Friday, 19 January 2018

Tentang Sewa atau Beli Rumah

Keputusan sulit bagi setiap keluarga. Kabar baiknya, NY Times pernah menuliskan artikel dan membuat simulasi keuangan untuk kebutuhan dasar manusia akan papan ini, di Amrik tentu saja. Silakan telusuri. Bisa juga diseusaikan untuk negara lain saya kira, akan sangat membantu memberi gambaran apakah uang yang akan kita bayarkan sebanding dengan biaya/harga.

Faktor pertimbangan dalam link di atas jauh lebih kompleks dibandingkan kesimpulan sementara saya selama ini :

 +=+=+=+=+ 
Sewa : kalau sewa bulanan kurang dari 0.5% nilai properti. 
Beli : kalau sewa bulanan lebih dari 1% nilai properti. 
Antara 0.5% - 1% ,nilai wajar, pertimbangkan kemampuan finansial saat itu :-) 
Nilai bangunan rumah di amrik berkisar $100-200 per square feet, atau 15-30 juta per meter persegi, karena harga tanah relatif murah, biasanya orang menaksir nilai properti dari luas bangunan saja. 

Untuk harga di Indonesia saat ini (dengan kualitas yang bagus), perkiraan saya harga per meter perseginya 2-6 juta rupiah. Bila harga suatu properti satu milyar dengan luas tanah 100 meter persegi dan luas bangunan 60 meter persegi, nilai bangunannya paling mahal 360 juta, harga tanah sekitar 6 juta per meter persegi. Ini untuk rumah baru dibangun, tentu saja.  Harga sewa yang masuk akal adalah kurang dari 60 juta setahun. (6% dari 1 Milyar).

Untuk rumah tipe 36 , luas tanah 72 m2, dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi  untuk keluarga muda, nilai intrinsiknya sekitar  300jutaan. Harga sewa yang masuk akal kurang dari 18 juta rupiah setahun.

Bila rumah sudah dibangun lebih dari sepuluh tahun yang lalu, nilainya tidak akan setinggi ini. Namun... harga tanahnya yang mahal, biasanya, karena kota berkembang. Dipilih karena lokasi...

Selanjutnya menyesuaikan dengan budget masing-masing.
 +=+=+=+=+=+


Dengan harga rumah di OC yang tinggi, secara umum, lebih baik baik menyewa, apalagi jika kurang dari 5 tahun. masalah tempat tinggal ini benar-benar menyesuaikan visi misi jangka menengah/panjang sebuah keluarga.

Rumah adalah kebutuhan dasar, memiliki sertifikat rumah adalah pilihan. Secara ideal rumah menjadi pusat aktivitas, bukan hanya sekedar tempat tidur dan menyimpan barang. Artinya, lokasinya harus cukup dekat untuk aktivitas dengan berjalan kaki atau sepeda sehari-hari : sekolah anak dan kantor orang tua, tempat belanja kebuthan sehari-hari.

Sangat tidak efisien jika untuk aktivitas sehari-hari ini perlu ditunjang kendaraan roda empat. Terkecuali darurat : ada orang tua atau anak balita. Bila anggota keluarga cukup sehat fisik dan matang akalnya untuk kegiatan mandiri, rumah yang dekat dengan fasilitas aktivitas anggota keluarga sudah jelas pilihan utama. (halaman belakang, garasi, luas rumah dkk bukan faktor pokok).

Istri saya sudah menyatakan dengan jelas keinginan memiliki (sertifikat) rumah. Artinya bila ingin memaksimalkan rumah tersebut, kegiatan sosial-ekonomi anggota keluarga harus terpusat dalam jejari 5 km, maksimal 30 menit naik sepeda. Terkadang masalah sekolah anak yang jadi pertimbangan, namun insyallah akan saya bahas di tulisan berikutnya tentang solusinya.

Pengalaman pribadi saya sendiri, SD saya berada di seberang rumah. Bila saya lupa minum susu atau sarapan, maka almarhumah ibunda akan membawa gelas/nampan ke depan gerbang sekolah, lalu teman-teman & kakak kelas (yang sebagian besar tetangga) sudah hafal kebiasaan ini dan mencari saya untuk dihadapkan ke ibunda. :-P Itu kalau saya lagi rajin. Kalau sedang malas, maka baru berangkat  5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Nyaman sekali bukan? Ortu tidak perlu antar jemput. Sebuah kemewahan sederhana.

Saya sendiri memimpikan rumah sederhana yang efektif, tidak banyak barang dan pemakaian ruang bisa maksimal. Pengalaman hidup di Jepang banyak berpengaruh. Ruang tidur dengan tatami dan futon akan menghemat ruang, tidak memerlukan dipan, jemur "kasur" lebih mudah, juga lebih sehat karena tempat tidur bisa 'disterilisasi' dengan sinar matahari. Kasur pegas? terlalu berat untuk dijemur.

