Sunday, 11 May 2008

Ikrar Suci di Bulan Mei

Mahkota sakura gugur sudah
Nyanyian musim berganti, pula rentang bertenggernya mentari
Pun hari ini keduanya menyapa ramah
Senada cahaya pagi yang merekah
Seiring kicau burung mengiring langkah
Selaras tasbih dan tahmid yang bergairah
Serasi goyangan tangkai doa yang menggandeng berkah


Hari ini saya turut menjadi saksi :
Sebuah Ikrar suci di bulan Mei

*+*+*+*+*+*



Sejak pagi senyum seolah tak mau wajah ini. Semalam saya sedikit menggigil, suhu udara bulan Mei yang merangkak naik tiba-tiba turun kembali. Langit pun muram, menumpahkan garis-garis air yang berlomba jatuh ke bumi. Namun hari ini beda. Tak ada lagi guyuran air, tak ada mendung kelabu yang bergelayut, tak ada payung-payung bermekaran di jalanan. Hari ini begitu cerah, matahari bersinar dengan lembut tanpa menyengat.



Saudara saya menikah. Seorang saudara, meski tak ada hubungan darah. Dia berani mengucapkan ikrar sakral yang juga disebut Mitsakon ghalidza, perjanjian yang berat. Perjanjian dengan Allah, yang saya lihat, yang kami dengarkan, dan insyaAllah disaksikan pula oleh para malaikat. Kali ini saya mendapat kesempatan menjadi MC, belajar berbicara di depan khalayak sambil menambah wawasan. -huhu, maklumlah jomblo-



Acara pernikahan di Jepang menurut saya mudah, praktis, tidak harus mengikuti adat (karena tidak ada yang menguasai tatacara adat?), tidak bertele-tela dan padat. Satu lagi, kentalnya ukhuwah sangat terasa. Saudara-saudara seiman saling sokong, saling bantu. Ada yang membawakan kue, cemilan, bunga, poster, dan berbagai persiapan lainnya. Tak ada orang tua atau keluarga asli kedua mempelai, hanya kamilah keluarga mereka di negeri ini. Untuk itulah saling membantu sudah menjadi kewajiban. Dan prosesi pernikahan kali ini tetap khidmat dan indah dalam kesederhanaan.

Tak percaya dengan susunan acara yang mudah dan padat? Berikut urutannya :

1. Pembukaan oleh MC (Puji syukur, sholawat, kata-kata pembuka)
2. Pembacaan ayat suci Al Quran (Q.S. AnNisa 22-23)
3. Sambutan wakil keluarga
4. Nasihat pernikahan
5. Ijab Qabul
6. Doa
7. Walimatul Usr : Sebelumnya, mempelai laki-laki berdiri di depan deretan uandangan pria, menerima ucapan selamat. Mempelai wanita juga sama, tapi di depan undangan wanita. Setelah itu, undangan dipersilakan mengambil hidangan, bersantap, lalu pulang.
8. Foto bersama, setelah undangan pulang.

Tuh khan? Mulut saya tidak perlu berbusa untuk memandu acara. Tak ada kata-kata untuk menyambut mempelai memasuki ruangan, karena acara dimulai setelah kedua mempelai berada dalam ruangan. Tak ada kalimat untuk mengatur urutan orang yang mau berfoto, karena kedua mempelai baru foto bersama setelah para tamu pulang. Tapi kaum hawa tentu saja boleh mengambil gambar bareng mempelai wanita, dan kaum adam pun bebas berfoto dengan pria hari ini. 0^_^0

Ada satu saat yang begitu berkesan. Acara inti hari ini, ijab qabul, pernyataan janji dihadapan Allah.

Kata-kata yang mampu meruntuhkan mahligai hati terucap. "Saya terima nikahnya.... ". Dilafalkan dengan begitu mantap. Diperdengarkan secara online kepada keluarga di Indonesia, diperdengarkan kepada hadirin dan dunia! Sebuah ikrar yang berat dengan tanggung jawab mulai dikeluarkan dari lisan hingga habis sisa umur. Disusul kata-kata "Sah!" , diikuti doa "barokallahu laka wa baroka `alayka wa jama`a baynakuma fi khayr" , disusul lantunan tahmid. Lalu cahaya blitz berlompatan dari kamera layaknya saat artis menggelar jumpa pers. Lalu saya melihat airmata haru. Lalu saya menyaksikan senyuman terindah. Lalu saya tahu dari pria hari ini, dia merasa di awang-awang saat mengucapkannya. Tapi dia bisa melantunkannya sekali. Hanya sekali. Ikrar itu tidak diulang hingga dua kali . Yah, mungkin bukan pikiran, tapi kekuatan niat dan hati yang berperan. Allah telah mencurahkan secercah karunianya hari ini melalui cuaca, dan semoga karunianya senantiasa tercurah pada mempelai berdua terhitung sejak siang sebelas Mei.

