Saturday, 8 September 2018

Hal Penting Saat Ini

Hidup di negeri dimana lingkungan seolah menuntut untuk mengejar uang-uang-uang, apakah itu yang sebenarnya saya inginkan? Jelas bukan. Uang adalah alat dan bukan tujuan. Di hari usia bertambah setahun ini, saya berpikir hal-hal yang menurut saya penting. 

1. Menjaga badan tetep prima. Yes, tubuh ini adalah titipan Allah juga yang harus dirawat: jaga makanan, jaga kesehatan. Punya uang berlimpah tapi kesehatan buruk, terdengar tidak menyenangkan. (Usia saya sudah 30+, harus lbh concern )
2. Mengelilingi diri dengan orang-orang terbaik. Bisa berupa lingkungan yang baik untuk perkembangan diri dan orang-orang yang punya visi sama. Pentingnya punya pasangan hidup dan keluarga yang mendukung sangat terasa. 
3. Mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi bermental kuat, pekerja keras, mumpuni dalam adaptasi dan teguh memegang prinsip. : Perlu bantuan istri dalam hal ini. 
4. Hidup di tempat yang : masih kental suasana gotong royong, air bersih tersedia melimpah (subur), kaya sumberdaya (SDM dan SDA) : Penting untuk menjaga dan meningkatkan kondisi spiritual dan finansial. 
5. Berpetualang! Ayo keliling dunia!! : Hmm, perlu modal dan akal untuk hal ini, setidaknya dimulai dari menjelajahi California dan Amerika. 
6. Nambah ilmu setiap hari : baca buku, baca artikel, dengerin podcast/ceramah. (Harus pinter cari waktu karena disibukkan 2 anak kecil super aktif yang kadang jam 11 malam blom bobo). 
7. Kontribusi ke masyarakat : volunteering! Yes, saya ngajar di sunday school. Tapi sekarang mulai kewalahan karena murid bertambah dan ada tuntutan dari "sekolah", helppp!! Saat ini saat anak-anak sedang perlu perhatian lebih dari ayahnya, urusan domestik rumah tangga kadang kurang optimal karena kegiatan di luar rumah. Semoga diberikan jalan keluar terbaik.
8. Hidup adalah perkembangan dan petualangan. Tanpa ada hal baru setiap hari, hidup akan terasa hampa (bosan sih pasti) karena rutinitas yang sama. Pengen merasa tenang saat mau tidur karena sudah melakukan hal-hal baik hari itu, dan bersemangat saat bangun tidur untuk menebar kebaikan lain. -ideal ini sih-


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 20 February 2018

Tentang Sekolah (Anak)

Tak hanya kaum elitis di Indonesia , di Amerika, persaingan orang tua terkait  sekolah anak-anaknya juga terjadi, khususnya di kelas menengah (ke atas). 

“…parents will spend down their last dollar (and their last borrowed dollar) on their kids’ education: In a society with dramatic income inequality and dramatic educational inequality, the cost of missing out on the best society has to offer (or, really, at the individual scale, the best any person can afford) is unfathomable.”



Secara umum, pola pikir mengenai masalah perekonomian terbagi menjadi 2 : kebijakan elit politik dan golongan super kaya yang mengeruk sebagian besar 'kemakmuran", di sisi lain adalah  pola hidup masyarakat yang over-konsumtif. Saya pikir hal inilah yang menjadi dua pemeran utama dalam panggung politik : Demokrat yang cenderung"membela' rakyat kecil dengan berbagai subsidi (rakyat kecil semakin miskin karena sistem kapitalis, harus dibantu secara sistemik),  Republik yang cenderung "mendukung" orang kaya dengan potongan pajak karena subsidi dinilai tidak tepat sasaran (orang-orang itu harusnya bekerja dan penghasilannya cukup untuk hidup tanpa subsidi). 

Pola pikir dengan polaritas berbeda ini menjadi tarik ulur kebijakan pemerintah, dan  ya, presiden yang menjadi motor pengatur arah kebijkan memerankan fungsi penting. Berdasarkan pengalaman 2 tahun terakhir,  memang betul bahwa potongan terbesar dari gaji adalah 'jaminan sosial'. Pajak penghasilan memang progresif namun dengan memiliki pendapatan "median", pajak ini relatif kecil, bahkan dengan kondisi khusus (migrasi, biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, dkk) yang terjadi tahun sebelumnya, kita bisa mendapatkan tax credit dari Pemerintah  (tidak perlu bayar pajak, malah dapat bantuan langsung tunai). 

