Saturday, 1 May 2010

Jelang Hardiknas

Beberapa hari lalu saya menuliskan tentang 10 Besar peringkat UAN SMA di Indonesia. Bulan April-Mei sepertinya menjadi bulan penuh tekanan bagi anak-anak di tingkat akhir, orang tuanya, dan guru-gurunya. Perselisihan mengenai UAN, haruskah tetap dijalankan atau tidak lagi diperlukan masih hangat diperdebatkan.Di sini saya ingin sedikit menulis tentang standar lulusan Indonesia.

Saya percaya banyak orang Indonesia yang pintar, buktinya banyak orang yang berprestasi secara internasional. Namun yang pintar dan yang tidak, mana yang lebih banyak? Salah satu tolak ukurnya adalah kemampuan bekerja sama dengan angka. Di Indonesia mata pelajarannya bernama matematika, sama dari kelas satu hingga dua belas. Sementara di Jepang, pelajaran ini bernama "Perhitungan" untuk anak SD dan baru bernama matematika sejak SMP. Hasil test PISA dan TIMMS Jepang jauh berada di atas Indonesia. Padahal Jepang tidak mengadakan UAN sebagai sarana seleksi kelulusan anak SD dan SMP.

Lalu, anak-anak mana yang lebih pintar, Jepang atau Indonesia?


Jawabannya tergantung standar apa yang ingin dipergunakan sebagai neraca. Anak-anak Indonesia yang sukses mendapatkan beasiswa ke Jepang, ternyata secara rata-rata kemampuan matematikanya masih di bawah anak Korea, China atau Vietnam. Padahal boleh dikatakan kalau anak-anak ini sudah terpilih lewat seleksi dengan mengalahkan ratusan (atau ribuan?) pendaftar yang lain. Dimana masalahnya? Pendidikan atau emang sudah dari sononya?

Kalau soal belajar bahasa, saya msih melihat kalau anak-anak Indonesia di Jepang lebih pesat perkembangannya dibandingkan dengan negara lain. Well, kasusnya untuk belajar bahasa Jepang secara oral.

Kembali soal UAN, apakah memang diperlukan? Standar seperti apa yang diinginkan? Sementara tahap pendidikan ala Universitas mulai menjamurkan S1 dalam 2,5 atau 3 tahun, dengan persyaratan lulus yang lebih mudah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemabli saya bertanya, lulusan seperti apa yang ingin dicetak?

Dalam diri saya sendiri muncul pertanyaan seperti berikut : Siapkah menjawab tantangan jaman? Bisakah menganalisa masalah, menemukan sebab-akibat dan berkomunikasi secara efektif? Adakah kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat? Saya pikir inilah standar yang harus bisa diraih oleh setiap lulusan SMA. Mereka tahu jalan mana yang akan ditempuh. Akankah menjadi akuntan, wiraswasta dalam bidang XYZ, dokter, ilmuan, ahli gizi, dosen, atau ingin menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan tertentu. Untuk menggapainya, apakah pendidikan S1 diperlukan? Apakah perlu lanjut sampai S2 atau S3? Jangan sampai lulusan SMA belum tahu apa cita-cita jangka menengah yang ingin diraih.

Jawaban untuk 3 pertanyaan terakhir, kata saya mah tidak ada korelasi lurus dengan hasil UAN seseorang. Tapi mungkin saja diperoleh selama menjalani pelatihan bernama pendidikan berlangsung...

::Bila seorang anak hanya ingin mejadi tukang pel di sebuah supermarket, SPG dan segenap profesi lain yang terpaksa harus diambil karena tuntutan lingkungan, akankah nilai-nilai ujian berpengaruh? Mereka hanya perlu ijazah kelulusan setelah membanting tulang dan memeras pikiran. Well, pak Pres sih mengatakan kalau hasil UAN meningkat. Apanya? rata-ratanya? Mungkin perlu ditelaah lebih lanjut daerah-daerah mana yang perlu mendapat suntikan dana pendidikan untuk pemerataan, daripada berbangga dengan segelintir anak berbakat yang meraih medali dalam olimpiade ini-itu, lalu melupakan bahwa masih banyak anak lain yang perlu memperoleh perhatian:: Huhu, lagi idealis::


2 comments:

deekkyy said...

semoga ada perloambaan..hehehe
kunjungi blog ku ya
happy blogging

Erma Suwastika said...

Tulisannya bagus...
Heu...
Sekarang saya sekeluarga sedang dipusingkan dengan adik saya yang baru lulus SMA. Bingung selanjutnya dia mau ke mana. Anaknya juga klo ditanya mau ke mana, mau jadi apa, ga jawab...