Tuesday, 30 December 2008

Kantor Pos Sebelah

Ceritanya, selama libur akhir tahun 2008 ini saya kerja sambilan di Kantor Pos setelah membatalkan rencana mudik. Kenapa Kantor Pos? Karena letaknya tepat di sebelah asrama saya. Dekat, sehingga tidak perlu pakai baju berlapis-lapis untuk menembus musim dingin. Alasan lain: Tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan.


Setelah satu pekan, nampaknya saya mulai menyukai pekerjaan ini : Memilah kartu ucapan tahun baru. Waktu kerja 3 jam, dengan istirahat 15 menit. Rentang yang tepat sebelum rasa bosan hinggap, konsentrasi terbang, atau mata lelah. Waktu kerja yang efektif bagi saya. Keuntungan lain adalah bisa mengenal karakter orang-orang. Secara saya belum pernah bekerja dalam tim (yang digaji).

Fasilitas :
1. Gaji 740 yen/jam
2. Minuman Vending Machine dengan harga miring.
3. Alat Kerja.

Tak perlu seragam, kecuali bila kebagian sebagai pengantar surat. Kemampuan bahasa Jepang selama jam kerja nyaris tidak diperlukan. Bagian kerja saya adalah memilah benda pos berdasarkan jenis (kartu, surat, surat tercatat, dll) dan alamat tujuan (hanya dengan melihat kode pos doang). Hanya saja, untuk memahami perintah dari atasan dan apa-apa yang dilakukan selain tugas rutin, bahasa Jepang mutlak diperlukan.

Setelah lolos mendaftar dan melewati wawancara, akan dikirimkan panduan kerja. Hari pertama dilakukan orientasi kerja, aturan-aturan yang berkaitan dengan kerahasiaan informasi, tatacara masuk tempat kerja, bagaimana memakai mesin pemilah kartu pos yang efisisensinya 87% dll.

Salah satu info penting :
Mengirimkan surat biasa dalam amplop pada sekitar pergantian tahun, akan jauh lebih cepat dibandingan mengirimkan balasan kartu ucapan tahun baru. Kenapa? Masalah jumlah. Kartu pos tahun baru akan meningkat secara tajam sekali, meninggalkan surat biasa sehingga waktu pemilahan dan lain-lain pun memerlukan waktu lebih lama.


ReAD MoRE・・・

Saturday, 6 December 2008

Plan ABCDE

Seperti yang saya tuliskan akhir bulan September yang lalu, saya kehilangan kesempatan untuk menerima beasiswa dari Pemerintah Jepang terhitung April 2010. Jujur saja, waktu itu sempat shock dan sulit menerima penyebabnya. Tapi kalau masih ada waktu untuk kebingungan dan merenungi kejadian yang sudah terlanjur terjadi, bukankah lebih baik menyusun rencana ke depan? Singkat cerita, tersusunlah 5 rancangan karir pada pergantian musim panas-gugur tahun ini. Lima Rancangan? Banyak amat? Bukankan justru bingung sendiri? Seorang kawan menyumbangkan komentarnya. Tapi, yah, begitulah, lebih baik menyusun rencana dengan memikirkan kemungkinan terburuk. Saya siap gagal sekaligus siap menyukseskan rancangan karir sesuai urutan prioritas.

Saat ini saya sudah memulai plan A. Plan B-E baru bisa diwujudkan setelah tahun ajaran baru 2009. Jadi tinggal menghitung waktu saja sebenarnya. Mungkin setelah ada kejelasan tentang plan A, akan saya tuliskan di blog ini. Siapa tahu ada orang yang terbantu dengan informasi tersebut. Well, semoga Allah memudahkan setiap langkah dan menunjukkan manakah pilihan yang terbaik. Seperti biasanya, saya menyebar kail banyak-banyak, semoga saja ada ikan enak yang tersangkut.