Setengah jam sebelum sewa gedung ruangan berakhir, panitia membereskan tempat, mengelap meja, menata kursi seperti sedia kala. Acara pun berakhir sekitar 3 jam setelah saya buka.

Selamat untuk Beny Herlambang dan Tita Tirawati!

Mungkin mulai sekarang akan lebih berat. Akan banyak bermunculan sesuatu yang baru. Butuh perencanaan dan adaptasi. Rencanakanlah dengan baik, karena gagal merencanakan artinya merencanakan gagal. Harapan mulai mengangkasa, kemudi sudah berada dalam genggaman. Siapkan diri, kejar harapan, raih keberkahan. Gapai mimpi-mimpi yang beterbangan!

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah dan memberi rasa aman bagi umat.
(Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib)


ReAD MoRE・・・

Saturday, 10 May 2008

Kenapa ke Jepang?

Sebentar lagi musim kelulusan anak SMA setelah melewati rangkaian UN yang menuai kontraversi. Jangan sampai pelajar yang hanya jadi korban peraturan terpaksa mengorbankan masa depannya karena terjegal kata lulus. Saya juga berharap agar kelulusan tidak diidentikkan dengan hura-hura dan pelampiasan emosi kekanakan yang terpendam. Ya, kelulusan adalah bukanlah puncak, dia tak lebih dari sebuah awal baru.

Kali ini saya mendapat tugas menulis (lagi) sebuah artikel yang bisa memotivasi supaya anak-anak lulusan SMA mau ke Jepang. Hmm... memotivasi... Saya pikir dari sekian juta lulusan SMA tahun ini insyaAllah bakal banyak yang termotivasi untuk mau mengikuti jejak saya -halah- begitu tahu jalur mana saja yang bisa ditempuh untuk kuliah gratis di negeri Sakura. Tapi berhubung informasi jalur itu bukan menjadi bagian saya, silakan cari info lengkapnya ke Konsulat Jenderal atau Kedubes Jepang di Indonesia. Usaha pun perlu modal euy, kagak ada yang namanya enak-enakan dapet rejeki. Huehehehe...

Oke lah, saya tuliskan sebuah taut ke situs yang pernah saya urus. Ada info beasiswa di situ. Balik lagi ke niatan awal posting kali ini, berikut tulisan mentah yang rencananya bakalan dimuat di buletin hikari tahun ini. Mungkin masih perlu diedit di sana-sini.




Kenapa Kuliah ke Jepang


Saya sering bertemu dengan pertanyaan ini. Kadang ia muncul dari mulut rekan saya di kampus, terkadang dia keluar saat makan malam bersama host family, tak jarang pula dosen saya menyuarakan pertanyaan serupa. Itu wajar. Wajar sekali. Sebab pertanyaan ini juga muncul dari diri saya sendiri. Pertanyaan berlanjut dengan hal apa yang paling saya syukuri dengan keberadaan saya di Jepang. Tuntutan untuk menjawabnya membuat saya meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan kilatan pikiran, kilasan kenangan, dan kristal-kristal harapan.

Saya memilih kuliah di Jepang dengan meninggalkan kampus yang sudah saya pergunakan untuk menuntut ilmu selama satu semester di Indonesia. Rekan lain yang namanya sempat tercantum dalam daftar mahasiswa PTN favorit pun banyak yang mengambil pilihan yang sama dengan saya. Mungkin latar belakang, alasan, dan motivasi yang kami miliki tidaklah persis sama, namun saya merasa bahwa kami punya mimpi yang tak jauh berbeda. Mimpi menuju pintu kemandirian. Dan ini adalah salah satu alasan saya untuk kuliah di Negeri Sakura. Kuliah tanpa membebani orang tua sambil mengasah pribadi dengan bertualang di negeri asing.

