Tuesday, 22 January 2008

Berita Kematian

Sedikit ngeri. Dalam pekan ini banyak sekali berita kematian yang sampai ke telingaku. Salah seorang Tanteku meninggal belum ada sebulan yang lalu. Kemaren, juniorku dari Malaysia pun bercerita kalau neneknya meninggal dini hari, padahal dia tengah menunggu komentar foto terbaru yang barusan dia kirim pada malam harinya. Lalu dini hari ini, istri ketua MPR RI juga diberitakan kembali ke rahmatullah. Terakhir barusan saja ada berita salah seorang kakak kelasku di SMA meninggal dalam kecelakaan, kakak kelas yang sempat memanduku sewaktu ikut lomba di Surabaya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Allaahummaghfirlahum warhamhum wa'afiihum wa'fu'anhum.


Dalam kehidupan tanpa disadari setiap detiknya adalah semakin dekat kepada kematian. Dibandingkan dengan usia bumi, sebenarnya berapa lama usia manusia itu? Bila umur bumi adalah satu tahun, mungkin jatah hidup seseorang tak lebih dari satu detik, bahkan sepersekian detik. Teramat singkat.


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57)


Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Mungkin kematian berlangsung setiap detik di dunia ini. Mungkin dalam satu detik bukan hanya seorang yang harus kembali menghadap kepada penciptanya. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.


Mati adalah kepastian, kita harus selalu siap kapanpun maut menjemput, karena pada umumnya kita tak pernah tahu kapan dia datang. Kira-kira bagaimana perasaan orang yang sudah kena vonis hukuman mati ya? Seolah berapa lama lagi dia hidup di dunia ini sudah terbayang di depan mata. Batas dia bisa menghirup udara dengan bebas telah jelas. Saat-saat terakhir yang tentu ingin dipergunakan semaksimal mungkin untuk berbuat baik, beramal atau bertobat.


Ad-Daqqaq r.a. berkata, "Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: Segera bertaubat; Mendapatkan kepuasan hati; dan bersemangat dalam beribadah. Dan siapa yang lupa akan kematian, maka ia akan disiksa dengan tiga perkara: Menunda untuk bertaubat; Tidak merasa cukup dengan yang ada; dan malas beribadah"
Mengingat tiga perkara pada riwayat di atas, batin ini gerimis.


ReAD MoRE・・・

Waktu Kecapekan

Gejala flu. Mungkin sedikit kecapekan setelah agak memaksa diri minggu kemaren. Hidung tersumbat, susah bernafas, meriang, batuk dan kehilangan nafsu makan. Parahnya, sewaktu masih kuat berjalan hingga kawasan toko halal, dari 4 buah toko tak ada satu pun yang buka. Padahal jelas-jelas tertulis buka mulai 10.30. Lah, waktu itu sudah menunjukkan 10.45 belum ada tanda-tanda kehidupan. Akhirnya keinginan beli mie instant ditahan. Terpaksa mampir dulu ke pasar buat beli ransum makanan.

Setelah 2 jam naik kereta dengan setengah sadar, akhirnya sampai juga. Sisa energi yang ada dipergunakan untuk mengangkat yoghurt, susu, pisang, jus sayur dan sebotol jus apel. Seperti dugaan, makan nasi dengan oseng sayur sisa kemaren sama sekali tak ada rasanya. Cuman terasa panas, saat minum jus rasanya dingin. Tak ada manis, asin atau pedas. Tapi perut tak boleh kosong kalau gak ingin sakit tambah parah. Beginilah kalau kebiasan anti obat bikinan pabrik masih gak mau hilang. Kalau sakit flu atau sekedar masuk angin yang tidak sampai demam atau muntah-muntah, aku lebih suka meningkatkan daya tahan tubuh untuk proses penyembuhan. Mana sudi sakit ringan langsung tergantung sama obattttT!

Yoghurt campur keju bubuk dan madu plus susu hangat, 2 tandan buah pisang, dan makanan utama nasi dengan oseng sawi dan beberapa iris ikan tuna menjadi menu malam itu. Rasanya hanya numpang lewat di saluran pencernaan tanpa bisa dinikmati (T__T)Lalu, karena sakit dan udara musim dingin yang makin menggigit membuatku malas keluar rumah, untuk 2 hari ke depan harus bisa bertahan dengan bahan yang ada di kulkas. Menu yang praktis adalah.. ermm... Italian!