Terkait sekolah, setiap wilayah dibagi menjadi zona-zona sekolah berdasarkan daerah tempat, hanya anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah tersebut yang boleh mendaftar. Akibatnya, wilayah dengan sekolah favorit lebih diminati oleh orang tua sehingga harga properti  naik. Dalam jangka lebih panjang  mucullah kawasan elit dan slum. Sekolah memang "gratis", namun ada dinding tak terlihat yang membatasi mobilitas manusia. Sisi sekonomi inilah yang cenderung memisahkan tempat tinggal orang-orang berdasarkan kelasnya... (golongan super kaya akan tinggal di kawasan super ekslusif di tebing pinggir pantai atau pulau pribadi :-p )

Golongan menengah yang peduli dengan  sekolah anak akan berusaha  untuk tinggal di kota dengan ranking yang bagus : biaya hidup lebih tinggi dan secara umum  lebih kompetitif (banyak les tambahan untuk anak-anak di luar sekolah : biola, piano, renang, kum*n, dkk).  Terkadang jarak kota seperti ini dengan kantor tempat bekerja cukup jauh, sehingga anak-anak harus dititipkan setidaknya dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. (Ya, ya, dulu manusia cenderung bekerja dan beraktivitas tak jauh dari lokasi rumahnya, kaki dan sepeda sudah cukup menjangkau segala tempat untuk keperluan sehari-hari.  Saat ini lokasi tempat mencari nafkah yang jauh dari rumah pun tetap dijadikan pilihan seiring pergeseran nilai, kebutuhan dan makin kuatnya daya tarik ekonomi kota besar..., Tapi ini isu lain...)

Bagi kami pendidikan anak juga penting. Bukan ke arah kualitas sekolah, namun lebih cenderung lingkungan yang kondusif. Kenapa? Banyak kasus dar-der-dor! yang menyasar sekolah di Amrik. Dikarenakan belum bisa commit 100% untuk homeschooling, lingkungan dimana orang tua saling sapa dan peduli cukup penting. Manfaatkan statistics seberapa banyak keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah :-P.  Sekolah yang kami pilih harus berbeda lokasi antara SD, SMP dan SMA untuk meminimalisir pengaruh dari perbedaan umur. Yes, ada beberapa school district yang menjadikan lokasi SD, SMP dan SMA berdekatan. Selain menciptakan kemacetan lokal yang cukup parah saat bel masuk dan pulang, menurut saya ada efek yang kurang bagus bagi anak-anak SD.

Di luar sekolah beberapa hal berikut patut dijadikan pertimbangan :
1. Say no to TV cable & broadcast TV service. Sebagai gantinya harus ada akses internet super cepat, komputer/laptop & HP. Selain itu ada pilihan untuk langganan Netf*ux, H*lu, dkk tanpa harus memakai pilihan 100+ channel yang belum tentu ditonton.
2. Menjaga akses minimal akan mobil, selalu siap berjalan/bersepeda : menambah waktu mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal, berpartisipasi dengan tidak menambah polusi udara dan pemakaian BBM.
3.Memaksimalkan akses ke alam (Yes, banyak sekali national park (gunung, gurun, pantai) di California, kesempatan untuk tafakkur alam yang sulit ditemukan di belahan bumi lain). Berkemah dengan sedikit akses akan memicu insting survival dan insourcing, selain menguatkan ikatan dalam keluarga.
4. Memaksimalkan akses olahraga untuk anak-anak di sekitar rumah (taman bermain, sepeda, kolam renang, etc). Beladiri juga berkuda, hehe.
5. Meminimalisir kegiatan terjadwal untuk anak-anak dengan menambah self-guided activities. Rasa bosan  dan keterbatasan bisa menjadi trigger untuk kreativitas.
6. Mainan edukatif (sedikit mahal gpp :-P ): Lego Mindstorm ; VEX IQ robotic ;  Kemah kode gratisan --- dimana kita harus “figure things out” daripada “buy a solution”  yang akan memberikan cara pandang yang keratif dan berbeda tentang dunia. Computer time (pada komputer beneran, bukan PeEs / Wii) akan memberikan efek yang sangat-sangat berbeda dari melihat iklan TV dan kartun, dan bukan tak mungkin menumbuhkan minat menuju computer competency. :-). Anak juga bisa belajar sendiri dari Khan Akademi  untuk hampir semua mata pelajaran.

