Wednesday, 31 July 2019

TV Lenyap dan Perkembangan E1

Awalnya cukup deg-degan dengan reaksi anak-anak saat kami memutuskan untuk “menghilangkan” TV di rumah kami, namun setelah dijalani selama kurang lebih 3 bulan, dunia kami baik-baik saja meski tanpa TV. Tahun lalu sudah tercetus bahwa kami tidak perlu TV cable, tapi biaya TV+internet lebih murah dibandingkan internet saja (strategy yang aneh), sehingga kami putuskan untuk ambil paket TV+internet. Saya juga beli Smart TV ($15 saja) sekedar untuk menjadi monitor. Setelah kurang lebih setahun TV bertengger di ruang tengah, dia lebih banyak menjadi penyebab anak-anak berantem lalu Ramadan menjadi momen yang tepat untuk melenyapkan penganggu kedamaian di rumah itu. 

Tantangannya adalah bagaimana membuat anak-anak tetap “terhibur” sekaligus “terdidik” setelah TV lenyap, karena paling mudah itu memang ngasih, yang sulit itu ngasah dan ngasuh.

Di Indonesia sudah ada Gernas Baku, Gerakan Nasional MembacaKAN buku, yang dalam panduannya menyebutkan bahwa orang tua (dan masyarakat/lingkungan) perlu mendampingi anak-anak agar punya kemampuan multiliterasi (baca-tulis, angka, finansial, sains, budaya, digital). Dalam Bahasa saya : mencetak generasi yang mandiri sejak kecil. Dalam salah satu ceramahnya, Ust. Budi Ashari menyebutkan salah satu ciri mandiri adalah bisa melayani diri sendiri, tidak minta tolong ke orang lain selama bisa melakukan sendiri. Anak-anak saat ini adalah pemimpin di masa depan : pelayan umat, kalau tidak bisa melayani diri sendiri, bagaimana melayani orang lain? 

Bermain dan rasa ingin tahu yang tinggi terasa menjadi fitrah anak-anak. Tanpa TV mereka tetap bisa bermain memanfaatkan barang-barang yang ada dalam rumah. E1 juga membacaKAN cerita buat E2. Meskipun begitu, kadang E1 tidak paham dengan yang dia baca. Vocab-nya belum banyak. Di sinilah ada ruang buat kami untuk membaca bersama dan berdiskusi sesuai tema yang diminati. Perpustakaan buka setiap hari dan buku bisa dipinjam selama 3 minggu, tanpa batas jumlah. 
Membaca Bersama, E1 cukup ekspresif bercerita :)

Jadwal akhir pekan biasanya jadwal kami seperti ini : 
1. 06:30 – 08:30 : Naik sepeda, sarapan di kedai donat atau toko roti. 
2. 08:30 – 10:00 : E1 cuci sepatu, E1 & E2 bantuin bawa cucian ke laundry. 
3. 10:00 – 11:00 : Baca buku bersama, main bersama, siapin menu makan siang 
4. 11:00 – 13:00 : Ke Perpustakaan mengembalikan buku dan pinjam buku baru sesuai tema yang ingin dibaca, ke recycle center, main di playground.
5. 13:00 – 14:00 : Makan siang
6. 14:00 – 17:00 : Tidur siang + kegiatan dalam rumah ; kalau tidak tidur siang biasanya baca buku yang dipinjam dari perpustakaan atau kegiatan lain (seperti membereskan kamar, belajar menjahit, main puzzle/lego, menggambar/mewarnai, tergantung mood anak). Kalau tidur siang, anak-anak boleh pegang gadget selama 30 menit. (dibisikin supaya nonton Nussa-Rara). 
7. 17:00 – 19:00 : Setelah ashar, matahari sudah tidak terik : Berenang atau main ke Playground 
8. 19:00 – 20:00 : Bebersih diri/mandi, makan malam, persiapan sholat maghrib berjamaah di rumah. 
9. 20:00 – 21:30 : Baca buku, cerita sebelum tidur, cek hafalan surat-surat pendek E1. 

