengan adanya kualifikasi yang jelas, kita akan fokus untuk memenuhinya.

Saat usia saya 40 tahun nanti, portofolio seperti apa yang harus saya miliki sebagai kepala keluarga? portofolio seperti apa yang perlu dibangun untuk menjadi, err... presiden direktur, misalnya. Portofolio apa yang diperlukan istri dan anak-anak saya nanti agar bisa survive dimanapun di dunia dan di akhirat nanti? Wew...

Semoga Allah melimpahi kami dengan rejeki yang barokah sehingga keluarga kecil kami yang membelanjakannya bisa memiliki portofolio yang pantas untuk hidup mulia di dunia dan selamat di akhirat. Semoga Allah melindungi kami dari menjadi pengembara  tanpa makna saat bekerja di dunia. 


ReAD MoRE・・・

Sunday, 26 April 2015

[Catatan Keluarga] Potret Meja Makan Kita

Saya terlibat obrolan ringan dengan bos di kantor seputar perkembangan Indonesia. Posisi Indonesia sepertinya melewatkan tahapan sebagai negeri agraris. Belum sempat mencapai kemandirian pangan, kini potret negera industri menjadi target. 

Bila para petani berubah profesi menjadi buruh pabrik, siapa yang akan menyediakan pangan di atas meja makan kita? Para petani-nelayan-peternak di luar negeri? wew, mereka baik sekali....

Saya berpikir potret meja makan sebuah keluarga menjadi cerminan pola yang ada di suatu negara. Itulah gaya hidup rakyatnya. Seberapa banyak produk lokal yang tersaji di sana? Meja makan ini bisa berada di dalam rumah, di warung ataupun restoran. Meja tempat makan, dimana pun lokasinya.

Saat saya masih numpang hidup di Jepang, setiap berbelanja terpampang lokasi suatu produk dihasilkan. Misalkan Apel dari Nagano, Sawi dari Ibaraki, brokoli dari Amrika (impor), jeruk dari Ehime, dsb. Beberapa produk sayuran juga dilengkapi dengan foto petani penghasilnya untuk memastikan keamanan dan ketelusuruan. Bila ingin tahu darimana produknya berasal, bisa juga bertanya ke penjual.

Hal yang cukup berbeda saat berbelanja di negeri ini. Terkadang penjual pun tidak tahu darimana barang dagangannya berasal. 
"Dari pasar induk, Mas" 
Baiklah. Dari jawaban ini ada 2 poin. 
1. Penjual hanya fokus pada barang dagangan, bukan produsennya. 
2. Produsen belum memiliki akses untuk diakui sampai tangan konsumen.

Petani produsen perlu lahan yang luas di pedesaan. Sebagian besar profesi tani adalah buruh yang mengerjakan lahan luas milik tuan tanah. Dari Jaman kumpeni (Baca : company) Belanda (VOC) sampai jaman kumpeni Endonesiah moederen tidak banyak berubah. Mungkin perkapita petani Indoensia tidak memiliki lahan hingga 100 hektar untuk menghasilkan produk tanaman yang bisa mensejahterakan diri dan keluarganya. 


Beberapa hutan juga berubah fungsi menjadi lahan sawit sehingga tidak mungkin dilakukan proses pertanian di sekitarnya. Hama pertanian, tikus, tidak doyan makan kelapa sawit. Mereka masih memepertahankan selera terhadap padi dan umbi-umbian. Petani harus bersaing dengan tikus untuk mendapat sumber karbohidrat. Akhirnya profesi petani harus ditinggalkan bersama lengan-lengan perkasa dan ketekunan mengelola tanah. Buruh perkebunan menjadi pelarian menyambung hidup.

Petani bisa makmur? Bisa tapi dia nampaknya harus menguasai lahan setidaknya 100 hektar per kapita dan memiliki sistem pertanian yang sudah modern. Tidak tergantung pada pupuk kimia yang bahan bakunya masih impor. Punya jalur distribusi ke konsumen tanpa 'pertolongan' tengkulak. 

Sudah sekitar empat tahun saya kembali menjejak bumi Indonesia tapi masih belum paham kenapa harga buah-buahan di negeri ini mahal sekali. Untuk produk impor bahkan lebih mahal dari harga di Jepang. Padahal buah lokal sangat beragam, tapi tidak bisa menembus tempat perbelanjaan moderen sedalam penembusan buah impor. 

Buah-buahan lokal yang 20 tahun lalu jadi cemilan saya seperti duwet (anggur jawa), buah mentega (apel beludru) sulit sekali ditemukan. Punah? Kebun buah berubah wajah menjadi kebun beton? Entahlah.