Menu-menu itali aku anggap cukup praktis. Proses persiapannya cepat dan memasaknya bisa ditinggal berbaring-baring dulu. Aku bikin pizza dan gratin kali ini.
kulit pizza :
1 kg tepung terigu
11g ragi bubuk
5 sdm gula pasir
500 ml susu cair
1 sdt garam

isi (taburan) :
2 kaleng katsuo (bonito)
saus tomat
merica
daun basil
keju


Cara membuatnya :

1. Untuk kulit, campur bahan2 kering sampai rata, masukkan susu, lalu aduk, remas, uleni sampai tidak lengket di wadah. Sebenernya ada mesin pengaduknya sih, cuman untuk mendukung kampanye anti pemanasan global, pemakain energi harus hemat. =halah= Kalau sudah, diamkan selama satu jam.

2. Kalau sudah satu jam, siapkan piring tahan panas buat oven. Olesi dengan butter atau minyak goreng, supaya gak lengket waktu matang. Gepengkan adonan kulit dengan ketebalan yang disuka. Kalau aku, satu kilo terigu bisa untuk 3 bagian.

3. Olesi dengan saus tomat. Taruh bonito dan daun basil di atasnya, dan paling atas adalah keju.
4. Panggang dengan suhu 180 derajat celcius selama 30 menit.

Pizza versi dulu menggunakan tomat, daun basil dan keju yang menjadi kekhasan masakan Italia. Tomat (merah), daun basil (hijau) dan keju (putih), dianggap mewakili warna bendera Italia, sehingga pizza menjadi sajian kenegaraan bahkan diceritakan pernah dikirimkan ke beberapa negara tetangga. Versi original nya simple yah, tapi rasanya tetep OK kok, apalagi kalau sedang lapar :D Bikin dua versi pun gak papa lah, cuman karena gak ada daun basil segar, diganti ama hourenzo (bayam jepang) sahaja, gak perlu pake bonito, pakai irisan tomat saja.

Laipulaaa, kali ini, bonito ku tinggal satu kaleng sehingga adonan kulit masih sisa, akhirnya aku bungkuskan ke pisang saja. Jadinya : pizza pisang roti pisang. Lumayan buat persediaan lah.





Satu lagi adalah gratin. Resepnya versi sendiri sih...

Bahan2nya :

1. Makaroni, satu genggam (rebus dulu hingga matang.)
2. sosis ayam 2 potong, iris kecil2.
3. bawang bombay 1 biji (ukuran sedang), cincang kasar
4. mayones, garam, merica
5. susu, setengah gelas.
6. keju

Cara membuat :

Campur campur semua bahan hingga rata. Siapkan pinggan tahan panas, olesi dengan minyak. Tuang bahan ke dalam pinggan, taburi (lagi) dengan keju. Panggang 180 derajat selama 20 menit.


Semoga saja segera di karuniai kesembuhan. Minggu depan sudah final ikzem. Ya Allah, ringankanlah langkah kaki ini. Semoga juga bukan influenza, soalnya influenza di sini beda dengan flu biasa di Indonesia, sampai-sampai di beberapa wilayah ada layanan (tapi bayar) untuk vaksinasi. Ada peraturan resmi : Siswa yang terjangkit influenza baru boleh masuk sekolah lagi, 2 hari setelah demam turun. ermm...


ReAD MoRE・・・

Sunday, 20 January 2008

artikel 2 hari

Hari Jumat minggu lalu menjadi batas akhir penyerahan artikel tentang kesan pesan selama belajar di college. Dosen wali baru memberitahukan tugas ini pada Selasa sore. Mendadak. Tapi aku tak sudi mengeluh saat ada tantangan. Semakin orang mengatakan sulit, justru aku semakin maju. Tak jarang ujung-ujungnya gagal sih. Namun menghindari tantangan aku maknai malas berjuang dan menolak memberikan bantuan adalah pantangan.

Waktu yang tersedia dua hari, masih ada tanggungan eksperimen di lab untuk TA, poster tentang keselamatan di lab, dan beberapa laporan untuk kampus maupun perkumpulan orang Indonesia. Aku tidak suka lembur sampai mendekati detik pergantian hari. Karenanya aku lebih memilih mengerjakan tugas di waktu efektif agar hemat pikiran, energi dan emosi.

Saat efektif untuk menyelesaikan tugas seperti ini adalah di ruang sensei hari Kamis malam. Ada salah seorang senior Jepangku yang rutin mengerjakan tugas terjemahan saat itu. Kesempatan supaya tulisanku bisa mendapat koreksi secara langsung dan cepat. Malam itu seperti biasa dia sudah stand by di meja tugas.

