Sunday, 3 May 2009

Perpanjang Saja! Bisa!

Berita bagus dari seorang senior berkenaan dengan perpanjangan beasiswa Monbusho. Sumbernya adalah seorang Pakistan yang sukses dengan 2 kali perpanjangan tahun lalu.

Jadi... mereka yang berkesempatan untuk wawancara perpanjangan untuk kedua kali, bisa dipastikan boleh memperpanjang beasiswa sekali lagi! Sampai S3, Bo!! MasyaAllah. Kesempatan neeh. Buat para Junior yang sekarang masih punya peluang tak terbatas, ayo berusaha. Raih 成績係数3.00!!! 頑張れぇpP!!


ReAD MoRE・・・

Reuni

"Mari bertemu di Shinjuku, west exit. Aku akan menunggu di sekitar wicket."

Hari itu penghujung April. Sakura sudah luruh berganti hijau daun. Langit muram, jejarum air menghujam dari awan-awan kelabu yang bergelayut di atas Tokyo. Sebuah pertemuan direncanakan akan terjadi siang itu. Perjumpaan setelah 6 tahun. Seberapa jauhkah diri masing-masing berubah? Reuni ini seolah menjadi cermin yang memantulkan sosok pada saat titik berpisah yang menjadi awal langkah menapaki jalan yang berlainan arah.
"Waaaa!! Kamu sudah mirip orang Jepang!" gadis itu sedikit memekik saat melihat lelaki berbaju marun yang melambaikan tangan di udara berjalan mendekat.
"Huekekek. Gak mungkin lah. Gimana kabarnya?"
"Baik."
"Okkey. Mau makan apa? Sushi, tempura, udon? Atau mau coba kare?"
"Eh? Selama di Jepang aku belum pernah makan kare. Memangnya ada yang halal?"
"Ada dooonkkk! Jadi makan kare aja kah?"
"okke~!"
"Seeppp! Ayo, ambil jalan ke sini!"
Sosok mereka melebur dalam keramaian Shinjuku, melewati trotoar yang dipadati manusia, menembus udara yang entah kenapa terasa dingin. Hujan hari itu tak hanya menurunkan air, juga suhu.

***

"Bagaimana kabar teman-teman di sana?"
"Hmm... Sudah pada kerja. Hampir semuanya di perusahaan semikonduktor."
"Wow. Lah kamu sendiri?"
"Peneliti. Tapi tidak berhubungan dengan tesis ku waktu S1."
"Yah... kalau sudah kerja, kebanyakan memang sama sekali tidak berhubungan dengan penelitian waktu S1 sih. Eh.. kabar ABC gimana?"
Gadis itu tak segera menjawab.
"Dia belum lulus."
"Aphhaa?! ABC yang pintar itu?!" Lelaki itu terkejut. ABC tak pernah turun dari peringkat satu. sesekali menjadi juara umum angkatan. Sosoknya menjulang berkacamata, olahraga juga gape. Sosok yang nyaris sempurna, salah satu dari dua orang yang tidak pernah dikalahkan oleh lelaki itu secara akademis selama 3 tahun SMA.
"Terus? terus? Masih kuliah?" lelaki itu penasaran.
"Cuti. Selama di sana, dia jarang menampakkan wujudnya. Sekali muncul lewat telepon, biasanya minta bantuan finansial."
"Wah. Udah gak sehat nih. Tapi tapi tapi... masak seeh ABC??! Bukankah dia orang yang terlihat begitu kuat motivasinya?!"
"Sepertinya memang ada masalah. Cuman gak ada yang tahu masalahnya."


Ah yah. ABC sepertinya memang bukan tipe orang yang terbuka. Lelaki berbaju marun itu berpikir bahwa untuk kuliah di luar negeri tidak hanya perlu kepintaran secara akademis. Ketahanan mental terhadap badai yang menghadang juga penting. Terutama bagi mereka yang sering berada di puncak dan jarang merasakan yang namanya gagal. Sekali jatuh akan terasa begitu terbanting. Sakit. Dan perlu banyak energi untuk bangkit.


