Sunday, 17 February 2008

Apa Itu Bahagia

Lelaki itu masih berbicara sambil sesekali pandangan matanya menatap wajah saya. Saya sendiri tak menyangka bahwa sedikit cerita saya akan mendapat tanggapan seperti itu.

"Yah... cuman sekedar memperkuat kata-kata mas Sunu tadi. Saya merasakan sendiri kebahagiaan itu menghampiri ketika saya melepaskan harta dengan ikhlas. Bener loh. Hmm... saya juga berpikir kalau kekayaan kita yang sebenarnya adalah kekayaan yang kita bagi kepada orang lain.Anu..."

Dia terdiam sejenak. Mungkin sedang merangkai kata-kata dalam pikirannya.

"Hmm.. itu saja, Mas."

Gedubraks. Kawan-kawan yang duduk bersila di Mushola itu tertawa-tawa. Tak ada sambungan cerita setelah dinanti dengan memasang perhatian penuh. Saya hanya menceritakan perbedaan cara orang memandang uang yang dibelanjakan. Ada yang pelit sekali membelanjakan hartanya karena merasa tak cukup. Namun ada pula orang yang merasa bahwa harta yang dia keluarkan di jalan Allah akan menjadi pangkal rezeki baru yang akan mengalir kembali. Dan orang yang cara berpikirnya sepeti itu ternyata hidup lebih bahagia, karena tidak merasa kehilangan harta dengan sia-sia.

"Ah, kalau begitu saya juga ingin bercerita. Kejadian yang saya alami selama satu bulan ini. Tak ada maksud apa-apa loh. Saya hanya ingin berbagi pengalaman."

Perhatian pendengar segera tertuju ke pengisi utama acara malam itu.


"Saya tidak mendapatkan beasiswa. Saya harus membayar biaya kuliah sendiri sekaligus memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri saya. Saya pernah kerja parttime di kombini. Tapi saya pikir, saya kurang cocok bekerja di sana. Kenapa? Saya harus menuangkan Bir atau minuman keras lain meski di bulan Ramadan. Padahal sudah jelas larangan perniagaan minuman keras, baik pembili maupun penjualnya."


Betul. Saya teringat riwayat yang menuliskan secara khusus mengenai minuman keras. Dosanya sama saja bagi yang membeli, menjual, dan yang berkaitan dengannya.

"Saya putuskan untuk berhenti. Meski saya tahu bakal lebih sulit lagi untuk bertahan di Jepang. "
Dia terdiam sejenak.

"Tapi ternyata, saya justru mendapatkan beasiswa tak lama setelah berhenti. Saya begitu bahagia, tentu saja. Begitu menerima uangnya, langsung saya belikan kamera. Sejak datang tahun 2004 sampai sekarang, keinginan untuk membelinya belum pernah terturuti."


"Wah, sampai sekarang saya juga belum punya kamera, Pak, " celutukku dalam hati.

"Saya lupa bersyukur kepada Allah. Saya belum mengeluarkan zakat dari beasiswa yang saya terima itu. Hanya satu minggu setelah saya membeli kamera, saya jatuh sakit dan harus diopname. Sakitnya tidak parah : Saya tidak bisa menelan.Tapi rasanya sakit sekali, meski sekedar untuk menelan ludah sendiri. Saya merasa mendapat peringatan dari Allah. Kenapa begitu?Biaya berobat saya di rumah sakit itu besarnya sama persis dengan harga kamera yang baru saja beli."

Saya melihat para pendengar manggut-manggut. Ah, saya juga kok.

"Saya langsung berjanji untuk mengeluarkan zakat dari beasiswa yang saya terima setelah keluar dari rumah sakit. Saya tak menyangka kalau balasan dari Allah datangnya begitu cepat. Tak lama setelah saya menutup telepon ke keluarga di Indonesia untuk menyumbangkan sejumlah uang ke kaum miskin, datang seorang saudara yang menyerahkan sebuah amplop. 'Ini dari orang Indonesia di sini' katanya. Saya teramat bersyukur."
"Setelah kembali ke rumah ada seorang saudara lain yang menghantarkan amplop serupa. Saya katakan : Kemaren saya sudah menerima dari orang-orang Indonesia loh..."
"Saudara itu mengatakan : Yah yang ini dari orang-orang Indonesia yang lain"

Senyum di bibir kami terasa semakin lebar.

"Saya tidak bisa mendustakan nikmat Allah yang datang bertubi-tubi. Belum selesai sampai di situ, saat saya membuka loker di kampus, ada sebuah amplop lain. Tak ada nama pengirim. Nama saya tercatat sebagai penerima. Saya benar-benar terkejut saat menjumpai segepok uang dengan jumlah yang teramat besar.Besar sekali. Lebih besar dari beasiswa yang saya terima. Saya hanya bisa mendoakan agar Allah membalas orang-oarang yang lembut hatinya itu dengan yang lebih baik."

Batin saya gerimis. Saya tahu benar perjuangan sang pembicara selama ini. Siang kampus, malam kerja, ditambah aktivitas dalam Persatuan Pelajar Indonesia. Tak jarang saya mendengar keberatannya bila saya mengajak bermain bulu tangkis. Yah, tak seharusnya saya meminta sisa energi yang beliau miliki. Sisa energi yang menjadi hak keluarganya. Namun setiap akhir pekan dia masih sempat meyiapkan sebuah kamar di apartemennya sebagai tempat diskusi agama, lengkap dengan sajian sekedarnya. Pun malam ini dia bisa hadir sebagai pembicara dengan membawa istri dan anak keduanya yang baru saja terlahir ke dunia.

