Monday, 10 August 2015

Empat Tahun Pernikahan : 25 Syawal 1432-1436H

Peringatan tanggal pernikahan seringkali menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi. Menerawang kembali kejadian-kejadian di masa lampau: mengambil pelajaran, bersyukur, menyesal, menghadirkan kembali rasa-rasa yang bergelora. Sekaligus memproyeksikan segala rekam jejak dalam rumah tangga itu untuk mempererat hubungan, membuncahkan kasih sayang dan membuat rencana-rencana masa depan. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmussholihaat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya lah segala kebaikan menjadi sempurna. 

Hei, ternyata sudah 4 tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga. Bahtera, ya, perahu ini terus melaju melewati badai, bebatuan karang, gelombang ombak dan tentunya perbedaan pendapat para awak. Hehe, Perumpamaan yang terinspirasi dari skenario Bandung 2030 tentang bangsa Indonesia dan problematikanya.

Tentu saja tak selamanya berada dalam bahtera itu dalam kondisi seuriueous menghadapi rumitnya soalan rumah tangga seperti ilustari di atas. Hiasan-hiasan hangatnya mentari, semilir angin, renda-renda langit serta satwa lautan dan mahkluk yang ditahan kepak-kepak sayapnya di angkasa pun menjadi suatu nikmat sendiri. Belum gemerlap benda langit yang muncul silih berganti menurut kadarnya.

***
Berikut refleksi 4 tahun pernikahan yang penulisannya dicicil. :-P

Tahun Pertama (2011-2012)

Babak belur, karena seminggu setelah kami menikah LDM harus dijalani. Istri harus kembali meneruskan kuliah di Jepang, sementara saya memulai kerja di Indonesia. Sekarang saya sadar betapa 'polosnya' saya saat itu.  Salah satu momentum yang membuat deg-deg-an adalah saat 5 bulan kemudian saya ada tugas ke Jepang dan sealigus kesempatan untuk menemui istri, saya takut salah orang. Saat istri akan menjemput di stasiun, saya berdoa semoga dia datang sendiri. Doh, masa lupa wajah istri sendiri T_T. Bukan-bukan, saya membayangkan sebuah pertemuan yang romantis di tengah salju yang memutihkan bumi, saya menapakkan kaki dari keluar wicket lalu seorang putri anggun dengan gaun putih berkerudung merah yang berkibar tertiup angin musim dingin datang mendekat. Yah, ibarat di film-film romantis begitu lah. (eh, lalu saya jadi serigalanya gituh?)  Eh, tapi khan di stasiun besar pasti ramai dan banyak orang, bagaimana....?! 

Eum, singkat cerita, alhamdulillah, kami langsung bertemu dan terjadilah hal-hal yang diinginkan :-P

Ada revolusi tempat tinggal selama tahun pertama ini. Diawali dengan menempati rumah senior saya yang sedang tugas ke Thailand (gratisan)--* Tinggal di kost-kostan (300k/bulan) --* Rumah petak (well, bahasa kerennya : cluster kecil yang baru selesai dibangun) ---* Kontrak rumah di kompleks lumayan elit dengan 4 kamar yang akhirnya 2 kamar kami kost-kan wkwkw. Setahun pindah tempat tinggal 4 kali tanpa merasakan Pondok Mertua Indah. :-P 

Lumayan juga pindahan dengan mulai memboyong kasur, lemari, karpet, elektronik, perlengkapan masak... Ya, kami mulai mengisi tempat tinggal kami dengan berbagai barang keperluan sehari-hari. Semakin bertambah banyak meskipun belum tinggal di rumah sendiri.

Setelah selama kurang lebih LDM 7 bulan, akhirnya kami bisa tinggal satu rumah. Bila berkunjung ke sanak famili (yang tidak ngeh bahwa kami LDM segera setelah menikah) pertanyaan pokoknya adalah : istri sudah hamil? Saat saya (dan mungkin juga istri) mulai risih dengan pertanyaan ini, eh, alhamdulillah orang-orang mulai lupa dan mengganti pertanyaan pokoknya. hehe. Yaps, selama satu tahun pernikahan, Allah belum mempercayakan amanah anak kepada kami. 

Tahun pertama menjadi ajang penyesuaian emosi, kebiasaan, budaya.... *saya juga belum paham bahasa sunda sebagaimana istri belum mengerti bahasa Jawa* juga belajar memilih aset keluarga (belanja aset rumah masih ditemani mamah mertua). 

Tahun Kedua (2012-2013)

Tepat pada tanggal pernikahan kami di tahun masehi, ada pertanda berita bagus tentang akan hadirnya amanah seorang anak. Kami berencana untuk ke dokter kandungan yang paling direkomendasikan di kota Kembang berdasar hasil survei kami. Hasilnya?

 "jangan senang dulu. Ukuran janinnya lebih kecil dibanding usia dan perhitungan seharusnya. Bisa jadi gagal tumhuh." gitu kata bu profesor dokter kandungan. 

 Eh, gagal tumbuh? Apa nih maksudnya? Kerusakan kromosom? nutrisi tidak tersalurkan? menurut bu dokter, kalau memang gagal kromosom, si janin akan gugur dengan sendirinya, karena kalaupun lahir akan kasihan anaknya nanti. 

