Saturday, 26 September 2020

Pendidikan Dalam Rumah

Sudah sering dengar "It takes a village to raise a child" tapi ada sambungannya yang jarang ikut tersebut: "It takes a lot of solid, stable marriage to create a village". Yes, betul, karena keluarga menjadi unit organisasi terkecil yang menyusun masyarakat.

Selama masa pandemi, urusan pendidikan/sekolah anak juga tidak bisa berlangsung seperti biasa. Terpusat di dalam rumah, peran orang tua, suami istri, terasa lebih penting agar keseimbangan sehari-hari tetap terjaga. Bila anak usia sekolah yang masih belum mentas dari jenjang SD tidak hanya seorang, kerempongan akan berlipat untuk urusan sekolah dari rumah. Terbersit ide untuk opsi homeschool,lalu referensi terkait pendidikan, kurikulum, konsep, peluang kembali ke sekolah formal dll mulai dikunyah pelan-pelan. Kadang terlalu pelan hingga setelah 6 bulan masih belum ada outputnya.

Mana yang cocok? Kuttab, Montesori, Waldorf, Mason, Malaguzzi, un-schooling, world scholer atau kurikulum lain? 

Sebelum pandemi, saya sempat bertamu ke rumah keluarga yang cukup sukses dengan homeschooling. Anak pertama baru lulus S1 dan diterima kerja di FB. Anak kedua mendapat beasiswa di Stanford dan sedang pertukaran mahasiswa ke Jepang. Anak ke-3 dan 4 masih usia SMP/SD dan ketika saya datang mereka sedang ikut kelas programming gratis yang diadakan di community center. Itu salah satu parameter akademis yang tercapai, sementara parameter adabnya masih sangat menjunjung sopan santun budaya timur, memiliki pemahaman agama yang baik meskipun tinggal dan besar di Amerika.

Ada pula cerita tentang keluarga yang untuk ukuran jaman ini sudah tidak umum karena memiliki 13 anak dan semuanya sekolah rumah hingga usia lulus SMA. Anak pertama lulus S2 pada usia 21 tahun!

Tanpa menjelaskan detail metode/kurikulum homeschool yang mereka terapkan, berikut tips yang mereka bagi untuk memulai hari : 

1. Perbarui niat dan siapkan stok sabar sebanyak mungkin. 
2. Biasakan anak-anak dekat dengan kisah orang-orang sholeh. 
>3. Berdoa sepanjang hari, utamanya buat anak-anak, lalu buat diri sendiri supaya tetap waras. 
4. Percaya diri dengan metode mendidik anak yang sudah dipilih, hasil tidak selalu instan. 


Rezeki tingkat paling rendah adalah harta, sedangkan yang paling tinggi adalah kesehatan dan keselamatan dunia-akhirat. Jadi, generasi yang shalih adalah rezeki yg utama. Sedangkan pasangan yang shalih adalah rezeki yang sempurna. 

Saat membaca seputar Kampung Mafta di Langkat, SumUt, rasanya itu jadi wujud desa/komunitas yang tumbuh bersama mendidik anak-anak dalam lingkungan yang cukup ideal, tidak terjebak oleh social comparison yang biasa terjadi di kota. Keluarga yang hijrah ke sana punya visi yang sama tentang bagaimana menjalani hidup, bukan broken home, sehingga memperkuat konsep " a village to raise a child".


BEKAL-BEKAL PENDIDIKAN YANG BAIK 
"Perjalanan kita jauh, tidak penting sampai dimana jarak yang ditempuh, yang utama kita masih di jalur-Nya. Jalan ke surga itu terjal dan menanjak. Maka perlu kesungguhan, istiqamah dan waspada di setiap langkah dengan memohon pertolongan kepada Allah Azza wa jalla. Kita perlu cahaya dari Allah Ta’ala untuk menentukan jalan yang benar dan lurus dengan menuntut ilmu syar’i terus menerus. Bila ada masalah besar, angin besar yang menerjang, maka cahaya/lentera iman kita akan meredup hingga kadang mati. Maka perlu ada kesiapan korek api untuk menyalakan lagi cahaya yang padam tersebut..." 

WASIAT YANG PERTAMA: Jika engkau mendapatkan hasrat, keinginan tertentu pada anakmu dan tujuan masa depan yang jelas, maka bersemangatlah untuk mengembangkannya, menjaganya dan membangunnya. 

WASIAT YANG KE-DUA: kepedulian orang tua pada anak-anak dalam hal berkonsultasi dengan mereka dan mengambil pendapat mereka akan meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk berpikir. 

WASIAT YANG KE-TIGA: Bercanda dengan anak-anak haruslah dibatasi dan dikontrol dengan ketat, agar tidak mengalahkan dan menyebabkan terlalu jauh (berlebihan) yang melalaikan.

WASIAT YANG KE-EMPAT: Memberikan anak-anak sebagian tanggung jawab yang mudah adalah kesempatan untuk membiasakan mereka merasakan tanggung jawab saat besar nanti, dan memberi tahu mereka betapa pentingnya mereka. 

WASIAT YANG KE-LIMA: Setiap kesalahan yang dikeluarkan oleh anak-anak memiliki tingkat dan metode hukuman yang sesuai, jadi jangan membesar-besarkan, dan tempatkanlah hukuman yang tepat untuk kesalahan yang sesuai. 

>WASIAT YANG KE-ENAM: Menyendiri dengan anak-anak untuk memberikan arahan dan nasihat, dalam sesi khusus, adalah metode pendidikan yang penting untuk perbaikan dan perubahan. 

WASIAT YANG KE-TUJUH: Jangan terlalu sering memberikan nasehat setiap saat, karena yang demikian akan mewarisi kebosanan dan penolakan anak-anak, terutama di masa remaja. 

WASIAT YANG KE-DELAPAN: Masa remaja adalah tahapan yang penting dan serius, yang membutuhkan lebih banyak perhatian dan kesabaran, bimbingan dan pendidikan dalam aspek-aspek perubahan.

WASIAT YANG KE-SEMBILAN: Waspadalah terhadap munculnya perselisihan antara orang tua di depan anak-anak; karena yang demikian itu akan mewariskan kepada mereka pemikiran yang bermacam-macam pada perbedaan. 

WASIAT YANG KE-SEPULUH: Jauhilah membandingkan anak dengan orang lain, terutama teman-teman mereka dan kerabat, jadi jangan katakan: sepupumu lebih pintar daripada kamu, karena yag demikian itu akan berdampak negatif padanya. 