Yes, kesimpulan sementara, sekolah di luar rumah hanyalah sebagai alternatif pendidikan di luar rumah, tempat anak-anak mengenal dunia luar. Pendidikan di rumah tetap harus menjadi pilar utama kegiatan anak. Selain menambah kedekatan anggota keluarga juga ramah dompet (apalagi  kalau anak tidak perlu disekolahkan dengan biaya tinggi plus antar jemput pakai mobil :-) )



ReAD MoRE・・・

Friday, 2 February 2018

Tentang Kenangan & Pelajaran

Kapan kenangan paling lama yang masih bisa terbayang dengan jelas dalam pikiran?  bayi? 2 tahun? 4 tahun?  Untuk saya, nampaknya kenangan yang tergambar dengan jelas adalah saat di TK, berarti sekitar usia 4 tahun. Kenangan masa kecil sebelum itu sama sekali tidak terbayang,  hanya bisa melihat dari foto-foto . Mungkin saja berbagai memori itu terekam dalam alam bawah sadar, dikarenakan otak anak kecil belum sepenuhnya saling bersambungan, dikatakan sebagai golden age bagi anak-anak, yang menyerap segala informasi seperti spons menyerap air.  Sebuah fase awal belajar untuk bisa mandiri dan survive di dunia. 

Ibu tentunya yang paling berperan menanamkan nila-nilai kehidupan sebelum kita mempelajarinya dari orang lain di luar rumah. Lalu saya terhenyak, betapa almarhumah ibu telah membekali saya dengan berbagai keterampilan dasar peradaban manusia dalam keterbatasan rumah tangga waktu itu. Tahun lalu menjadi sebuah kenangan yang menghantam jiwa, saat Allah memanggil ibunda keharibaan-Nya. Istri saya menuliskan USIA dengan sangat apik, mengikat emosi & pelajaran bahwa badan yang sehat, kekayaan, makanan dan segala perhiasan dunia bukan jaminan kita hidup lebih lama. Pertanyaan berikutnya, apakah dengan lebih lama hidup di dunia menjadikan kita lebih bahagia?

Meninggalnya ibu secara mendadak dalam kondisi yang insyaallah sangat baik membuat saya lebih menggaris bawahi bahwa waktu adalah sebuah dimensi yang teramat penting, hingga Allah pun mengabadikannya dalam sebuah surat di Juz ama. Yes, sungguh manusia dalam kerugian. Rugi adalah status yang melekat pada manusia dalam interaksinya dengan waktu. Agar tidak rugi, Allah memberikan jawabannya : beriman DAN beramal sholih DAN saling menasihati dalam kebenaran & sabar. Beriman saja tidak cukup untuk membebaskan diri dari kerugian, harus dilengkapi dengan berbuat baik & saling menasihati. Pertanyaan baru untuk muhasabah sebelum tidur bertambah : Apakah kita sudah "untung" hari ini, ataukah masih rugi?

Dalam dunia modern sekarang muncul cost-benefit analysis untuk mengevaluasi sebuah keputusan/sistem/proyek/apapun. Satuannya tentu saja keuntungan materi. Bagaimana bila kita masukkan dimensi waktu ke dalamnya? Kenapa? Karena waktu kita terlalu berharga. Kita sudah rugi dan terkadang keuntungan materi belum menutup lobang rugi itu. Saat ini concern saya seputar transfer ilmu dan pengalaman dalam keluarga. Salah satu konsep yang ibu ajarkan adalah insourcing. : memberdayakan/memaksimal potensi sumber daya yang dimiliki. (yes, lawan katanya outsourcing, dimana kita memberdayakan 'resource' di luar 'sistem').

Pendidikan di sekolah (kesan saya saat ini, kejar target kurikulum beres) ibarat membangun rumah dikasih tenggang waktu 2 minggu, misalnya, Pondasi harus jadi, inspeksi, ok 80% (lulus), lanjutkan. Padahal semen belum kering kering dkk, akhirnya demi mengejar waktu, pembangunan dilanjutkan ke lantai pertama, inspeksi lagi lulus 60%, dilanjutkan lagi pembangunan lantai berikutnya, dst. Hingga akhirnya ada rumah yang roboh, collapse karena sistem "evaluasi" dari inspeksi yang dilakukan sebenarnya tidak sesuai. Siapa yang disalahkan? inspector? tukang? Di sini, sistem yang salah, eksekutor yang ketempuhan. 