"Bang, aku dapat tugas nulis artikel buat besok nih, bantuin yak!"
"Kalau Bahasa Jepang sih serahkan saja. Udah ada naskahnya?"
"Hehe, sekarang baru mo mulai."
"Owhh, oke lah malam ini kerjasama dah, bantuin tugas terjemahanku, lalu aku bantu tugas artikel mu."
"Sip!"

Akhirnya aku mulai juga, setelah menciptakan tekanan buat diri sendiri. Sudah minta bantuan orang, tugas yang ada harus selesai malam ini. Tapi menulis 1300 kata ternyata memakan waktu.

"Sampai jam berapa ngerjainnya, Bang?"
"Ehmm... jam 8 kali yah. btw, udah dapet berapa kata?"

Walah, 20 menit lagi dong.

"Baru 600 neeh. Gak tau mo nulis apa lagi. Ah iyah! Tulis aja uacapan terima kasihnya ke orang satu per satu. Ntar khan jadi banyak."
"Hahahaha, licik kamu."
"Gak ada pilihan lain, deadline-nya besok."
"Oke lah, aku mo keluar bentar."

Kalau dia balik harus selesai nih!

"Gimana, selesai?"
"Selesai dong, tolong periksa yak."
"ehmm, ini salah, yang ini ekspresinya gak wajar..."
"..."
"Heyy... kalimat yang ini aku suka. Hebat cara memuji yang handal. Aku juga catet ahhh"
"Mosok sih?"
"Ok, sip sip. Sekarang jadi lumayan lah. Sisanya.. judul. Judulnya jangan yang biasa gini dunk, biar ada impact-nya gitu. Masak 'Kenangan Selama di Sini' Judulnya Jadul bangett."
"Apa dunk, kasih ide dunk.."
"Misalnya kayak judul bukanya Kirin Tamura itu loh, homeless chuugakusei (Anak SMP yang homeless?), mengundang rasa ingin tahu."
"Homeless ryuugakusei (mahasiswa asing yang homeless)."
"Yay yay... tinggal di asrama juga. Hmm, itu aja deh, pake peribahasa."
"Gak tau banyak peribahasa Jepang. Apalagi yang cocok buat tema ginian."
"Iya ya, apa ya yang cocok. Oh ada satu biji. 'Waktu Bagaikan Terbang'.
"Oke deh... pakai ini saja! Makasih makasih!"

Lalu jadilah artikelnya seperti ini (bagian isinya aku potong, takut menggangu privasi orang2 yang disebutkan di situ -halah-).

光陰矢のごとし

                                    
私はこの学校に3年間という長期にわたって勉強させていただきましたが、過ごしてしまえばまさに一瞬の出来事であったように覚えます。その間、茨城高専にいる皆さんはもちろん、ホストファミリーの方々にも大変お世話になりました。いいえ、多大な迷惑をおかけしたといった方が正確な表現かもしれません。しかし、今こうして卒業するにあたって、この学校で勉強させていただいたことは私の人生にとって、今までで最も有意義な経験であったと思います。
-cut-

ここで一人ずつの名前を書くことが出来ないのですが、皆さんのおかげでこの三年間は私にとって貴重なものでした。茨城高専の皆さんが居てくれたおかげで、どれだけ安心したか分かりません。三月に名古屋へ持って行けるのは荷物と体だけでなく、精神的に支えてくれた皆さんの姿と沢山の良い思い出があります。最後になりましたが、皆さんのご健康と多幸をお祈り申しあげまして、御礼の言葉とさせていただきます。ありがとうございました。

***
Waktu Bagaikan Terbang


Waktu tiga tahun saya belajar di sekolah ini, terasa seperti sekilas kejadian yang lewat begitu cepat. Dalam rentang itu banyak orang yang telah membantu dan memberikan bantuan kepada saya. Ah, bukan. Lebih tepat dikatakan kalau saya telah merepotkan banyak orang. Meskipun demikian, saya merasa bahwa kesempatan saya belajar di sini merupakan pengalaman yang paling berharga selama ini.
-cut-


Di sini, saya tak mungkin menuliskan nama satu demi satu, namun tolong diingat bahwa berkat anda semualah tiga tahun ini terasa begitu bernilai. Saya tak tahu bagaimana mengungkapkan arti kehadiran anda semua selama ini. Berkat anda semua, yang bisa saya bawa ke Nagoya saat pindah bulan 3 nanti bukan hanya badan dan barang bawaan. Ada juga sosok-sosok kalian yang selalu menyokong secara mental ditambah berbagai pengalaman indah. Terima kasih banyak.


