Saturday, 12 March 2016

Tentang Ilmu

Akhir-akhir ini saya mulai geregetan dengan arus informasi di sosial media yang saya ikuti. Banyak informasi yang sulit dikonfirmasi kebenarannya, namun tak jarang menjadi viral karena keterbatasan perangkat untuk memastikan keabsahan suatu berita. Sayangnya berita/informasi ini lalu dijadikan rujukan(yang diyakini) valid untuk membela suatu isu. Maka saya sangat paham saat istri saya menutup salah satu akun medsosnya karena informasi itu lalu menggandeng emosi dan tralalalala... debat pun menjadi-jadi, yah tak banyak manfaat untuk terlibat lebih jauh. Tinggalkan saja.

Eh, apa hubungannya dengan ilmu yang saya jadikan topik tulisan kali ini? 

Dalam perenungan saya sepanjang perjalanan kereta Jakarta-Yogya, saya coba menganyam info-info yang tercetak dalam otak ini. Saya tertarik dengan bahasa dan suka mengutakatik untuk bisa paham kisah-kisah huruf yang tersusun itu.

Ilmu, diserap dari bahasa Arab, 'ilm ('ain, lam, mim). Huruf yang sama menyusun semesta ('alamin), tanda/alamat ('alamat),pemilik ilmu ('ulama). Akar kata yang berbeda dengan informasi/berita. Jadi peyampai berita itu belum tentu orang yang 'alim (berilmu), beda banget derajatnya. Kok bisa? 

Pernah dengar kalau orang yang berilmu itu diangkat beberapa derajat? -yah, yang punya ilmu apapun, asalkan berada dalam lingkungan dan waktu yang tepat. Saya pikir ini adalah sifat rahman yang berlaku buat semua makhluk.

Kalau kata saya, kericuhan medsos itu salah satu sebabnya yah karena ada orang-orang yang merasa udah jadi orang berilmu, padahal levelnya baru orang berberita, lalu merasa paling benar, lalu merasa bisa menjadi penentu kebenaran (hakim?) perkara.

Dalam sebuah kajian (dan saya sepakat dengan yang disampaikan) ilmu itu adalah seperangkat keahlian untuk menemukan alamat. Alamat siapa? Alamat sumber segala ilmu, Tuhan. Simpulan singkatnya, orang yang paripurna ilmunya adalah mereka yang menemukan tanda/alamat Tuhan, lalu meniti jalan kesana dengan berserah diri.

Ilmu itu bisa dibaca dari lembaran-lembaran alam semesta yang secara proaktif dikaji oleh manusia melalui segala cabangnya, atau diajarkan langsung oleh Tuhan. Dimana bisa kuliah/belajar langsung sama Tuhan? Ada di Kitab/Al Quran. 

Misalnya, Ilmu waris, hutang-piutang yang ada hubungannya dengan harta, prosedur dan hitung-hitungannya sangat detail diajarkan. Tapi apakah sudah dipahami dan dijalankan?

Quran sendiri berfungsi sebagai petunjuk untuk memperoleh ilmu-ilmu yang akan membawa kita bertemu dengan Tuhan. Membaca alam semesta seharusnya juga mengarahkan pada alamat Tuhan, bila  tidak menentang fitrah.

Orang yang disisinya ada ilmu dari Kitab bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Baitul Maqdis lebih cepat dari mata berkedip. Yes, Beliau ini menang tender Nabi Sulaiman yang hanya bisa diikuti bidder-bidder besar saja pada masa itu.

Ilmu bersanding dengan iman yang pada banyak kasus tidak bisa diwariskan ke anak keturunan. Keduanya adalah karunia, Orang tua yang shalih dan banyak ilmu tidak selalu menghasilkan keturunan yang setara derajatnya, bahkan untuk level nabi/rasul sekalipun. Dengan segala keterbatasan yang  kami miliki, pertolongan dan rahmat Allah lah yang diharapkan untuk menjaga anak keturunan kami agar bisa meniti jalan iman dan ilmu menuju golongan orang-orang yang menang, sebagaimana dicontohkan Ibrahim a.s yang mendoakan anak keturunannya, sebagimana dicontohkan Muhammad SAW yang begitu mencintai umatnya hingga detik terakhir....