[Haqoib at-Tarbiyah al-Hasanah, karya: Syaikh Shalih Abdul karim hal. 10-11]
}); });


ReAD MoRE・・・

Saturday, 28 March 2020

Investasi di Tengah Ancaman Resesi

Tahun lalu, alhamdulillah kami berkesempatan untuk belajar investasi dalam dunia saham. Tentu saja saya belum ahli dalam analisa finance, sehingga untuk investor pemula seperti saya, diversifikasi portofolio sangat penting untuk menimimalisir resiko. Investasi ini untuk 15-20 tahun, sehingga kami tidak perlu khawatir dengan gonjang-ganjing dunia saham.Pilihannya tentu saja perusahaan yang cukup matang/stabil dan membagi dividen secara berkala. Alih-alih memilih perusahaan yang akan berkembang untuk dijual lagi (harus analisa pasar secara aktif), kami memilih menjadi investor 'pasif' dan fokus kepada dividen dibanding kenaikan harga saham. Faktanya, di tengah harga saham yang anjlok, kami tetap mendapatkan dividen selama bulan Feb dan Maret 2020. 


Ada yang berpendapat bawa saat harga saham turun, adalah saatnya membeli sebanyak mungkin. Hal ini berlaku bila kita sudah punya emergency fund (1 tahun biaya hidup) yang cukup sehingga memang ada 'cash' yang bisa dialokasikan untuk menambah portofolio. Kami tetap dalam jalur, membeli saham secara berkala sehingga dalam satu tahun kami memperoleh biaya rerata saat harganya rendah maupun tinggi. 

Hehe, kondisi dunia sedang carut marut dengan adanya Covid19, termasuk ekonomi dan supply chain makanan maupun industri sehingga memiliki uang tunai saat kondisi buruk menjadi pilihan lebih prioritas. Investasi selain dunia saham, juga nampaknya perlu merambah 'insourcing' : pemanfaatan dan pengembangan sumber daya yang sudah dimiliki. Punya sedikit lahan di rumah? Bikin kebun sayur kecil-kecilan. Saat ada stok sayuran, coba bikin asinan yang daya simpannya lebih lama. Surplus tepung, butter dan telur? Coba bikin kue kering. Punya waktu lebih karena tidak harus kerja ke kantor : baca buku, olahraga indoor, bikin dan kejar target jelang Ramadhan. 

Saat terjadi gempa dan tsunami di Jepang tahun 2011 lalu ada himbauan yang masih saya ingat sampai sekarang :

Kakek nenek, inilah saatnya memeras pengalaman hidup untuk menabur nasihat yang baik. Anak-anak, inilah saat untuk menjadi lebih 'matang' dan belajar membantu orang dewasa sesuai kemampuan. Ayah, ibu dan para pemuda , kalianlah tulang punggung masyarakat di lingkungan. Gunakan tenaga muda kalian untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya. 

Setiap orang berusaha menjadi dirinya yang terbaik saat situasi sulit,  mengesampingkan hedonism, pleasure, ambisi, kekayaan dan stimulasi pribadi. Dijelaskan dalam Schartz Circumplex : value yang berseberangan akan sulit dijalankan bersamaan. Dalam kondisi tidak biasa, self-transcedence jauh lebih penting dibanding self-enhancement, dan saya rasa masyarakat Jepang lebih terkondisikan untuk kompromi dan menjaga tradisi. Penanaman value ini penting buat anak-anak, sehingga mereka bisa berkontribusi dalam masyarakat kelak, termasuk dalam mengambil keputusan hidup, pemakaian waktu, uang dan pilihan investasi.


ReAD MoRE・・・

Sunday, 15 September 2019

Kejutan E1 di awal kelas 1 SD

Sebelum diterima di sekolah umum Amerika, anak-anak yang berasal bukan dari negara berbahasa Inggris akan diuji terlebih dahulu kemampuan bahasa Inggrisnya untuk memastikan apakah anak tesrebut akan bisa mengikuti kelas reguler ataukah perlu masuk kelas khusus English as second language. E1 tahun lalu sudah masuk usia wajib belajar (TK) dan alhamdulillah hasil tesnya dia boleh masuk kelas reguler, jadi tidak terlalu ribet untuk mengikuti kelas khusus di lain lokasi. Tapi baru setahun kemudian, bulan Augustus tahun ini tepatnya saya baru ngeh bahwa skor Eyra bahkan tidak masuk kategori level 1 di ELPAC (English Language proficiency for California). Jadi sebenarnya E1 cukup berjuang keras selama satu tahun kemaren kalau saya hanya melihat skor hasil tes tersebut. Bersamaan dengan "ngeh"nya saya tentang fakta tahun lalu, kami mendapat kejutan besar. Kejutan yang baik.
ELPAC SCORE. E1 tidak mencapai skor minimum level 1 saat assesment masuk TK

Selama setaun pertama E1 di TK saya tidak terlalu memperhatikan hasil tes di sekolah, biasanya yang saya tanyakan saat si anak pulang sekolah adalah apakah di senang hari itu, dia bermain apa saja, hal berkesan apa yang dia pelajari di sekolah. PR juga saya bahas kalau ingat saja, karena tidak wajib dikumpulkan. 

Saya agak pekewuh saat memasuki ruangan untuk pertemuan guru dan wali murid di awal tahun ajaran 2019/2020. Wali kelas E1 mengucapkan selamat berkali-kali saat kami membahas hasil assessment kemampuan E1 sebulan pertama di kelas 1, tentu saja karena saya tidak "ngeh" bahwa assesement dilakukan tiap awal tahun ajaran juga karena saya tidak terlalu paham soal level-level yang ada dalam assessment tersebut. 

“Biasanya kami mengharapkan saat di awal kelas 1, anak-anak berada pada level 1 atau 2”, kata wali kelasnya sambil membuka hasil assessment. 
“Putri anda sudah di level 7. Selamat! Anda harus bangga”, lanjutnya.
 “Maksudnya, ada berapa level standarnya?" saya penasaran.
“Di school district ini, level 7 adalah level tertinggi, diharapkan para siswa mencapai level ini saat mereka mau naik kelas 2."

"Oh, jadi anak saya hasilnya bagus, ya?"
"Sangat bagus! Jadi, yang bisa kami lakukan adalah memberikan materi dan tugas yang lebih menantang agar dia tidak bosan, dan memasukkannya dalam kelompak anak yang kemampuannya hampir sama di kelas.” 
“Syukurlah, saya pikir E1 mau dinaikkan langsung ke kelas 2. Saya khawatir…, " Masih tidak menyangka , pikiran saya melompat bahwa E1 akan dilompatkan langsung ke kelas 2 dari TK.

