Wednesday, 1 March 2017

Tentang Pendidikan Anak dan Masa depan

Salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk pindah domisili adalah pendidikan anak. Ya, betul. Mencari lingkungan yang lebih kondusif untuk pendidikan karakter, setidaknya semaksimal yang kami mampu dalam keterbatasan kami. Yes, keterbatasan dalam pengetahuan, pengalaman, penguasaan informasi, juga kondisi finansial.
 
Di negeri ini, pendidikan dasar dan menengah di sekolah umum gratis, namun kualitas diragukan sebagian orang sehingga yang punya kelebihan uang akan memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Biaya untuk kuliah sangat mahal dibandingkan dengan negara maju lainnya. Imbasnya pilihan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi banyak ditinggalkan karena urusan perut lebih prioritas. Solusinya gampang. Hutang untuk kuliah. Yes, student loan. Secara hitungan, pemerintah Amerika menamakan hutang ini sebagai investasi, namun banyak juga yang menjelang usia senja terpaksa masih menanggung student loan.
 
Dalam laporan keuangan mereka student loan ini dianggap sebagai aset. Entah sejak kapan definisi pendidikan menyempit menjadi sebuah gelar yang diperoleh dari sekolah formal dan lembaran ijazah itu tidak menjamin tingkat keahlian seseorang dalam bertahan berjaya dalam kehidupan (dunia)nya. Dan yah, kesempatan untuk menunut ilmu secara terjangkau dan berkualitas nampaknya akan semakin terbuka tanpa ada sekat-sekat wilayah dan bahasa.
Ada masa dimana orang berjalan kaki ribuan kilometer hanya untuk menjadi murid seorang yg berilmu. Apprenticeship. Belajar langsung kepada aslinya dan silsilah penurunan ilmu itu jelas. Model menimba ilmu seperti ini pun sudah berlangsung selama ribuan tahun sebelum sekolah formal mengambil alih makna pendidikan. 
 
Ibu rumah tangga, madrasah keluarga. Mengasah kemampuan anak sesuai dengan bakatnya. Ilmu dan keterampilan yang tidak dikuasai oleh orang tuanya bisa dipelajari dari ahlinya. Saya rasa itu fungsi sekolah, karena para pengajar ya seharusnya punya kualitas untuk memberikan keilmuan dan keterampilan yang diturunkan kepada murid2nya. Bila fungsi ini hilang dan sekolah berubah jadi wahana mendulang uang yang menjual gengsi dan ijazah atau tempat penitipan anak, maka terlalu berharga rasanya bila anak-anak diceburkan dalam tempat seperti ini.

Mungkin akan datang masa dimana anak-anak kami akan berguru langsung pada ahli-ahli di bidangnya, level keilmuan dimana kami sebagai orangtua tidak menguasainya.... sehingga mereka kelak menjadi value creator dan problem solver yang sigap mengambil tindakan, bukan sosok yang mudah berkeluh kesah menyalahkan lingkungan.
 
Anak-anak kami namanya diawali dengan huruf E. Tidak ada yg kebetulan, katanya. Saya pernah membaca tentang kriteria potensi yang berkembang itu sikenal dengan 4E : Easy, Enjoy, excellent, earn. Saya juga pernah bertemu langsung dengan keluarga yang sukses mendidik dan mengarahkan anak-anaknya sesuai dengan kriteria 4E di atas.  Mereka sudah "earn" sesuatu dari bidang yang digelutinya. Disini kami mulai memetakan bidang apa yang sesuai untuk did alami oleh jiwa2 yang dititipkan pemiliknya kepada kami. Suatu keahlian yang mudah dan menyenangkan bagi mereka, dikuasai hingga predikat ahli, dan dengan itu bisa menghasilkan,  "earn",  baik materiil ataupun kepuasan non-materiil.
 
Tugas kami adalah mengarahkan mereka dan menunjukkan koridor yang halal dan diridhai saat menjalaninya. Tantangan yang akan mereka hadapi pada masanya tentunya akan berbeda dengan yang kami alami saat ini. Dalam bayangan saya, sekat geografis akan makin menipis sehingga lebih banyak orang yang bisa memperoleh rejeki dari berbagai negeri sesuai dengan keahliannya. Orang akan lebih bebas memilih dimana akan tinggal dan menikmati hidupnya tanpa harus terkonsentrasi di suatu wilayah dengan kualitas hidup kurang layak hanya karena di situlah Roda ekonomi lebih kencang berputar.