Pagi itu kami berencana akan memberikan kabar ke keluarga setelah tahu istri positif hamil kata test-pack. Tapi setelah pulang dari rumah sakit (dengan tujuan make sure hasil test pack), segala gegap gempita antusiame itu terbang entah kemana. Yang ada justru kami yang dihibur dan disemangati bahwa si janin tidak akan apa-apa, akan tumbuh dan berkembang dengan sempurna.

Tahun kedua ini kami difokuskan urusan calon bayi dan pindahan rumah (lagi) karena saya pindah tempat dinas ke Jakarta. Selain survey rumah, kami pun berpindah dari dokter satu ke dokter yang lain, termasuk survey rumah sakit bersalin/klinik di seputaran tempat tinggal yang baru. 

Amanah pertama ini penuh drama karena istri juga sedang menyelesaikan amanah lain di kampus, ukuran jabang bayi yang tetap masih di bawah standard normal kedokteran sehingga harus didukung dengan telur ayam kampung dan es krim. Hingga akhirnya, segala puji bagi Allah, anak pertama kami lahir. Diberi nama : Juara terpuji lembut hati yang diberkahi, Ei-yuu-ra Yumna. Yah, bayi kecil ini telah berjuang dan menjadi juara dengan kelahirannya. Sifat yang tersemat dalam namanya adalah doa-doa yang diharapkan diijabah oleh Tuhannya.

 *Fyuh* 

Tahun Ketiga (2013-2014) 

Masa adaptasi masih berlanjut, terutama dengan bertambahnya anggota dalam keluarga kecil kami. Tahun sebelumnya kami berpindah dokter kandungan, tahun ini kami mencari dokter spesialis anak yang cocok. Kebutuhan lain mulai muncul. Rasanya tidak tega kalau membiarkan anak periksa malam-malam dengan memakai motor dan menghirup asap polusi. Selain itu istri tidak bisa mengendari motor sehingga bila terjadi hal mendesak dan perlu keluar rumah, cukup merepotkan. Akhirnya dikerahkanlah upaya untuk mengandangkan sebuah mobil ke garasi. 

Hadirnya seorang anak memotivasi saya untuk memberikan kehidupan yang lebih nyaman. Alhamdulillah istri sangat mendukung untuk sementara menunda kenymanan di bidang lain sehingga target memiliki mobil bisa dicapai. Mobil juga sebagai sarana agar baby blues tidak menghinggapi istri. Gap yang besar antara mahasiswa aktif dengan ibu rumah tangga di rumah tentunya menjadi tantangan tersendiri buat istri. Apalagi kami tinggal jauh dari sanak keluarga... Lingkungan yang mendukung dan aktivitas pilihan untuk mengisi kesibukan jadi pertimbangan. 

Tahun ini menjadi trial dan eror untuk proyeksi target keluarga. Saya tersadar bahwa pundi-pundi ilmu dan pengalaman saya masih terbatas untuk menjawab tantangan yang ada.

 Tahun Keempat (2014-2015) 

Tantangan lain hadir saat anak sudah mulai aktif secara motorik dan verbal. Namun alhamdulillah, bahtera rumah tangga mulai stabil sehingga tahun ini sedikit memberikan kelonggaran untuk mulai fokus lagi ke visi jangka panjang. Sebagai kepala rumah tangga, saya mulai mempelajari (lagi) isu-isu ekonomi dan memetakan potensi keluarga serta opportunity yang kami miliki. 

Yah, tantangan tahun ini adalah komunikasi dan eksekusi visi-misi. Setelah agak tersendat oleh rutinitas rumah tangga, kami mulai leluasa merambah lagi majelis-majelis ilmu di luar kota baik di Bandung maupun Jakarta. Istri pun mulai beraktivitas di luar rumah untuk mengembangkan potensi dirinya. Silaturahim lebih mudah dijalin dan dijaga. Alhamdulillah mobil menjadi aset produktif yang mempermudah langkah kami menjadi manusia-manusia yang lebih baik. 

 *** 

Memasuki tahun kelima ini, entah apalagi cara Allah untuk mendidik kami. Skenarionya selalu luar biasa.

Ya Allah, jadikanlah keluarga yang kami bina ini menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Tahapan pertama, sakinah, sepertinya sedang dalam proses. Sakinah, akar katanya sama dengan pisau. Pisau? ya, betul. Dan ini dikaitkan dengan keluarga. Dengan banyaknya konflik dan adaptasi yang terjadi, sebuah keluarga diibaratkan hewan yang akan disembelih. Berontak dan berpotensi merusak. Namun setelah disembelih, hewan itu menjadi tenang dan nyaman. Konon seperti hendak tidur saja rasanya. Saya rasa ini perumpamaan yang cukup mewakili kondisi rumah tangga. Ketenangan itu menjadi buah setelah masa-masa tegang, berontak, berdamai, berantem lagi dan akur lagi terlewati. 

Dear my wife, Happy 4th anniversary. Sorry and Thank you for everything.

1 comment:

Masrur Ghani said...

Amiiin. Semoga doanya dikabulkan.
Makasih inspirasinya bang ;)