Sunday, 2 May 2010

Idaman Universitas, Universitas Idaman

Setelah bebas sejenak dari UAN, bagi mereka yang belum memperoleh kepastian kelanjutan studi akan kembali melaui hari-hari penuh perjuangan. Tujuannya? pastinya ingin masuk ke universitas idaman dengan jurusan yang cocok dengan kemampuan otak dan kocek. Lalu, bagaimana kalau hasrat ingin masuk sudah setinggi awang-awang tapi ternyata modal semangat saja tidak cukup? Kalau di Indonesia dan punya duit, orang tuanya akan memlilihkan sebuah universitas dimana anak tersebut bisa masuk dengan menyumbang sejumlah nominal. Kalau di Jepang ada yang namanya Admission Office (AO) Test. Intinya, untuk masuk ke suatu universitas tidak perlu ikut ujian kemampuan akademik dengan mengerjakan tes tulis.Penilaiannya didasarkan pada motivasi si anak ingin kuliah, penghargaan terhadap semangat menuntut ilmu sesuai dengan minat dan bakat.

Satu hal yang perlu diingat adalah membuat perencanaan masa depan yang baik. Ada kasus dimana seorang anak sudah diterima lewat AO test, namun ternyata tidak bisa mengikuti mata kuliah tertentu dengan baik. Bisa juga terjadi kasus dimana tidak ada mata kuliah yang menarik bagi si mahasiswa. Kesimpulan saya adalah bila ingin kuliah, harus paham dulu kuliah untuk apa.

Biarpun tanpa tes akademik tertulis, ada 3 cara yang umum dilakukan untuk seleksi masuk ala AO test :


1. Wawancara
Tipe ini lebih mementingkan niat kuliah calon mahasiswa, termasuk kesesuaian antara tujuan calon mahasiswa dengan arah kebijakan universitas.

2. Self Appeal
Tipe ini mementingkan hasil karya/prestasi calon mahasiswa. Misalnya, bisa bicara dalam 4 bahasa, pernah juara baca puisi, berbakat dalam bidang olahraga, seni dan budaya, dll. Calon mahasiswa sebisa mungkin menunjukkan kelebihan dan prestasi yang dia miliki.

3. Menulis Essay
Universitas yang terlanjur terkenal seperti Waseda atau Doshisa banyak menerapkan cara ini. Calon mahasiswa menulis esai sebanyak 2000-3000 kanji, lalu diadakan wawancara berdasarkan apa yang mereka tulis.

Sekarang sudah ada 530 Universitas di Jepang yang mengadakan seleksi dengan sistem AO test seperti ini. Termasuk universitas negeri dan swasta favorit. Definisi favorit di sini adalah banyak diinginkan oleh calon mahasiswa alias untuk masuk harus mengalahkan banyak saingan.

Salah satu kebaikan dari sistem ini menurut saya adalah adanya pilihan untuk dua pihak. Calon mahasiswa berhak memilih universitas, dan universitas bisa memilih mahasiswanya. Bila hanya mengandalkan tes tulis akademik, tanpa saling tahu wujud dan wajah asli, sekian nama akan dinyatakan tidak lulus berdasarkan akumulasi nilai yang diperoleh. Dengan kata lain, akan ada calon mahasiswa yang lulus sesuai idaman Universitas dan ada pula mahasiswa yang lulus masuk ke universotas idaman. *ini mah kata saya*

Akhir tahun lalu saya menulis tentang kriteria universitas idaman ala kadarnya. Setelah saya baca-baca lagi dan berdiskusi dengan beberapa orang, ternyata trend muali berubah. Trend yang saya maksud adalah masalah waktu. Beberapa generasi sebelum saya menyimpan istilah: NASAKOM (Nasib (IP) satu koma, Rantai Karbon (Nilainya banyak yang C-C-C-C-C-C), dll yang menyatakan sulitnya kuliah dan lulus S1 dalam 4 tahun. Akhir-akhir ini mulai muncul S1 dalam 2,5 atau 3 tahun, dengan IP yang wow keren banget bisa mendapat julukan cum laude. Ya, memang ada keuntungannya. Lulus sarjana dengan usia relatif lebih muda, masuk dunia kerja lebih cepat, lebih cepat meniti karir, atau menetapkan pilihan untuk lanjut Master. Nah, Master pun mulai bisa diperoleh dengan (minimal) 9 bulan saja. Jadi, kalau lulus S1 dalam 2,5 tahun dan master selama 9 bulan, tidak sampai 4 tahun seseorang sudah bisa mendapat gelar Master. Ini contoh ekstrimnya. Pertanyaannya : Seberapa besar peranan gelar untuk membantu seseorang memperoleh/menciptakan pekerjaan?