Hari Minggu biasanya waktu sudah ter-plot kegiatan social, misalkan mengajar atau pengajian komunitas Indonesia atau belanja mingguan (banyak diskon buat sayur & buah di supermarket dekat rumah, LOL). Setelah tidak ada TV, E1 semakin rajin membaca buku, E2 ikutan saja meskipun belum bisa membaca. 
Berlatih cuci sepatu dan mainan sendiri

Dalam pengamatan saya, kebanyakan keluarga yang kedua orang tuanya bekerja hanya punya waktu bersama saat malam dan akhir pekan saja. Ini bukan waktu yang “banyak” untuk dihabiskan bersama anak-anak, bila masih ada gangguan gadget, juga tidak ada manual bagaimana caranya menjadi orang tua (pendidik) dengan sempurna dalam waktu yang terbatas. Ada juga kasus dimana akhir pekan masih diisi les tambahan buat anak dimana mengambil jatah interaksi dengan orang tua. 

Dalam setahun ini milestone yang dicapai oleh E1 adalah bisa naik sepeda roda 2 dan membaca. Saat mau masuk TK, E1 masih berstatus English Novice Learner, tipikal pembelajar yang memiliki cukup semangat dan antusiasme namun belum punya kememapuan/pengetahuan yang cukup untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Saat lulus TK, E1 mendapat piagam penghargaan sebagai “awesome reader”, kemampuan membacanya melampuai sebagian besar teman-temannya.  Kekhawatiran jika E1 akan mengalami kesulitan beradaptasi karena bahasa nampaknya bisa dihilangkan dari daftar. 

Sehari-hari kami membaca buku bersama, sekarang E1 konsisten membaca tanda lalu lintas, nama jalan, tulisan di bangunan, juga label produk dan kadang bertanya apa beda/artinya. Saat ini E1 juga sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, bahkan kadang dia bertanya terjemahan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. 

Saya akui, menyaksikan kemampuan anak berkembang adalah hal yang menggembirakan. Lebih membahagiakan lagi, E1 mulai memaknai konsep yang kami tanamkan. 

1. Cantik bukan hanya soal fisik.
 Dalam perjalanan ke sekolah E1 berceloteh : “Ayah, E1 akan cantik kalau pakai baju yang banyak hiasan kupu-kupunya, ya.” Dia meneruskan, “ Tapi harus senyum dan kasih salam juga!” “Iya, kalau baju bagus tapi cemberut dan marah-marah, tidak akan terlihat cantik….” Saya tambahkan. “Iya, Ayah. Allah juga suka kalau kita senyum dan memakai baju yang bagus.” Ucapnya sambil tersenyum  menyapa bapak-ibu guru yang berdiri di depan sekolah. 

2. Mulai Konsisten membantu beberes. 
Alhamdulillah E1 sudah mulai biasa membereskan rumah (menata alas kaki, merapikan mainan, mencuci sepatu sendiri, mengelap jendela kamar seminggu sekali). Salah satu komentarnya yang saya catat baik-baik saat merapikan sepatu dan mainan : “E2 jangan bikin berantakan, Allah suka rumah yang rapi an bersih!”

Mau belajar menjahit? Boleh!
Akhir pekan kemarin tiba-tiba E1 minta diajari menjahit : mulai memasukkan benang ke dalam jarum lalu memasang “love” ke selimutnya (ayahnya deg-degan kalau ketusuk jarum), E1 juga membetulkan tas yang salah satu pegangannya putus. 

3. Mulai mengerti soal isu lingkungan. Misalkan saat anak-anak gosok gigi sebelum tidur, E2 suka main keran air. “E2!! Jangan buka keran kalau tidak dipakai, mubazir!” Saat membaca buku tentang laut E1 komentar, “Ayah, orang yang buang sampah sembarangan harus dislentik, dipukul, ditendang!” “Loh, kenapa?” “Tuh, lihat kasihan turtle, bisa mati karena mengira plastic bag itu jelly fish! They are badboy! That’s not good!” 