Pendidikan akademis di sekolah  memang penting, namun lebih penting lagi pendidikan tentang bertahan hidup di dunia dan suskes di akhirat. Seberapa banyak hasil belajar di sekolah yang sekarang bermanfaat? lebih banyak mana dengan hasil pendidikan dalam keluarga?

Manusia adalah makhluk organik, bisa berubah bila kondisi sesuai. Musim semi 2016 lalu, ada fenomena menakjubkan , Super bloom di Death valley California. Akhir tahun 2015 gurun yang kering yang selama puluhan tahun tidak mendapat air, dengan kuasa Allah mendapatkan hujan rintik-rintik. Sekitar bulan Maret 2016, bunga-bunga bermekaran di sana, Death valley menadi warna-warni dengan bunga, bukan "lembah mati", dia hanya menunggu saat yang tepat menumbuhkan potensinya.  Demikian pula manusia, dia akan tumbuh kembang  maksimal bila mendapatkan kondisi yang sesuai.


Kesimpulan saya saat ini, pendidikan formal akan membantu kita mendapat pekerjaan diperusahaan orang lain, cukup baik untuk menghasilkan active income selama sekitar 20 tahun, lalu modal finansial itu kita maksimalkan dengan kebiasaan dan gaya hidup untuk bisa "pensiun" dini dengan aset-aset produktif. Bila kita harus bekerja lebih dari 20 tahun dan masih ada tanggungan (cicilan?), rasanya pendidikan formal itu tidak cukup baik untuk menjadi perantara rejeki, atau ada yang salah dengan pola hidup kita. (Saat ini saya sudah bekerja selama 7 tahun selepas dari bangku kuliah. 2018 adalah tahun ke-8 saya bekerja, target saat ini, 12 tahun lagi saya tidak perlu bekerja untuk tujuan materiil). Untuk kasus tertentu ada bidang-bidang dengan gaji sangat besar yang memungkinkan pensiun dini kurang dari 10 tahun bekerja, bila resource dikelola dengan baik.

Dengan konsep Insourcing yang dipraktikan ibu kami di rumah, kami belajar menanam, beternak ayam, menyajikan makanan di atas meja makan hampir semuanya dari halaman sendiri. Saat harga ayam/daging mahal, ibu menggantikan menu dengan ikan, tahu dan tempe sebagai sumber protein. Jadilah menu ajaib garang asam lele (biasanya ayam), lintingan ikan (pepes dengan balutan kelapa muda parut bumbu kuning) dan berbagai "inovasi" lainnya. Masa itu menjahit baju sendiri lebih murah dibandingkan beli (kami hanya beli baju baru saat lebaran) dan menambal baju sobek adalah hal biasa. Alih-alih melakukan outsourcing untuk membersihkan rumah, kami mendapat jadwal dan wilayah masing-masing untuk menyapu dan mengepel lantai, seminggu sekali membersihkan kaca jendela dan 'memfurnish' meja kursi dengan kemiri.

Kadang saya kelewat kreatif, mau membetulkan radio, tapi malah rusak. (saya belum lulus SD saat mulai main-main dengan elektro). Prestasi saya adalah membetulkan bel rumah saja :-P 

Insourcing ini benar-benar membentuk mindset saya, bahwa resource adalah sesuatu yang harus optimal, tidak boleh mubazir, sekaligus menjadikan kami super kreatif saat melihat bahan-bahan yang berserak di sekitar. Istilah keren saat ini adalah gaya hidup minimalis, selain terhindar dari impulsive consumption, juga menjadikan jalan menuju kebebasan waktu (atau bebas finansial  pada frame yang lebih luas). Waktu adalah salah satu resource itu dan jatah kita sudah tertulis...  saat ini waktu bersama keluarga menjadi prioritas, commuting sesingkat mungkin, interaksi harus maksimal, komunikasi harus optimal, transfer ilmu dan pengembangan diri harus difasilitasi.