Saya akan memerlukan halaman yang cukup luas untuk ternak ayam & ikan, serta menanam buah dan sayuran. Mahal donk... Mungkin saja. Namun bila tinggal di rumah seperti ini, artinya saya tidak commuting ke kantor dan bekerja 8 jam di luar lagi. Dengan memiliki sertifikat rumah dan rumahnya ditempati sendiri, kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan insyallah terpenuhi, saatnya pensiun dini, bekerja menekuni hal yang disukai. Yey! PR besar lagi :family resilient and flexibility.


Satu lagi, memilih rumah = memilih lingkungan, hal ini terkait dengan tetangga, keamanan, dan ketentraman batin. Pola  Keep up with the Joneses, tentu saja bukan pilihan lingkungan yang bagus. Saya masih mengalami lingkungan dimana kita akan meminta tolong ke tetangga sebelum memanggil tukang saat ada masalah di rumah, saling memberi/meminta bumbu dapur lalu mengembalikan dalam bentuk masakan, pengajian lingkungan dari rumah ke rumah, saling sapa saat ketemu di jalan, dsb. Interaksi dengan manusia sangat menentukan kenyamanan. Bila waktu sehari-hari dipakai untuk 3-4 jam commuter, 8 jam bekerja lalu weekend digunakan untuk jalan-jalan, akan lebih sulit membangun koneksi 'batin' dengan tetangga. Ketergantungan akan mobil lebih mengikis lagi nilai sosial ini. Fenomena tidak kenal/bicara dengan tetangga kanan kiri sudah terjadi.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 18 January 2018

Tentang Skill Dasar

Tercetus dari komentar mertua tentang pekerjaan rumah tangga dan laki-laki, pikiran saya melompat tentang keahlian manusia dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Yes, betul. Pangan, sandang dan papan. Saat ketiganya sekarang ini sudah terbeli dengan uang, bagaimana keterkaitannya dengan biaya hidup? Seberapa banyak generasi muda yang terbiasa menanam di pekarangan, menyembelih unggas dan membersihkan bulunya, memancing ikan, memasak, mencuci dan menjahit, serta memiliki skill dasar tukang kayu, tukang cat, tukang las dan tukang listrik? 

Untuk saya sendiri, alhamdulillah bisa dikatakan saya menguasai skill terkait sandang dan pangan.  Pahala untuk almarhumah ibunda yang menghadirkan lingkungan kondusif saat masa kecil saya belajar skill tsb. Tapi mengenai papan, jauh panggang dari api. Saat kecil (SD, SMP), saya bisa membetulkan atap, tapi tidak hal-hal yang berhubungan dengan kayu atau besi. Sekarang keahlian dasar mengelas (besi), tukang kayu dan tukang listrik menjadi 3 skill yang ingin saya kuasai.

Saya mendambakan sebuah keluarga yang berdikari. Hal ini sulit terwujud bila makanan yang tersaji selalu terbeli, baju yang dipakai selalu dipendekkan orang lain, dan perbaikan rumah harus selalu dimintakan bantuan orang lain.

Hal-hal mendasar seperti ini akan terasa sangat besar manfaatnya secara finansial saat hidup di amerika. Serius. Bahan-bahan mentah di Amerika boleh dikatakan lebih murah dari Indonesia. Makanan (sembako, sayur, ayam, daging sapi dan buah), baju dan tanah, boleh dikatakan lebih terjangkau. 

Bila bisa memasak sendiri, bisa me-adjust ukuran baju sendiri dan membangun rumah sendiri, biaya hidup di Amerika akan lebih ekonomis. 

Berikut hitungan kasarnya (untuk single di gretater Los Angeles) selama satu tahun: 
1. Makanan 
  Masak sendiri :Bahan pangan $20/minggu, gas/listrik untuk memasak sangat murah, $3/minggu, sebulan $92
   Beli Makan 3x sehari (murahnya $8 sekali makan) = 3x$8x30 hari = $720 (belum buah dan snack, tidak termasuk tips)
 (Penghematan : $628/bulan)
2. Angkutan (asumsi jarak rumah-kantor 10 mile)
    Bus + sepeda : $70/bulan (perlu fisik yang sehat untuk bike to work) 
    Mobil : 2 x 10 x 0.545 (biaya commuter dari IRS)x 20 hari = $218 + asuransi $100 = $318, cicilan bulanan $300 = $618 (belum PKB dan parkir, resiko kecelakaan, dkk) 
 (Penghematan : $548/bulan) 
3. Pakaian 
   Baju tidak beli tiap bulan, biaya adjustment jahit sekitar $10 dolar. (kadang jadi lebih mahal dari bajunya sendiri)
4. Rumah 
   Harga rumah jadi sangat mahal, bahkan bila beli rumah rusak dan diperbaiki dengan membayar orang lain, masih tetap mahal. Bila dilakukan sendiri, dari beberapa referensi, biayanya sekitar 20-30% dari membayar tukang. Biaya membangun rumah rata-rata $200/sq ft. Memiliki rumah masih menjadi tantangan besar saat ini.  Untuk perhitungan kali ini, harga sewa untuk apartement studio sekitar $1200/bulan. 