Indikator ilmu (bagi saya pribadi) : 
1. Memahami ayat semesta lalu mengaplikasikannya
2. Mengenali tanda Tuhan lalu bersegera mendekat dengan berserah diri

Kalau belum mengindikasikan dua hal di atas, bisa jadi bukan ilmu yang sudah sampai, tapi baru berupa sekumpulan info/berita atau data-data yang belum cukup untuk ditarik kesimpulan.



ReAD MoRE・・・

Monday, 8 February 2016

Sekolah Lagi

Saya kaget. Si kecil (2y8m) bilang ke semua orang kalau dia ingin sekolah lagi. Sekolah sih OK lah. Tapi, LAGI? Memangnya kapan dia pernah sekolah. 

Awalnya dia bertanya kemana tantenya pergi hampir setiap hari.
J : Sekolah 
E : Buat Apa sekolah? 
J : Supaya bisa kerja (well, jawabannya mungkin perlu dimodifikasi dikit nih) 
E : Ayah ngapain? 
J : Kerja

 Kesimpulan : Eyra mau sekolah lagi. Heh?! 

Sewaktu umur sekitar 13 bulan, Eyra memang pernah masuk daycare. Percobaan saja. Supaya ibunya ada waktu lebih leluasa, apa sih istilahnya... me time! Hasilnya ternyata ibunya tetep kepikiran soal si bayi dan malah sibuk melototin video CCTV. 

Tentu saja umur 13 bulan si bayi belum bisa ngomong dengan jelas. Tapi apa iya, dia mendefinisikan daycare itu sekolah? Tebakan saya, menurut Eyra sekolah itu artinya keluar rumah, jalan-jalan dan rutin dilakukan setidaknya seminggu 5x. 

Tentunya itu jadi hal menyenangkan buat dia yang gampang bosan. Keluar rumah memang jadi hal yang dinanti-nantikan. Kalau benar si bayi menganggap daycare itu sekolah. Wow, bi idznillah, luar biasa yah memori anak kecil. Harus hati-hati dalam mengajari dan menstimulasi pengalaman. Kita tidak tau apa saja yang sudah terekam dalam memorinya yang menyerap apa saja seperti spons. Padahal waktu itu dia ke daycare tidak setiap hari. Terkadang hanya 2-3 jam saja pula.

 #Catatan hati seorang ayah. :-P 

Update (2/9) : Minta tolong ke Ibunya Eyra buat investigasi lanjutan. Ternyata emang anak kecil, jangan berharap jawaban berkualitas tertentu. wkwk. 
Eyra masih mau sekolah? Iya 
Sekolah Apa? Sekolah Eyra 
Yang mana? yang dulu 
Mau ngapain di sekolah? KERJA ama baca buku!! 

 wkwkwkw. Senyum-senyum sendiri dengar rekaman.


ReAD MoRE・・・

Saturday, 23 January 2016

Peta Harta Keluarga (1)

Ya, Betul. Tulisan kali ini masih seputar ekonomi dan keluarga.

Ekonomi tak bisa lepas dari uang dan harta, sementara keluarga terdiri diri dari para ahli waris yang paling prioritas mendapatkan hak atas titipan-titipan Allah yang dikumpulkan dan dimanfaatkan selama hidup. Hasil perenenungan saya di gua sampai pada kesimpulan bahwa perencanaan keuangan keluarga dimulai dari jelas dan halalnya harta yang terkumpul.

Darimana awalnya? Tentu saja pernikahan. Masing-masing calon mempelai bisa jadi sudah punya 'harta bawaan' sebelum menikah dan statusnya harus jelas. Aseli deh, jadi suami itu tidak mudah. Dia harus paham pengaturan harta, mendesain visi-misi sesuai syariah, hingga sehari-hari mencari nafkah

Harta istri adalah sepenuhnya hak istri, sementara dalam harta suami ada hak istri dikarenakan seorang suami wajib menafkahi istrinya. Hal ini akan menjadi rumit seiring dengan berjalannya waktu, aset bertambah dan bagaimana status kepemilikan harta itu? Milik bersama? 