Dari Ibu saya belajar bahwa kita hanya akan mengantarkan anak-anak kita pada gerbang kemandirian dengan pola pikir yang dibiasakan sebelum dewasa, lalu mereka akan bebas bertebaran mencari rejeki Allah di muka bumi, belum tentu orang tua akan "dirawat" oleh anak-anaknya saat tua. Belum tentu anak-anak kita akan bersama saat masa tua. Ibu meninggal saat kami belum puas berbakti, tetap berkarya menjahitkan baju buat cucu-cucunya, memasakkan makanan kesukaan anak-anaknya,  berkontribusi ke keluarga besar dan lingkungan tempat tinggal, hingga akhir hayatnya. Saya sempat kaget saat melihat tabungan ibu, jumlahnya cukup besar sehingga saya berpikir bahwa ibu tidak menggunakan uang yang saya kirimkan. Mungkin ibu tidak butuh. Saat kakak saya memeriksa lemari, ada lembaran uang seratus ribuan diniatkan untuk qurban (kira-kira setengah harga kambing).  Ada juga sejumlah uang untuk "menikahkan" adik saya kelak. Betapa banyak urusan yang lebih diutamakan daripada kebutuhan pribadi almarhumah.....


Tahun ini anak sulung saya akan mulai mengenang berbagai peristiwa dan pelajaran dalam alam sadarnya, sel-sel otaknya akan mulai bersambungan secara sempurna, menyajikan logika, mulai paham sebab-akibat, kesimpulan dan mengambil keputusan. Saya tidak tahu jatah usia ini, semoga cukup untuk mendidik anak-anak kami menjadi insan yang bebas dari rugi.


ReAD MoRE・・・

Friday, 26 January 2018

Tentang Mubazir (di OC)

Masih tentang hidup di US, khususnya di Southern California, lebih khusus lagi di Orange County (OC). Berdasarkan pengamatan selama 3 tahun terkahir, berikut adalah hal-hal yang mubazir/tidak efisisen. 

1. Dryer. OC mendapat cahaya matahari hampir 100% sepanjang tahun. Saya tidak melihat keuntungan memakai dryer untuk cucian. Pemakaian listrik bertambah, serat pakaian lebih cepat rusak, warna baju lebih cepat pudar. Dryer berfungsi bila kita perlu baju motor jadi bersih dan dikeringkan pada hari yang sama, namun di OC, saya tidak merasa ada kebutuhan ini. Solusinya : pakai mesin cuci, jemur di bawah matahari (bila memungkinkan) atau dalam ruangan. Insyallah pakaian lebih awet dan kita telah berpartisipasi dalam penghematan energi dan biaya. 

 2. Mobil. Saya setuju bahwa mobil jadi kebutuhan wajib di amerika secara umum. Pemakai sepeda hanya sekitar 1% dari populasi. Tapi, lebih dari satu mobil dalam 1 rumah tangga tidak efisien. Secara teori kita beraktivitas bebas tanpa mobil dalam radius 3 mile (sekitar 5 km) dari rumah. Artinya tempat kerja, sekolah Dan tempat belanja harus bisa terjangkau tanpa mobil. Di OC, selain diberkahi dengan cahaya matahari juga tidak pernah turun salju. Sistem sekolah umum berdasarkan wilayah tempat tinggal ternyata tidak menjadikan kaki lebih ringan melangkah, anak tetap antar jemput dengan mobil ke sekolah. Akibatnya? Kemacetan lokal karena antrian mobil untuk ratusan siswa berlangsung bersamaan pada bel masuk Dan pulang sekolah. 

3. Commuting. Selain waktu yang terbuang, ada konsumsi energi dan pikiran (stress?), juga resiko kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan. Solusinya : cari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja. Waktu pagi akan lebih produktif untuk komunikasi keluarga, berkebun atau membereskan rumah.

4. Ruangan. Rekomendasi pemerintah (bukan regulasi) yang diterapkan sbg aturan sewa membuat sulit mencari apartment yang sesuai kebutuan. Kami yang saat ini cukup dengan 1 bedroom, harus menyewa 2 bedroom, karena max occupant utk apartement 1 kamar adalah 3 orang. (Anak2 masih balita dan tidur dlm kamar yg sama meski pisah kasur). 1 ruangan tidak terpakai. Solusinya : bila memungkinkan, jadikan alat menambah income : sewa/a**bnb. 

 5. Makanan. Secara umum, porsi makan di restaurant lebih dari kebutuhan perut, sehingga hampir selalu ada sisa. Yes, dibuang. Solusinya : bawa pulang atau pesan sesuai kebutuhan. Kebiasan meminimalisir sampah perlu diterapkan. Bila membuat memasak makanan sendiri, habiskan. Energi,waktu, pikiran untuk berbelanja, memikirkan menu, memasak dan menyajikan menguap sia-sia setara dengan makanan jadi yang masuk bak sampah. 