Sekilas biaya hidup single dengan memiliki skill dasar :$16,344 (si A) versus (si B) $30,456 (hampir 2 kali lipat!). UMR di California untuk 2018 adalah $11/jam (gross). 

B perlu bekerja setidaknya 230 jam/bulan atau 11.5 jam sehari untuk bertahan hidup. A perlu bekerja 123 jam/bulan atau 6.2 jam sehari -masih wajar- 

 Bila si A dan B bekerja dengan income yang sama namun gaya hidup yang berbeda, dalam 10 tahun perbedaan tabungannya sebear $140,000! (sayangnya $140K belum cukup untuk membeli condominium/rumah di LA atau OC :-P, intinya kalau mau bisa beli rumah dalam 10 tahun, jangan terima gaji UMR! Berita bagusnya $140K bisa dipakai DP, lalu sebagian renovasi rumah dilakukan sendiri, biaya sewa apartemen untuk cicilan bulanan, masih masuk akal, bukan?) 

Kesimpulan sementara untuk mengakali biaya hidup di Amerika : 
1. Tinggal dalam jarak kurang dari10 mile ke tempat kerja, gunakan sepeda/transportasi umum.
2. Bila perlu kendaraan, beli mobil bekas yang reliable dan hatcback (ScI0N X/H0nD@ Fit/TOY**a Y*RI*, kalau perlu sedan, Coro*a adalah salah mobil bekas terlaris, reliable dan murah). Max mileage pemakaian adalah 200K, cari yang dibawah 50K miles. 
3. Masak sendiri, bawa bekal makan siang. 
4. Bentuk mindset bahwa mobil adalah sebuah kemewahan yang dipergunakan sesekali untuk kebutuhan penting, bukan untuk dipakai setiap hari.
5. Bentuk Mindset bahwa Credit/Hutang adalah hal emergency yang harus segera di atasi (budaya gaya hidup dengan hutang = normal, di negeri ini, waspadalah!)

Terkait dengan skill dasar, semoga kami bisa mengajarkan anak-anak kami kemampuan dasar bertahan hidup dengan mengenali Tuhannya, mahir membaca lingkungannya serta punya financial literacy (baca: bebas secara finansial sebelum 30 tahun). Kemampuan ini akan membuat mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dimanapun mereka nantinya bertebaran di muka bumi.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 11 January 2018

Tentang Kartu Kredit & Hutang

Salah satu hal yang membuat shock di tahun pertama saya di amerika adalah betapa negara ini sangat mengandalakan kredit untuk kegiatan ekonomi. Kartu kredit sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahun pertama harus dilalui dengan memutar otak agar bisa menyewa apartemen atau membeli kendaraan. Alasannya? Saya tidak punya kredit score. 

Yes, dengan system perekonomian yang berdasarkan hutang, bila anda belum pernah berhutang dan membayar transaksi terkait hutang, anda tidak punya kredit skor. Tidak punya skor itu lebih buruk daripada memiliki skor yang buruk. Wew. 

Saya pada akhirnya bisa menyewa apartemen dan membeli kendaraan dengan bunga 0%, tapi pilihan untuk itu tidak banyak. Padahal jebakan kartu kredit dan system ini sudah beberapa kali terbukti gagal meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Kesenjangan ekonomi menjadi semakin lebar.

Saya tahu bahwa krisis finansial tahun 2008 diakibatkan oleh kredit subprime, gagal bayar sebab bank mengucurkan kredit untuk masyarakat yang sebenarnya tidak sanggup membayar angsuran. Namun saya baru ‘ngeh’ bahwa krisis itu disebabkan karena keserakahan bank! Bunga untuk pinjaman ditetapkan dari credit score seseorang, secara rata-rata 5%. Tapi bila terlambat membayar akan kena administration fee dan denda. Tahun 2008 pendapatan 60% keluarga amerika ditopang oleh 2 sumber, suami dan istri, karenanya keduanya bekerja. 

Keluarga menengah ke bawah biasanya bekerja dengan gaji yang dihitung per jam, dan bila terjadi sesuatu dalam keluarga, maka salah satu suami atau istri harus sementara tidak bekerja untuk mengurus keluarganya. Taruh anak sakit, sumber pendapatan keluarga akan berkurang karena ibu tidak bekerja, sementara tagihan bulanan (rumah, mobil, asuransi mobil, kesehaatan) harus dibayar. Pada suatu titik, tagihan tersebut tidak lagi mampu dibayar. Salah satu penyebab pentingnya adalah oarang cenderung mengambil barang termahal yang sanggup dicicil, bukan barang paling terjangkau yang bisa berfungsi sebagai kebutuhan. 