Jadi sebenarnya, kantor tempat kerja akan pindah lokasi. Posisi lebih strategis dekat ke bandara dan pusat finansial di Orange County. Biarpun sudah tahu wacana pindah lokasi ini, saya tetap kaget karena rencana ini akan direalisasikan tahun ini, lebih cepat setahun dari rencana awal. Berhubung si anak sulung sudah masuk usia sekolah tahun depan dan saat ini homeschooling belum kami jadikan pilihan, maka masa berburu school district menyapa kami lebih cepat.

Pertimbangannya adalah kemanana dan kemyamanan. Tidak semua wilayah ramah terhadap orang asia. Pertimbangan tempat tinggal pun jadi lebih penting lagi. Ada beberapa kota yang komposisi etnisnya cukup beragam sehingga aman. Namun pertimbangan berikutnya ialah rak dari kantor baru. Irvine bisa djadikan pilihan karena setengah penduduknya adalah orang asia, namun kota ini sedang mengalami bubble, harga sewa apartemennya bisa bikin sesak napas.

 Irvine juga menjadi kota paling aman se-Amerika. hmm, bisa jadi karena wilayah baru yang berkembang cukup cepat dan harag property yang tinggi menyebabkan orang kelas tertentu saja yang bisa tingga di sini. Orang item dan etnis hispanik jangan terlalu harap betah di sini. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa kota ini terlalu asia (baca : Ch*na), karena OKB dari sebrang pasifik rajin investasi dengan membeli rumah dengan cash! wow, cerita serupa pernah saya dengar saat masih kuliah dulu, orang dari negeriini mau beli vila milik mantan perdana menteri Jepang.

Saat tulisan ini ditulis, kami masih menunggu beberapa variable lain untuk dijadikan pertimbangan. Teman di kantor bilang, dia tidak betah tinggal di Irvine karena oemandangan yang monotn (setiap perempatan mirip, awas tersesat!), ada juga beberapa alas an lain yang agak terdengar rasis karena ada etnis mayoritas yang membuat suasana kurang nyaman (bahkan bagi orang kulit putih).

Ini salah satu tulisan di forum diskusi tentang Irvine :

Facts- My wife and I have concluded that it is very difficult to Make REAL Friends in Irvine, California. There is too much cultural diversity and Financial Stress. We don't even know our neighbors. We have tried to introduce ourselves or invite them to dinner but they are too busy for us. It seems like most people you meet here are trying to sell you something and are not interested in getting to know you first. It's very EXPENSIVE to live in California and most people are just trying to survive and become self-absorbed with money first/friendship mentality.

No matter how much money you make in California, it seems that your bank account is very low. We make over six figures a year and we almost went into debt trying to keep up with the California "Lifestyle". We recently had an AH-HA Moment-Life is not all about how much money you make, it's about making REAL FRIENDSHIPS and helping others. Most people in Irvine, Ca. are too self-absorbed/selfish. Showing off and driving German/Japanese Sports Cars BMW's Mercedes Lexus and keeping up with the Jones's.