"Ah yah, emangnya kenapa dulu kamu tidak jadi mampir ke negaraku?" gadis berkerudung hijau itu mengalihkan pembicaraan.
"Owh.. Yang waktu itu kah. Yah, ada seorang anggota rombongan yang agak teledor sehingga keberangkatan kami tidak bisa terlaksana. Hmmph. Begitulah, rencana bepergian bersama sepertinya harus direncanakan dengan matang. Padahal sudah terlanjur dipesankan tiket oleh NGIR untuk ke Indonesia. hiks..."
"Terus duitnya NGIR diganti?"
"Iya lahhh. Nitip ke PUT, yang rumahnya paling dekat dari kotaku. Waktu itu dia lagi mudik ke Indonesia."
"PUT mau nikah loh Juni nanti."
"Heeeeeeeeeeeeeee. Yang benerrrrrrrrrr?? Ama siapa? ama siapa? Jeruk?"
"Adek kelas SMP nya."
"Wewww... Subhanallah. Sayang banget di Jepang lagi gak ada libur bulan segitu. "*sigh*
"Kamu gak berubah yah..."
"Kamu juga kok. Masih tetap kayak dulu."

Mereka tertawa.



***********************************************************



Dalam memori lelaki itu, masa SMA lebih banyak diselimuti kelam. Dia jadi paham kenapa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Lelaki berbaju marun itu pernah jadi korban. Tapi tak banyak yang tahu. Luka itu menggerus kepercayaan diri, sehingga dia begitu tertekan karena tidak bisa mengekspresikan diri. Yang lebih parah, luka itu masih terasa sampai sekarang, karena kesalahpahaman yang terjadi belum bisa diluruskan dan dia tak tahu siapa yang patut dipersalahkan. Seiring waktu, orang-orang yang pernah membentak dan menyerang secara mental bisa lupa, tapi tidak dengan si korban. Betul kalau luka di hati itu lama kering dan tetap membekas.

To be blamed for something you didn't do
is surely painful and stressful!!



Namun tak semuanya berwarna muram. Meski nyaris terlambat, lelaki itu bertekad untuk berubah. Tak ada yang tahu bahwa titik tolaknya adalah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh gadis berkerudung hijau yang ditemuinya 7 tahun lalu. Pertanyaan yang jawabannya dijadikan sebuah kisah persahabatan dan mimpi anak-anak SMA dengan akhir yang begitu manis. Jawaban lelaki itu tak ada dalam cerita. Jawabannya terlalu hambar. Dia masih menata serpihan batinnya yang retak. Jawabannya terlalu sederhana, tapi mungkin dialah yang paling cepat mewujudkannya jadi kenyataan. Kisah itu masih tertoreh dalam sebuah buku dengan hardcover. Perwujudan dari salah satu tugas pelajaran bahasa Indonesia yang dibukukan per kelas. Lelaki itu merasa beruntung karena berada dalam kelas yang hangat di tahun keduanya. Sekarang pun dia masih berterima kasih atas kekocakan, kesolidan dan kekompakan 33 siswa di elite society, komunitas yang mereka beri nama begitu.



********************************************

Reuni, kadang membuka luka lama, tapi lebih banyak ceria yang ditebarnya. Lelaki berbaju marun menghaturkan terima kasih kepada Tuhan, yang sudah mengatur pertemuannyadengan orang-orang hebat. Lelaki berbaju marun itu begitu bahagia saat mendengar NKA akan lulus PhD dua tahun lagi, DEI yang jadi tokoh dan melanglang buana ke berbagai negara, juga cerita gadis berkerudung hijau tentang keberangkatnnya ke Jerman 4 bulan lagi. Yah. Hari itu hujan memang dingin mengguyur bumi, tapi tak mampu mengusir hangat yang mekar di hati.



*bots*


ReAD MoRE・・・

Saturday, 2 May 2009

Golden Week

Dunia yang sempit. Rasanya tak salah bisa saya menganggap begitulah kehidupan yang terjadi sejak tahun ajaran baru 2009. Rumah-tempat partime-kampus-rumah. Ini siklus sederhana keseharian saya. Internet belum terpasang hingga hari ini, sehingga kabar dunia hanya bisa saya petik dari siaran TV. Tiba-tiba saja saya merasa ada rasa tidak sanggup untuk mengurus beberapa amanah yang terlanjur dipercayakan. Alasannya? Saya tidak becus mengatur jadwal. 12 jam waktu saya habis di Lab bersama senyawa kimia, glovebox dan tabung nitrogen, sesekali istirahat makan dan curi-curi waktu untuk sholat. Sampai sekarang saya belum menemukan kapan ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi tanggung sebagai orang yang kena embel-embel "pengurus". Apalagi saat ini saya lebih memprioritaskan kesehatan diri sebelum menggunakan waktu dan energi untuk suatu aktivitas. Ah, sebaiknya saya menuliskan saja kisah 12 jam Lab yang saya tempati sekarang....