Kalau istri tidak berpenghasilan sendiri apakah semua harta itu jadi 100% menjadi harta suami? Begitu akad nikah terucap dan status pernikahan sah, sepasang suami istri akan saling mewarisi, jadi perlu dibuat jelas status aset yang dimiliki. Salah satunya dengan membuat kesepakatan awal antara suami istri.


Kasusnya akan sangat bervariasi. Misalkan ada suami yang membangun rumah di atas tanah warisan yang menjadi hak istri, Apakah rumah (dan tanah) itu menjadi milik bersama (50:50)? Kalau melihat budaya di Arab, saat seorang pria melamar seseorang, maka dia harus menyediakan rumah dan isinya plus kendaraan, sebagai mahar. Jadi rumah seisinya dan kendaraan itu 100% menjadi milik istri. Alhamdulillah budaya di Indonesia tidak sebegitunya banget. :-P 


Sebelum jauh kemana-mana, saya akan fokus ke kasus saya sendiri. Sebut saja Resolusi 2016 : Peta Harta Keluarga!         -- Terdengar keren dan berbau petualangan-- 


Dalam penyusunan peta ini hal pertama adalah memperjelas status harta.


1. Harta bawaan masing-masing sebelum akad nikah. 


Untuk harta bawaan, statusnya jelas. Istri saya sudah punya laptop, perhiasan, buku-buku, handphone dsb sebelelum menikah. Barang-barang itu 100% miliknya. Demikian pula, sebelum menikah saya sudah punya harta bawaan sendiri. Setelah menikah ada kalanya barang-barang tersebut dipakai secara bersama, namun kepemilikannya kembali kepada masing-masing. Bila harta tersebut ingin dihibahkan, dihadiahkan, dipinjam atau dijual, harus dengan ijin dan keridhoan si pemilik. Suami tidak bisa seenaknya jual tanah warisan istri,misalnya, karena itu bukanlah hak miliknya. 


2. Harta perolehan selama menikah.


Dalam hal ini istri tidak berpenghasilan/bekerja sehingga harta ini diperoleh dari suami yang bekerja. Solusinya adalah kesepakatan antara suami-istri. Misalkan untuk rumah 60:40, perabotan dan alat elektronik 50:50 dst. Biarpun istri tidak berpenghasilan sendiri, tetap ada peran yang harus dinilai : mengurus keluarga (suami dan anak-anak) dan mengelola keuangan keluarga adalah peran besar yang pantas digaji (oleh suami! hehe). Jadi seorang suami harus ridho bahwa harta perolehan hasil dia bekerja ada hak istri juga di dalamnya. Bicara soal persentase, besarnya dikembalikan ke masing-masing pasangan. 


3. Harta Bersama. 


Ada kontribusi istri  secara materi dalam perolehan harta ini. Misalkan kasus rumah di atas tanah warisan di atas, atau istri turut menyumbang harta dari penghasilannya sendiri dalam membeli aset (rumah, kendaraan, perabotan). Hak istri dan jatah suami harus jelas sesuai kontribusi masing-masing. Dalam kasus si suami meninggal terlebih dahulu, maka istri akan mendapatkan haknya (dari harta bersama) ditambah dengan hak atas nafkah (harta perolehan) lalu ditambah lagi dengan hak waris (1/8 atau 1/4 total harta waris). Tuh, enak khan jadi istri dalam sistem/aturan islam? :-) 



***

Bila sudah jelas status harta dalam pernikahan, maka hal berikutnya adalah memastikan kehalalannya. Termasuk mengeluarkan zakat, alokasi investasi dan pemanfaatan harta tersebut.Suami harus paham soal prinsip ekonomi ( termasuk tentang sektor riil, pasar uang, pasar modal, hehe) supaya bisa mengarahkan kebijakan ekonomi keluarga. Kesepakatan suami istri itu perlu ditulis juga agar bisa menjadi acuan di masa depan.