#1 A majority %85 of Californians are on some kind of legal or illegal mind-altering drugs due to FINANCIAL STRESS. They are either pill poppers vicodin, oxy or pot heads or coke heads. It blew us away how many "normal" Californian's hide their drug addictions.
#2 You waste a lot of time driving your car getting around, nothing is close by. Wanna go to the Irvine Spectrum? Good luck finding parking. Would you like to wait one hour plus to eat your dinner? How about sitting next to someone that doesn't speak English? It happens all of the time in Irvine, Ca.
#3 Unless you own your own business or have highly specialized skills forget about working for a job in Irvine, Ca. California has one of the Highest Unemployment Rates in the US.
#4 California is #1 on the 10 states in the worst financial health and highest financially stressed residents according to the Pew Center on the States. #1 being the worst.
#5 Since 90% of California residents are stressed, they have the Dog eat Dog mentality, which makes them some of the most Rude, Unfriendly, Flakey, Materialistic, Stressed out/Fake people ever seen in one area.
#6 Californians are not interested in being involved in a true community. Money First-Friendship Last mentality. Californians are too worried about their finances and too high on their drugs to care about you. Money First/Friendship Last State.
#7 Horrible place to raise a Family due to Bad Influences. 2 out of 3 high school students use drugs. California has a 75.54% DIVORCE RATE one of the highest in the USA.
#8 Too much cultural diversity/diversity sucks. Thousand of foreigners/immigrants from screwed up countries that don’t care to assimilate into US culture or speak English. Most immigrants are in California to milk the socialist liberal system and to make as much money as they can, wire it back home and eventually leave California.
#9 Highest taxes in the USA and HIGHEST FINANCIAL STRESS .
#10 Everything is Super-Expensive/No value for your money. Costly Housing, real estate taxes, expensive food ($3.50 for an Iced Tea!) and highest gas prices because State of California taxes the crap out of everything they can get their greedy hands on!
#11 If you’re not earning at least $160,000/year in California you are eternally forced to rent a small/expensive crappy apartment from rich foreign landlords.
#12 Over 23% of homeowners are underwater on their homes, Foreclosures Everywhere.
#13 A nasty over-crowded Suburban Sprawl nightmare with insane traffic jams.
#14 Worst state to own a business since it’s an Anti-business environment with tons of Red Tape and stupid regulations. Thousands of good companies have left California for better Pro-Business States due to excessive taxes and endless fees.
#15 California has largest “lawsuit climate” meaning every idiot who thinks you are rich is going to try to sue you for money. Scum bag lawyers love California.
#16 California is Broke for $25 Billion. Governor Brown will find a way to get your hard earned money by raising taxes/fees.
#17 California has many corrupt mafia style unions (teachers, police, firefighters) that control California’s government/economy via lobbyists. They suck all of the state's tax dollars dry. Union Fire Fighters can make more than a Doctor with their over-time pay!
#18 Since California has so many illegals, they help their fellow Illegal immigrants to take advantage of every stupid Liberal Law such as the illegal/unfair Dream Act.
#19 California rewards those who are lazy with their welfare system which stinks(20% of LA County Residents get public aid welfare!)
#20 1 of 3 Californians has NO HEALTH INSURANCE
 #21 California is home to millions of scary Liberals.
#22 California has the worst gun laws in the US/weakest 2nd Amendment Rights almost impossible to get a CCW unless you are a corrupt cop/prison guard(criminals don’t need licenses or waste money on stupid CA fees to get guns in California!).Criminals have access to all kinds of illegal cheaper guns while the honest, law-abiding California residents cannot have access to guns to protect their families. Think about it, in California, if some violent criminal breaks into your house and murders your Family, he will just get life in prison which is a slap on the wrist joke. If you shoot and kill this criminal his family will turn around and sue you for millions and probably win 70% of the time.
#23 If you're single it is an extremely difficult environment to find a suitable mate/Partner due to high transient levels. People are always moving to and from California.
#24 The Irvine Police care more about writing you a revenue generating traffic ticket that protecting you from criminals,
#25 California has the Third Highest Income Tax Rate in the US.
#26 Earthquakes and Fires.
#27 Dirtiest Air Pollution in the USA. Stinks like crap and you’re breathing it in everyday in Ca
#28 Anti-Business Liberal minded state run by a corrupt career politician Jerry Brown who screwed up BIG TIME back in 1983. The idiotic liberal majority in California voted failure Jerry Brown back into office again for another round of anti-business punishment!
#29 California prisons are a JOKE and career criminals love it. Prisoners don’t have to work. They can get their college degrees, watch cable and buy drugs/cell phones from corrupt prison guards.
#30 If you get Divorced in California and you make more money than your Spouse in California, the California Divorce Courts will take 50% of your assets plus a large monthly alimony for many years.

If you are a Super Rich Flaming Liberal or part of a tight knit immigrant community, then Irvine, California is for you!"