6. Tungku Api/Pemanas. Musim dingin tidak terlalu mnggigit tulang, namun ada rumah/bangunan (tua?) yang dilengkapi dengan tungku di ruang keluarga. Biasanya memakai bahan bakar gas dan dibayar lewat HOA. Artinya dipakai atau tidak, tetap bayar iuran. saya jadi ingat kotatsu atau selimut listrik saat di Jepang, menghangatkan lokasi di sekitar manusia saja, tidak perlu seluruh ruangan. (AC terkadang masih diperlukan karena musim panas bisa panas & lembab sekali, tapi tidak perlu menyala 7 hari seminggu terus menerus) 

7. Garasi. Mobil biasa diparkir di carport atau pinggir jalan, garasi dialih fungsikan menjadi gudang. Jadi sebenarnya.... tidak perlu garasi, ya? barang-barang yang digudang sebagian besar adalah barang-barang yang tidak terpakai. Sewa gudang sebenarnya wajar bila kita pindahan, satu atau dua bulan lah ya, buat penyimpanan sementara. Tapi di Amerika sewa gudang bisa bertahun-tahun, artinya, sebenarnya barang-barang itu tidak diperlukan bukan? Saya jadi ingat tentang acara TV dimana gudang sewaan yang sudah tahunan tidak diakses pemiliknya akhirnya dilelang. Eh, jadi peluang usaha :P

 *saya termasuk yang geregetan dengan perilaku 'mubazir' : membuang makanan (bukan anak kecil); tidak menutup kulkas; menyalakan TV tanpa ditonton; naik mobil untuk jarak dekat; meyimpan barang yang tidak terpakai; setiap tindakan mubazir ada konsekuensinya, entah berupa tambahan biaya atau pemborosan energi = penghamburan harta. Dalam skala kecil kebiasan seperti ini damapak buruknya tentu tidak besar, tapi bila setiap orang dalam sebuah negara perilakunya sama, dampaknya bisa ke stabilitas ekonomi negeri itu. Bacaan : buku2 Juliet Schor*


ReAD MoRE・・・

Friday, 19 January 2018

Tentang Sewa atau Beli Rumah

Keputusan sulit bagi setiap keluarga. Kabar baiknya, NY Times pernah menuliskan artikel dan membuat simulasi keuangan untuk kebutuhan dasar manusia akan papan ini, di Amrik tentu saja. Silakan telusuri. Bisa juga diseusaikan untuk negara lain saya kira, akan sangat membantu memberi gambaran apakah uang yang akan kita bayarkan sebanding dengan biaya/harga. Ada juga versi video penjelasan soal sewa vs beli di US, silakan akses video di  khan academy, excel file juga tersedia.

Faktor pertimbangan dalam link di atas jauh lebih kompleks dibandingkan kesimpulan sementara saya selama ini :

 +=+=+=+=+ 
Sewa : kalau sewa bulanan kurang dari 0.5% nilai properti. 
Beli : kalau sewa bulanan lebih dari 1% nilai properti. 
Antara 0.5% - 1% ,nilai wajar, pertimbangkan kemampuan finansial saat itu :-) 
Nilai bangunan rumah di amrik berkisar $100-200 per square feet, atau 15-30 juta per meter persegi, karena harga tanah relatif murah, biasanya orang menaksir nilai properti dari luas bangunan saja. 

Untuk harga di Indonesia saat ini (dengan kualitas yang bagus), perkiraan saya harga per meter perseginya 2-6 juta rupiah. Bila harga suatu properti satu milyar dengan luas tanah 100 meter persegi dan luas bangunan 60 meter persegi, nilai bangunannya paling mahal 360 juta, harga tanah sekitar 6 juta per meter persegi. Ini untuk rumah baru dibangun, tentu saja.  Harga sewa yang masuk akal adalah kurang dari 60 juta setahun. (6% dari 1 Milyar).

Untuk rumah tipe 36 , luas tanah 72 m2, dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi  untuk keluarga muda, nilai intrinsiknya sekitar  300jutaan. Harga sewa yang masuk akal kurang dari 18 juta rupiah setahun.

Bila rumah sudah dibangun lebih dari sepuluh tahun yang lalu, nilainya tidak akan setinggi ini. Namun... harga tanahnya yang mahal, biasanya, karena kota berkembang. Dipilih karena lokasi...