Dalam hal cicilan rumah, bank menawarkan re-financing melunasi hutang pada bank lain, lalu peminjam mencicil ke bank baru. Bunganya? Naik secara rata2 jadi 15%. Dengan kata lain, pencicil rumah hanya terbebas dari satu hutang, ke hutang lain yang lebih jahat, hingga akhirnya meletus lah krisis dan para pencicil gagal bayar harus kehilangan rumahnya. 85% credit sub-prime ini di re-finance. Apakah ini membantu keluarga miskin? Orang tua, keluarga muda yang tidak paham dan kaum minoritas yang akses finansialnya terbatas adalah sasaran kredit jahat ini!

Dengan gagal bayar, kredit skor seseorang menjadi jelek dan akses untuk mendapat hutang sehat menjadi tertutup. Ada solusinya? Yes, kartu kredit diberikan dengan bunga sangat tinggi, hingga 41% dalam setahun. Karena kebutuhan dasar harus dipenuhi, pilihan buruk ini pun diambil dan semakian dalamlah  hutang itu tergali….

Belum selesai sampai di situ, bila kredit skor sudah sedemikian buruk, sekarang bank tidak lagi memberikan akses. Buka rekening di bank? Tidak bisa. Sementara itu gaji biasanya diberikan bukan dalam uang tunai, namun cek. Bila seseorang tidak punya rekening di bank, dia harus mencairkan cek itu ke ‘lembaga pencair cek’ dengan membayar komisi dan fee lainnya. Biaya lagi.

Dengan system perekonomian yang semakin canggih, tidak mempunyai akses rekening elektronik/digital menjadi sebuah problema sendiri. Tidak bisa membeli sesuatu dengan uang tunai, maka harus membuat ‘kartu transaksi sendiri’ dengan lembag keuangan bukan bank. Anda memasukkan uang tunai, yang kemudian diubah menjadi uang elektronik. Dan tentu saja ini tidak gratis. Terbaca polanya? Cek –uang tunai—uang elektronik. Seseorang tanpa akses perbankan harus mengeluaran biaya ekstra untuk bisa melakukan transaksi ekonomi.

Data dari biro sensus pemerintah menunjukkan bahwa gaji rata2 keluarga amerika tahun 2011 sama dengan gaji pada tahun 1989, padahal tahun 2011 lebih banyak keluarga dengan dual income.
Sekolah di amerika gartis dari TK sampai SMA, namun ada wilayah dibagi  menjadi distrik2 sehingga para keluarga akan berebut untuk tinggal di distrik yang ranking sekolahnya bagus. Akibatnya, harga rumah dan sewa apartemen di distrik sekolah yang bagus akan meroket. Secara rata-rata naik 70% dalam 30 tahun. Saya membaca kontrak sewa property dalam 5 tahun, tiap tahun naik 5%. Bila sewa apartemen per bulan saat ini 1500 dolar, dalam 20 tahun akan naik dua kali lipat!

Seiring dengan meroketnya harga property, sebagian besar keluarga hanya akan mampu menyewa. Kepemilikan property akan berubah dari individu ke perusahaan-perusahaan besar, sehingga control terhadap kenaikan harga property semakin dikuasai konglomerasi raksasa. Siapa yang memiliki asset riil rumah itu? Saat krisis dan Saham yang berguguran, siapa yang sekarang menjadi pemiliknya?
Bayangkan bila pendapatan stagnan, mau tidak mau harus ada sumber pendapatan lain untuk kelurga. Istri harus bekerja, bukan pilihan.

Penegluaran untuk rumah 70% up, kendaraan harus punya dua, 12% dari income untuk membayar cc, dan….kelas menengah dalam satu tahun membayar 90 milyar dolar untuk bunga kartu credit! Bunganya saja.

Untuk mencapai taraf kehidupan yang setara dengan orang tuanya, generasi milenial harus bekerja dengan sangat-sangat-sangat keras. Status kelas menengah yang dahulu bisa dicapai dengan pendidikan SMA sekarang bahkan sulit digapai dengan gelar sarjana. Sementara itu biaya pendidikan tinggi juga teramat tinggi, memunculkan solusi perampas kesejateraan masa depan : student loan.

Lulus dengan gelar sarjana belum tentu langsung mendapat kerja, para mantan mahasiswa ini akhirnya kembali tinggal dengan orang tuanya, bekerja paruh waktu untuk membayar tagihan bulanannya. Mereka yang diterima bekerja sudah terkena beban cicilan student loan, membayar cicilan mobil dan paling besar biaya tempat tinggal. Tingginya biaya hidup membuat usia menikah menjadi semakin tua, solusi lain pun hadir : tinggal bersama tanpa ikatan, terkadang beberapa anak biologis terlahir dari pola hidup seperti ini, sebaliknya ada pula, menikah dengan DINK, double income no kid(s).

Orang tua yang menikah dan memutuskan untuk mempunyai anak akhirnya harus terus ‘berlari’ untuk sekedar survive. Bisnis daycare pun berkembang pesat.