***

Sebisa mungkin keluarga kami ingin berkontribusi terhadap negeri ini.
1. Belanja di toko milik lokal yang pemiliknya kelihatan, atau dikenal.
2. Memprioritaskan konsumsi produk negeri sendiri. Sayur dan buah sebisa mungkin yg didatangkan dari sekitar tempat tinggal. Memilih protein dengan prioritas ikan-ayam (kampung)-daging (non-impor). Walau sebenarnya ada rasa was-was dg asal ikan tsb. Lautnya tidak tercemar bahan berbahaya khan yak... (kalau di pasar tradisional bisa tanya ke penjual ttg darimana ikan itu berasal).
3. Memberdayakan pedagang kecil (misal : tukang sayur yang narik gerobak dg tenaga manusia ; kakek yang masih teguh jualan buah), kalau semua orang memenuhi kebutuhannya dengan mendorong kereta belanja saja, bagaimana nasib pedagang kecil ini?
4. Kalau makan di luar : Memastikan kehalalan, sebisa mungkin menu yg bahannya banyak kandungan lokalnya.

Alhamdulillah tetangga sebelah rumah kami menyediakan berbagai bahan kebutuhan sehari-hari. Beras yang didatangkan langsung dari penggilingan padi, gas LPG serta air mineral galon yang 2 tahun lalu bahkan belum dijadikannya komoditi. Belanja jadi mudah (iklan? haha), tinggal mengetok pintu, bahkan sebelum jam 6 pagi.

Negeri ini subur dan kaya sumber protein. Seharusnya bila petani berdaya dan nelayan perkasa, nasi dan ikan bisa menjadi makanan yang membudaya. Tidak perlu impor sapi atau ayam-ayam berumur 40 hari jadi penghias meja makan kita sehari-hari.

Sayuran dan buah murah, protein hewani tercukupi, asupan gizi menjangkau seluruh generasi. Perut kenyang dari kontribusi bumi dan air, tahapan industri melaju dengan dukungan pondasi kokoh. Tinggal dilengkapi budaya jujur anti korupsi, pewaris negeri ini akan berjaya dengan kehalian dan daya juang tinggi, berdikari dengan sumber daya sendiri. Bilakah terjadi? Jika kebangkitan islam bisa dilihat dari indikasi ramainya jamaah Subuh setara sholat Jumat, mungkin kebangkitan negeri ini bisa terindikasi dari 'hiasan'meja makan penduduknya.


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 15 April 2015

[Catatan Keluarga] Tentang Dholim, level keluarga hingga skala negara

Pagi itu matahari sudah tinggi. Saya sedang bersiap berangkat mencari nafkah. Sekelebat pikiran membuncah. "Ayah ingin mengajarkan tentang dzalim kepada si kecil."
"Oh, langsung saja dengan contoh" istri saya hanya menjawab singkat karena meilhat saya sudah siap dengan peralatan tempur : tas kerja yang sudah terpanggul dan helm yang telah terpasang di kepala. Baiklah, diskusi tentang mendidik si kecil seputar dholim dilanjutkan nanti saja. 

Memasuki usia 20 bulan, si kecil mulai dibiasakan dengan kata "bertanggung jawab". Setelah memulai suatu perbuatan, harus diakhiri dengan membereskannya. Awalnya cukup kaget, karena si bayi 20 bulan sudah terlihat paham. Ambil sendiri susu UHT di kardus, membuka sedotan, menancapkan ke kotak susu, meminumnya  sampai habis, lalu membuang kotak susu yang sudah kosong ke tempat sampah.

Saat hendak tidur dan diarahkan masuk kamar, si kecil dengan sigap memasukkan mainannya -kebanyakan lego- yang berserakan ke wadahnya, meletakkan balok-balok mainan ke tempatnya dan menaruhnya dipinggir ruangan agak tidak terinjak, meminta mematikan lampu ruang keluarga, lalu menggandeng saya ke dalam kamar. 

Saya pikir, menanamkan pemahaman tentang dholim sudah bisa dimulai. Lukmanul Hakim pun menasihati anaknya (yang kemungkinan sudah sempurna akalnya) tentang tauhid, jangan menyekutukan Allah karena termasuk perbuatan dholim yang besar. Tentu saja. Dzalim secara harfiah berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melampaui batas. Menjadikan hal/benda sebagai sesuai yang disembah, selain sang Maha Pencipta, sangat masuk kategori dzalim. 

Untuk level si kecil, saya pikir bisa diawali dengan meletakkan barang-barang sesuai tempatnya. Dan kata ini erat dengan kata "bertanggung jawab" yang saat ini sudah mulai menjadi kebiasaannya. Dua hal pertama yang ingin dibiasakan buat si kecil yang lembut hatinya adalah : 
1. Tidak memakai sepatu di dalam rumah. 
2. Buang Air di toilet.