4. Berbeda itu tidak apa-apa 
E1 mulai mengerti kalau dia tidak boleh memakan babi dan bahan-bahan haram. Ada satu komentar yang juga saya catat saat dia memakai gamis lengkap dengan kerudung di hari yang panas setelah kami mengantar ibunya ke dokter gigi dan bersiap main di taman. 
“E1, kerudungnya mau dilepas dulu gak? Kita mau jalan kaki bentar.” 
“No, I am OK. Perempuan kan harus pakai kerudung kalau keluar rumah, Ibun juga pakai.” 
Sebagian besar orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah dengan mobil, dan E1 bertanya, “Ayah, kenapa kita tidak naik mobil ke sekolah?” 
Jarak rumah ke sekolah hanya sekitar 700m dan bisa ditempuh 10 menit jalan kaki. 
“Coba lihat, antrian mobilnya banyak, tidak? “ E1 melihat parkiran nyaris penuh dan antrian mobil mengular hingga perempatan lampu merah. 
“Repot ya…” katanya. 
“Dengan berjalan kaki, kita bisa menghirup udara pagi, mengamati sekeliling dan olahraga.” 
“Yes, exercise is good for you! “  (kadang E1 mengajak saya berlari hehe)

Secara tidak langsung dia menangkap bahwa apa yang dilakukan orang tua temannya tak jadi soal. Kita punya alasan untuk berbeda. Sependek jarak rumah-sekolah itu pula saya "terhibur" dengan celoteh spontan E1 dalam melihat dunia.

Anak berenang, Ayah membaca. E1 mulai suka menjadi "great helper" di rumah . Hamdallah.


Perjalanan masih panjang, namun waktu kami amat terbatas untuk menyiapkan bekal kemandirian. Mungkin antara 5 -10 tahun ke depan, E1 sudah baligh, artinya sudah harus siap menanggung kewajiban syariah. Artinya dia harus Aqil juga : Menjadi manusia yang mandiri, berwawasan luas dan memiliki jati diri yang kuat. Saat ini, ketiadaan TV banyak membantu kami membangun ikatan yang kuat dan semoga kami dipantaskan menjadi contoh bagi anak-anak yang pemikiran dan kebiasannya bisa mereka terapkan saat dewasa kelak. Setahun ke depan adalah masa transisi saat E1 memasuki usia mumayyiz, dimana E1 mulai harus diajarkan kewajiban syariah seperti sholat (harus belajar soal thaharoh ; wudu, mandi, bersuci sendiri), termasuk tindakan yang berhubungan dengan orang lain, misalkan : jual beli, sedekah, tabungan dkk. (mulai dikenalkan dengan konsep angka dan uang = finansial literasi buat anak 7 tahun).

Saat ini E1 mulai membedakan hal baik dan buruk, hal yang bermanfaat/membahayakan dirinya, mulai mandiri namun belum sepenuhnya. Insyaaalah ada waktu sekitar 10 bulan hingga ia resmi masuk usia mumayyiz... 


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 16 April 2019

American Dream & FIRE

Banyak orang datang ke negeri ini untuk mengejar American dream, apatah itu berupa kebebasan yang tidak bisa diperoleh di negeri asal, atau kesempatan berusaha memperbaiki keadaan finansial. Ada banyak tujuan, ada banyak jalan. Negeri ini dengan kelebihan dan kekurangannya masih membuka kesempatan untuk mobilitas sosial. Saya yang terkadang harus bisa merasakan sendiri untuk memetik pelajaran, Alhamdulillah ditempatkan oleh Allah di metropolitan terbesar ke-dua di negeri ini. 

Komunitas sangat beragam, banyak yang datang sebagai pengungsi perang, dari pasca perang dunia dua hingga sekarang... Saya membaca banyak kisah pengungsi itu. Datang tanpa kemampuan bahasa yang cukup, kehilangan harta benda hingga anggota keluarga, pastinya ada trauma yang hanya dimengerti oleh mereka. 

Ada salah satu kisah dimana seorang janda beranak tiga datang sebagai pengungsi dengan ibunya. Dengan segala keterbatasan, si janda bekerja sebagai tukang bersih-bersih dengan upah minimum. Mereka tinggal di apartemen murah dimana neneknya menjaga 3 anak berusia di bawah 8 tahun sambil bercocok tanam di sisa lahan. Hasil sayuran di belakang apartemen itu kadang dibagikan juga ke tetangganya. Tentu saja mereka tidak jajan makanan ke restoran, tidak juga membeli baju baru, tidak ada perayaan di rumah. Hingga akhirnya tabungan sang janda cukup untuk membeli rumah sederhana secara tunai!