Ritme hidup ini berawal dari tema penelitian yang diberikan oleh profesor di Lab saya. Entah apakah ini resiko sebagai Mahasiswa asing yang dibiayai Monbusho atau estimasi dan harapan berlebih terhadap kemampuan saya, sang Profesor memberikan sebuah tema yang cukup (baiklah, SANGAT) sulit. Seribu Tahun Penelitian, begitu kata beliau mengenai perkiraan waktu yang diperlukan untuk membuat tujuan research ini tercapai. Sebuah tema baru yang membuka peluang nobel. (well, well... tentu saja kalau berhasil. Perlu dicatat bahwa seorang penerima nobel yang saat tulisan ini diketik masih bernafas menyatakan pengunduran diri dari penelitian bertema serupa!!! ほら!!無理じゃん!!難っ!!)

Saat saya bertanya kenapa memilihkan tema ini, jawaban beliau :
1. Saya nampak kuat secara psikis. Tahan banting dan teguh mengahadapi kegagalan.
2. Saya punya willpower, motivasi dan bakat alami.
Dalam hati, saya hanya berdoa semoga kata-kata beliau ini (menjadi) benar.


Di sela-sela waktu eksperimen, beliau bertanya tentang hasil aplikasi master saya ke KAUST yang sampai sekarang pun entahlah tiada kabar berita. Beliau menawarkan peluang penelitian di Jepang dan meminta saya untuk memertimbangkan kemungkinan PhD di sini. Wew. Senang sih dengan tawaran ini, tapi kata 「はい、喜んで!」 tidak begitu mudah keluar. Memang betul bahwa sebagian besar penghuni Lab saya sekarang mendapat beasiswa dari berbagai tempat, dana research juga tersedia, peralatan analisis termasuk yang paling lengkap. Tapi... yah... tidak mudah. Jujur saja pilihan ini tercatat dalam rancangan peta masa depan saya. Sayangnya sekarang saya berada dalam percabangan pilihan dan belum bisa memutuskan. :D :D

Biasanya sekitar pukul 09:30, saya berangkat dari tempat partime ke kampus dengan bersepeda ria. Waktu seblum coretime Lab (start 10:00) ada sekitar 15 menit. 15 menit waktu itu saya pergunakan untuk : sikat gigi (setelah sarapan di tempat partime)--> buka email-> skipping subyek, baca yang kira-kira penting-->ganti kostum lab dan sarung tangan karet.

Setelah sampai dalam Lab maka flowchart eksperimen yang saya tulis kemaren malam menjadi panduan utama. Ah, yah. Saya ber-eksperimen bersama 2 orang supervisor sehingga kalau mau sholat atau menghilang sejenak harus ijin mereka dulu. Saya berusaha agar target hari itu bisa tercapai pada pukul 5 sore. Tapi yah begitulah, peneliti amatir macam saya belum bisa memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan selain yang tercatat dalam flowchart. Sebenarnya tidak masalah dengan aktivitas ibadah, hanya sajaaaaaa... jadwal makan benar-benar digerus habis. +_+ Belakangan saya menyadari bahwa lebih baik membawa bento, lauk-pauk, makanan ringan, kue, minuman ke ruang duduk, menyimpannya dalam kulkas dan laci meja kerja! Dan itulah yang dilakukan para senior di Lab saya. Sebelumnya saya heran kenapa orang-orang di Lab ini begitu tahan lapar namun berkomentar tentang betapa beratnya puasa ramadan! Ternyata simpanan ransum ada dalam laci meja kerja toh!!