Maka, seperti yang saya tulis kemarin, harapan saya tentang fungsi universitas adalah mencetak lulusan yang :

1. Bisa mencerna masalah, menguasai hubungan sebab-akibat, dan bisa berkomunikasi secara efektif (Paling tidak bisa Bahasa Indonesia dan Inggris lah, lulusan universitas gitu loh!)
2. Tidak mudah mneyerah dan sigap menjawab tantangan jaman.
3. Berdedikasi untuk selalu menjadi pembelajar sepangjang hayat.

Kalau harus memilih ke Universitas mana saya harus kuliah, salah satu parameternya adalah kualitas lulusan dan pengajar universitas tersebut. Intinya mengumpulkan banyak informasi. :-D






Sumber informasi :
1. http://www.gakkou.net/
2. http://www.bircham.co.jp/index.php?option=com_content&view=category&id=44&layout=blog&Itemid=76

:::Diikutkan lomba Blog Universitas Islam Indonesia saja, dedlinenya khan hari ini, boleh ikutan doonk :-D :::



ReAD MoRE・・・

If the world were a village of 100 people



Versi bahasa Jepang dengan penjelasan! Lebih mencerahkan (kali ye) :
http://video.google.com/videoplay?docid=5897311757925014474#

Kisah anak yang sejak umur 7 tahun bekerja di penambangan emas (Ethiopia) :



ReAD MoRE・・・

Saturday, 1 May 2010

Jelang Hardiknas

Beberapa hari lalu saya menuliskan tentang 10 Besar peringkat UAN SMA di Indonesia. Bulan April-Mei sepertinya menjadi bulan penuh tekanan bagi anak-anak di tingkat akhir, orang tuanya, dan guru-gurunya. Perselisihan mengenai UAN, haruskah tetap dijalankan atau tidak lagi diperlukan masih hangat diperdebatkan.Di sini saya ingin sedikit menulis tentang standar lulusan Indonesia.

Saya percaya banyak orang Indonesia yang pintar, buktinya banyak orang yang berprestasi secara internasional. Namun yang pintar dan yang tidak, mana yang lebih banyak? Salah satu tolak ukurnya adalah kemampuan bekerja sama dengan angka. Di Indonesia mata pelajarannya bernama matematika, sama dari kelas satu hingga dua belas. Sementara di Jepang, pelajaran ini bernama "Perhitungan" untuk anak SD dan baru bernama matematika sejak SMP. Hasil test PISA dan TIMMS Jepang jauh berada di atas Indonesia. Padahal Jepang tidak mengadakan UAN sebagai sarana seleksi kelulusan anak SD dan SMP.

Lalu, anak-anak mana yang lebih pintar, Jepang atau Indonesia?


Jawabannya tergantung standar apa yang ingin dipergunakan sebagai neraca. Anak-anak Indonesia yang sukses mendapatkan beasiswa ke Jepang, ternyata secara rata-rata kemampuan matematikanya masih di bawah anak Korea, China atau Vietnam. Padahal boleh dikatakan kalau anak-anak ini sudah terpilih lewat seleksi dengan mengalahkan ratusan (atau ribuan?) pendaftar yang lain. Dimana masalahnya? Pendidikan atau emang sudah dari sononya?

Kalau soal belajar bahasa, saya msih melihat kalau anak-anak Indonesia di Jepang lebih pesat perkembangannya dibandingkan dengan negara lain. Well, kasusnya untuk belajar bahasa Jepang secara oral.