 Anak-anaknya bisa kuliah dengan grant/beasiswa dan setelah 30 tahun bekerja serabutan, sang janda bisa mencapai kebebasan finansial, dari asetnya (properti yang disewakan) juga uang pensiun. Itu salah satu kisah yang saya pikir cukup menginspirasi. 

Saat ini orang sudah terbiasa dengan hidup enak dan mudah. Kredit mengucur deras, penawaran diantarkan sampai ke depan pintu rumah. Standar kehidupan memang naik, orang "miskin" pun bisa punya mobil dan berpenampilan modis. Di sisi lain, banyak orang berusia di atas 60 tahun masih harus bekerja dengan tujuan uang, memenuhi kebutuhan dan membayar hutang. Ya,salah satu indikator American dream adalah memiliki rumah impian, dimana tidak semua orang bisa mendapatkannya. 

Saya membaca kisah-kisah orang yang bisa membebaskan diri dari tuntutan finansial. Mereka dikelilingi oleh orang-orang dengan pemikiran yang sama. FIRE, Financial Independence, Retire Early. Pensiun di usia 30an, bukanlah tidak mungkin. Mereka orang-orang yang berani mengambil aksi untuk pilihan gaya hidupnya. Pensiun bukan berarti tidak bekerja, tapi tidak harus bekerja. Intinya dengan menghitung kebutuhan hidup dan menyiapkan aset produktif baik berupa properti, saham, atau usaha yang sudah dipercayakan pengelolaannya ke orang lain. Kecepatan "pensiun" bukan ditentukan oleh seberapa besar pendapatan, melainkan seberapa besar porsi yang bisa ditabung/diinvestasikan.  

Yang sering dijadikan acuan adalah 4% rule hasil dari trinity study, isinya bila kita punya aset 25 kali lipat biaya hidup kita adalam satu tahun, kita bisa menarik 4% tiap tahunnya untuk selamanya. Bila biaya hidup kita dalam satu tahun 100 juta, jika kita punya 2.5 milyar aset produktif (sepertinya saham/surat berharga), maka jika setiap tahun kita menarik 4% tiap tahunnya, kita bisa mengandalkan passive income tanpa harus mengubah gaya hidup. 

Tentunya banyak pilihan investasi yang cocok dengan profil keluarga and resiko yang akan dipilih. Ini jadi PR berikutnya. 


ReAD MoRE・・・

Saturday, 8 September 2018

Hal Penting Saat Ini

Hidup di negeri dimana lingkungan seolah menuntut untuk mengejar uang-uang-uang, apakah itu yang sebenarnya saya inginkan? Jelas bukan. Uang adalah alat dan bukan tujuan. Di hari usia bertambah setahun ini, saya berpikir hal-hal yang menurut saya penting. 

1. Menjaga badan tetep prima. Yes, tubuh ini adalah titipan Allah juga yang harus dirawat: jaga makanan, jaga kesehatan. Punya uang berlimpah tapi kesehatan buruk, terdengar tidak menyenangkan. (Usia saya sudah 30+, harus lbh concern )
2. Mengelilingi diri dengan orang-orang terbaik. Bisa berupa lingkungan yang baik untuk perkembangan diri dan orang-orang yang punya visi sama. Pentingnya punya pasangan hidup dan keluarga yang mendukung sangat terasa. 
3. Mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi bermental kuat, pekerja keras, mumpuni dalam adaptasi dan teguh memegang prinsip. : Perlu bantuan istri dalam hal ini. 
4. Hidup di tempat yang : masih kental suasana gotong royong, air bersih tersedia melimpah (subur), kaya sumberdaya (SDM dan SDA) : Penting untuk menjaga dan meningkatkan kondisi spiritual dan finansial. 
5. Berpetualang! Ayo keliling dunia!! : Hmm, perlu modal dan akal untuk hal ini, setidaknya dimulai dari menjelajahi California dan Amerika. 
6. Nambah ilmu setiap hari : baca buku, baca artikel, dengerin podcast/ceramah. (Harus pinter cari waktu karena disibukkan 2 anak kecil super aktif yang kadang jam 11 malam blom bobo). 
7. Kontribusi ke masyarakat : volunteering! Yes, saya ngajar di sunday school. Tapi sekarang mulai kewalahan karena murid bertambah dan ada tuntutan dari "sekolah", helppp!! Saat ini saat anak-anak sedang perlu perhatian lebih dari ayahnya, urusan domestik rumah tangga kadang kurang optimal karena kegiatan di luar rumah. Semoga diberikan jalan keluar terbaik.
8. Hidup adalah perkembangan dan petualangan. Tanpa ada hal baru setiap hari, hidup akan terasa hampa (bosan sih pasti) karena rutinitas yang sama. Pengen merasa tenang saat mau tidur karena sudah melakukan hal-hal baik hari itu, dan bersemangat saat bangun tidur untuk menebar kebaikan lain. -ideal ini sih-