Intinya, bila plan A berhasil, artinya saya harus meninggalkan Jepang dengan mengendarai beasiswa ke negara lain. Banyak yang mengingatkan kalau 6 tahun di Jepang akan sia-sia kalau saya tinggalkan begitu saja. Betulkah? I don't think so. Bukankah banyak hal yang sudah saya dapatkan di sini? Bila yang dimaksud adalah kemampuan adapatasi dan penguasaan medan di Jepang akan kehilangan fungsi, saya pikir tidak juga. Alasannya sih gampang. Selain plan A, saya masih merencanakan untuk bertahan di Jepang kok :D Buktinya saya sudah menghitung nominal yang diperlukan. Hehe.

Dibalik kelima rancangan itu, seberanya ada hal yang masih menjadi ganjalan. Pilihan hidup dan kurikulum. Terbaca susah? Yah... kalau kawan saya berpendapat bahwa 6 tahun di Jepang akan sia-saia bila saya cabut sebelum S2, mari kita bandingan dengan kurikulum sekolah di Indonesia. Anak-anak mulai dibebani pelajaran susah sejak masuk SD. Bersinggungan dengan sistem ranking, dan ternayata, apakah pelajaran2 selama SD dan SMP itu akan terpakai dalam kehidupan saat dewasa? Diibaratkan sekelompok orang akan melakukan perjalanan jauh dan tidak tau apa yang akan terjadi selama perjalanan. Pimpinan memerintahkan untuk membawa bekal sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan kekuatan masing-masing orang. Orang yang kuat akan sanggup membawa semua bekal hingga tujuan. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang itu kekuatannya sama. Bisa jadi orang yang lemah justru tidak bisa mencapai tujuan karena kelelalan oleh bekal yang terlalu berat.

Saya sempat berpikir bahwa penyusun kurikulum pendidikan dasar dan menengah adalah pimpinan yang menyusun daftar bekal untuk para calon pengembara. Dia terlalu khawatir calon pengembara akan kesulitan bila tidak dibawakan bekal banyak-banyak. Salah satu korbannya ya saya ini. Saat SD sudah harus menghapalkan butir-butir pancasila,npasal-pasal, nama-nama menteri yang sering berganti yang membuat saya 'eneg' begitu melihat buku UUD 1945. Belum lagi pelajaran di SMP -yang katanya unggulan- yang ternyata lebih banyak dibandingkan SMP lain. Juga pelajaran sosial yang isinya hanya berulang saat SMP dan SMA. Hmhhm.. Untungnya ternyata saya cukup kuat sehingga bisa melewati masa SD-SMA tanpa merasa keberatan beban.

Tapi pelajaran dasar seperti matematika tidaklah mudah bagi tiap orang. Standar keulusan yang naik, bisa jadi menjadi penghambat masa depan beberapa anak. Ditambah pandangan umum masyarakat yang menganggap jurusan IPA lebih baik. Waktu saya hendak masuk kelas IPS sewaktu SMA, saya malah harus menghadap ke BP. Intinya sih, nilai pelajaran IPA saya dianggap masih sangat cukup untuk masuk kelas IPA. Weitsss, ya ya itu betul, tapi ternyata nilai pelajaran IPS saya lebih tinggi. Memangnya siapa yang lebih sukses? Karena ternyata orang tua saya dan BP memiliki pendapat yang sama, yah terpaksa deh masuk kelas IPA. Memang sih kenyataannya saya bisa masuk 20 besar terbaik lulusan IPA sewaktu SMA dan mungkin sedikit rasa bangga waktu itu membuat saya akhirnya memilih Teknik Kimia sebagai pilihan. Ah, salah. Saya memilih Teknik Industri, tapi karena jurusan ini tidak ada di PU, akhirnya saya dimasukkan bersama anak-anak Teknik Kimia. Huhu.