Selanjutnya menyesuaikan dengan budget masing-masing.
 +=+=+=+=+=+


Dengan harga rumah di OC yang tinggi, secara umum, lebih baik baik menyewa, apalagi jika kurang dari 5 tahun. masalah tempat tinggal ini benar-benar menyesuaikan visi misi jangka menengah/panjang sebuah keluarga.

Rumah adalah kebutuhan dasar, memiliki sertifikat rumah adalah pilihan. Secara ideal rumah menjadi pusat aktivitas, bukan hanya sekedar tempat tidur dan menyimpan barang. Artinya, lokasinya harus cukup dekat untuk aktivitas dengan berjalan kaki atau sepeda sehari-hari : sekolah anak dan kantor orang tua, tempat belanja kebuthan sehari-hari.

Sangat tidak efisien jika untuk aktivitas sehari-hari ini perlu ditunjang kendaraan roda empat. Terkecuali darurat : ada orang tua atau anak balita. Bila anggota keluarga cukup sehat fisik dan matang akalnya untuk kegiatan mandiri, rumah yang dekat dengan fasilitas aktivitas anggota keluarga sudah jelas pilihan utama. (halaman belakang, garasi, luas rumah dkk bukan faktor pokok).

Istri saya sudah menyatakan dengan jelas keinginan memiliki (sertifikat) rumah. Artinya bila ingin memaksimalkan rumah tersebut, kegiatan sosial-ekonomi anggota keluarga harus terpusat dalam jejari 5 km, maksimal 30 menit naik sepeda. Terkadang masalah sekolah anak yang jadi pertimbangan, namun insyallah akan saya bahas di tulisan berikutnya tentang solusinya.

Pengalaman pribadi saya sendiri, SD saya berada di seberang rumah. Bila saya lupa minum susu atau sarapan, maka almarhumah ibunda akan membawa gelas/nampan ke depan gerbang sekolah, lalu teman-teman & kakak kelas (yang sebagian besar tetangga) sudah hafal kebiasaan ini dan mencari saya untuk dihadapkan ke ibunda. :-P Itu kalau saya lagi rajin. Kalau sedang malas, maka baru berangkat  5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Nyaman sekali bukan? Ortu tidak perlu antar jemput. Sebuah kemewahan sederhana.

Saya sendiri memimpikan rumah sederhana yang efektif, tidak banyak barang dan pemakaian ruang bisa maksimal. Pengalaman hidup di Jepang banyak berpengaruh. Ruang tidur dengan tatami dan futon akan menghemat ruang, tidak memerlukan dipan, jemur "kasur" lebih mudah, juga lebih sehat karena tempat tidur bisa 'disterilisasi' dengan sinar matahari. Kasur pegas? terlalu berat untuk dijemur.

Saya akan memerlukan halaman yang cukup luas untuk ternak ayam & ikan, serta menanam buah dan sayuran. Mahal donk... Mungkin saja. Namun bila tinggal di rumah seperti ini, artinya saya tidak commuting ke kantor dan bekerja 8 jam di luar lagi. Dengan memiliki sertifikat rumah dan rumahnya ditempati sendiri, kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan insyallah terpenuhi, saatnya pensiun dini, bekerja menekuni hal yang disukai. Yey! PR besar lagi :family resilient and flexibility.


Satu lagi, memilih rumah = memilih lingkungan, hal ini terkait dengan tetangga, keamanan, dan ketentraman batin. Pola  Keep up with the Joneses, tentu saja bukan pilihan lingkungan yang bagus. Saya masih mengalami lingkungan dimana kita akan meminta tolong ke tetangga sebelum memanggil tukang saat ada masalah di rumah, saling memberi/meminta bumbu dapur lalu mengembalikan dalam bentuk masakan, pengajian lingkungan dari rumah ke rumah, saling sapa saat ketemu di jalan, dsb. Interaksi dengan manusia sangat menentukan kenyamanan. Bila waktu sehari-hari dipakai untuk 3-4 jam commuter, 8 jam bekerja lalu weekend digunakan untuk jalan-jalan, akan lebih sulit membangun koneksi 'batin' dengan tetangga. Ketergantungan akan mobil lebih mengikis lagi nilai sosial ini. Fenomena tidak kenal/bicara dengan tetangga kanan kiri sudah terjadi.


ReAD MoRE・・・