Tapi alasan itu belum cukup kuat. Selain Jepang banyak negara lain yang menyediakan beasiswa untuk lulusan SMA di Indonesia. Kenapa harus Jepang? Sebenarnya Jepang hanyalah satu dari sekian pilihan, namun menurut saya ada beberapa alasan yang patut dijadikan bahan pertimbangan.

Pertama, Kementrian Pendidikan Jepang menyediakan beasiswa yang besar dengan membuka peluang perpanjangan beasiswa hingga program doktoral tanpa ikatan.

Kedua, tersedia banyak beasiswa swasta dan peluang kerja sambilan, plus kemungkinan keringanan biaya kuliah.

Ketiga, Jepang memiliki Perguruan Tinggi yang tercatat sebagai universitas terbaik di Asia Pasifik, membuka kesempatan belajar bersama orang-orang yang dikatakan pintar dari negara-negara di Asia Pasifik, Afrika, Eropa, Amerika, dari seluruh penjuru dunia.

Keempat, Jepang termasuk negara maju berteknologi tinggi, anak kampung macam saya akan berbinar-binar dengan berbagai produk hightech yang dengan lebih mudah didapatkan di sini. Ya, teknologi menunjang kenyamanan dan kemudahan bagi manusia, di Jepang, dua hal ini pun bukanlah jauh dalam angan.

Masih belum cukup? Saya punya segudang alasan lain sesuai dengan ketertarikan saya dengan Jepang, namun hal ini akan menjadi kalimat bernada subyektif. Misalnya, budaya, karakter orang Jepang, anime, game, atau barang elektronik. Tiap orang punya ketertarikan yang tak selalu sama hingga saya pikir belum ada tingkat kepentingan untuk dibahas lebih jauh. Untuk itu jawaban pertanyaan pertama saya cukupkan.

Kembali ke pertanyaan kedua, hal apa yang paling saya syukuri dengan kuliah di negeri matahari terbit ini. Apakah empat alasan di atas? Tentu saja saya bersykur dengan perolehan peluang di atas, namun saya rasa bukan itu hal yang paling saya syukuri.

Semenjak menginjakkan kaki di negeri ini, saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter dan kepribadian. Saya bergaul dengan orang Jepang, muslim dari negara lain, mahasiswa asing dari negara dunia ke-3, dan tentu saja sesama perantauan dari Indonesia. Wacana tentang keislaman, mulai kehalalan makanan, adab bergaul, hingga hukum-hukum yang belum pernah terpikirkan lebih dalam mulai tergali di negeri ini. Saya juga berkesempatan untuk memiliki status yang sama, sebagai mahasiswa asing, dengan dosen universitas-universitas terbaik di Indonesia juga ilmuan dari berbagai balai penelitian milik pemerintah.

Pada era informasi seperti sekarang ini wawasan dapat diperoleh dengan mudah. Kita bisa mengakses materi kuliah Perguruan Tinggi di luar negeri via internet dan bisa mempelajarinya asal ada niat. Seorang guru SMA saya mengatakan bahwa ilmu bisa dituntut di mana pun, belajar kedokteran bisa di UI, UGM, Unair, di fakultas kedokteran Universitas mana pun, namun hal penting sewaktu kuliah adalah memahami, adaptasi dan menyeleksi pola pikir yang beredar di sekitar. Pada kasus ini, outputnya sama-sama dokter, namun pola pikirnya akan beragam, hal yang menjadi prioritas akan berlainan.

Salah satu kelebihan yang saya peroleh adalah kesempatan menuntut ilmu dan mengenal berbagai cara berpikir dari orang-orang yang saya temui di sini. Setidaknya adalah dosen pembimbing saya, selebihnya adalah senior, dosen, peneliti yang tersaring untuk memperdalam ilmunya di negeri ini. Di sini, saya bisa berdiskusi langsung dalam obrolan ringan. Saya pikir inilah hal yang paling saya syukuri, kesempatan untuk memperluas wawasan dan cara pandang, tukar pikiran dengan orang-orang yang menurut saya hebat yang sulit dikumpulkan di Indonesia, juga hidup sosial secara internasional.

Kali ini saya menukil hadits berikut :

“Gunakanlah 5 perkara sebelum datang 5 perkara:1. masa mudamu sebelum tua, 2. masa sehatmu sebelum sakit, 3. masa lapangmu sebelum sibuk, 4. masa beradamu (kaya) sebelum jatuh miskin dan 5. masa hidupmu sebelum mati.”(Hadith Riwayat Muslim dan Tirmizi dari Amru bin Maimun r.a.)