Kembali soal UAN, apakah memang diperlukan? Standar seperti apa yang diinginkan? Sementara tahap pendidikan ala Universitas mulai menjamurkan S1 dalam 2,5 atau 3 tahun, dengan persyaratan lulus yang lebih mudah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemabli saya bertanya, lulusan seperti apa yang ingin dicetak?

Dalam diri saya sendiri muncul pertanyaan seperti berikut : Siapkah menjawab tantangan jaman? Bisakah menganalisa masalah, menemukan sebab-akibat dan berkomunikasi secara efektif? Adakah kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat? Saya pikir inilah standar yang harus bisa diraih oleh setiap lulusan SMA. Mereka tahu jalan mana yang akan ditempuh. Akankah menjadi akuntan, wiraswasta dalam bidang XYZ, dokter, ilmuan, ahli gizi, dosen, atau ingin menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan tertentu. Untuk menggapainya, apakah pendidikan S1 diperlukan? Apakah perlu lanjut sampai S2 atau S3? Jangan sampai lulusan SMA belum tahu apa cita-cita jangka menengah yang ingin diraih.

Jawaban untuk 3 pertanyaan terakhir, kata saya mah tidak ada korelasi lurus dengan hasil UAN seseorang. Tapi mungkin saja diperoleh selama menjalani pelatihan bernama pendidikan berlangsung...

::Bila seorang anak hanya ingin mejadi tukang pel di sebuah supermarket, SPG dan segenap profesi lain yang terpaksa harus diambil karena tuntutan lingkungan, akankah nilai-nilai ujian berpengaruh? Mereka hanya perlu ijazah kelulusan setelah membanting tulang dan memeras pikiran. Well, pak Pres sih mengatakan kalau hasil UAN meningkat. Apanya? rata-ratanya? Mungkin perlu ditelaah lebih lanjut daerah-daerah mana yang perlu mendapat suntikan dana pendidikan untuk pemerataan, daripada berbangga dengan segelintir anak berbakat yang meraih medali dalam olimpiade ini-itu, lalu melupakan bahwa masih banyak anak lain yang perlu memperoleh perhatian:: Huhu, lagi idealis::



ReAD MoRE・・・

Thursday, 29 April 2010

Call for Participation International Youth Conference on Biodiversity in Aichi 2010!

Kesempatan bagi yang mau jalan-jalan ke Jepang (Nagoya, tepatnya ehehehe)
Dedline 6 Mei 2010. Buruann!!

Program :
The program will take place from August 21 – 27, 2010 as follows:
A) Homestay : One night homestay on August 21, 2010
Stay with a family in Aichi, to experience what “real life” is like in Japan.
B) Conference : Four days from August 23 through 26, 2010
Aichi Health Plaza Comprehensive Health Science Center (Higashiura-cho, Aichi pref.)
C) Excursion : One day on August 24 or 25, 2010
D) Biodiversity Forum : A public Biodiversity Forum will be held on August 27, 2010
Toyota Auditorium of Nagoya University (Nagoya city, Aichi pref.)

For details : http://www.biodic.go.jp/biodiversity/youth/call_e.html


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 28 April 2010

Peringkat UAN

Yay. Banyak alumni kecewa karena SMA kami tidak meraih peringkat satu tahun ini. Tapi kenapa harus ribut dengan ranking?! Yang penting lulusannya terjaring dengan baik ke segenap instansi impian masing-masing. Good job buat adik-adik yang lulus tahun ini! Lulus 100% tetap merupakan prestasi! *Atau dianggap biasa saja, karena lulus 100% itu wajar, kalau tidak justru memalukan?*

Peringkat 10 Besar UAN 2010 (Data DEPDIKNAS) :

1. SMA 3 Semarang
2. SMA Taruna Nusantara Magelang
3. SMA 4 Denpasar
4. SMA Sutomo Medan
5. SMA 1 Bogor
6. SMA Plus Riau
7. SMA 3 Bandung
8. SMA 3 Malang
9. SMA 1 Yogyakarta
10. SMA 8 Jakarta

Tahun ini ada yang melanjutkan ke Jepang tidak yah...
Pengen menambah anggota ikatan alumni di negeri sakura...
*peringkat di atas adalah untuk Rintisan Sekolah Berstandar International (RSBI)*


ReAD MoRE・・・