ReAD MoRE・・・

Saturday, 20 August 2016

i.d.e.n.t.i.t.a.s #2

Kembali merenung tentang identitas. Serangan media sangat gencar, hingga sebagian kita kadang terkecoh oleh golongan yang mengenakan “pakaian” tertentu untuk membentuk opini massa lalu berhasil mendekati tujuan sejatinya. Pakaian yang dikenakan begitu mempesona sehingga orang langsung percaya dengan penampilan tanpa mencoba mengajak bicara atau mencari tahu bagaimana profil sebenarnya. Istilahnya tabayun/cross check. Jangan sampai  dengan polos membenarkan argumentum ad populum, karena sesuatu itu belum tentu benar disebabkan banyak orang mempercayainya. Mungkin derajatnya hanya konjectur saja...
 
Ya, yang saya maksud adalah kelompok helm putih  dan  1s1s yang itu tuh. Dan sebenarnya masih banyak golongan-golongan lain yang disodorkan media dengan menghentak hingga tanpa sadar sebagian kita turut menyebarluaskannya, menyisipkan informasi yang terdistorsi ke orang-orang yang kita kenal.
 
Isu global atau negeri-negeri yang dengannya ada keterkaitan rasa,  sampai sekarang pun saya terseok-seok untuk mengikutinya. Lalu kembali lagi. Saat musuh sibuk menyamarkan identitasnya, bagaimana dengan identitas yang kita pilih untuk diri sendiri? *Jangan galau kayak Jason Bourne yang diprofilkan punya banyak paspor*
 
Voila. Sepertinya saya paham kenapa pasangan hidup pun diibaratkan sebagai pakaian. Ya, karena dia menjadi satu identitas kita. Identitas yang dikenakan paling lama setelah nama pemberian orang tua. Bersamanya kita akan menanamkan identitas baru untuk generasi yang akan menghadapi lingkungan dan zaman yang berbeda, saat sang Pencipta menitipkan amanah yang disebut anak.
 
Saya tersentak karena waktu bersama anak berlalu begitu cepat. Saat anak sulung saya belum lancar bicara, sebelum tidur kami lisankan doa-doa pengantar tidur dilanjutkan ayat-ayat suci yang kami hafal hingga si bocah tertidur. Menjelang usia 3 tahun, dia sudah hafal doa-doa itu. Kini dia menolak saat saya hendak melafalkan ayat-ayat. Kenapa? Dia memilih mendengarkan”kakak” saja. Baiklah, memang bacaan saya tidak sefasih dan semerdu kakak-kakak itu. Anak sulung saya tidak mau lagi mendengar saya mengaji setelah dia terbiasa mendengar tilawah ahmad saud dan Thoha aljunaid.
 
Awalnya saya merasa biasa saja. Tapi kemudian ada seorang sahabat yang membangunkan alarm kesadaran. “Sunu, kamu udah keliling dunia kemana-mana, tapi kok hafalan segitu saja” Jleb. Panah pengingat yang tepat sasaran. Hafalan saya tidak banyak bertambah, bacaan saya belum bagus. Dan saya tidak membantah, karena si sahabat bisa menambah 2 juz dalam 2 minggu.
 
Keinginan kami untuk menanamkan kecintaan Quran kepada anak-anak perlu direview kembali. Palu godam seolah dipukulkan ke meja bernama hati. Seberapa jauh kesanggupan kami mengenakan pakaian yang disebut orang tua?
 
Saya menyaksikan bahwa identitas islam bisa terhapus dalam dua generasi, terutama bila berada di negeri dimana panggilan sholat tidak terdengar dari masjid. Lalu saya merasa sedih,khawatir, resah… Bagaimana kelanjutan keimanan dalam keluarga kami? Bukankah ini adalah warisan yang lebih berharga dibandingan harta dunia? Bagaimana anak keturunan kami bisa teguh mencintai identitasnya dalam tantangan pada jamannya?
 
Dalam al quran dikisahkan orang-orang sholeh mewasiatkan pesan tentang identitas diri kepada anak-anaknya. Tentang siapa Tuhan dan jangan menyekutukanNya. Kalau dipikir, sekarang ada kemudahan; mukjizat yang menjadi petunjuk sepanjang zaman. Ya, kitabullah yang diturunkan melalui Rasul terakhir.
 