Di Jepang pun, saya berada dalam jurusan yang sama. Menepis mimpi kecil saya untuk jadi dokter. Kata Psikolog (hmm, sewaktu milih jurusan pun ada konsultasi waktu kelas 3 SMA, bergilir satu-satu, huhu), saya tidak cocok menjadi dokter. Yah, waktu itu saya pun tidak tahu apa yang sebenarnya saya inginkan, dan kemampuan di bidang apa yang bisa saya kembangkan. Lalu setelah 3 tahun menggeluti teknik Kimia, saya merasa salah jurusan. Akibatnya, saya kehilangan motivasi dan nilai semester saya di tahun ke-4 terjun payung. Suer, terjun payung. Sekarang pun saya merasa cemburu kepada anak-anak yang punya pilihan mantab dengan jurusannya, tahu bidang apa yang ingin diperdalam. Tapiii... saya pun tidak mau berlarut-larut merasa salah jurusan. Yah, harus dihadapi dan diselesaikan sampai saya lulus.

Setelah berpikir, merenung, mempertimbangkan dan memilah, akhirnya ada 5 jalan yang mungkin akan saya tempuh. Manakah yang akan benar-benar saya lalui? Hanya Yang Maha Tahu saja yang menyimpan jawabannya.


ReAD MoRE・・・

Friday, 28 November 2008

Madam, 6 hari saya tidak makan.


Andai saja sosok dalam foto diatas tergantikan dengan orang-orang di desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, mungkin hati para dermawan lebih terketuk. (Tentu saja bahasa Perancis dalam Foto akan lebih banyak dipahami dengan diterjemahkan ke bahasa ibu kita, hoho)Eh? Belum pernah dengar nama desa ini? Sama. Saya juga baru membacanya beberapa waktu lalu. Lagi-lagi batin saya teriris saat tahu eksistensi orang-orang yang sangat-sangat kurang beruntung hingga di tahun 2008 pun masih ada komunitas gizi buruk. Bukan di afrika atau negara yang sedang konfik, seperti yang kita -anda,saya- ketahui, Bogor itu ada di Indonesia. Negeri kita sendiri.


Sumber berita itu ada di sini.
Dalam bulan Dzulhijah, salah satu bulan yang istimewa, semangat berqurban semoga saja menjangkau masyarakat itu. Kebijakan pemrintah untuk menurunkan harga bensin dan solar semoga diikuti pula dengan kebijakan lain yang membela masyarakat kecil. Semoga pemilu tahun depan menjadi ajang pemilihan orang-orang yang bersih dan peduli. Tidak hanya perebutan kekuasaan oleh orang-orang yang pintar bermuka dua (atau tiga? empat?).

Kekhawatiran tidak mendapat perpanjangan beasiswa dari pemerintah tidak ada apa-apanya dengan kekhawatiran akan hari esok yang dialami oleh masyarakat desa itu.
Sebelumnya saya tidak pernah menghitung nikmat beasiswa yang ternyata mencapai 1 milyar rupiah -dalam hitungan kasar-, selama 10 tahun terakhir. Artinya, kalau dirata-rata, saya menerima beasiswa sebanyak 100 juta rupiah dalam satu tahun. Nominal yang tidak mungkin sanggup dikeluarkan oleh orang tua saya meski telah menjual rumah dan tanah. Bisa jadi gara-gara saya menerima beasiswa sejak SMP, kepekaan saya terhadap susahnya menikmati sekolah (bukan pendidikan, loh) kehilangan ketajaman.

Sekali lagi saya diingatkan bahwa pandai bersyukur adalah salah satu kunci kebahagiaan. Setidaknya kekhawatiran berlebih bisa ditepis.


ReAD MoRE・・・

Friday, 21 November 2008

Beasiswa Ilmu Media ke Jepang

Siapa tau ada yang berminat ambil S2 dalam bidang media. Otaku Anime, Audio-visual-editing-Maniac, atau siapapun yang punya keinginan silakan mencoba. Beasiswanya lumayan euy!