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 20 February 2018

Tentang Sekolah (Anak)

Tak hanya kaum elitis di Indonesia , di Amerika, persaingan orang tua terkait  sekolah anak-anaknya juga terjadi, khususnya di kelas menengah (ke atas). 

“…parents will spend down their last dollar (and their last borrowed dollar) on their kids’ education: In a society with dramatic income inequality and dramatic educational inequality, the cost of missing out on the best society has to offer (or, really, at the individual scale, the best any person can afford) is unfathomable.”



Secara umum, pola pikir mengenai masalah perekonomian terbagi menjadi 2 : kebijakan elit politik dan golongan super kaya yang mengeruk sebagian besar 'kemakmuran", di sisi lain adalah  pola hidup masyarakat yang over-konsumtif. Saya pikir hal inilah yang menjadi dua pemeran utama dalam panggung politik : Demokrat yang cenderung"membela' rakyat kecil dengan berbagai subsidi (rakyat kecil semakin miskin karena sistem kapitalis, harus dibantu secara sistemik),  Republik yang cenderung "mendukung" orang kaya dengan potongan pajak karena subsidi dinilai tidak tepat sasaran (orang-orang itu harusnya bekerja dan penghasilannya cukup untuk hidup tanpa subsidi). 

Pola pikir dengan polaritas berbeda ini menjadi tarik ulur kebijakan pemerintah, dan  ya, presiden yang menjadi motor pengatur arah kebijkan memerankan fungsi penting. Berdasarkan pengalaman 2 tahun terakhir,  memang betul bahwa potongan terbesar dari gaji adalah 'jaminan sosial'. Pajak penghasilan memang progresif namun dengan memiliki pendapatan "median", pajak ini relatif kecil, bahkan dengan kondisi khusus (migrasi, biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, dkk) yang terjadi tahun sebelumnya, kita bisa mendapatkan tax credit dari Pemerintah  (tidak perlu bayar pajak, malah dapat bantuan langsung tunai). 

Terkait sekolah, setiap wilayah dibagi menjadi zona-zona sekolah berdasarkan daerah tempat, hanya anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah tersebut yang boleh mendaftar. Akibatnya, wilayah dengan sekolah favorit lebih diminati oleh orang tua sehingga harga properti  naik. Dalam jangka lebih panjang  mucullah kawasan elit dan slum. Sekolah memang "gratis", namun ada dinding tak terlihat yang membatasi mobilitas manusia. Sisi sekonomi inilah yang cenderung memisahkan tempat tinggal orang-orang berdasarkan kelasnya... (golongan super kaya akan tinggal di kawasan super ekslusif di tebing pinggir pantai atau pulau pribadi :-p )

Golongan menengah yang peduli dengan  sekolah anak akan berusaha  untuk tinggal di kota dengan ranking yang bagus : biaya hidup lebih tinggi dan secara umum  lebih kompetitif (banyak les tambahan untuk anak-anak di luar sekolah : biola, piano, renang, kum*n, dkk).  Terkadang jarak kota seperti ini dengan kantor tempat bekerja cukup jauh, sehingga anak-anak harus dititipkan setidaknya dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. (Ya, ya, dulu manusia cenderung bekerja dan beraktivitas tak jauh dari lokasi rumahnya, kaki dan sepeda sudah cukup menjangkau segala tempat untuk keperluan sehari-hari.  Saat ini lokasi tempat mencari nafkah yang jauh dari rumah pun tetap dijadikan pilihan seiring pergeseran nilai, kebutuhan dan makin kuatnya daya tarik ekonomi kota besar..., Tapi ini isu lain...)