Satu hal yang perlu dicatat, harta yang ditinggalkan seseorang itu masih bruto, belum menjadi harta warisan sebelum dikurangi biaya pengurusan jenazah (termasuk sewa makam), pelunasan utang dan zakat terutang, wasiat (berlaku buat non ahli waris, max 33% setelah dikurangi biaya dan hutang) dan pajak warisan (10%!!). Setelah 'dibersihkan' oleh keempat hal tersebut harta peninggalan itu baru disebut harta warisan yang pembagian jatah masing-masing ahli waris sudah diatur dengan sangat jelas dalam Al Quran. 


Sejenak kembali ke awal, memetakan harta yang sudah ada agar bisa melangkah lebih ringan dalam membuat peta perencanaan untuk masa depan. Bagaimanapun seseorang akan mewariskan harta bendanya yang perlu dikelola agar tidak menjadi pemicu konflik. Semoga amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholih-sholihah bisa menjadi tabungan kami yang sesungguhnya adalah harta yang sejati.


ReAD MoRE・・・

Monday, 30 November 2015

Oleh-oleh dari Masjid Raya Bogor

Kali ini ringkasan dari kajian Ust. Budi Ashari di Masjid Raya Bogor, 29 November 2015.

Bogor diguyur hujan deras, jalanan macet karena banyak acara berlangsung di hari dan kota yang sama. Sedang berlangsung festival bunga buah nusantara, ada pula seminar wirausaha di salah satu hotel, belum aliran mobil yang hendak menuju Puncak maupun Jakarta. 

Saya sendiri naik kereta dilanjut angkot, PP hanya 14 ribu rupiah saja. Dari stasiun Bogor naik  03 turun di depan Masjid Raya. Pulangnya naik angkot 03 juga jurusan ke stasiun. Ongkosnya 4000 perak sekali jalan.

Berikut ringkasannya :

Kategori pendidikan dalam islam ada 5. 

1. Pendidikan spiritual. 
Ini yang paling utama, kata beliau. Pendidikan itu tidak hanya fokus pada IQ dan fisik saja, tapi juga soal ruh. Malaikat diperintahkan sudjud kepada Nabi Adam setelah ruh ditiupkan ke dalam jasadnya. Manusia itu baru lengkap saat ruhnya lengkap. Contohnya, belajarlah soal iman baru kemduian belajar al quran, sehingga dengan mempelajari Al Quran maka bertambahlah iman. 

2. Pendidikan akhlak 
Apa itu akhlak? Bisa dikatakan sebagai reaksi/tindakan spontan yang PERTAMA kita lakukan terhadap sesuatu. Jadi lebih mudah untuk evaluasi. (?). Bisa jadi beberapa waktu setelah reaksi itu kita menyesal, tapi potret akhlak kita adalah reaksi pertama kita. Apakah itu yang tercetus dihati atau keluar sebagai lisan ataukah terpancar dari ekspresi di wajah. --Yang ini cukup JlebBbB--- 

Adab sebelum ilmu. Terkedang kita lebih memerlukan segelas adab daripada seember ilmu, supaya tidak menjadi orang pintar yang punya banyak ilmu tapi miskin adab. 

3. Pendidikan sosial 
 Bekali anak agar punya karakter yang kuat, berprinsip, tidak mudah terbawa lingkungan. Kenapa? Supaya tidak mudah ikut-ikutan. 

4. Pendidikan ekonomi Salah satu yang dikhawatirkan rasullah bukanlah saat umatnya menjadi kaum fakir, tapi justru saat akses harta dunia dibuka seluas-luasnya, lalu orang-orang itu dibinasakan oleh (harta) dunia sebagiaman orang-orang terdahulu. Korupsi? Bisa jadi karena ada yang salah tentang pendidikan ekonomi dalam keluarga. Biasakan melakukan evaluasi. Nak itu uang darimana? Mau dipakai buat beli apa?. Well, nampaknya bisa dibiasakan untuk menanyakan DARIMANA dan UNTUK APA uang itu diperoleh. InsyaAllah akan tumbuh pola pikir yang betul tentang uang. Mau korupsi? mikir-mikir dulu.... 