“Itu bisa saja, tapi prosesnya akan lebih rumit. Saat ini kami rasa E1 cukup nyaman dengan opsi materi yang lebih menantang di kelas 1” jelas bu wali kelas sambil melihat ke mata saya. 

“Nampaknya itu opsi yang baik. Secara fisik E1 kadang lebih kecil dibanding anak TK di sini… jadi, ya, saya sedikit kepikiran hal-hal di luar kemampuan akademis.” 
Ibu wali kelas tersenyum,

 “Kita Bisa lanjut?” 

Saya mengangguk. 

“Ini hasil karyanya saat kami meminta dia menggambar dan menjelaskan apa yang dia gambar. Ini sangat hebat. Kami hanya mengharapkan siswa menuliskan satu atau dua kalimat yang menjelaskan gambar. E1 menulis 2 halaman,” wali kelas E1 menunjukkan gambar lalu membolak-balik kertas assessment yang dipenuhi tulisan E1. 

“Memang masih ada pemakaian huruf besar dan tanda baca yang belum sempurna, tapi menulis kalimat sebanyak ini untuk anak yang baru masuk kelas 1 itu sangat luar biasa. Selamat!” 

Saya tidak tahu hendak berkomentar apa. Masih kaget karena saya hanya menyangka bahwa pertemuan wali murid dengan wali kelas akan membahas rencana belajar di sekolah dan apakah ada kesulitan, atau hal khusus yang perlu diperhatikan dalam perkembangan siswa, akhlak dan tabiat siswa, dsb. Saya tidak pernah menyangka sudah ada hasil assessment awal yang menjadi acuan bahan ajar selama satu tahun. 

 “Sebenarnya saya agak khawatir bagaimana E1 kalau di kelas, apakah dia bisa bersosialisasi dengan baik, apakah dia bisa berkomunikasi dan mengutarakan pendapatnya…” 
“Sama sekali tidak ada masalah. E1 memang tidak selalu angkat tangan di kelas, tapi dia angkat tangan saat dia merasa nyaman untuk menjawab pertanyaan atau mengatakan pendapat.” 

“Syukurlah. Setahun yang lalu dia termasuk novice English learner, di rumah kami biasakan untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Sekilas saya amati kalau E1 sangat-sangat pendiam di kelas, saya tidak yakin apakah itu karena karakternya pendiam atau karena dia bingung berekspresi dalam Bahasa Inggris, atau dua-duanya…” 

“Oh, ya? Itu sangat mengejutkan. Saya pikir E1 sudah fasih berbahasa Inggris sejak sebelum masuk TK. Saya tidak melihat ada masalah saka sekali dalam komunikasi. Saya pikir anda harus benar-benar bangga dengan E1. Dia sangat memudahkan pekerjaan kami selama setahun ke depan.” 

Kami lanjut membahas hasil assessment untuk matematika, hasilnya pun tidak jelek. Kami menghabiskan waktu selama kurang lebih 30 menit membahas soal E1 dan ada sesuatu yang menyentak pikiran saya setelahnya.

Saya berpamitan namun masih masih tak habis pikir kalau E1 ternyata punya kemampuan yang lebih dibandingkan anak seusianya dalam hal akademis. Soal kemampuan bahasanya, saat hendak mau masuk TK, secara keseluruhan skor E1 adalah 361/Level 0 /novice English Learner, Bahasa gamblangnya : Very Poor English Learner. Saat lulus Tk di bulan Juni, alhamdulillah sudah naik ke level 3 dengan score 1441. Etapi, itu tidak menjelaskan hasil assement tadi. per hari itu E1  harusnya sudah masuk level 4 ELPAC. Jadi, kesimpulan saya adi lompatan kemampuan berbahasanya dari level 3 ke 4 banyak terjadi  setelah lulus TK, di antara bulan Juni-Agustus. Apa faktor pendukungnya?


Berawal dari posting sebelumnya, kami "menyimpan" TV dan kami baik-baik saja. Setelah dipikir-pikir, waktu yang terpakai untuk  duduk pasif di depan TV kami manfaatkan untuk kegiatan lain : membaca, bermain dan menanamkan lagi nilai-nilai islam mumpung masih dalam nuansa Ramadan dan hari raya. Tiap minggu kami ke perpustakaan dan E1 boleh meminjam buku dengan tema apapun yang dia mau. Boleh dibilang dalam satu hari E1 bisa memabca buku setidaknya 2 jam. Bila dia suka dengan salah satu buku, dia akan membacanya berulang-ulang bahkan minta diperpanjang saat masa 3 minggu berakhir.

Menariknya, saya (atau kami?) belum secara khusus mengajarkan hitungan, atau "memaksa" rutinitas ibadah karena takut kalau anaknya terpaksa malah ada efek samping saat dia dewasa., namun ternyata E1 cukup bagus kemampuan hitungannya, saat masbuk (karena masih main-main) dan imam sudah salam, E1 menambah rakaat yang tertinggal. Rasanya ada sesuai yang hangat mengalir di dada....

Saya tersadar bahwa meskipun saya bertemu anak-anak setiap hari ternyata ada hal-hal yang mereka serap, mereka pelajari , kuasai, tanpa pernah sengaja di ajarkan. Teringat kata-kata ibu mertua kalau sebagai orang tua harus ekstra hati-hati jika punya anak yang "pintar". Ada keterbatasan dalam menilai anak sendiri dan ada yang luput dari radar meski tekun diamati. Anak-anak akan menyerap kebiasaan dan nilai dari lingkungan lalu berbagai pertanyaan akan terlontar saat mereka merasa ada yang berbeda. PR dalam mendidik nampaknya akan terus bertambah....

Selama ini belum fokus soal kemampuan akademis anak-anak dan lebih banyak terbebani dengan tumbuh kembang mereka, eh, setelah kejadian ini mulai terpikir soal perkembangan akademis E1. Tapi sebaliknya, sebab nampaknya kami tidak harus terlampau khawatir dengan E1 di sekolah, kami bisa lebih fokus lagi membangun memori, kebiasaan dan pola pikirnya, memperbaiki (kalau bisa) kenangan bawah sadarnya sebelum sisi logikanya melesat...