Dalam keterbatasan waktu kami di dunia, semoga dicukupkan kesempatan untuk menghujamkan pasak-pasak identitas hamba dan kedudukan terhadap pemilik jiwa, membaca dan mengikuti petunjuk agar senantiasa berada dalam koridor menuju surga. Semoga dengan segala ketidak sempurnaan saya bisa menorehkan warna-warna kebaikan ke jiwa-jiwa dalam raga yang sekarang masih mungil menuju dewasa. …. hingga selamat mencapai tempat kembali mereka….


ReAD MoRE・・・

Monday, 15 August 2016

i.d.e.n.t.i.t.a.s

Kenapa menikah? Bukankah hal-hal yg diperoleh dg menikah juga bisa didapatkan tanpa menikah? Anak bisa adopsi. Sperma bisa dibeli. Tinggal pilih fenotype seperti apa yg diinginkan. Bosan dg pasangan toh bisa putus hubungan dan cari pasangan baru. Pengen punya temen hidup pun bisa tinggal bersama tanpa harus menikah.  

Pertanyaannya, mentalitas seperti apa yg dimiliki generasi penerus yg dihasilkan dari generasi bebas seperti di atas? Saat di Jerman saya punya seorang teman yang ibunya belum pernah menikah. Dia punya 2 adik dari 2 ayah yang berbeda. Adik lain dr pihak ayah biologis dr ibu yang berbeda. Dan dia baru tau ada saudara separuh darah saat sudah dewasa. Terdengar rumit bagi saya. Nasab keluarga tidak telas. 

Anak seolah hanyalah perpaduan genetik hasil pembuahan sel kelamin. Binatang pun secara natural berkembang biak. Kalau perilakunya sama saja, apa yang membedakan manusia dengan hewan? Akal, dimana akal? Oh, iya, manusia bisa adopsi, memilih dan membeli sperma, atau bahkan minta legalitas hubungan anonoh sejenis. Metode seperti ini gak bisa ditiru binatang. Apakah ini bedanya?

Bagaimana dengan identitas diri? Ketika anak-anak yang menjadi sebuah generasi ternyata adalah seonggok tulang-daging yang bisa bicara. Nilai seperti apa yang mereka bawa? Kehidupan seperti apa yang akan mereka atur? Identitas apa yang akan mereka wariskan?
Identitas. Siapa saya? Nama yang disandang adalah pemberian orang tua. Tanpa sebuah nama, individu seperti apa diri ini? Ketika segenap aksesori diri, nama, jabatan, profesi, gelar, bangsa/kewarganegaraan, jaringan, keturunan diibaratkan pakaian, bila semua itu dilepaskan, siapakah anda saat 'telanjang' sendirian saja?

 Identitas apa yang anda cari? Apakah itu berarti ketika misalkan anda seorang diri di pulau terpencil yang tak dihuni? Apakah itu berarti saat kita kembali ke pemilik Jiwa yang sejati? Mungkin saat seperti inilah manusia mendekati fitrahnya. Mendekati rasa ketika jiwa bersaksi siapa tuannya. Mendekat ke arah penciptanya. Seperti Ibrahim as mencari lalu menemukan Tuhan. Seperti Muhammad saw ketika menerima wahyu. Ya, hakikat diri ternyata adalah hamba yang tidak berdaya tanpa kasih sayang dan kemurahan yang Maha Kuasa. Lalu kenapa masih tidak mau mengikuti aturanNya? Bukankah Petunjuk itu adalah anugerah yang wajib disyukuri dan dipatuhi agar tak tersesat? 

Identitas manusia dimulai dari orang tuanya, lalu lingkungan yang memasukkan informasi. Seseorang bisa menjadi orang tua biologis dan itu sumber identitas pertama. Dalam islam, setiap anak yg terlahir dari hasil pembuahan diluar nikah tidak mendapat Nasab ayahnya. Artinya hukum-hukum syariah tidak berlaku, si ayah tidak bisa menjadi wali si anak saat menikah, mereka tidak saling mewarisi.

Berbagi DNA tidak selalu berarti berbagi hak dan kewajiban, apalagi berbagi harta. Anak yang lahir diluar nikah dan tau ayahnya siapa dengan anak yang lahir dr hasil pembuahan donor sperma, serupa dihadapan hukum. Apakah si anak bisa menuntut warisan dari pemilik DNA yang menjadi penyusun tubuhnya? Atas dasar apa? 