Hadis Nabi tentang “lima perkara sebelum lima perkara” itu maksudnya adalah supaya kita mempergunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, sebelum hilangnya kesempatan tersebut. Saya pikir muara dari mempergunakan kesempatan dengan baik adalah menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Selama berada di Jepang saya merasa mampu melakukan hal-hal yang belum pernah terbayangkan saat di Indonesia. Orang sering mengatakan bahwa Jepang adalah negeri kaum kafir tapi di sini saya menjumpai banyak majelis yang menjadi sarana pemelihara iman dan takwa. Di sini saya menjumpai orang-orang yang bersemangat mendirikan rumah Allah, muslim dan muslimah Jepang yang teguh belajar islam, juga saudara seiman yang kerap mengingatkan jati diri sebagai hamba Allah.

Ladang dakwah masih terlalu luas yang belum tergarap. Belum ada sertifikasi halal yang menjamin kenyamanan muslim di negeri sakura untuk bersantap. Kelebihan keuangan belum sempurna tersalurkan dalam zakat mal ke tanah air. Lihat, bukankah kesempatan untuk beribadah dan berjuang terbuka begitu lebar?

Selentingan pikiran ini mengatakan, bisa jadi saya tengah terlibat dalam pembangunan sebuah peradaban. Bukan tak mungkin untuk itulah sekarang saya ada di sini. Hal ini pula yang sedang dan akan saya syukuri.


**Disclaimer : Sejujurnya ada beberapa kawan yang saya pikir lebih pintar, namun tidak lolos ujian ke Jepang. Saya pernah berpikir kalau kesempatan belajar di negeri matahari terbit ini saya peroleh sebagian besar atas pertolongan Allah. Ada tuntutan moral, ada "sesuatu" yang Allah percayakan dengan keberadaan saya di Jepang, ada rahasia-Nya yang masih saya coba temukan.Dan saya sedikit protes kalau ada yang mengatakan bisa ke Jepang karena otaknya cemerlang. Ya, mungkin benar, tapi saya rasa tidak mutlak. Hal ini hanyalah masalah kesempatan dan pilihan. So, buat anak-anak yang mau lulus SMA, sebarin saja pancing banyak-banyak, siapa tahu ada peluang bagus yang nyangkut, dan Allah yang akan memilihkan mana yang terbaik. InsyaAllah**



ReAD MoRE・・・

Wednesday, 30 April 2008

Penyakit Bulan Mei

Besok akan masuk bulan Mei. Salah satu jargon di Jepang berkenaan dengan bulan ini adalah go gatsu byou, "Penyakit Bulan Lima". Penyakit yang mewabah di bulan Mei ini bukanlah penyakit fisik yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Bukan pula dikarenakan perubahan suhu yang merangkak naik. Jadi? go gatsu byou adalah penyakit mental. Dimaksudkan setelah liburan beruntun yang dikenal dengan golden week, akan muncul gejala malas pergi kerja atau ke kampus, kehilangan nafsu makan, semangat memudar, susah tidur namun enggan bangun di pagi hari.



Banyak referensi yang menuliskan bahwa "Penyakit Bulan Lima" muncul akibat adanya kesenjangan antara idealisme, cita-cita, angan, saat menempuh tahun ajaran baru di bulan April dengan kenyataan yang dialami selama satu bulan pertama. Penyebabnya bisa jadi ketidakmampuan beradaptasi, kekecewaan, dan stress. Saya pun terancam akan mengidap penyakit ini. saya memenuhi persyaratan yang diperlukan. Kampus baru, lingkungan baru, kota baru, orang-orang baru. Masih ditambah dengan segudang rencana dan angan tentang kehidupan di kota ini saat-saat hendak pindahan. Apakah rencana dan angan saya itu mendekati kenyataan? Atau justru terasa sulit untuk diwujudkan? Hehe, bisa jadi jawabnya akan muncul dengan go gatsu byou, saya akan menyandangnya atau tidak.

Saya enggan mengakui, tapi akhir-akhir ini badan terasa lemas dan rasa kantuk lebih sering mampir. Kadang saya melewatkan perjalanan di kereta sambil memejamkan mata karena tak ada tenaga. Weittsss... jangan-jangan saya sudah terjangkit!