ReAD MoRE・・・

Wednesday, 31 July 2019

TV Lenyap dan Perkembangan E1

Awalnya cukup deg-degan dengan reaksi anak-anak saat kami memutuskan untuk “menghilangkan” TV di rumah kami, namun setelah dijalani selama kurang lebih 3 bulan, dunia kami baik-baik saja meski tanpa TV. Tahun lalu sudah tercetus bahwa kami tidak perlu TV cable, tapi biaya TV+internet lebih murah dibandingkan internet saja (strategy yang aneh), sehingga kami putuskan untuk ambil paket TV+internet. Saya juga beli Smart TV ($15 saja) sekedar untuk menjadi monitor. Setelah kurang lebih setahun TV bertengger di ruang tengah, dia lebih banyak menjadi penyebab anak-anak berantem lalu Ramadan menjadi momen yang tepat untuk melenyapkan penganggu kedamaian di rumah itu. 

Tantangannya adalah bagaimana membuat anak-anak tetap “terhibur” sekaligus “terdidik” setelah TV lenyap, karena paling mudah itu memang ngasih, yang sulit itu ngasah dan ngasuh.

Di Indonesia sudah ada Gernas Baku, Gerakan Nasional MembacaKAN buku, yang dalam panduannya menyebutkan bahwa orang tua (dan masyarakat/lingkungan) perlu mendampingi anak-anak agar punya kemampuan multiliterasi (baca-tulis, angka, finansial, sains, budaya, digital). Dalam Bahasa saya : mencetak generasi yang mandiri sejak kecil. Dalam salah satu ceramahnya, Ust. Budi Ashari menyebutkan salah satu ciri mandiri adalah bisa melayani diri sendiri, tidak minta tolong ke orang lain selama bisa melakukan sendiri. Anak-anak saat ini adalah pemimpin di masa depan : pelayan umat, kalau tidak bisa melayani diri sendiri, bagaimana melayani orang lain? 

Bermain dan rasa ingin tahu yang tinggi terasa menjadi fitrah anak-anak. Tanpa TV mereka tetap bisa bermain memanfaatkan barang-barang yang ada dalam rumah. E1 juga membacaKAN cerita buat E2. Meskipun begitu, kadang E1 tidak paham dengan yang dia baca. Vocab-nya belum banyak. Di sinilah ada ruang buat kami untuk membaca bersama dan berdiskusi sesuai tema yang diminati. Perpustakaan buka setiap hari dan buku bisa dipinjam selama 3 minggu, tanpa batas jumlah. 
Membaca Bersama, E1 cukup ekspresif bercerita :)

Jadwal akhir pekan biasanya jadwal kami seperti ini : 
1. 06:30 – 08:30 : Naik sepeda, sarapan di kedai donat atau toko roti. 
2. 08:30 – 10:00 : E1 cuci sepatu, E1 & E2 bantuin bawa cucian ke laundry. 
3. 10:00 – 11:00 : Baca buku bersama, main bersama, siapin menu makan siang 
4. 11:00 – 13:00 : Ke Perpustakaan mengembalikan buku dan pinjam buku baru sesuai tema yang ingin dibaca, ke recycle center, main di playground.
5. 13:00 – 14:00 : Makan siang
6. 14:00 – 17:00 : Tidur siang + kegiatan dalam rumah ; kalau tidak tidur siang biasanya baca buku yang dipinjam dari perpustakaan atau kegiatan lain (seperti membereskan kamar, belajar menjahit, main puzzle/lego, menggambar/mewarnai, tergantung mood anak). Kalau tidur siang, anak-anak boleh pegang gadget selama 30 menit. (dibisikin supaya nonton Nussa-Rara). 
7. 17:00 – 19:00 : Setelah ashar, matahari sudah tidak terik : Berenang atau main ke Playground 
8. 19:00 – 20:00 : Bebersih diri/mandi, makan malam, persiapan sholat maghrib berjamaah di rumah. 
9. 20:00 – 21:30 : Baca buku, cerita sebelum tidur, cek hafalan surat-surat pendek E1. 

Hari Minggu biasanya waktu sudah ter-plot kegiatan social, misalkan mengajar atau pengajian komunitas Indonesia atau belanja mingguan (banyak diskon buat sayur & buah di supermarket dekat rumah, LOL). Setelah tidak ada TV, E1 semakin rajin membaca buku, E2 ikutan saja meskipun belum bisa membaca. 
Berlatih cuci sepatu dan mainan sendiri

Dalam pengamatan saya, kebanyakan keluarga yang kedua orang tuanya bekerja hanya punya waktu bersama saat malam dan akhir pekan saja. Ini bukan waktu yang “banyak” untuk dihabiskan bersama anak-anak, bila masih ada gangguan gadget, juga tidak ada manual bagaimana caranya menjadi orang tua (pendidik) dengan sempurna dalam waktu yang terbatas. Ada juga kasus dimana akhir pekan masih diisi les tambahan buat anak dimana mengambil jatah interaksi dengan orang tua. 

Dalam setahun ini milestone yang dicapai oleh E1 adalah bisa naik sepeda roda 2 dan membaca. Saat mau masuk TK, E1 masih berstatus English Novice Learner, tipikal pembelajar yang memiliki cukup semangat dan antusiasme namun belum punya kememapuan/pengetahuan yang cukup untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Saat lulus TK, E1 mendapat piagam penghargaan sebagai “awesome reader”, kemampuan membacanya melampuai sebagian besar teman-temannya.  Kekhawatiran jika E1 akan mengalami kesulitan beradaptasi karena bahasa nampaknya bisa dihilangkan dari daftar. 

Sehari-hari kami membaca buku bersama, sekarang E1 konsisten membaca tanda lalu lintas, nama jalan, tulisan di bangunan, juga label produk dan kadang bertanya apa beda/artinya. Saat ini E1 juga sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, bahkan kadang dia bertanya terjemahan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. 

Saya akui, menyaksikan kemampuan anak berkembang adalah hal yang menggembirakan. Lebih membahagiakan lagi, E1 mulai memaknai konsep yang kami tanamkan. 

1. Cantik bukan hanya soal fisik.
 Dalam perjalanan ke sekolah E1 berceloteh : “Ayah, E1 akan cantik kalau pakai baju yang banyak hiasan kupu-kupunya, ya.” Dia meneruskan, “ Tapi harus senyum dan kasih salam juga!” “Iya, kalau baju bagus tapi cemberut dan marah-marah, tidak akan terlihat cantik….” Saya tambahkan. “Iya, Ayah. Allah juga suka kalau kita senyum dan memakai baju yang bagus.” Ucapnya sambil tersenyum  menyapa bapak-ibu guru yang berdiri di depan sekolah. 