 Saat berada di negeri multi etnis, dimana kewarganegaraan seseorang tidak hanya mutlak dinilai dari warna kulit atau penampakan fisik saja, identitas apa yang harus dimiliki? Hukum apa yang harus diikuti? 

Politik dipakai untuk menguasai orang-orang, kemudian membuka akses kepada kepemilikan, entah melalui pajak atau kekuasaan atas bumi, air dan kekyaan alam di dalamnya. Maalik, Malik. Pemilik dan Raja. Maalik disandingkan dengan hari kemudian seluruh alam, tidak terbatas zaman. Malik disandingkan dengan manusia. Manusia saja yang cukup rakus, ingin menjadi malik bagi manusia lain, lalu tambah rakus ingin menjadi maalik untuk menyatakan kepemilikan atas harta benda, bahkan bumi pun dikotak-kotak diberi batas wilayah plus sertifikat lalu diperjualbelikan, padahal siapa yang sebenarnya yang punya? 

 Seberapa sadar atas identitas diri sendiri?
 
***Identitas berupa kotak-kotak kewarganegaraan inilah yang akhirnya menjadi sekat bagi seseorang untuk menjalanakan suatu peran di negeri yang terkotaki politik. Saya teringat obrolan dengan Bapak Mertua seputar perlu tidaknya khilafah. Hmm, khilafah terdenger lebih mudah bagi saya, dalam artian sekat kewarganegaraan itu pupus tanpa tali bahasa, suku atau wilayah. Identitas yang sama dalam kedudukan yang setara. Permainan identitas ini kadang dipakai untuk membunuh karakter seseorang sehingga segala kebaikan besar yang bisa terjadi melalui dia akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan seiriing dengan lenyapnya sosoknya bersama potensi kewenangan yang ada.... Phffhh.***Jaman sekarang tidak perlu membunuh untuk menghilangkan musuh, cukup sosok/nama baiknya dihancurkan, lalu segenap dukungan akan menghilang. Ngeri. Pengalihan isu?***


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 10 August 2016

Merindu Zaman

Masih kental suasana ramadhan, bulan diturunkannya pegangan hingga akhir jaman. Berakhirnya bulan ditutup dengan penuh kesyukuran, melantangkan takbir, mengagungkan kebesaran Tuhan. Selipan doa berjejalan agar masih bisa bertemu lagi bulan suci tahun depan.

Fitnah sudah merajalela. Kebenaran sulit diterka hanya mengandalkan pendapat yang bertebaran di social media. Lalu bagaimana kita akan menghadapi fitnah paling kuat yang katanya menjadi salah satu ciri akhir zaman? Yes, yang itu. Saat neraka dajjal sesungguhnya surga dan surganya sejatinya adalah neraka.

Maka umat muslim disunnahkan untuk membaca surat Al kahfi setiap pekannya. Bagimana ayat-ayat dalam surat ini bisa melindungi dari fitnah dajjal? Yang saya pahami, bukan karena kita membunyikannya (tilawah), tapi dengan kita membacanya (iqra).

Surat yang melindungi orang beriman dari fitnah terkuat yang memutar balikkan surga dan neraka itu diawali dengan mengucap pujian, kesyukuran atas hadirnya pedoman hidup yang akan menjadi acuan saat kebenaran dan kebatilan sudah bercampur-aduk.
Beberapa fakta yang terjadi tentang rancunya kejadian yang disokong sekelompok manusia saat ini.

1. LaGiBeTe dianggap normal dan diakui secara legal di beberapa negara.
2. Seorang anggota Parlemen Inggris dibunuh sebelum Brexit.
3. Pada hari nasional Perancis (14 Juli), supir truk dengan pendingin menabrak keramaian lalu menembaki orang-orang di Nice. 84 orang tewas. –Kebenaran (pembenaran?) apa yang melandasi aksi ini?
4. Kudeta Turki. Lanjutan beritanya masih hangat sampai saat tulisan ini ditulis.
5. Pembakar masjid Tolikara diundang makan-makan ke istana negara.
6. Donald T*ump menjadi calon Presiden negeri adidaya terlepas dari haluannya yang jelas rasis. Eh? 
7. Mengikuti kisah awkarin? Pendukungnya banyak loh. Masih muda-muda pula.
8. Pro-kon capres pemilu 2014. Baunya masih tetap terasa.