***


Alhamdulillah satu tugas terselesaikan tepat waktu, biarpun mungkin masih jauh dari bagus. Oh, ada beberapa lagi yang masih menunggu.



ReAD MoRE・・・

Friday, 18 January 2008

Sahabat Ortu

Ternyata aku salah duga. Selama ini aku pikir melayani orang tua adalah berbakti, menuruti kehendak, patuh tidak membangkang, memasang wajah berseri, menghindari nada tinggi, laksana memperlakukan raja dan ratu. Tidak hanya begitu. Ya ya ya bukan hanya begitu caranya.

Orang tua diwasiatkan bukan untuk dibalas kembali jasanya dengan nominal. Memangnya siapa yang sanggup menggantinya? Katanya kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Tapi rasanya ada satu kata yang mungkin bisa mendekati jasa mereka : cinta. Ada cinta yang hadir di wajah setiap kali bertatap muka, ada cinta di tangan yang ringan memapah tubuh mereka, ada cinta di hati untuk selalu menggetarkan dawai doa kepada mereka, ada cinta di mulut yang lembut menyuarakan salam atas mereka.

Aku baru saja diingatkan bahwa cara memperlakukan orang tua adalah dengan menjadi sahabat. Sahabat yang selalu menyediakan telinganya untuk mendengar dan lisannya untuk berbagi. . Saatnya untuk mencoba memahami ketika usia senja memunculkan kembali sifat kekanakan. Saatnya belajar sabar ketika mereka tak lagi kukuh berdiri di atas kaki sendiri. Saatnya terjun menyelami batin mereka untuk mengerti. Saatnya menopang ketika punggung mereka tak lagi tegak di atas bumi.


Kalau di film Superman Returns, bapaknya bilang: "Son will become father, and father will become son.." yup, lebih dari 20 tahun ayah memainkan peran sebagai orang tua, sepertinya perlahan posisi mulai berbalik. Sewaktu kecil aku sudah dirawat dan jaga, seiring dengan bertambahnya usia giliranku lah untuk merawat dan menjaga.Ayah, Bunda, semoga aku bisa menjadi sahabat yang baik.








(Penulis: Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu: 32 cara berbakti kepada Ortu)

1. Berbicaralah kamu kepada kedua orang tuamu dengan adab dan janganlah mengucapkan “Ah” kepada mereka, jangan hardik mereka, berucaplah kepada mereka dengan ucapan yang mulia.

2. Selalu taati mereka berdua di dalam perkara selain maksiat, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam bermaksiat kepada sang Khalik.

3. Lemah lembutlah kepada kedua orangtuamu, janganlah bermuka masam serta memandang mereka dengan pandangan yang sinis.

4. Jagalah nama baik, kemuliaan, serta harta mereka. Janganlah engkau mengambil sesuatu tanpa seizin mereka.

5. Kerjakanlah perkara-perkara yang dapat meringankan beban mereka meskipun tanpa diperintah. Seperti melayani mereka, belanja ke warung, dan pekerjaan rumah lainnya, serta bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.

6. Bermusyawarahlah dengan mereka berdua dalam seluruh kegiatanmu. Dan berikanlah alasan jika engkau terpaksa menyelisihi pendapat mereka.

7. Penuhi panggilan mereka dengan segera dan disertai wajah yang berseri dan menjawab, “Ya ibu, ya ayah”.

8. Muliakan teman serta kerabat mereka ketika kedua orang tuamu masih hidup, begitu pula setelah mereka telah wafat.

9. Janganlah engkau bantah dan engkau salahkan mereka berdua. Santun dan beradablah ketika menjelaskan yang benar kepada mereka.

10. Janganlah berbuat kasar kepada mereka berdua, jangan pula engkau angkat suaramu kepada mereka. Diamlah ketika mereka sedang berbicara, beradablah ketika bersama mereka. Janganlah engkau berteriak kepada salah seorang saudaramu sebagai bentuk penghormatan kepada mereka berdua.

11. Bersegeralah menemui keduanya jika mereka mengunjungimu, dan ciumlah kepala mereka.

12. Bantulah ibumu di rumah. Dan jangan pula engkau menunda membantu pekerjaan ibumu.

13. Janganlah engkau pergi jika mereka berdua tidak mengizinkan meskipun itu untuk perkara yang penting. Apabila kondisinya darurat maka berikanlah alasan ini kepada mereka dan janganlah putus komunikasi dengan mereka.