2. Mulai Konsisten membantu beberes. 
Alhamdulillah E1 sudah mulai biasa membereskan rumah (menata alas kaki, merapikan mainan, mencuci sepatu sendiri, mengelap jendela kamar seminggu sekali). Salah satu komentarnya yang saya catat baik-baik saat merapikan sepatu dan mainan : “E2 jangan bikin berantakan, Allah suka rumah yang rapi an bersih!”

Mau belajar menjahit? Boleh!
Akhir pekan kemarin tiba-tiba E1 minta diajari menjahit : mulai memasukkan benang ke dalam jarum lalu memasang “love” ke selimutnya (ayahnya deg-degan kalau ketusuk jarum), E1 juga membetulkan tas yang salah satu pegangannya putus. 

3. Mulai mengerti soal isu lingkungan. Misalkan saat anak-anak gosok gigi sebelum tidur, E2 suka main keran air. “E2!! Jangan buka keran kalau tidak dipakai, mubazir!” Saat membaca buku tentang laut E1 komentar, “Ayah, orang yang buang sampah sembarangan harus dislentik, dipukul, ditendang!” “Loh, kenapa?” “Tuh, lihat kasihan turtle, bisa mati karena mengira plastic bag itu jelly fish! They are badboy! That’s not good!” 

4. Berbeda itu tidak apa-apa 
E1 mulai mengerti kalau dia tidak boleh memakan babi dan bahan-bahan haram. Ada satu komentar yang juga saya catat saat dia memakai gamis lengkap dengan kerudung di hari yang panas setelah kami mengantar ibunya ke dokter gigi dan bersiap main di taman. 
“E1, kerudungnya mau dilepas dulu gak? Kita mau jalan kaki bentar.” 
“No, I am OK. Perempuan kan harus pakai kerudung kalau keluar rumah, Ibun juga pakai.” 
Sebagian besar orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah dengan mobil, dan E1 bertanya, “Ayah, kenapa kita tidak naik mobil ke sekolah?” 
Jarak rumah ke sekolah hanya sekitar 700m dan bisa ditempuh 10 menit jalan kaki. 
“Coba lihat, antrian mobilnya banyak, tidak? “ E1 melihat parkiran nyaris penuh dan antrian mobil mengular hingga perempatan lampu merah. 
“Repot ya…” katanya. 
“Dengan berjalan kaki, kita bisa menghirup udara pagi, mengamati sekeliling dan olahraga.” 
“Yes, exercise is good for you! “  (kadang E1 mengajak saya berlari hehe)

Secara tidak langsung dia menangkap bahwa apa yang dilakukan orang tua temannya tak jadi soal. Kita punya alasan untuk berbeda. Sependek jarak rumah-sekolah itu pula saya "terhibur" dengan celoteh spontan E1 dalam melihat dunia.

Anak berenang, Ayah membaca. E1 mulai suka menjadi "great helper" di rumah . Hamdallah.


Perjalanan masih panjang, namun waktu kami amat terbatas untuk menyiapkan bekal kemandirian. Mungkin antara 5 -10 tahun ke depan, E1 sudah baligh, artinya sudah harus siap menanggung kewajiban syariah. Artinya dia harus Aqil juga : Menjadi manusia yang mandiri, berwawasan luas dan memiliki jati diri yang kuat. Saat ini, ketiadaan TV banyak membantu kami membangun ikatan yang kuat dan semoga kami dipantaskan menjadi contoh bagi anak-anak yang pemikiran dan kebiasannya bisa mereka terapkan saat dewasa kelak. Setahun ke depan adalah masa transisi saat E1 memasuki usia mumayyiz, dimana E1 mulai harus diajarkan kewajiban syariah seperti sholat (harus belajar soal thaharoh ; wudu, mandi, bersuci sendiri), termasuk tindakan yang berhubungan dengan orang lain, misalkan : jual beli, sedekah, tabungan dkk. (mulai dikenalkan dengan konsep angka dan uang = finansial literasi buat anak 7 tahun).

Saat ini E1 mulai membedakan hal baik dan buruk, hal yang bermanfaat/membahayakan dirinya, mulai mandiri namun belum sepenuhnya. Insyaaalah ada waktu sekitar 10 bulan hingga ia resmi masuk usia mumayyiz... 


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 16 April 2019

American Dream & FIRE

Banyak orang datang ke negeri ini untuk mengejar American dream, apatah itu berupa kebebasan yang tidak bisa diperoleh di negeri asal, atau kesempatan berusaha memperbaiki keadaan finansial. Ada banyak tujuan, ada banyak jalan. Negeri ini dengan kelebihan dan kekurangannya masih membuka kesempatan untuk mobilitas sosial. Saya yang terkadang harus bisa merasakan sendiri untuk memetik pelajaran, Alhamdulillah ditempatkan oleh Allah di metropolitan terbesar ke-dua di negeri ini. 

Komunitas sangat beragam, banyak yang datang sebagai pengungsi perang, dari pasca perang dunia dua hingga sekarang... Saya membaca banyak kisah pengungsi itu. Datang tanpa kemampuan bahasa yang cukup, kehilangan harta benda hingga anggota keluarga, pastinya ada trauma yang hanya dimengerti oleh mereka. 

Ada salah satu kisah dimana seorang janda beranak tiga datang sebagai pengungsi dengan ibunya. Dengan segala keterbatasan, si janda bekerja sebagai tukang bersih-bersih dengan upah minimum. Mereka tinggal di apartemen murah dimana neneknya menjaga 3 anak berusia di bawah 8 tahun sambil bercocok tanam di sisa lahan. Hasil sayuran di belakang apartemen itu kadang dibagikan juga ke tetangganya. Tentu saja mereka tidak jajan makanan ke restoran, tidak juga membeli baju baru, tidak ada perayaan di rumah. Hingga akhirnya tabungan sang janda cukup untuk membeli rumah sederhana secara tunai!

 Anak-anaknya bisa kuliah dengan grant/beasiswa dan setelah 30 tahun bekerja serabutan, sang janda bisa mencapai kebebasan finansial, dari asetnya (properti yang disewakan) juga uang pensiun. Itu salah satu kisah yang saya pikir cukup menginspirasi. 

Saat ini orang sudah terbiasa dengan hidup enak dan mudah. Kredit mengucur deras, penawaran diantarkan sampai ke depan pintu rumah. Standar kehidupan memang naik, orang "miskin" pun bisa punya mobil dan berpenampilan modis. Di sisi lain, banyak orang berusia di atas 60 tahun masih harus bekerja dengan tujuan uang, memenuhi kebutuhan dan membayar hutang. Ya,salah satu indikator American dream adalah memiliki rumah impian, dimana tidak semua orang bisa mendapatkannya. 