Bagi kami pendidikan anak juga penting. Bukan ke arah kualitas sekolah, namun lebih cenderung lingkungan yang kondusif. Kenapa? Banyak kasus dar-der-dor! yang menyasar sekolah di Amrik. Dikarenakan belum bisa commit 100% untuk homeschooling, lingkungan dimana orang tua saling sapa dan peduli cukup penting. Manfaatkan statistics seberapa banyak keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah :-P.  Sekolah yang kami pilih harus berbeda lokasi antara SD, SMP dan SMA untuk meminimalisir pengaruh dari perbedaan umur. Yes, ada beberapa school district yang menjadikan lokasi SD, SMP dan SMA berdekatan. Selain menciptakan kemacetan lokal yang cukup parah saat bel masuk dan pulang, menurut saya ada efek yang kurang bagus bagi anak-anak SD.

Di luar sekolah beberapa hal berikut patut dijadikan pertimbangan :
1. Say no to TV cable & broadcast TV service. Sebagai gantinya harus ada akses internet super cepat, komputer/laptop & HP. Selain itu ada pilihan untuk langganan Netf*ix, H*lu, dkk tanpa harus memakai pilihan 100+ channel yang belum tentu ditonton.
2. Menjaga akses minimal akan mobil, selalu siap berjalan/bersepeda : menambah waktu mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal, berpartisipasi dengan tidak menambah polusi udara dan pemakaian BBM.
3.Memaksimalkan akses ke alam (Yes, banyak sekali national park (gunung, gurun, pantai) di California, kesempatan untuk tafakkur alam yang sulit ditemukan di belahan bumi lain). Berkemah dengan sedikit akses akan memicu insting survival dan insourcing, selain menguatkan ikatan dalam keluarga.
4. Memaksimalkan akses olahraga untuk anak-anak di sekitar rumah (taman bermain, sepeda, kolam renang, etc). Beladiri juga berkuda, hehe.
5. Meminimalisir kegiatan terjadwal untuk anak-anak dengan menambah self-guided activities. Rasa bosan  dan keterbatasan bisa menjadi trigger untuk kreativitas.
6. Mainan edukatif (sedikit mahal gpp :-P ): Lego Mindstorm ; VEX IQ robotic ;  Kemah kode gratisan --- dimana kita harus “figure things out” daripada “buy a solution”  yang akan memberikan cara pandang yang keratif dan berbeda tentang dunia. Computer time (pada komputer beneran, bukan PeEs / Wii) akan memberikan efek yang sangat-sangat berbeda dari melihat iklan TV dan kartun, dan bukan tak mungkin menumbuhkan minat menuju computer competency. :-). Anak juga bisa belajar sendiri dari Khan Akademi  untuk hampir semua mata pelajaran.

Yes, kesimpulan sementara, sekolah di luar rumah hanyalah sebagai alternatif pendidikan di luar rumah, tempat anak-anak mengenal dunia luar. Pendidikan di rumah tetap harus menjadi pilar utama kegiatan anak. Selain menambah kedekatan anggota keluarga juga ramah dompet (apalagi  kalau anak tidak perlu disekolahkan dengan biaya tinggi plus antar jemput pakai mobil :-) )



ReAD MoRE・・・

Friday, 2 February 2018

Tentang Kenangan & Pelajaran

Kapan kenangan paling lama yang masih bisa terbayang dengan jelas dalam pikiran?  bayi? 2 tahun? 4 tahun?  Untuk saya, nampaknya kenangan yang tergambar dengan jelas adalah saat di TK, berarti sekitar usia 4 tahun. Kenangan masa kecil sebelum itu sama sekali tidak terbayang,  hanya bisa melihat dari foto-foto . Mungkin saja berbagai memori itu terekam dalam alam bawah sadar, dikarenakan otak anak kecil belum sepenuhnya saling bersambungan, dikatakan sebagai golden age bagi anak-anak, yang menyerap segala informasi seperti spons menyerap air.  Sebuah fase awal belajar untuk bisa mandiri dan survive di dunia. 