14. Janganlah masuk menemui mereka tanpa izin terlebih dahulu, apalagi di waktu tidur dan istirahat mereka.

15. Jika engkau kecanduan merokok, maka janganlah merokok di hadapan mereka.

16. Jangan makan dulu sebelum mereka makan, muliakanlah mereka dalam (menyajikan) makanan dan minuman.

17. Janganlah engkau berdusta kepada mereka dan jangan mencela mereka jika mereka mengerjakan perbuatan yang tidak engkau sukai.

18. Jangan engkau utamakan istri dan anakmu di atas mereka. Mintalah keridhaan mereka berdua sebelum melakukan sesuatu karena ridha Allah tergantung ridha orang tua. Begitu juga kemurkaan Allah tergantung kemurkaan mereka berdua.

19. Jangan engkau duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka. Jangan engkau julurkan kakimu di hadapan mereka karena sombong.

20. Jangan engkau menyombongkan kedudukanmu di hadapan bapakmu meskipun engkau seorang pejabat besar. Hati-hati, jangan sampai engkau mengingkari kebaikan-kebaikan mereka berdua atau menyakiti mereka walaupun dengan hanya satu kalimat.

21. Jangan pelit dalam memberikan nafkah kepada kedua orang tua sampai mereka mengeluh. Ini merupakan aib bagimu. Engkau juga akan melihat ini terjadi pada anakmu. Sebagaimana engkau memperlakukan orang tuamu, begitu pula engkau akan diperlakukan sebagai orang tua.

22. Banyaklah berkunjung kepada kedua orang tua, dan persembahkan hadiah bagi mereka. Berterimakasihlah atas perawatan mereka serta atas kesulitan yang mereka hadapi. Hendaknya engkau mengambil pelajaran dari kesulitanmu serta deritamu ketika mendidik anak-anakmu.

23. Orang yang paling berhak untuk dimuliakan adalah ibumu, kemudian bapakmu. Dan ketahuilah bahwa surga itu di telapak kaki ibu-ibu kalian.

24. Berhati-hati dari durhaka kepada kedua orang tua serta dari kemurkaan mereka. Engkau akan celaka dunia akhirat. Anak-anakmu nanti akan memperlakukanmu sama seperti engkau memperlakukan kedua orangtuamu.

25. Jika engkau meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu, mintalah dengan lembut dan berterima kasihlah jika mereka memberikannya. Dan maafkanlah mereka jika mereka tidak memberimu. Janganlah banyak meminta kepada mereka karena hal itu akan memberatkan mereka berdua.

26. Jika engkau mampu mencukupi rezeki mereka maka cukupilah, dan bahagiakanlah kedua orangtuamu.

27. Sesungguhnya orang tuamu punya hak atas dirimu. Begitu pula pasanganmu (suami/istri) memiliki hak atas dirimu. Maka penuhilah haknya masing-masing. Berusahalah untuk menyatukan hak tersebut apabila saling berbenturan. Berikanlah hadiah bagi tiap-tiap pihak secara diam-diam.

28. Jika kedua orang tuamu bermusuhan dengan istrimu maka jadilah engkau sebagai penengah. Dan pahamkan kepada istrimu bahwa engkau berada di pihaknya jika dia benar, namun engkau terpaksa melakukannya karena menginginkan ridha kedua orang tuamu.

29. Jika engkau berselisih dengan kedua orang tuamu di dalam masalah pernikahan atau perceraian, maka hendaknya kalian berhukum kepada syari’at karena syari’atlah sebaik-baiknya pertolongan bagi kalian.

30. Doa kedua orang itu mustajab baik dalam kebaikan maupun doa kejelekan. Maka berhati-hatilah dari doa kejelekan mereka atas dirimu.

31. Beradablah yang baik kepada orang-orang. Siapa yang mencela orang lain maka orang tersebut akan kembali mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya dengan cara dia mencela bapaknya orang lain, maka orang tersebut balas mencela bapaknya. Dia mencela ibu seseorang, maka orang tersebut balas mencela ibunya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

32. Kunjungilah mereka disaat mereka hidup dan ziarahilah ketika mereka telah wafat. Banyaklah berdoa bagi mereka berdua dengan mengucapkan,“Wahai Rabb-ku ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Waha Rabb-ku, rahmatilah mereka berdua sebagaimana mereka telah merawatku ketika kecil

***


ReAD MoRE・・・

Pilih Raketmu!