Saya pikir akan masih banyak kejadian yang membuat sebagian orang bingung. Mana yang benar? Kemana harus memihak? Bagaimana harus bersikap?
Akhir pekan lalu kebetulan sempat bertemu dengan seorang bule muslim yang sudah membaca banyak referensi, hingga disebabkan oleh keterbatasan ingatan, agak bercampur hal-hal yang disebutkan dalam Al Quran, Hadits, atau pendapat orang (dalam hal ini ulama/ustadz). Saya yang terlibat dalam diskusi, cukup senang karena kami sepakat menjadikan Al Quran sebagai pedoman. Yes, itu yang utama. Sumber lain boleh menjadi pelengkap selama tidak bertentangan dengan petunjuk utama. Informasi yang bercampur semacam benang kusut insyaallah bisa terurai menjadi pemahaman yang lurus berdasarkan sumber yang terjamin kebenarannya.

Bukankah kebenaran mukjizat ini sebenarnya pernah dipertaruhkan dengan memasukkan berita kemenangan bangsa Romawi atas Persia yang baru terbukti beberapa tahun kemudian?

Saya mendapatkan istri yang kuliah di jurusan matematika. Bonus seorang ayah mertua yang kritis filosofis. Interaksi secara langsung maupun tidak, turut mengasah logika. Dan ini cukup membantu saya dalam melihat suatu isu.
Misalkan, eksistensi Tuhan, teori evolusi Darwin, dll. Kebenaran dalam logika matematika disebut dengan aksioma/postulat. Hal ini tidak perlu pembuktian. Misalkan semua bilangan yang dikalikan dengan 0 akan menjadi 0. Atau 1+1 = 2.

Teorema adalah konjektur yang terbukti.
Konjektur adalah pernyataan yang belum terbukti kebenarannya.

Dalam hal ini, Tuhan adalah aksioma. Kalau ada konjektur yang menyatakan Tuhan tidak ada, maka suruh mereka yang membuktikannya, bukan sebaliknya. Aksioma tidak untuk dibuktikan, tapi diuji konsistensinya, kalau bahasa audit : verifikasi.

Uji kebenaran bisa dengan permodelan dengan memasukkan beberapa variable lalu hasilnya ditulis menjadi tesis lalu dapet gelar master/doctor deh. Wkwkwk. Hasil verifikasi akan mendapat sertifikat :-P

Teori evolusi adalah teorema atau bahkan cuman sekedar konjektur saja, harus dibuktikan dengan fakta ilmiah. Bukan urusan kita lalu jadi sibuk mikirin cara mematahkannya, minta saja fakta ilmiah dari pendukungnya. Saya membaca bahwa evolusi memang terjadi pada virus dan bisa diamati secara real-time, namun evolusi yang merubah satu spesies jadi spesies lain yang sama sekali berbeda itu ada missing link yang membuat derajatnya masih sekedar ide atau konjektur saja.

Ada yang lebih parah, yakni Hoax. Konjektur dan Hoax ini kalau sudah beredar luas dan disepakati bersama, secara de jure dia akan menjadi kebenaran. Mengerikan.

Saat ini sedang berlangsung MTQ di Nusa Tenggara Barat, semoga akan datang masa MIQ (MQQ?) menjadi popular, forum verifikasi ayat-ayat Quran secara ilmiah yang mencerahkan umat. Mungkin modelnya seperti NAK dan yang berkumpul adalah anak-anak muda diawal aqil balighnya. Generasi emas yang paham tentang Al Furqon dan tidak galau dengan identitas dirinya. Ini menjadi PR besar bagi setiap keluarga : bagaimana menanamkan konsep yang membuat anak-anak yakin dan mengembangkan nalarnya, bukan berkata emang udah dari sononya atau katanya begitu dari dulu....