Ibu tentunya yang paling berperan menanamkan nila-nilai kehidupan sebelum kita mempelajarinya dari orang lain di luar rumah. Lalu saya terhenyak, betapa almarhumah ibu telah membekali saya dengan berbagai keterampilan dasar peradaban manusia dalam keterbatasan rumah tangga waktu itu. Tahun lalu menjadi sebuah kenangan yang menghantam jiwa, saat Allah memanggil ibunda keharibaan-Nya. Istri saya menuliskan USIA dengan sangat apik, mengikat emosi & pelajaran bahwa badan yang sehat, kekayaan, makanan dan segala perhiasan dunia bukan jaminan kita hidup lebih lama. Pertanyaan berikutnya, apakah dengan lebih lama hidup di dunia menjadikan kita lebih bahagia?

Meninggalnya ibu secara mendadak dalam kondisi yang insyaallah sangat baik membuat saya lebih menggaris bawahi bahwa waktu adalah sebuah dimensi yang teramat penting, hingga Allah pun mengabadikannya dalam sebuah surat di Juz ama. Yes, sungguh manusia dalam kerugian. Rugi adalah status yang melekat pada manusia dalam interaksinya dengan waktu. Agar tidak rugi, Allah memberikan jawabannya : beriman DAN beramal sholih DAN saling menasihati dalam kebenaran & sabar. Beriman saja tidak cukup untuk membebaskan diri dari kerugian, harus dilengkapi dengan berbuat baik & saling menasihati. Pertanyaan baru untuk muhasabah sebelum tidur bertambah : Apakah kita sudah "untung" hari ini, ataukah masih rugi?

Dalam dunia modern sekarang muncul cost-benefit analysis untuk mengevaluasi sebuah keputusan/sistem/proyek/apapun. Satuannya tentu saja keuntungan materi. Bagaimana bila kita masukkan dimensi waktu ke dalamnya? Kenapa? Karena waktu kita terlalu berharga. Kita sudah rugi dan terkadang keuntungan materi belum menutup lobang rugi itu. Saat ini concern saya seputar transfer ilmu dan pengalaman dalam keluarga. Salah satu konsep yang ibu ajarkan adalah insourcing. : memberdayakan/memaksimal potensi sumber daya yang dimiliki. (yes, lawan katanya outsourcing, dimana kita memberdayakan 'resource' di luar 'sistem').

Pendidikan di sekolah (kesan saya saat ini, kejar target kurikulum beres) ibarat membangun rumah dikasih tenggang waktu 2 minggu, misalnya, Pondasi harus jadi, inspeksi, ok 80% (lulus), lanjutkan. Padahal semen belum kering kering dkk, akhirnya demi mengejar waktu, pembangunan dilanjutkan ke lantai pertama, inspeksi lagi lulus 60%, dilanjutkan lagi pembangunan lantai berikutnya, dst. Hingga akhirnya ada rumah yang roboh, collapse karena sistem "evaluasi" dari inspeksi yang dilakukan sebenarnya tidak sesuai. Siapa yang disalahkan? inspector? tukang? Di sini, sistem yang salah, eksekutor yang ketempuhan. 

Pendidikan akademis di sekolah  memang penting, namun lebih penting lagi pendidikan tentang bertahan hidup di dunia dan suskes di akhirat. Seberapa banyak hasil belajar di sekolah yang sekarang bermanfaat? lebih banyak mana dengan hasil pendidikan dalam keluarga?

Manusia adalah makhluk organik, bisa berubah bila kondisi sesuai. Musim semi 2016 lalu, ada fenomena menakjubkan , Super bloom di Death valley California. Akhir tahun 2015 gurun yang kering yang selama puluhan tahun tidak mendapat air, dengan kuasa Allah mendapatkan hujan rintik-rintik. Sekitar bulan Maret 2016, bunga-bunga bermekaran di sana, Death valley menadi warna-warni dengan bunga, bukan "lembah mati", dia hanya menunggu saat yang tepat menumbuhkan potensinya.  Demikian pula manusia, dia akan tumbuh kembang  maksimal bila mendapatkan kondisi yang sesuai.