Satu tahun ini saya merasa sangat tidak nyaman dengan system yang berlaku di negeri ini. Di negara bagian tempat sekarang saya tinggal, biaya hidup termasuk yang paling tinggi di US. Orang-orang terasa ‘berlari terus’ untuk sekedar memompa jantung keuangan. Semua dihitung dengan materi  yang sarat perangkap di sana-sini, digelembungkan dengan hutang yang menghancurkan. 

Saya jadi ingat supernova yang cahayanya akhirnya sampai bumi dan bisa dilihat  dengan mata telanjang bulan Juni 2015 di Chile. Para ilmuwan menamakannya, ASASSN-15lh: Supernova paling benderang yang pernah tercatat dalam sejarah, kalau terjadi di galaksi kita, bumi bisa mengalami siang terus selama berminggu-minggu. Alhamdulillah, bintang ini berasal dari galaksi yang jauh.

Usia bintang yang mengalami supernova ini 3.80 milyar tahun cahaya. Artinya supernova terjadi 3.8 milyar tahun yang lalu dan kita baru bisa menyaksikannya di bumi, 3 tahun lalu…. MasyaAllah.

Saya teringat dengan hutang, dia terjadi sekarang, akibatnya bisa bertahun-tahun kemudian, kita kenal dengan krisis keuangan. Krisis ini bisa terjadi di negeri yang jauh dan kita hanya mendengar beritanya saja, tidak tahu dahsyatnya seperti apa.

Bila kita tidak punya uang, tapi perlu suatu barang, kita akan berhutang. Malu-malu pinjam ke orang, perlu saksi dan tercatat, bila mengikuti ajaran islam. Hutang adalah beban, tapi di negeri ini akses hutang semudah menggesek kartu dalam genggaman. Tidak punya kartu kredit? Jangan kuatir, begitu anda punya kredit skor yang bagus, kartu kredit diantarkan sampai pintu rumah anda, tawaran datang bertubi-tubi. 

Jangan sampai budaya hutang mendarah daging hingga orang sudah tidak tahu arti “uang” lagi. Financial literacy terasa penting sekali.


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 10 January 2018

Tentang Mobil di Amerika

What? Udah tahun ke-3 aja, gak kerasa... padahal anak kedua saya yang lahir di negeri ini akan 2 tahun umurnya tahun ini. Ha! Tahun ini si sulung akan masuk TK, jadi, apa perlu mobil satu lagi untuk antar jemput? Ya, itu pikiran yang umum muncul di keluarga murica.

Yang cukup mengherankan saya saat ini adalah betapa populernya mobil sebagai sarana transportasi di sini. Secara umum, jumlah mobil dalam satu rumah tangga = jumlah orang dewasa yang tinggal di rumah tersebut. Padahal mobil termasuk barang terseier di Indonesia, dimana tanpa memiliki mobil pun kehidupan berlangsung baik-baik saja....

Mobil adalah salah satu expense terbesar bagi warga yang tinggal di US. Tata kotanya kurang mendukung masyarakat untuk aktivitas tanpa mobil. Jalan-jalan baru dibangun untuk mempermudah akses mobil, pengguna mobil bertambah karena akses mudah, macet, tambah jalan, day, menjadi lingakaran setan. 

 Mobil yang dulunya adalah ancaman bagi kehidupan di kota, sekarang menjadi prioritas. Jalan khusus (tol/freeway); pejalan kaki dibatasi aksesnya, hanya boleh menyebrang di zebra cross, bahkan bila mobil menabrak pejalan kaki, diusut sebagai pelanggaran lalu lintas, bukan kasus criminal. Lokasi parkir dibuat sangat Luas, bahkan untuk membangun gedung, dibuat aturan alokasi lahan untuk parkir. Luar biasa sekali perlakuan terhadap mobil. Tambahan biaya lagi, asuransi mobil adalah wajib, bila ketahuan tidak memiliki asuransi akan didenda. Untuk satu mobil biasanya $100-$200/ bulan.

 Kebiasaan orang secara umum akan memilih mobil paling mahal yang mampu dibeli. Rata-rata cicilan $400/bulan. (yes, betul, orang jarang beli mobil dengan tunai) Tentu saja berkendaraan perlu bahan bakar, rata-rata $200/bulan (dengan jarak tempuh 1,000 miles per bulan). Maintenance resmi (6 bulan sekali), $300 Parkir di area rekreasi atau bandara (asumsi 1 bulan sekali ) : $50 Dalam satu tahun biaya untuk 1 mobil :$10,800. Income Percapita di California $29,527 ! (untuk kasus di atas 36% gaji untuk mobil, belum termasuk waktu yang terbuang)

Tahun ini saya meniatkan untuk tidak menambah populasi mobil. Pemakaian mobil hanya untuk jarak tempuh PP lebih dari 40 miles. Ke kantor pakai sepeda, pilihannya adalah cari tempat tinggal yang cukup dekat sehingga memungkinkan bike to work. 