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 9 August 2016

#2 Empat Bulan Pertama Di Amerika

Kata berita, ada keputusan menteri pendidikan yang bikin rusuh social media seputar sekolah Full Time sampai jam 5 sore. Mungkin pertimbangannya kasihan kalau anak-anak itu hanya terpapar gadget saat pulang ke rumah karena kedua orang tuanya bekerja sampai sore atau malam. Pilihan sekolah ada kalanya lebih bagus untuk kondisi keluarga yang belum ideal memantau pendidikan dalam rumah tangga.
 
Well, saya tidak punya data statistuk berapa persentase keluarga yang kedua orang tuanya harus bekerja sehingga anak-anak akan diluar pengawasan mereka saat jam kerja. Yang pasti beban tanggung jawab mendidik anak manusia ini akan bertambah di pundak para guru.
 
Di Amerika, biarpun Negara ini kesannya gimana gitu, anak-anak sangat-sangat mendapat perhatian. Meninggalkan anak sendirian dalam mobil, bisa ditindak. Meninggalkan anak di bawah umur tanpa pengawasan di rumah, siap-siap kena masalah. Bahkan bayi pun harus tidur di crib, tidak boleh satu ranjang dengan orang tuanya untuk menghidari gangguan pernafasan karena tertutup bantal, selimut atau tertindih orang tuanya tanpa sengaja.
 
Baiklah... lanjut  lagi ttg hal-hal baru yang saya amati di California Selatan :-)
 
1.Terbiasa tepat waktu menjemput anak. Bagi yang punya anak kecil dan dititipkan ke daycare/pre-school, jangan sampai terlambat menjemput. Keterlambatan setiap menit dikenakan denda 2 dolar. Temen di kantor yang anaknya dititpkan biasanya akan pulang sesegera mungkin untuk menjemput anaknya, bila telat dan tidak punya uang tunia, akan ditagih saat penjemputan hari berikutnya. Kalau misalkan sampai batas jam terakhir si anak belum dijemput, bersiaplah berurusan dengan lembaga perlindungan anak. Serius. Lewat jam terntentu anak anda akan diamankan oleh lemabga perlindungan anak.
 
2.Gak perlu Perfect English. LA adalah sebuah kota multi etnis. Tidak ada kesulitan menemukan makanan halal atau menu-menu khas negeri tercinta. Tidak terlalu jago bahasa Inggris juga tidak menjadi masalah karena setiap bangsa punya komunitasnya sendiri. Orang terbiasa mendengar berbagai dialek.
 
3.Banyak masjid. Yes, Alhamdulillah. Dalam pengamatan saya, begitu mudah menemukan masjid di sini, dibandingkan dengan di Jepang. Sekolah-sekolah swasta yang dikelola lembaga islam pun bertebaran. Sayangnya komunitas orang Indonesia (muslim) tidak sebanyak orang Pakistan, India, atau Turki, padahal dari segi populasi kita adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Well, bisa jadi karena orang-orang kita lebih betah berada di negeri sendiri daripada bertebaran di sisi bumi Allah yang lain….

 
4.LA mendapat cahaya matahari sepanjang tahun, saat musim dingin tinggal naik mobil ke gunung buat main snowboard, bisa ke arah pantai bermain pasir. Dan setiap hari ada kembang api karena Disneyland ada di sini. California jarang hujan namun bias menjadi Negara bagian penghasil produk pertanian terbesar di Amerika. Apa coba rahasianya?

5.Belajar pemetaan. Tujuannya supaya tahu lokasi garage sale barang berkualitas, haha. Ada kawasan bule (elit), ada kawasan Hispanic (agak kumuh), kawasan Vietnam (sedikit tidak kumuh), kawasan asia lainnya (jepang, Korea, china). Barang-barang di kawasan bule, harga baru biasanya beda satu digit. Nolnya kebanyakan… Lingkungannya pastinya lebih nyaman, banyak pohon dan kualitas sekolah lebih bagus. Kalau usia anak sudah bisa masuk sekolah dasar, saatnya pindah rumah ke schoolzone yang bagus karena sekolah anak ditentukan lokasi tempat tinggal, kecuali mau bayar mahal buat sekolah swasta.

Selanjutnya insyaallah akan dibahas sedikit soal politik dan ekonomi (biar agak serius.) (Bersambung)


ReAD MoRE・・・