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 29 April 2008

Runutan Boga

Akhir pekan kemarin, saya diajak ke rumah seorang senior yang bakal kedatangan tamu, kawan lama dari Tokyo. Persiapan pun dilakukan : pengosongan perut. Hihi... Maksudnya sih supaya empunya rumah senang kalau hidangan yang disajikan disantap dengan lahap. Bukan begitu?

Namun ternyata ada hal lain yang menarik perhatian saya untuk ditelaah lebih lanjut. Selain saya, hadir pula rekan lain dari Surabaya, Yogya, Jakarta, Padang, errm... bisa dikatakan kami berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia. Lalu apa yang menarik? Kebiasaan makan, lebih spesifik lagi urutan makan. Kenapa? Hmm, saya sudah bersilaturahmi ke beberapa rekans Indonesia yang di Jepang, dan dari lawatan itu saya mempelajari pola makan mereka. Oopss...saya melakukan pengamatan tanpa ijin. Tapi boleh, khan?


Kebetulan seorang sahabat mengingatkan tentang kebiasaan makan kami Ramadhan tahun lalu. Buka puasa langsung dikebut sampai kekenyangan. Memang sih berhubungan dengan pola makan, tapi kali ini bukan, bukan itu. Dia membaca sebuah bab tentang adab makan dalam buku yang ditulis oleh Ibnu Qudamah berjudul Minhajul Qaashidin. Isinya cukup mencenangkan karena bertolak belakang dengan kebiasaan makan selama ini. Dalam bab tersebut ditulis bahwa salah satu adab menghidangkan makanan adalah menghidangkan buah-buahan sebelum yang lain.

Beliau berargumentasi pada ayat al Qur'an surah al Waqi'ah ayat 20-21 yang menyatakan bahwa di surga buah-buahan dihidangkan terlebih dahulu sebelum daging (burung) itu "Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan".

Dari segi iptek sendiri, rasa lapar kenyang sebenarnya terkait dengan kadar gula dalam darah. Saat konsentrasinya melewati batas minimal, itu saat kita merasa lapar. Sayangnya batas atas untuk menyatakan kekenyangan kadang kabur oleh semangat mengisi perut hingga puas. Apa hubungannya dengan kebiasaan makan? Sebenarnya kita bisa memanipulasi rasa kenyang dengan mengatur urutan menu dalam makanan.


Berikut rangkuman dari bahan yang saya baca, dengar, atau saksikan :

1. Awali makan dengan berdoa. Menu pertama adalah yang mengandung banyak air, untuk mengondisikan perut, bisa buah-buahan, yoghurt, atau sup.
Orang Jepang biasa menghidangkan miso-shiru, sup dari dengan kaldu dari kedelai fermentasi dengan isi beragam : sayur, tahu, rumput laut pertama kali sebelum sajian utama.


2. Lanjutkan dengan makanan yang mengandung banyak serat. Manfaatkan gigi yang masih ada untuk mengunyah. Saya menyaksikan di salah satu TV Jepang (hmm... kebenarannya entahlah), seseorang bisa merasa kenyang dengan mengkonsumsi 200 gram kubis setelah mengunyahnya selama 5 menit. Dikatakan sensasi kenyang juga bisa diperoleh dari seberapa lama rahang digerakkan untuk mengunyah.


3. Akhiri dengan makanan yang disukai untuk menciptakan sensasi kepuasan.
Saya mengamati kalau sebagian besar orang Indonesia langsung menuju ke poin ke-3, langsung ke intinya saja. Belum ditambah penggunakan gula berlebih, konsumsi lemat yang tidak sehat dan menu tanpa pertimbangan gizi yang seimbang. Oke lah, itu tidak bisa disalahkan, tingkat kesadaran penduduk untuk menerapkan pola makan dan hidup sehat masih kalah dengan sibuknya pikiran untuk memenuhi kebutuhan primer. Namun, saya pikir itu hanyalah pilihan. Pola makan sehat bukanlah sebuah pola makan dengan menu mewah yang tidak terjangkau. Sebaliknya, bisa jadi menjadi sebuah solusi menuju pola hidup sehat dan hemat. Kok bisa?

Dengan sedikit mengubah pola makan, menyediakan sup (atau sayur berkuah banyak) dan buah di awal perjamuan, akan membantu mengurangi konsumsi makanan pokok (beras dan lauk). Saya membuktikan dengan melakukan percobaan sendiri. Saat saya langsung makan nasi dengan lauk pauk, saya menghabiskan nasi lebih banyak dibandingakan saat saya mengawali dengan makan buah dan yoghurt terlebih dahulu untuk memperoleh rasa kenyang yang sama.