5.Pendidikan Militer 
 Dimaksudkan agar anak punya fisik yang kuat dan siap berjihad. Tapi tentunya bukan untuk jadi teroris. Kurang lebih ringkasannya seperti di atas. 

Setelah didiskusikan dengan istri, maka kami setuju untuk lebih fokus untuk membentuk akhlak anak terlebih dahulu. Ini yang paling berat. Contohnya sudah ada, Muhammad SAW, tapi untuk bisa seperti beliau, adakah jalan yang mudah? Sebelum menjadi Rasul, Muhammad SAW sendiri sudah dikenal memiliki akhlak yang mulia. Lah, kami pegimane? Memperbaiki akhlak sendiri jadi PR besar sebelum bisa dicontoh oleh anak.

Saya teringat salah satu kisah saat beliau berkumpul di Masjid lalu datanglah seorang badui menghadiahkan anggur. Rasulullah memakan anggur itu sambil tersenyum. Lalu, diambil lagi satu anggur, dimakan sambil tersenyum. Begitu seterusnya sampai anggurnya habis. Para sahabat yang ada di masjid heran, karena mereka tidak kebagian. Penjelasan Rasulullah sangat menyejukkan, anggur yang dihadiahkan tadi rasanya tidak enak, sehingga beliau khawatir kalau dibagikan ke sahabat ada yang masam mukanya atau mengeluarkan perkataan yang menyakitkan si pemberi hadiah. MasyaAllah. Rupanya begitu caranya kita menghargai seserorang akan pemberiannya.

 Tentunya masih banyak contoh lain. Namun saat ini saya mendapat bahan introspeksi yang baik :hati-hati dengan ekspresi, kata-kata yang keluar pertama kali dan celutukan yang menjerit dalam hati.


ReAD MoRE・・・

Monday, 10 August 2015

Empat Tahun Pernikahan : 25 Syawal 1432-1436H

Peringatan tanggal pernikahan seringkali menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi. Menerawang kembali kejadian-kejadian di masa lampau: mengambil pelajaran, bersyukur, menyesal, menghadirkan kembali rasa-rasa yang bergelora. Sekaligus memproyeksikan segala rekam jejak dalam rumah tangga itu untuk mempererat hubungan, membuncahkan kasih sayang dan membuat rencana-rencana masa depan. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmussholihaat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya lah segala kebaikan menjadi sempurna. 

Hei, ternyata sudah 4 tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga. Bahtera, ya, perahu ini terus melaju melewati badai, bebatuan karang, gelombang ombak dan tentunya perbedaan pendapat para awak. Hehe, Perumpamaan yang terinspirasi dari skenario Bandung 2030 tentang bangsa Indonesia dan problematikanya.

Tentu saja tak selamanya berada dalam bahtera itu dalam kondisi seuriueous menghadapi rumitnya soalan rumah tangga seperti ilustari di atas. Hiasan-hiasan hangatnya mentari, semilir angin, renda-renda langit serta satwa lautan dan mahkluk yang ditahan kepak-kepak sayapnya di angkasa pun menjadi suatu nikmat sendiri. Belum gemerlap benda langit yang muncul silih berganti menurut kadarnya.

***
Berikut refleksi 4 tahun pernikahan yang penulisannya dicicil. :-P

Tahun Pertama (2011-2012)

Babak belur, karena seminggu setelah kami menikah LDM harus dijalani. Istri harus kembali meneruskan kuliah di Jepang, sementara saya memulai kerja di Indonesia. Sekarang saya sadar betapa 'polosnya' saya saat itu.  Salah satu momentum yang membuat deg-deg-an adalah saat 5 bulan kemudian saya ada tugas ke Jepang dan sealigus kesempatan untuk menemui istri, saya takut salah orang. Saat istri akan menjemput di stasiun, saya berdoa semoga dia datang sendiri. Doh, masa lupa wajah istri sendiri T_T. Bukan-bukan, saya membayangkan sebuah pertemuan yang romantis di tengah salju yang memutihkan bumi, saya menapakkan kaki dari keluar wicket lalu seorang putri anggun dengan gaun putih berkerudung merah yang berkibar tertiup angin musim dingin datang mendekat. Yah, ibarat di film-film romantis begitu lah. (eh, lalu saya jadi serigalanya gituh?)  Eh, tapi khan di stasiun besar pasti ramai dan banyak orang, bagaimana....?! 