Di negeri ini mobil dipakai ke segala tempat, jauh maupun dekat. Belanja sehari-hari, antar jemput anak ke sekolah, commuting ke tempat kerja. Hal ini menyadarkan saya betapa desain suatu kota sangat mempengaruhi gaya hidup penduduknya. Dengan memakai mobil ke tempat kerja (1 mobil dipakai sendiri), memubazirkan seat lain di mobil, menambah resiko kecelakaan mobil di jalan, terperangkap dalam kemacetan dan sulit melakukan kegiatan produktif selama macet, depresiasi mobil lebih cepat, dll. 

Rata-rata orang akan membeli mobil termahal yang masih terjangkau. Tunai? Credit donk. Biaya siluman mobil baru dengan credit ini banyak sekali : bunga cicilan, asuransi mobil baru (lebih mahal dibanding mobil bekas,), efisisensi (galom/mile), biaya parkir, PKB, maintenace, dkk... Hitungan kasar pengeluaran tahunan per jarak 1 mile ke kantor adalah $795 bila dilakukan dengan mobil. Mendekati 1 mile ke tempat kerja = hemat $1590 setahun. (Biaya per mile/tahun = $170 per untuk materiil (ingat bahwa harga bensin di amerika murah sekitar Rp9.000/liter) +  6 menit (waktu tempuh) x $25/jam (harga waktu anda) x 25 hari kerja x 12 bulan =$625)

Rekan kerja di kantor menganggap commuitng 40 miles sehari (3 jam) adalah wajar. Salah satu alasannya adalah  tinggal di school district yang bagus. Tapi bagaimana bila waktu 2 jam untuk commuting bisa dimanfaatkan untuk belajar dan bermain bersama anak? Seberapa besar pengaruh "sekolah bagus" untuk anak kecil? Saat ini saya merasa bonding orang tua dan anak sebelum mereka baligh adalah sangat penting. SD tidak perlu yang favorit/competitive, tapi yang dekat dengan rumah dan tempat kerja. Anak lebih perlu belajar cooperative dibandingkan competitive.

Saya rindu saat-saat naik sepeda di Jepang untuk belanja keperluan sehari-hari dan memakai transportasi publik untuk bepergian. 


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 1 March 2017

Tentang Pendidikan Anak dan Masa depan

Salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk pindah domisili adalah pendidikan anak. Ya, betul. Mencari lingkungan yang lebih kondusif untuk pendidikan karakter, setidaknya semaksimal yang kami mampu dalam keterbatasan kami. Yes, keterbatasan dalam pengetahuan, pengalaman, penguasaan informasi, juga kondisi finansial.
 
Di negeri ini, pendidikan dasar dan menengah di sekolah umum gratis, namun kualitas diragukan sebagian orang sehingga yang punya kelebihan uang akan memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Biaya untuk kuliah sangat mahal dibandingkan dengan negara maju lainnya. Imbasnya pilihan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi banyak ditinggalkan karena urusan perut lebih prioritas. Solusinya gampang. Hutang untuk kuliah. Yes, student loan. Secara hitungan, pemerintah Amerika menamakan hutang ini sebagai investasi, namun banyak juga yang menjelang usia senja terpaksa masih menanggung student loan.
 
Dalam laporan keuangan mereka student loan ini dianggap sebagai aset. Entah sejak kapan definisi pendidikan menyempit menjadi sebuah gelar yang diperoleh dari sekolah formal dan lembaran ijazah itu tidak menjamin tingkat keahlian seseorang dalam bertahan berjaya dalam kehidupan (dunia)nya. Dan yah, kesempatan untuk menunut ilmu secara terjangkau dan berkualitas nampaknya akan semakin terbuka tanpa ada sekat-sekat wilayah dan bahasa.
Ada masa dimana orang berjalan kaki ribuan kilometer hanya untuk menjadi murid seorang yg berilmu. Apprenticeship. Belajar langsung kepada aslinya dan silsilah penurunan ilmu itu jelas. Model menimba ilmu seperti ini pun sudah berlangsung selama ribuan tahun sebelum sekolah formal mengambil alih makna pendidikan. 
 
Ibu rumah tangga, madrasah keluarga. Mengasah kemampuan anak sesuai dengan bakatnya. Ilmu dan keterampilan yang tidak dikuasai oleh orang tuanya bisa dipelajari dari ahlinya. Saya rasa itu fungsi sekolah, karena para pengajar ya seharusnya punya kualitas untuk memberikan keilmuan dan keterampilan yang diturunkan kepada murid2nya. Bila fungsi ini hilang dan sekolah berubah jadi wahana mendulang uang yang menjual gengsi dan ijazah atau tempat penitipan anak, maka terlalu berharga rasanya bila anak-anak diceburkan dalam tempat seperti ini.