Mengapa tiba-tiba saya ingin mengenalkan dzalim kepada buah hati yang belum juga genap berumur 2 tahun? Akhir-akhir ini saya terusik dengan isu hangat yang sedang beredar di masyarakat. Saya pikir kondisi dzalim sudah terjadi pada level pimpinan negara hingga rakyat kecil. Dzalim berjamaah. 

Saya rasa mengenalkan kata dzalim dan implementasinya sangat penting agar buah hati saya dan adik-adiknya kelak tidak termasuk ke dalam golongan orang yang dzalim dalam level apapun. Loh? Memangnya penting? Kata saya : Sangat Penting. 

Hukuman buat orang dzalim tersurat dalam Al Quran (Al A'raf : 165) : siksa yang keras karena orang dzalim itu berbuat fasik. Waduh, jangan sampai anak keturunan kami mendapat siksa karena berbuat dzalim.

Kenyataannya ada pemimpin/bangsa yang berbuat dzalim tapi mereka masih baik-baik saja. Kenapa? Well, ada 3 kemungkinannya. 
1. Dibiarkan oleh Allah. Contohnya Fir'aun. Dia tidak langsung diazab, tapi dibiarkan dulu bersenang-senang di dunia. Artinya, belum datang saja giliran buat bangsa/pemimpin yang dzalim itu. 
2. Orang yang dizalimi  juga mendzalimi orang lain. Terjadi kedzaliman berjamah disemua level masyarakat. Tanpa diazab pun bangsa seperti itu kan hancur dengan sendirinya. (iya gak sih?)
3. Karena ada kebaikan dari orang dzalim itu di masa depan (setelah bertaubat). Contohnya : Umar bin Khattab tidak langsung 'dihilangkan dari sejarah' saat beliau masih kafir. Atau, Khalid bin walid :-)

Berbuat dzalim juga menjadi salah satu pintu dipercepatnya azab/hukuman di muka bumi,selain memutuskan silaturahim (HR Abu Daud) Apakah kedzaliman sudah terjadi di negeri ini? Beberapa rekaman kejadian yang tercatat dalam memori saya :
1. Pungutan terhadap rakyat dinaikkan, santunan dihilangkan, sumbangan untuk pejabat ditambahkan. Sudah banyak beritanya. Setelah pemotongan paksa iuran pensiun, kesehatan (yang bagi sebagian orang tidak termanfaatkan), pajak pemandangan(utk apartemen?) juga diwacanakan. Pajak mulai dipungut dalam tingkatan yang membuat... gagal paham.
2. Pemimpin lebih dari 200 juta orang tidak bisa berbicara di forum nasional. Tempatnya menjadi pendengar yang baik, penuang minum yang sopan.
3. Miras dibela untuk menjamin kepastian berusaha?
4. Pengedar narkoba dari negeri tetangga diperlakukan berbeda dengan napi WNI? Kenapa tidak segera dieksekusi saja?!
5. Pungli  dan setoran tak resmi di jalan raya terjadi seperti biasa.
6. Begal bangkit dari tidur di Jabodetabek dan wilayah lainnya. Keluar rumah tidak lagi nyaman.
 
7. Pengemis masa kini : mengesot dalam gelap di jalan raya, mengundang empati karena bahaya.
8. Korupsi yang menggurita : menyelewengkan peruntukan dana rakyat.... ini jelas dzalim.
Mungkin ada fakta-fakta lapangan lain yang terlepas dari pengamatan saya, tapi kedzaliman yang terjadi saat ini sangat-sangat-sangat membuat tidak nyaman. Terjadi begitu dekat dan nyata. Saya tidak bisa berbuat banyak dan kerja-kerja-kerja saja. Kewenangan saya mungkin sebatas level keluarga. Oleh karena itu, setidaknya saat anak-anak saya dewasa nanti, mereka tidak berbuat dzalim dan terbebas dari lingkungan yang dzalim. Sulit mengubah suatu generasi yang pola pikirnya berbuat dzalim adalah budaya biasa saja. Harus dimulai dari sebuah generasi baru yang tajam pikirnya, kuat prinsipnya, trengginas gerakannya.

Reward untuk istri tercinta yang selalu kritis dan terbuka pikirannya terhadap perubahan sambil memperkokoh benteng kami, setiap hari mendidik si buah hati. Pendidikan anti-dzalim dalam keluarga dimulai dari pemimpinnya. Iya, taruh barang pada tempatnya, jangan berbuat berlebihan hingga melampaui batas, gunakan sesuatu sesuai peruntukannya. Kedengarannya tidak sulit dilakukan? Well, ayo segera diimplementasikan. :-)  *Semoga saya tidak menjadi kontributor kedzaliman di negeri ini, kaca, mana kaca...*




ReAD MoRE・・・