Sekalian ingat, saat belajar membuat kue eropa akhir maret lalu, saya menyadari bahwa kue erora sangat manis. Kenapa? Karena mereka mengambil gula dari sini. Tak ada gula ditambhakan dalam teh/kopi, tak ada gula dalam resep masakan. Oleh karena itulah kue yang manis menemani saat minum teh pahit. Sama dengan upacara minum teh di Jepang. Teh hijau kental, berbusa dan pahit, disantap dengan kue tradisional yang terlalu manis di lidah saya.

Di Indonesia, sepertinya teh dan kopi belum bisa merdeka dari gula, padahal kita juga makan kue, mengkonsumsi kecap, dan mendapat asupan gula dari menu lain. Hmm, nampaknya untuk mengubah kebiasaan makan yang turun-temurun bukan hal mudah. Kecuali ada kesadaraan tentang pola makan dan hidup sehat.



ReAD MoRE・・・

Saturday, 19 April 2008

Kerusakan yang teratur

Pernah mengalami kesulitan dalam menemukan alamat seseorang? Saya pernah dan pengalaman ini justru saya peroleh di negeri saya sendiri. Kadang saya berpikir tidak adakah cara pendataan yang lebih mudah dimengerti tanpa harus menghapalkan nama-nama jalan yang jumlahnya puluhan itu? Kenapa tiba-tiba saya menulis masalah ini? Hehe, sebenarnya karena hobi lama saya : Menggambar tata kota, mendadak minta dieksplorasi lebih dalam.

Saya sempat berpikir kalau bencana tsunami di Aceh justru membawa kesempatan untuk menjadikan Aceh sebagai kawasan percontohan kota modern. Kota modern yang tidak semrawut, teratur dengan baik mulai saluran pembuangan air, limbah rumah tangga, kawasan hijau, lingkungan perumahan, pusat perekonomian, hingga pelayanan administrasi praktis dalam satu atap. Hal ini juga didukung dengan mengalirnya bantuan dari berbagai pihak, termasuk luar negeri, sehingga pikiran saya mungkin terealisasi. Ahaha, okelah, siapa sih saya hingga ide seperti ini harus terwujud? Namun sebaliknya, saya ingin bertanya, tidak adakah orang-orang yang berwenang di atas kursi pejabat sana yang punya pandangan untuk "menyulap" kawasan yang nyaris 100% porak poranda menjadi wilayah cantik yang teratur?


Sudah 3 tahun terlewat, khabar tentang perkembangan Aceh pasca Tsunami mulai jarang terlihat. Berarti angan-angan saya tentang sebuah perubahan yang baik, sama sekali jauh dari mendekati kenyataan. Orang-orang yang kaya tetap leluasa mendirikan bangunan seenak perutnya sedangkan yang tak punya uang memenuhi sela-selanya. Perlahan tapi pasti, perkembangan yang terjadi adalah sebuah kerusakan yang teratur. Teratur oleh perundangan yang tidak mengatur. Bukankah menjadi lebih mudah kalau UU Agraria juga mengatur tentang pengaturan tanah terhadap korban bencana dilengkapi dengan pengaturan wilayah dan perumahan? Atau negeri saya itu dirasa masih terlalu luas, hingga tanah dan pasirnya pun dibiarkan saja untuk memperluas wilayah negara Singapura? Atau, tak adakah orang yang peduli? Yang penting diri sendiri makmur, aman, sentosa, sejahtera... oh la la. Artinya membenarkan bahwa semboyan bhineka tunggal ika diartikan sebagai perbedaan yang dipaksa bersatu! Biar situ menderita yang penting sini sentosa?? Hahaha... jiwa nasionalisme hanya akan muncul bila ada ancaman dari luar, seperti saat lagu-lagu daerah diserobot negeri jiran, atau saat mendukung atlet negeri berjuang dalam ajang internasional, atau saat negeri sendiri direndahkan bangsa lain?