Saya membaca kisah-kisah orang yang bisa membebaskan diri dari tuntutan finansial. Mereka dikelilingi oleh orang-orang dengan pemikiran yang sama. FIRE, Financial Independence, Retire Early. Pensiun di usia 30an, bukanlah tidak mungkin. Mereka orang-orang yang berani mengambil aksi untuk pilihan gaya hidupnya. Pensiun bukan berarti tidak bekerja, tapi tidak harus bekerja. Intinya dengan menghitung kebutuhan hidup dan menyiapkan aset produktif baik berupa properti, saham, atau usaha yang sudah dipercayakan pengelolaannya ke orang lain. Kecepatan "pensiun" bukan ditentukan oleh seberapa besar pendapatan, melainkan seberapa besar porsi yang bisa ditabung/diinvestasikan.  

Yang sering dijadikan acuan adalah 4% rule hasil dari trinity study, isinya bila kita punya aset 25 kali lipat biaya hidup kita adalam satu tahun, kita bisa menarik 4% tiap tahunnya untuk selamanya. Bila biaya hidup kita dalam satu tahun 100 juta, jika kita punya 2.5 milyar aset produktif (sepertinya saham/surat berharga), maka jika setiap tahun kita menarik 4% tiap tahunnya, kita bisa mengandalkan passive income tanpa harus mengubah gaya hidup. 

Tentunya banyak pilihan investasi yang cocok dengan profil keluarga and resiko yang akan dipilih. Ini jadi PR berikutnya. 


ReAD MoRE・・・

Saturday, 8 September 2018

Hal Penting Saat Ini

Hidup di negeri dimana lingkungan seolah menuntut untuk mengejar uang-uang-uang, apakah itu yang sebenarnya saya inginkan? Jelas bukan. Uang adalah alat dan bukan tujuan. Di hari usia bertambah setahun ini, saya berpikir hal-hal yang menurut saya penting. 

1. Menjaga badan tetep prima. Yes, tubuh ini adalah titipan Allah juga yang harus dirawat: jaga makanan, jaga kesehatan. Punya uang berlimpah tapi kesehatan buruk, terdengar tidak menyenangkan. (Usia saya sudah 30+, harus lbh concern )
2. Mengelilingi diri dengan orang-orang terbaik. Bisa berupa lingkungan yang baik untuk perkembangan diri dan orang-orang yang punya visi sama. Pentingnya punya pasangan hidup dan keluarga yang mendukung sangat terasa. 
3. Mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi bermental kuat, pekerja keras, mumpuni dalam adaptasi dan teguh memegang prinsip. : Perlu bantuan istri dalam hal ini. 
4. Hidup di tempat yang : masih kental suasana gotong royong, air bersih tersedia melimpah (subur), kaya sumberdaya (SDM dan SDA) : Penting untuk menjaga dan meningkatkan kondisi spiritual dan finansial. 
5. Berpetualang! Ayo keliling dunia!! : Hmm, perlu modal dan akal untuk hal ini, setidaknya dimulai dari menjelajahi California dan Amerika. 
6. Nambah ilmu setiap hari : baca buku, baca artikel, dengerin podcast/ceramah. (Harus pinter cari waktu karena disibukkan 2 anak kecil super aktif yang kadang jam 11 malam blom bobo). 
7. Kontribusi ke masyarakat : volunteering! Yes, saya ngajar di sunday school. Tapi sekarang mulai kewalahan karena murid bertambah dan ada tuntutan dari "sekolah", helppp!! Saat ini saat anak-anak sedang perlu perhatian lebih dari ayahnya, urusan domestik rumah tangga kadang kurang optimal karena kegiatan di luar rumah. Semoga diberikan jalan keluar terbaik.
8. Hidup adalah perkembangan dan petualangan. Tanpa ada hal baru setiap hari, hidup akan terasa hampa (bosan sih pasti) karena rutinitas yang sama. Pengen merasa tenang saat mau tidur karena sudah melakukan hal-hal baik hari itu, dan bersemangat saat bangun tidur untuk menebar kebaikan lain. -ideal ini sih-


ReAD MoRE・・・

Tuesday, 20 February 2018

Tentang Sekolah (Anak)

Tak hanya kaum elitis di Indonesia , di Amerika, persaingan orang tua terkait  sekolah anak-anaknya juga terjadi, khususnya di kelas menengah (ke atas). 

“…parents will spend down their last dollar (and their last borrowed dollar) on their kids’ education: In a society with dramatic income inequality and dramatic educational inequality, the cost of missing out on the best society has to offer (or, really, at the individual scale, the best any person can afford) is unfathomable.”



Secara umum, pola pikir mengenai masalah perekonomian terbagi menjadi 2 : kebijakan elit politik dan golongan super kaya yang mengeruk sebagian besar 'kemakmuran", di sisi lain adalah  pola hidup masyarakat yang over-konsumtif. Saya pikir hal inilah yang menjadi dua pemeran utama dalam panggung politik : Demokrat yang cenderung"membela' rakyat kecil dengan berbagai subsidi (rakyat kecil semakin miskin karena sistem kapitalis, harus dibantu secara sistemik),  Republik yang cenderung "mendukung" orang kaya dengan potongan pajak karena subsidi dinilai tidak tepat sasaran (orang-orang itu harusnya bekerja dan penghasilannya cukup untuk hidup tanpa subsidi). 

Pola pikir dengan polaritas berbeda ini menjadi tarik ulur kebijakan pemerintah, dan  ya, presiden yang menjadi motor pengatur arah kebijkan memerankan fungsi penting. Berdasarkan pengalaman 2 tahun terakhir,  memang betul bahwa potongan terbesar dari gaji adalah 'jaminan sosial'. Pajak penghasilan memang progresif namun dengan memiliki pendapatan "median", pajak ini relatif kecil, bahkan dengan kondisi khusus (migrasi, biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, dkk) yang terjadi tahun sebelumnya, kita bisa mendapatkan tax credit dari Pemerintah  (tidak perlu bayar pajak, malah dapat bantuan langsung tunai). 