Eum, singkat cerita, alhamdulillah, kami langsung bertemu dan terjadilah hal-hal yang diinginkan :-P

Ada revolusi tempat tinggal selama tahun pertama ini. Diawali dengan menempati rumah senior saya yang sedang tugas ke Thailand (gratisan)--* Tinggal di kost-kostan (300k/bulan) --* Rumah petak (well, bahasa kerennya : cluster kecil yang baru selesai dibangun) ---* Kontrak rumah di kompleks lumayan elit dengan 4 kamar yang akhirnya 2 kamar kami kost-kan wkwkw. Setahun pindah tempat tinggal 4 kali tanpa merasakan Pondok Mertua Indah. :-P 

Lumayan juga pindahan dengan mulai memboyong kasur, lemari, karpet, elektronik, perlengkapan masak... Ya, kami mulai mengisi tempat tinggal kami dengan berbagai barang keperluan sehari-hari. Semakin bertambah banyak meskipun belum tinggal di rumah sendiri.

Setelah selama kurang lebih LDM 7 bulan, akhirnya kami bisa tinggal satu rumah. Bila berkunjung ke sanak famili (yang tidak ngeh bahwa kami LDM segera setelah menikah) pertanyaan pokoknya adalah : istri sudah hamil? Saat saya (dan mungkin juga istri) mulai risih dengan pertanyaan ini, eh, alhamdulillah orang-orang mulai lupa dan mengganti pertanyaan pokoknya. hehe. Yaps, selama satu tahun pernikahan, Allah belum mempercayakan amanah anak kepada kami. 

Tahun pertama menjadi ajang penyesuaian emosi, kebiasaan, budaya.... *saya juga belum paham bahasa sunda sebagaimana istri belum mengerti bahasa Jawa* juga belajar memilih aset keluarga (belanja aset rumah masih ditemani mamah mertua). 

Tahun Kedua (2012-2013)

Tepat pada tanggal pernikahan kami di tahun masehi, ada pertanda berita bagus tentang akan hadirnya amanah seorang anak. Kami berencana untuk ke dokter kandungan yang paling direkomendasikan di kota Kembang berdasar hasil survei kami. Hasilnya?

 "jangan senang dulu. Ukuran janinnya lebih kecil dibanding usia dan perhitungan seharusnya. Bisa jadi gagal tumhuh." gitu kata bu profesor dokter kandungan. 

 Eh, gagal tumbuh? Apa nih maksudnya? Kerusakan kromosom? nutrisi tidak tersalurkan? menurut bu dokter, kalau memang gagal kromosom, si janin akan gugur dengan sendirinya, karena kalaupun lahir akan kasihan anaknya nanti. 

Pagi itu kami berencana akan memberikan kabar ke keluarga setelah tahu istri positif hamil kata test-pack. Tapi setelah pulang dari rumah sakit (dengan tujuan make sure hasil test pack), segala gegap gempita antusiame itu terbang entah kemana. Yang ada justru kami yang dihibur dan disemangati bahwa si janin tidak akan apa-apa, akan tumbuh dan berkembang dengan sempurna.

Tahun kedua ini kami difokuskan urusan calon bayi dan pindahan rumah (lagi) karena saya pindah tempat dinas ke Jakarta. Selain survey rumah, kami pun berpindah dari dokter satu ke dokter yang lain, termasuk survey rumah sakit bersalin/klinik di seputaran tempat tinggal yang baru. 