Mungkin akan datang masa dimana anak-anak kami akan berguru langsung pada ahli-ahli di bidangnya, level keilmuan dimana kami sebagai orangtua tidak menguasainya.... sehingga mereka kelak menjadi value creator dan problem solver yang sigap mengambil tindakan, bukan sosok yang mudah berkeluh kesah menyalahkan lingkungan.
 
Anak-anak kami namanya diawali dengan huruf E. Tidak ada yg kebetulan, katanya. Saya pernah membaca tentang kriteria potensi yang berkembang itu sikenal dengan 4E : Easy, Enjoy, excellent, earn. Saya juga pernah bertemu langsung dengan keluarga yang sukses mendidik dan mengarahkan anak-anaknya sesuai dengan kriteria 4E di atas.  Mereka sudah "earn" sesuatu dari bidang yang digelutinya. Disini kami mulai memetakan bidang apa yang sesuai untuk did alami oleh jiwa2 yang dititipkan pemiliknya kepada kami. Suatu keahlian yang mudah dan menyenangkan bagi mereka, dikuasai hingga predikat ahli, dan dengan itu bisa menghasilkan,  "earn",  baik materiil ataupun kepuasan non-materiil.
 
Tugas kami adalah mengarahkan mereka dan menunjukkan koridor yang halal dan diridhai saat menjalaninya. Tantangan yang akan mereka hadapi pada masanya tentunya akan berbeda dengan yang kami alami saat ini. Dalam bayangan saya, sekat geografis akan makin menipis sehingga lebih banyak orang yang bisa memperoleh rejeki dari berbagai negeri sesuai dengan keahliannya. Orang akan lebih bebas memilih dimana akan tinggal dan menikmati hidupnya tanpa harus terkonsentrasi di suatu wilayah dengan kualitas hidup kurang layak hanya karena di situlah Roda ekonomi lebih kencang berputar.

Jadi sebenarnya, kantor tempat kerja akan pindah lokasi. Posisi lebih strategis dekat ke bandara dan pusat finansial di Orange County. Biarpun sudah tahu wacana pindah lokasi ini, saya tetap kaget karena rencana ini akan direalisasikan tahun ini, lebih cepat setahun dari rencana awal. Berhubung si anak sulung sudah masuk usia sekolah tahun depan dan saat ini homeschooling belum kami jadikan pilihan, maka masa berburu school district menyapa kami lebih cepat.

Pertimbangannya adalah kemanana dan kemyamanan. Tidak semua wilayah ramah terhadap orang asia. Pertimbangan tempat tinggal pun jadi lebih penting lagi. Ada beberapa kota yang komposisi etnisnya cukup beragam sehingga aman. Namun pertimbangan berikutnya ialah rak dari kantor baru. Irvine bisa djadikan pilihan karena setengah penduduknya adalah orang asia, namun kota ini sedang mengalami bubble, harga sewa apartemennya bisa bikin sesak napas.

 Irvine juga menjadi kota paling aman se-Amerika. hmm, bisa jadi karena wilayah baru yang berkembang cukup cepat dan harag property yang tinggi menyebabkan orang kelas tertentu saja yang bisa tingga di sini. Orang item dan etnis hispanik jangan terlalu harap betah di sini. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa kota ini terlalu asia (baca : Ch*na), karena OKB dari sebrang pasifik rajin investasi dengan membeli rumah dengan cash! wow, cerita serupa pernah saya dengar saat masih kuliah dulu, orang dari negeriini mau beli vila milik mantan perdana menteri Jepang.

Saat tulisan ini ditulis, kami masih menunggu beberapa variable lain untuk dijadikan pertimbangan. Teman di kantor bilang, dia tidak betah tinggal di Irvine karena oemandangan yang monotn (setiap perempatan mirip, awas tersesat!), ada juga beberapa alas an lain yang agak terdengar rasis karena ada etnis mayoritas yang membuat suasana kurang nyaman (bahkan bagi orang kulit putih).

Ini salah satu tulisan di forum diskusi tentang Irvine :

Facts- My wife and I have concluded that it is very difficult to Make REAL Friends in Irvine, California. There is too much cultural diversity and Financial Stress. We don't even know our neighbors. We have tried to introduce ourselves or invite them to dinner but they are too busy for us. It seems like most people you meet here are trying to sell you something and are not interested in getting to know you first. It's very EXPENSIVE to live in California and most people are just trying to survive and become self-absorbed with money first/friendship mentality.

No matter how much money you make in California, it seems that your bank account is very low. We make over six figures a year and we almost went into debt trying to keep up with the California "Lifestyle". We recently had an AH-HA Moment-Life is not all about how much money you make, it's about making REAL FRIENDSHIPS and helping others. Most people in Irvine, Ca. are too self-absorbed/selfish. Showing off and driving German/Japanese Sports Cars BMW's Mercedes Lexus and keeping up with the Jones's.