Semenjak tahun lalu, aku mendapat kesempatan untuk menyalurkan kelebihan energi dengan bermain badminton. Awalnya hanya ikut ajakan salah seorang senior yang kegemukan ingin menjaga stamina tubuh. Eh, malah keterusan sampai sekarang. Aku pikir tak ada salahnya sedikit serius dalam salah satu cabang olahraga. Lalu aku putuskan saja mengambil badminton sebagai pilihan.


Sebagai persiapannya tentu saja harus punya raket dulu. Ternyata sekedar raket pun tak boleh asal beli. Rugi. Makanya aku pun search sana sini mencari referensi. Untuk pemula raket yang disarankan adalah yang tidak terlalu mahal, harganya di bawah 10000 yen (sekitar 800 ribu rupiah). Kalau masuk tingkat madya, pilih yang 15000 yen-an harganya. Di atas itu adalah raket untuk kelas mahir. Hmm, aku hitung-hitung masih mahal yah, tapi kalau mau serius memang perlu modal.

Akhirnya yang jadi raket permulaanku adalah Yonex Isometric 250. Raketnya ringan dan shuttle bisa diterbangkan jauh ke belakang.
Oh iyah, yang biasanya menandai raket ini untuk pemula atau bukan adalah tegangan senar yang bisa ditanggung oleh raket. Raketku tadi, paling tinggi tahan sampai 18 lbs. Makanya dia termasuk golongan raket pemula-madya.huhuhu
Teganganya seperti ini deh...


16 lbs : lemah
18 lbs : biasa
20 lbs : kuat
22 lbs : kuat bangetT


BIarpun gitu pemain tingkat dunia biasa memakai tegangan sampai 35 lbs-> raket sekali pakai. Huhuhu, makanya raketnya banyak. Semakin tinggi tegangan, semakin tinggi pula kemampuan kontrol dan teknik yang diperlukan.


Untuk memilih raket, tentu saja perlu menyesuaikan beratnya dengan kekuatan lengan kita. Biasanya tertulis seperti ini.
2U : 80~84.9g
3U : 85~89.9g
4U : 90~94.9g


Kalau aku sih pilih yang ringan saja. Yang U nya paling kecil.
Lalu ada pula ukuran grip (pegangan), kalau ini terserah, pilih yang besar atau suka yang kecil. Yang tertera di raket adalah keliling grip. Karena tanganku mungil aku pilih yang kecil juga. Hihi, bedanya cuman berapa mili jugaaa....


G6 : 78 mm
G5 : 81 mm
G4 : 82.5 mm


Selanjutnya adalah memilih senar. Ada beberapa jenis yang biasanya direkomendasikan oleh maker. Itu mah terserah sahaja...
Kalau sudah memasuki tingkat madya-mahir, biasanya bakalan ketahuan tipe permainan. Menyerang atau bertahan. Ini juga berpengaruh terhadap jenis raket yang dipilih.


Penyerang biasanya memakai seri nanospeed atau musle power(yonex) untuk mempertajam smash. Seri ini pun banyak jenisnya. Aku memilih nanospeed juga sih, bukan untuk menyerang, tapi tipe bertahan, supaya bisa mengembalikan setiap smash yang menghujam.Huahahaha. Nanospeed juga ada 2 tipe sih, tipe S (bertahan) dan tipe X menyerang. Setahuku yang lebih banyak dipakai adalah tipe S. Tipe X ini cocoknya untuk atlet macam Lin Dan yang powernya besar.
Hmm, klo udah lebih jago, pilih yang mana yah...


Selain raket perlu juga memilih sepatu. Badminton olahraga keras loh, biarpun kelihatannya gak seberapa dibanding bola atau basket, tapi kalau bener-bener main mengahbiskan tenaga juga loh. Sepatu yang diperlukan adalah yang cukup kuat dan lentur untuk gerakan berubah arah secara mendadak, karena bermain badminton harus siap mengejar bola ke segala posisi. Bila bingung melihat sepatu yang ada, ikuti kata merk sahaja. =haduhh, jadi makan merk dah= Kebanyakan temanku yang ikut klub sepatunya Yonex sih. Asal jangan pakai sepatu lari/jogging buat badminton yah, biasanya solnya keras sehingga resiko keseleo lebih tinggi.


Satu lagi jangan lupa melakukan pemanasan sebelum bermain untuk menghindari kram dan pegal-pegal yang tidak diinginkan.


ReAD MoRE・・・