Setelah aktivias di Lab selesai bukan berarti saya bebas bertualng ke facebook, Yahoo atau situs-stus lainnya. Hal-hal berikut harus dikerjakan :

1. Laporan perkembangan research yang dikumpulkan seminggu sekali.
2. Rencana eksperimen besok pagi -> baca jurnal (kadang bahasa Jepang, Inggris, Perancis, Jerman... fyuhh.. untungnya ada banyak translator OL yang bisa dimanfaatkan. huehue)
3. Menunggu senior pulang. Ini diaaa yang menyiksaaaaaa!! Orang paling senior baru pulang paling cepat sekitar 10:00 malam. Dan posisi saya di Lab adalah paling bontot! Masih ada supervisor, senior #1, senior #2....Kalau dua kerjaan saya di atas sudah selesai, maka saya akan pura-pura sibuk baca buku referensi. Pokoknya tidak terlihat menganggur. Naah, saat seperti inilah bisa dimanfaatkan untuk membalas email, baca komik OL (biar gak stress!!), chatting... -> eh, ternyata ada waktu yang bisa dimanfaatkan yak! Alhamdulillah. Kadang saya berniat nekad pulang tanpa peduli tatapan sipit penuh makna orang-orang di Lab. *gyahahuhahuha*

Sampai di rumah paling cepat jam 11. Mandi, makan tengah malam (yang sebenarnya sangat saya hindari, tapi terpaksa demi melangsungkan kehidupan *haiyyahh*), lalu tidur hingga alarm subuh berdentang sekitar 04:30. Setelah memenuhi panggilan alam dan sholat, segera kukayuh sepeda ditemani matahari yang hendak memunculkan wajahnya menuju tempat kerja demi kebahagiaan keluarga.

Yay... begitulah sekilas pola hidup seorang Final Year Student di Jepang yang mendalami bio-inorganic dan metalorganic chemistry, Senin-Sabtu. Kalau dipikir berat, maka menjadi berat. Maka saya memilih untuk menerima kondisi ini, menyesuaikan diri, dan mengambil celah untuk mempertahankan identitas. InsyaAllah bisa. Bukankah selalu ada Dzat yang bisa dimintai tolong dan dijadikan tempat mengadu kapanpun, dimanapun?

Dann.. Iyeyy!! Goldenweek tiba, artinya saya libur selama seminggu dan bisa menikmati dan mengatur jadwal pribadi tanpa perlu terikat dengan kampus!!



ReAD MoRE・・・

Saturday, 18 April 2009

Baitoku Begini

Kali ini tulisan tentang suasana kerja partime saya. Ceritanya saya diterima kerja di sebuah restoran Itali. Lebih tepat:family resto yang menyediakan menu Itali. Seminggu sete;ah wawancara, saya mendapat telepon yang menyatakan bahwa saya boleh bekerja. Proses berlanjut. Tanda tangan kontrak kerja paruh waktu disusul dengan pelatihan kilat menguasai medan tempur dapur. Yup. saya memilih menjadi koki daripada jadi pelayan.


Minggu pertama adalah masa penyesuaian. Saya harus menghafal nama bahan-bahan untuk masakan. Selanjutnya adalah menghafal nama + posisi penyimpanan + posisi peletakan alat, resep masakan dan tentu saja cara menghidupkan dapur karena saya dipercaya untuk jadi TOP. Orang yang bertugas membuka restoran di pagi hari. Yah, restoran ini buka mulai jam 7 pagi. Tugas saya adalah mempersiapkan opening sejak pukul 6: menyalakan lampu, membuka jalur gas, memasakan oven, penggorengan, mencuci alat+piring+gelas (oopss ini pakai mesin sih), memanaskan sup, menyiapkan salad, roti dan telur untuk menu pagi. Fyuhh. Bukan pekerjaan yang ringan.

Minggu kedua mulai coba-coba. Masakan gosong!! Apinya terlalu besar! Cara potong tidak sesuai manual!! Kurang asin! Lambat!! Membuat masakan jangan lewat dari 5 menit!! Belum hapal tempat dimana harus menaruh alat-alat +_+ Gyaaa~~


Minggu ketiga mulai terbiasa. Yosh. Masakan untuk stand by menu siang tidak gosong. Sudah bisa mengatur strategi besar kecilnya api sehingga masakan tidak perlu ditunggui. Posisi peletakan alat-alat pun OK. Kecepatan menyelesaikan order UP! Up!