Kesimpulan saya saat ini, pendidikan formal akan membantu kita mendapat pekerjaan diperusahaan orang lain, cukup baik untuk menghasilkan active income selama sekitar 20 tahun, lalu modal finansial itu kita maksimalkan dengan kebiasaan dan gaya hidup untuk bisa "pensiun" dini dengan aset-aset produktif. Bila kita harus bekerja lebih dari 20 tahun dan masih ada tanggungan (cicilan?), rasanya pendidikan formal itu tidak cukup baik untuk menjadi perantara rejeki, atau ada yang salah dengan pola hidup kita. (Saat ini saya sudah bekerja selama 7 tahun selepas dari bangku kuliah. 2018 adalah tahun ke-8 saya bekerja, target saat ini, 12 tahun lagi saya tidak perlu bekerja untuk tujuan materiil). Untuk kasus tertentu ada bidang-bidang dengan gaji sangat besar yang memungkinkan pensiun dini kurang dari 10 tahun bekerja, bila resource dikelola dengan baik.

Dengan konsep Insourcing yang dipraktikan ibu kami di rumah, kami belajar menanam, beternak ayam, menyajikan makanan di atas meja makan hampir semuanya dari halaman sendiri. Saat harga ayam/daging mahal, ibu menggantikan menu dengan ikan, tahu dan tempe sebagai sumber protein. Jadilah menu ajaib garang asam lele (biasanya ayam), lintingan ikan (pepes dengan balutan kelapa muda parut bumbu kuning) dan berbagai "inovasi" lainnya. Masa itu menjahit baju sendiri lebih murah dibandingkan beli (kami hanya beli baju baru saat lebaran) dan menambal baju sobek adalah hal biasa. Alih-alih melakukan outsourcing untuk membersihkan rumah, kami mendapat jadwal dan wilayah masing-masing untuk menyapu dan mengepel lantai, seminggu sekali membersihkan kaca jendela dan 'memfurnish' meja kursi dengan kemiri.

Kadang saya kelewat kreatif, mau membetulkan radio, tapi malah rusak. (saya belum lulus SD saat mulai main-main dengan elektro). Prestasi saya adalah membetulkan bel rumah saja :-P 

Insourcing ini benar-benar membentuk mindset saya, bahwa resource adalah sesuatu yang harus optimal, tidak boleh mubazir, sekaligus menjadikan kami super kreatif saat melihat bahan-bahan yang berserak di sekitar. Istilah keren saat ini adalah gaya hidup minimalis, selain terhindar dari impulsive consumption, juga menjadikan jalan menuju kebebasan waktu (atau bebas finansial  pada frame yang lebih luas). Waktu adalah salah satu resource itu dan jatah kita sudah tertulis...  saat ini waktu bersama keluarga menjadi prioritas, commuting sesingkat mungkin, interaksi harus maksimal, komunikasi harus optimal, transfer ilmu dan pengembangan diri harus difasilitasi.

Dari Ibu saya belajar bahwa kita hanya akan mengantarkan anak-anak kita pada gerbang kemandirian dengan pola pikir yang dibiasakan sebelum dewasa, lalu mereka akan bebas bertebaran mencari rejeki Allah di muka bumi, belum tentu orang tua akan "dirawat" oleh anak-anaknya saat tua. Belum tentu anak-anak kita akan bersama saat masa tua. Ibu meninggal saat kami belum puas berbakti, tetap berkarya menjahitkan baju buat cucu-cucunya, memasakkan makanan kesukaan anak-anaknya,  berkontribusi ke keluarga besar dan lingkungan tempat tinggal, hingga akhir hayatnya. Saya sempat kaget saat melihat tabungan ibu, jumlahnya cukup besar sehingga saya berpikir bahwa ibu tidak menggunakan uang yang saya kirimkan. Mungkin ibu tidak butuh. Saat kakak saya memeriksa lemari, ada lembaran uang seratus ribuan diniatkan untuk qurban (kira-kira setengah harga kambing).  Ada juga sejumlah uang untuk "menikahkan" adik saya kelak. Betapa banyak urusan yang lebih diutamakan daripada kebutuhan pribadi almarhumah.....


Tahun ini anak sulung saya akan mulai mengenang berbagai peristiwa dan pelajaran dalam alam sadarnya, sel-sel otaknya akan mulai bersambungan secara sempurna, menyajikan logika, mulai paham sebab-akibat, kesimpulan dan mengambil keputusan. Saya tidak tahu jatah usia ini, semoga cukup untuk mendidik anak-anak kami menjadi insan yang bebas dari rugi.


ReAD MoRE・・・