Terkait sekolah, setiap wilayah dibagi menjadi zona-zona sekolah berdasarkan daerah tempat, hanya anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah tersebut yang boleh mendaftar. Akibatnya, wilayah dengan sekolah favorit lebih diminati oleh orang tua sehingga harga properti  naik. Dalam jangka lebih panjang  mucullah kawasan elit dan slum. Sekolah memang "gratis", namun ada dinding tak terlihat yang membatasi mobilitas manusia. Sisi sekonomi inilah yang cenderung memisahkan tempat tinggal orang-orang berdasarkan kelasnya... (golongan super kaya akan tinggal di kawasan super ekslusif di tebing pinggir pantai atau pulau pribadi :-p )

Golongan menengah yang peduli dengan  sekolah anak akan berusaha  untuk tinggal di kota dengan ranking yang bagus : biaya hidup lebih tinggi dan secara umum  lebih kompetitif (banyak les tambahan untuk anak-anak di luar sekolah : biola, piano, renang, kum*n, dkk).  Terkadang jarak kota seperti ini dengan kantor tempat bekerja cukup jauh, sehingga anak-anak harus dititipkan setidaknya dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. (Ya, ya, dulu manusia cenderung bekerja dan beraktivitas tak jauh dari lokasi rumahnya, kaki dan sepeda sudah cukup menjangkau segala tempat untuk keperluan sehari-hari.  Saat ini lokasi tempat mencari nafkah yang jauh dari rumah pun tetap dijadikan pilihan seiring pergeseran nilai, kebutuhan dan makin kuatnya daya tarik ekonomi kota besar..., Tapi ini isu lain...)

Bagi kami pendidikan anak juga penting. Bukan ke arah kualitas sekolah, namun lebih cenderung lingkungan yang kondusif. Kenapa? Banyak kasus dar-der-dor! yang menyasar sekolah di Amrik. Dikarenakan belum bisa commit 100% untuk homeschooling, lingkungan dimana orang tua saling sapa dan peduli cukup penting. Manfaatkan statistics seberapa banyak keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah :-P.  Sekolah yang kami pilih harus berbeda lokasi antara SD, SMP dan SMA untuk meminimalisir pengaruh dari perbedaan umur. Yes, ada beberapa school district yang menjadikan lokasi SD, SMP dan SMA berdekatan. Selain menciptakan kemacetan lokal yang cukup parah saat bel masuk dan pulang, menurut saya ada efek yang kurang bagus bagi anak-anak SD.

Di luar sekolah beberapa hal berikut patut dijadikan pertimbangan :
1. Say no to TV cable & broadcast TV service. Sebagai gantinya harus ada akses internet super cepat, komputer/laptop & HP. Selain itu ada pilihan untuk langganan Netf*ix, H*lu, dkk tanpa harus memakai pilihan 100+ channel yang belum tentu ditonton.
2. Menjaga akses minimal akan mobil, selalu siap berjalan/bersepeda : menambah waktu mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal, berpartisipasi dengan tidak menambah polusi udara dan pemakaian BBM.
3.Memaksimalkan akses ke alam (Yes, banyak sekali national park (gunung, gurun, pantai) di California, kesempatan untuk tafakkur alam yang sulit ditemukan di belahan bumi lain). Berkemah dengan sedikit akses akan memicu insting survival dan insourcing, selain menguatkan ikatan dalam keluarga.
4. Memaksimalkan akses olahraga untuk anak-anak di sekitar rumah (taman bermain, sepeda, kolam renang, etc). Beladiri juga berkuda, hehe.
5. Meminimalisir kegiatan terjadwal untuk anak-anak dengan menambah self-guided activities. Rasa bosan  dan keterbatasan bisa menjadi trigger untuk kreativitas.
6. Mainan edukatif (sedikit mahal gpp :-P ): Lego Mindstorm ; VEX IQ robotic ;  Kemah kode gratisan --- dimana kita harus “figure things out” daripada “buy a solution”  yang akan memberikan cara pandang yang keratif dan berbeda tentang dunia. Computer time (pada komputer beneran, bukan PeEs / Wii) akan memberikan efek yang sangat-sangat berbeda dari melihat iklan TV dan kartun, dan bukan tak mungkin menumbuhkan minat menuju computer competency. :-). Anak juga bisa belajar sendiri dari Khan Akademi  untuk hampir semua mata pelajaran.

Yes, kesimpulan sementara, sekolah di luar rumah hanyalah sebagai alternatif pendidikan di dalam rumah, tempat anak-anak mengenal dunia luar. Pendidikan di rumah tetap harus menjadi pilar utama kegiatan anak. Selain menambah kedekatan anggota keluarga juga ramah dompet (apalagi  kalau anak tidak perlu disekolahkan dengan biaya tinggi plus antar jemput pakai mobil :-) )



ReAD MoRE・・・

Friday, 2 February 2018

Tentang Kenangan & Pelajaran

Kapan kenangan paling lama yang masih bisa terbayang dengan jelas dalam pikiran?  bayi? 2 tahun? 4 tahun?  Untuk saya, nampaknya kenangan yang tergambar dengan jelas adalah saat di TK, berarti sekitar usia 4 tahun. Kenangan masa kecil sebelum itu sama sekali tidak terbayang,  hanya bisa melihat dari foto-foto . Mungkin saja berbagai memori itu terekam dalam alam bawah sadar, dikarenakan otak anak kecil belum sepenuhnya saling bersambungan, dikatakan sebagai golden age bagi anak-anak, yang menyerap segala informasi seperti spons menyerap air.  Sebuah fase awal belajar untuk bisa mandiri dan survive di dunia. 

Ibu tentunya yang paling berperan menanamkan nila-nilai kehidupan sebelum kita mempelajarinya dari orang lain di luar rumah. Lalu saya terhenyak, betapa almarhumah ibu telah membekali saya dengan berbagai keterampilan dasar peradaban manusia dalam keterbatasan rumah tangga waktu itu. Tahun lalu menjadi sebuah kenangan yang menghantam jiwa, saat Allah memanggil ibunda keharibaan-Nya. Istri saya menuliskan USIA dengan sangat apik, mengikat emosi & pelajaran bahwa badan yang sehat, kekayaan, makanan dan segala perhiasan dunia bukan jaminan kita hidup lebih lama. Pertanyaan berikutnya, apakah dengan lebih lama hidup di dunia menjadikan kita lebih bahagia?

Meninggalnya ibu secara mendadak dalam kondisi yang insyaallah sangat baik membuat saya lebih menggaris bawahi bahwa waktu adalah sebuah dimensi yang teramat penting, hingga Allah pun mengabadikannya dalam sebuah surat di Juz ama. Yes, sungguh manusia dalam kerugian. Rugi adalah status yang melekat pada manusia dalam interaksinya dengan waktu. Agar tidak rugi, Allah memberikan jawabannya : beriman DAN beramal sholih DAN saling menasihati dalam kebenaran & sabar. Beriman saja tidak cukup untuk membebaskan diri dari kerugian, harus dilengkapi dengan berbuat baik & saling menasihati. Pertanyaan baru untuk muhasabah sebelum tidur bertambah : Apakah kita sudah "untung" hari ini, ataukah masih rugi?