Minggu keempat mulai menikmati. Alhamdulillah rekan kerja dan kepala restoran orangnya baik. Pengaturan jadwal kerja saya disesuikan dengan kesibukan kuliah. Tentu saja karena saya mengorbankan waktu efektif di pagi hari demi menjemput rejeki! Perhatian dari orang-orang di tempat kerja ini bikin betah. Terus terang saya suka karakter kepala restoran. Dia tidak pernah memarahi secara langsung kalau saya berbuat salah. Dengan caranya sendiri dia bisa membuat saya paham kesalahan, lalu diajari cara plus solusi yang benar. Pertanyaan yang terdengar sepele soal perkuliahan dan kesibukan justru terasa alami sebagai kedekatan. Wuihihihi. Dannn tentu saja karena saya dapet potongan 75% untuk sekali makan di restoran ini, kepala restoran tahu menu-menu mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak untuk memastikan kepuasan saya sebagai pelanggan. Eh.... kenyamanan saya bekerja tanpa terancam kelaparan karena tak ada menu yang bisa dimakan.




ReAD MoRE・・・

Monday, 6 April 2009

Lab, Baito dan Rumah

Saya belum meminta perubahan jadwal baito kepada kepala restoran. Masih tetap seperti libur musim semi yang lalu, hari kerja, jam 6-9 pagi. Saya ingin mencoba dulu apakah ritme kehidupan saya terganggu, ataukah ternyata saya mampu menyesuaikan diri dan sanggup memenuhi sela-sela waktu tidak efektif dengan kegiatan yang bermanfaat.


Yah. Mulai Jumat, 3 April 2009 sebuah babak baru telah dimulai : Kehidupan di Lab. Kata seorang sensei saya, Lab yang saya masuki termasuk salah satu Lab yang ketat. Benarkah? Well, silakan menilai dari aturan-aturan yang berlaku berikut :

1. Jam kerja 10:00-18-00

2. Selain jam kerja di atas, masih ada waktu yang dipakai untuk desk-job : searching jurnal, data bahan yang dipakai untuk percobaan.

3. Seminar internal tiap Selasa dan Kamis, mula jam 17:00. (Tidaaakkk.. selasa adalah jadwal saya main badminton >_<, tapi bisa diakali dengan memindah lokasi, bergabung dengan klub baru sesuai jadwal, qeqeqe )


Gimana? ketat? Tapi dengan aturan seperti ini, bagi orang yang ingin maju sepertinya sih tidak terlalu bermasalah.



Untuk bidang Bio-inorganik kimia, waktu yang diperlukan untuk eksperimen relatif lebih panjang dibandingkan bidang lain. Grup penelitian saya sendiri sih termasuk lebih cepat dibandingkan 3 grup lain yang masih harus berkutat di lab saat saya berpamitan pulang pada pukul 9 malam. *berdasarkan pengamatan pribadi*

Singkat cerita, sejak 5 pagi sampai 9 malam, saya tidak berada di rumah, jarang bersentuhan dengan internet maupun alat komunikasi macam HP. Huhuhu. Pulang dari kampus, sampai di rumah segera mandi, sholat isya', makan malam nonton Tv sambil baca2 catatan, lalu berangkat ke peraduan pukul 11. Subuh bangun, sholat, berangkat ke tempat baito, dilanjutkan ke kampus. Huff. Sampai saat ini sih masih kuat, namun entah bisa bertahan sampai kapan. Masih dalam proses adaptasi. Bisa jadi harus meluangkan sedikit waktu untuk memenuhi hak tubuh ini beristirahat.

Jadi persentase waktu saya : 13% di tempat Baito, 45% di Kampus, 30% di rumah (mostly buat tidur malam). Sisanya yah, di tempat belanja, di atas sepeda, dalam perjalanan... *Fyuh*

Kira-kira beginilah kehidupan mahasiswa engineering di Jepang. Oops...koreksi: Mahasiswa jurusan kimia bidang bio-inorganik di Jepang yang punya kerja sambilan. Akhir pekan sangat dinantikan untuk menikmati rumah dan dunia yang belum sempat terjamah pada hari kerja. ^_^ well... itupun kalau akhir pekan belum tergerus janji yang harus ditepati.


ReAD MoRE・・・