Fiscal Year 2009 [Asia Human Resource Fund] Project of the Development of
Highly Specialized Foreign Students

The Program Outline of "the Practical Education of Global Contents Bridging
Human Resource for Next Generation"

Recently, Tokyo University of Technology (TUT) proposed a program of "the
Practical Education of Global Contents Bridging Human Resource for Next
Generation" for the Japanese Ministry of Economy, Trade and Industry (METI)
and the Japanese Ministry of Education, Culture, Sports, Science and
Technology (MEXT).
The proposal was selected to be granted subsidies in Fiscal Year 2009 of
Asia Human Resource Fund, the Project of the Development of Highly
Specialized Foreign Students which METI and MEXT undertake. TUT now opens
for highly talented Asian students who are interested in the filed of
contents industry in Japan.

Background
METI and MEXT launched the initiative called Asia Human Resource Fund in FY
2007 with the aim of fostering the development of advanced and innovative
professionals who can contribute to Japanese industry through (1) the
Project of the Development of Highly Specialized Foreign Students and (2)
the Project of the Development of Highly Practical Foreign Students. The
fund has been offering comprehensive assistance from scholarship to
recruitment for competent and motivated Asian students who are studying in
Japan with the intention of obtaining jobs at Japanese companies.

│ Program Outline
This program is carried out based on the following three principles.
1. It aims to support globalization of contents industry which is a priority
industry of Japan.
2. It offers comprehensive and practical education for the Asian foreign
students who can fully utilize the contents work environment and the
comprehensive curriculum of Tokyo University of Technology.
3. It develops advanced professionals who can serve as a business bridge
connecting Japan with other Asian countries.

<>
(1) The applicants should have Japanese proficiency which can respond to a
Japanese lecture. (The Japanese-Language Proficiency Test Level 4*)
(2) Undergraduate degree in one of the following fields of study and good
knowledge of that filed.
A. Media contents production (e.g. animation, game, etc.)
B. Contents development (e.g. programming, system development, etc.)
(3) The applicants should participate in all the programs with Asia Human
Resource Fund including Japanese language education program and internship
program.
(4) The applicants should have strong intention and motivation to work for
Japanese contents companies after completing the course.
(5) The applicants need come to or stay in Japan with student visa and
should join the Japanese course by the end of September 2009 and can be
enrolled as Master 1st year student from April 2010.

* The Japanese-Language Proficiency Test Level 4: It covers basic grammar,
around 100 kanji and 800 vocabularies, ability to make simple conversation,
read and write short or simple sentences (The level can be reached after
studying for 150 hours).


This program consists of 2.5 years. 0.5 year is Japanese language course
from September 2009 to March 2010. Master program is for 2 years from April
2010 to March 2012. TUT shall recommend all students selected to this
program to be candidates for Japanese government scholarship. However, the
candidates should pass examination of applicant's qualification conducted by
MEXT. Only after the examination, government scholarship is provided for the
candidates who are selected as the Japanese government scholarship student.
All selected students should pass the examination for the Master program.


Master course: 8 (eight) students, 2.5 years (Japanese course 0.5 years + Master program 2 years) Monbu Kagaku Sho (Japanese Ministry of Education, Culture, Sports, Science
and Technology)


ReAD MoRE・・・

Saturday, 15 November 2008

Ramadan Yori Yoi

Ramadan boleh lewat, tapi amalan tidak boleh kendur. Kenapa? Ada hari-hari yang disebutkan lebih baik dari ramadan. Kapan itu? insyaAllah 2 minggu lagi menurut kalender matahari. Supaya pasti, silakan sesuaikan dengan negara dimana anda berada. :))
Don't miss it!


“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

Jika seseorang bertanya :”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama”
(Zaadul Ma’ad 1:57)

*Ramadan yori yoi : Lebih baik dari Ramadan*


ReAD MoRE・・・