Bahagia ternyata bukan saat kita mendapat harta, tetapi ketika kita membebaskan hak orang lain dalam harta yang kita terima. Pembicara juga mengatakan bahwa keseimbangan antara pemenuhan hak jasmani, akal, dan nurani adalah pangkal kebahagiaan.Bahagia adalah karunia.Bahagia adalah saat kita tak lagi buta membaca kebesaran-Nya dalam setiap kejadian yang kita alami.

Seseorang dengan akal dan jasmani yang baik tanpa nurani adalah "keblinger". Seseorang dengan akal dan nurani mumpuni tanpa ditunjang jasamani yang baik adalah "klenger". Dan seseorang dengan jasmani dan nurani yang bagus tapi tidak memiliki akal yang cerdas bakalan "minder".

*+*+*+*+*

Ah iya, saya pernah berpikir tentang bahagia juga tahun lalu. Saya simpan di sini.
Bukan tulisan saya yang menarik, melainkan sebuah komentar yang menjadi imbal balik. Berikut komentar itu *dengan sedikit pengeditan* (yang dicetak miring adalah cuplikan tulisan sahaya ^_^; ) :
Saat ditanya apa itu bahagia, apakah selama ini kamu bahagia, sudahkah ada jawaban yang segera muncul di kepala? Ataukah selama ini hidup hanya mengulang kesalahan-kesalahan yang membuat dada sesak dan ingin teriak?
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.


KETIKA BAHAGIA ITU DATANG...MAKA, NIKMAT TUHAN YANG MANAKAH YANG ENGKAU DUSTAKAN???


Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Mungkin aq tidak sempat menangis ketika gagal, tidak sempat bermimpi ketika yang kuinginkan belum tercapai, tapi aq punya satu keyakinan : Allah menghargai proses yang dilakukan oleh hambanya. Saat kegagalan di PKM (Penelitian Kreativitas Mahasiswa) sempat membuat shock, ketakutan ga bisa m'ikuti PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa) yang tahun ini dihelat di Lampung, mulailah qcoba ikut LKTM, alhamdulillah juara di Fakultas. tapi hanya berhenti ketika seleksi universitas (no more...).

Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
Hanya mencoba lagi, masih ada kesempatan di poster ilmiah dan ini kesempatan terakhir. segala puji bagi Allah, LKTM yang tidak membawaq ke PIMNAS, ketika qbwt dalam bentuk poster berhasil membawaq ke PIMNAS Lampung, insyaAllah 16-22 Juli ini. Alhamdulillah^_^kegagalan demi kegagalan yang kualami -jika boleh disebut sebuah kegagalan-akhirnya menemukan muaranya, justru di ajang lomba yang paling mudah dan tidak menghabiskan biaya sama sekali (karena semua print out full color glossy ukuran A0 dibiayai dekanat, aq hanya mendesain @poster agar layak lihat:)

fabi'ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzzibaan?


Meskipun bukan hanya event untuk PIMNAS yang membuatq merasa gagal
Mungkin tak semua orang bisa melakukan apa yang diinginkannya. Terkadang ada semacam belenggu kasat mata yang membatasi gerak kita. Pasak yang bukan tak mungkin kita ciptakan sendiri tanpa sadar, meski sebenarnya kita mampu menembusnya dengan mudah.
Aq pernah tertolak juga di PPKM (Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa),tapi semua itu telah kulupakan.
Banyak sekali nikmat yang aku rasakan akhir-akhir ini. Selaksa beban yang aku tumpuk sejak 3BULAN lalu dengan rahmat Allah bisa selesai.


Jum'at 6 Juli kemarin, terutama 2 berita bahagia datang (poster ilmiah yang berhasil membawaq ke PIMNAS dan proposal teh daun ubi jalar untuk anti diabetes yang diterima LRAMP (Lamelson Recognition and Mentoring Program sebagai finalis &akan dibiayai 500.000 US Dollar jika aq berhasil berkiprah dg baik di Student Technopreunership. Ini sangat berat memang, karena proposal ini individu...hanya berbekal keberanian dan energi yang semoga bisa kumunculkan di sana nantinya) hal2 ini...meskipun akan membuatq ga bisa liburan semester ini(Lampung lalu ke Bogor, dalam minggu yang berurutan) tapi itulah jalan yang ditentukan Nya.....mungkin akan ada rasa bersalah saat meninggalkan kampus saat sibuknya penerimaan MABA, awal program SKI dan BEM...tapi aq tidak ingin meninggalkan semua itu dengan tidak membawa apa2...lagi2 aq akan berusaha, meskipun aq tidak punya energi sekuat baja, tetap akan kucoba...agar kepergianku liburan ini tidak sia2...


Takkan ada bahagia tanpa sengsara, tak akan ada lega tanpa gundah. Bukankah kita hanya bergerak antara dua sisi yang berbeda?
do'a kalian sangat q harapkan...

sorry, maaf, afwan ketika membuat comment yang ga nyambung:( tapi tiba2 keinginan bercerita & menulisq muncul ketika membaca blog ini.
*+*+*+*+*
Hmm, sudah lewat setengah tahun dari penulisan komentar itu. Apa khabarmu sekarang, sahabat?

1 comment:

Hans Hilmi said...

Bagus n Menarik ceritanya..
saya jadi ter motivasi nih.. :D

makasih ya cerita pngalamannya.
Sukses ya!