Ah, maaf saya terkadang melantur kemana-mana kalau memikirkan negeri sendiri. Bukan tak cinta, itu bukti kalau saya masih peduli. Saya tak rela membiarkan kerusakan justru diatur secara resmi, tapi saya geram karena tak berdaya. Mungkin saja kekecewaan akan membuat saya menyerah, lalu saya kabur, ogah kembali ke tanah kelahiran, bersikap apatis, cuek, membiarkan peraturan membentangkan jalan menuju kerusakan. Tapi sekarang saya masih tak tega.


Oke, kembali ke masalah tata kota. Sekarang saya tinggal di Nagoya. Kota terbesar ke-3 di Jepang yang sedang kebingungan mencari tempat pembuangan sampah. Kota ini terlanjur menjadi hutan beton ditambah sampah yang dihasilkan penghuninya hingga hitungan ton. Sebuah tempat yang direncanakan menjadi kawasan pembuangan sampah adalah delta sungai yang sekarang masih ramai dikunjungi burung. Sebuah kawasan penangkaran. Tentu saja aktivis lingkungan mengutuk aksi penggusuran habitat burung akibat ulah manusia. Tapi, mau pilih mana: Hidup bersama sampah atau mengorbankan burung untuk kepentingan rakyat?


Setelah mengalami diskusi alot, akhirnya diputuskan untuk mengurangi produksi sampah. Caranya? Recycle! Saya rasa masyarakat Nagoya cukup sensitif dengan masalah pemisahan sampah. Hampir tiap kali saya bertemu dengan orang Jepang dari berbagai instasi, mulai pegawai asrama, dosen di kampus, pejabat international affair, hingga satpam selalu menyisipkan pesan tentang pemisahan sampah. saya pikir wajar saja, karena kebijakan pengurangan sampah ini diresmikan setelah melewati berbagai perdebatan. *sigh*


Dengan daur ulang, sampah bisa dikurangi hingga 50% (kata senior saya yang sedang mengambil master bidang lingkungan). Hasilnya memang bisa disaksikan dengan mudah. Kertas yang dipakai oleh instasi pemerintahan adalah 70% hasil daur ulang -hmm, setidaknya itu yang tertulis dalam produk yang saya beli atau saya dapatkan-. Oke, salut buat semangat daur ulangnya. Sayangnya saya masih merasa cukup ribet dengan aturan pemisahan sampah, penggunaan kantung sampah khusus, jadwal pembuangan sampah. Benarkah daur ulang ini efektif mengurangi jumlah sampah? Kalau toh benar, apakah tidak membuat pola berpikir baru dalam masyarakat : Ahhh... belanja saya banyak-banyak, ntar bakal di daur ulang jugaaa. Maksudnya, produksi sampah justru meningkat. Bisa jadi sampah bisa dikurangi hingga 50% dengan daur ulang, tapi jumlah 50% itu khan dari total sampah yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin khan kalau setengah jumlah sampah tahun ini ternyata lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Satu lagi, daur ulang belum tentu lebih efisien. Untuk mendaur ulang botol plastik, misalnya, masih diperlukan hasil olahan minyak bumi, dan biayanya ternyata lebih mahal dibandingkan memproduksi botol baru. Belum lagi soal energi yang diperlukan. Daur ulang pun perlu dikaji, dan yang lebih penting jangan suka nyampah!
Nah loh koq malah lari ke masalah sampah. Bagaimana sih tata kota di Jepang? Yang pasti bukan sistem bongkar pasang ala ibukota Jakarta. Hihi, masak mau pasang kabel baru, harus menggali jalan, menutup galian lalu bikin jalan baru. Memangnya anggaran berlimpah ruah tanpa harus direncanakan?

Oke-oke... tata kota di Jepang mudah dimengerti -setidaknya saya belum sempat tersesat kalau membaca alamat-. Setiap distrik dibagi menjadi blok yang teratur, sehingga dengan membaca angka yang ada, bisa dikira-kira seberapa jauh lagi sampai di tujuan. Bahkan satuan menit untuk berjalan kaki dikonversikan untuk jarak. Misalkan 10 menit dari stasiun artinya 1 kilometer. Kecepatan rata-rata orang berjalan dalam 1 menit adalah 100 meter. Kalau misalkan tujuan belum tercapai sesuai dengan waktu yang tertulis ada dua kemungkinan :
1. Anda berjalan terlalu lamban
2. Anda tersesat


Oahhmm... sudah malam. Mungkin saya sedikit memaksa menyatukan ide yang berloncatan agar pikiran ini sedikit tenang. Oahmmm... selamat malam!


ReAD MoRE・・・