Amanah pertama ini penuh drama karena istri juga sedang menyelesaikan amanah lain di kampus, ukuran jabang bayi yang tetap masih di bawah standard normal kedokteran sehingga harus didukung dengan telur ayam kampung dan es krim. Hingga akhirnya, segala puji bagi Allah, anak pertama kami lahir. Diberi nama : Juara terpuji lembut hati yang diberkahi, Ei-yuu-ra Yumna. Yah, bayi kecil ini telah berjuang dan menjadi juara dengan kelahirannya. Sifat yang tersemat dalam namanya adalah doa-doa yang diharapkan diijabah oleh Tuhannya.

 *Fyuh* 

Tahun Ketiga (2013-2014) 

Masa adaptasi masih berlanjut, terutama dengan bertambahnya anggota dalam keluarga kecil kami. Tahun sebelumnya kami berpindah dokter kandungan, tahun ini kami mencari dokter spesialis anak yang cocok. Kebutuhan lain mulai muncul. Rasanya tidak tega kalau membiarkan anak periksa malam-malam dengan memakai motor dan menghirup asap polusi. Selain itu istri tidak bisa mengendari motor sehingga bila terjadi hal mendesak dan perlu keluar rumah, cukup merepotkan. Akhirnya dikerahkanlah upaya untuk mengandangkan sebuah mobil ke garasi. 

Hadirnya seorang anak memotivasi saya untuk memberikan kehidupan yang lebih nyaman. Alhamdulillah istri sangat mendukung untuk sementara menunda kenymanan di bidang lain sehingga target memiliki mobil bisa dicapai. Mobil juga sebagai sarana agar baby blues tidak menghinggapi istri. Gap yang besar antara mahasiswa aktif dengan ibu rumah tangga di rumah tentunya menjadi tantangan tersendiri buat istri. Apalagi kami tinggal jauh dari sanak keluarga... Lingkungan yang mendukung dan aktivitas pilihan untuk mengisi kesibukan jadi pertimbangan. 

Tahun ini menjadi trial dan eror untuk proyeksi target keluarga. Saya tersadar bahwa pundi-pundi ilmu dan pengalaman saya masih terbatas untuk menjawab tantangan yang ada.

 Tahun Keempat (2014-2015) 

Tantangan lain hadir saat anak sudah mulai aktif secara motorik dan verbal. Namun alhamdulillah, bahtera rumah tangga mulai stabil sehingga tahun ini sedikit memberikan kelonggaran untuk mulai fokus lagi ke visi jangka panjang. Sebagai kepala rumah tangga, saya mulai mempelajari (lagi) isu-isu ekonomi dan memetakan potensi keluarga serta opportunity yang kami miliki. 

Yah, tantangan tahun ini adalah komunikasi dan eksekusi visi-misi. Setelah agak tersendat oleh rutinitas rumah tangga, kami mulai leluasa merambah lagi majelis-majelis ilmu di luar kota baik di Bandung maupun Jakarta. Istri pun mulai beraktivitas di luar rumah untuk mengembangkan potensi dirinya. Silaturahim lebih mudah dijalin dan dijaga. Alhamdulillah mobil menjadi aset produktif yang mempermudah langkah kami menjadi manusia-manusia yang lebih baik. 

 *** 

Memasuki tahun kelima ini, entah apalagi cara Allah untuk mendidik kami. Skenarionya selalu luar biasa.

Ya Allah, jadikanlah keluarga yang kami bina ini menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Tahapan pertama, sakinah, sepertinya sedang dalam proses. Sakinah, akar katanya sama dengan pisau. Pisau? ya, betul. Dan ini dikaitkan dengan keluarga. Dengan banyaknya konflik dan adaptasi yang terjadi, sebuah keluarga diibaratkan hewan yang akan disembelih. Berontak dan berpotensi merusak. Namun setelah disembelih, hewan itu menjadi tenang dan nyaman. Konon seperti hendak tidur saja rasanya. Saya rasa ini perumpamaan yang cukup mewakili kondisi rumah tangga. Ketenangan itu menjadi buah setelah masa-masa tegang, berontak, berdamai, berantem lagi dan akur lagi terlewati. 

Dear my wife, Happy 4th anniversary. Sorry and Thank you for everything.


ReAD MoRE・・・