#1 A majority %85 of Californians are on some kind of legal or illegal mind-altering drugs due to FINANCIAL STRESS. They are either pill poppers vicodin, oxy or pot heads or coke heads. It blew us away how many "normal" Californian's hide their drug addictions.
#2 You waste a lot of time driving your car getting around, nothing is close by. Wanna go to the Irvine Spectrum? Good luck finding parking. Would you like to wait one hour plus to eat your dinner? How about sitting next to someone that doesn't speak English? It happens all of the time in Irvine, Ca.
#3 Unless you own your own business or have highly specialized skills forget about working for a job in Irvine, Ca. California has one of the Highest Unemployment Rates in the US.
#4 California is #1 on the 10 states in the worst financial health and highest financially stressed residents according to the Pew Center on the States. #1 being the worst.
#5 Since 90% of California residents are stressed, they have the Dog eat Dog mentality, which makes them some of the most Rude, Unfriendly, Flakey, Materialistic, Stressed out/Fake people ever seen in one area.
#6 Californians are not interested in being involved in a true community. Money First-Friendship Last mentality. Californians are too worried about their finances and too high on their drugs to care about you. Money First/Friendship Last State.
#7 Horrible place to raise a Family due to Bad Influences. 2 out of 3 high school students use drugs. California has a 75.54% DIVORCE RATE one of the highest in the USA.
#8 Too much cultural diversity/diversity sucks. Thousand of foreigners/immigrants from screwed up countries that don’t care to assimilate into US culture or speak English. Most immigrants are in California to milk the socialist liberal system and to make as much money as they can, wire it back home and eventually leave California.
#9 Highest taxes in the USA and HIGHEST FINANCIAL STRESS .
#10 Everything is Super-Expensive/No value for your money. Costly Housing, real estate taxes, expensive food ($3.50 for an Iced Tea!) and highest gas prices because State of California taxes the crap out of everything they can get their greedy hands on!
#11 If you’re not earning at least $160,000/year in California you are eternally forced to rent a small/expensive crappy apartment from rich foreign landlords.
#12 Over 23% of homeowners are underwater on their homes, Foreclosures Everywhere.
#13 A nasty over-crowded Suburban Sprawl nightmare with insane traffic jams.
#14 Worst state to own a business since it’s an Anti-business environment with tons of Red Tape and stupid regulations. Thousands of good companies have left California for better Pro-Business States due to excessive taxes and endless fees.
#15 California has largest “lawsuit climate” meaning every idiot who thinks you are rich is going to try to sue you for money. Scum bag lawyers love California.
#16 California is Broke for $25 Billion. Governor Brown will find a way to get your hard earned money by raising taxes/fees.
#17 California has many corrupt mafia style unions (teachers, police, firefighters) that control California’s government/economy via lobbyists. They suck all of the state's tax dollars dry. Union Fire Fighters can make more than a Doctor with their over-time pay!
#18 Since California has so many illegals, they help their fellow Illegal immigrants to take advantage of every stupid Liberal Law such as the illegal/unfair Dream Act.
#19 California rewards those who are lazy with their welfare system which stinks(20% of LA County Residents get public aid welfare!)
#20 1 of 3 Californians has NO HEALTH INSURANCE
 #21 California is home to millions of scary Liberals.
#22 California has the worst gun laws in the US/weakest 2nd Amendment Rights almost impossible to get a CCW unless you are a corrupt cop/prison guard(criminals don’t need licenses or waste money on stupid CA fees to get guns in California!).Criminals have access to all kinds of illegal cheaper guns while the honest, law-abiding California residents cannot have access to guns to protect their families. Think about it, in California, if some violent criminal breaks into your house and murders your Family, he will just get life in prison which is a slap on the wrist joke. If you shoot and kill this criminal his family will turn around and sue you for millions and probably win 70% of the time.
#23 If you're single it is an extremely difficult environment to find a suitable mate/Partner due to high transient levels. People are always moving to and from California.
#24 The Irvine Police care more about writing you a revenue generating traffic ticket that protecting you from criminals,
#25 California has the Third Highest Income Tax Rate in the US.
#26 Earthquakes and Fires.
#27 Dirtiest Air Pollution in the USA. Stinks like crap and you’re breathing it in everyday in Ca
#28 Anti-Business Liberal minded state run by a corrupt career politician Jerry Brown who screwed up BIG TIME back in 1983. The idiotic liberal majority in California voted failure Jerry Brown back into office again for another round of anti-business punishment!
#29 California prisons are a JOKE and career criminals love it. Prisoners don’t have to work. They can get their college degrees, watch cable and buy drugs/cell phones from corrupt prison guards.
#30 If you get Divorced in California and you make more money than your Spouse in California, the California Divorce Courts will take 50% of your assets plus a large monthly alimony for many years.

If you are a Super Rich Flaming Liberal or part of a tight knit immigrant community, then Irvine, California is for you!"


ReAD MoRE・・・