Dalam dunia modern sekarang muncul cost-benefit analysis untuk mengevaluasi sebuah keputusan/sistem/proyek/apapun. Satuannya tentu saja keuntungan materi. Bagaimana bila kita masukkan dimensi waktu ke dalamnya? Kenapa? Karena waktu kita terlalu berharga. Kita sudah rugi dan terkadang keuntungan materi belum menutup lobang rugi itu. Saat ini concern saya seputar transfer ilmu dan pengalaman dalam keluarga. Salah satu konsep yang ibu ajarkan adalah insourcing. : memberdayakan/memaksimal potensi sumber daya yang dimiliki. (yes, lawan katanya outsourcing, dimana kita memberdayakan 'resource' di luar 'sistem').

Pendidikan di sekolah (kesan saya saat ini, kejar target kurikulum beres) ibarat membangun rumah dikasih tenggang waktu 2 minggu, misalnya, Pondasi harus jadi, inspeksi, ok 80% (lulus), lanjutkan. Padahal semen belum kering kering dkk, akhirnya demi mengejar waktu, pembangunan dilanjutkan ke lantai pertama, inspeksi lagi lulus 60%, dilanjutkan lagi pembangunan lantai berikutnya, dst. Hingga akhirnya ada rumah yang roboh, collapse karena sistem "evaluasi" dari inspeksi yang dilakukan sebenarnya tidak sesuai. Siapa yang disalahkan? inspector? tukang? Di sini, sistem yang salah, eksekutor yang ketempuhan. 

Pendidikan akademis di sekolah  memang penting, namun lebih penting lagi pendidikan tentang bertahan hidup di dunia dan suskes di akhirat. Seberapa banyak hasil belajar di sekolah yang sekarang bermanfaat? lebih banyak mana dengan hasil pendidikan dalam keluarga?

Manusia adalah makhluk organik, bisa berubah bila kondisi sesuai. Musim semi 2016 lalu, ada fenomena menakjubkan , Super bloom di Death valley California. Akhir tahun 2015 gurun yang kering yang selama puluhan tahun tidak mendapat air, dengan kuasa Allah mendapatkan hujan rintik-rintik. Sekitar bulan Maret 2016, bunga-bunga bermekaran di sana, Death valley menadi warna-warni dengan bunga, bukan "lembah mati", dia hanya menunggu saat yang tepat menumbuhkan potensinya.  Demikian pula manusia, dia akan tumbuh kembang  maksimal bila mendapatkan kondisi yang sesuai.


Kesimpulan saya saat ini, pendidikan formal akan membantu kita mendapat pekerjaan diperusahaan orang lain, cukup baik untuk menghasilkan active income selama sekitar 20 tahun, lalu modal finansial itu kita maksimalkan dengan kebiasaan dan gaya hidup untuk bisa "pensiun" dini dengan aset-aset produktif. Bila kita harus bekerja lebih dari 20 tahun dan masih ada tanggungan (cicilan?), rasanya pendidikan formal itu tidak cukup baik untuk menjadi perantara rejeki, atau ada yang salah dengan pola hidup kita. (Saat ini saya sudah bekerja selama 7 tahun selepas dari bangku kuliah. 2018 adalah tahun ke-8 saya bekerja, target saat ini, 12 tahun lagi saya tidak perlu bekerja untuk tujuan materiil). Untuk kasus tertentu ada bidang-bidang dengan gaji sangat besar yang memungkinkan pensiun dini kurang dari 10 tahun bekerja, bila resource dikelola dengan baik.

Dengan konsep Insourcing yang dipraktikan ibu kami di rumah, kami belajar menanam, beternak ayam, menyajikan makanan di atas meja makan hampir semuanya dari halaman sendiri. Saat harga ayam/daging mahal, ibu menggantikan menu dengan ikan, tahu dan tempe sebagai sumber protein. Jadilah menu ajaib garang asam lele (biasanya ayam), lintingan ikan (pepes dengan balutan kelapa muda parut bumbu kuning) dan berbagai "inovasi" lainnya. Masa itu menjahit baju sendiri lebih murah dibandingkan beli (kami hanya beli baju baru saat lebaran) dan menambal baju sobek adalah hal biasa. Alih-alih melakukan outsourcing untuk membersihkan rumah, kami mendapat jadwal dan wilayah masing-masing untuk menyapu dan mengepel lantai, seminggu sekali membersihkan kaca jendela dan 'memfurnish' meja kursi dengan kemiri.

Kadang saya kelewat kreatif, mau membetulkan radio, tapi malah rusak. (saya belum lulus SD saat mulai main-main dengan elektro). Prestasi saya adalah membetulkan bel rumah saja :-P 

Insourcing ini benar-benar membentuk mindset saya, bahwa resource adalah sesuatu yang harus optimal, tidak boleh mubazir, sekaligus menjadikan kami super kreatif saat melihat bahan-bahan yang berserak di sekitar. Istilah keren saat ini adalah gaya hidup minimalis, selain terhindar dari impulsive consumption, juga menjadikan jalan menuju kebebasan waktu (atau bebas finansial  pada frame yang lebih luas). Waktu adalah salah satu resource itu dan jatah kita sudah tertulis...  saat ini waktu bersama keluarga menjadi prioritas, commuting sesingkat mungkin, interaksi harus maksimal, komunikasi harus optimal, transfer ilmu dan pengembangan diri harus difasilitasi.

Dari Ibu saya belajar bahwa kita hanya akan mengantarkan anak-anak kita pada gerbang kemandirian dengan pola pikir yang dibiasakan sebelum dewasa, lalu mereka akan bebas bertebaran mencari rejeki Allah di muka bumi, belum tentu orang tua akan "dirawat" oleh anak-anaknya saat tua. Belum tentu anak-anak kita akan bersama saat masa tua. Ibu meninggal saat kami belum puas berbakti, tetap berkarya menjahitkan baju buat cucu-cucunya, memasakkan makanan kesukaan anak-anaknya,  berkontribusi ke keluarga besar dan lingkungan tempat tinggal, hingga akhir hayatnya. Saya sempat kaget saat melihat tabungan ibu, jumlahnya cukup besar sehingga saya berpikir bahwa ibu tidak menggunakan uang yang saya kirimkan. Mungkin ibu tidak butuh. Saat kakak saya memeriksa lemari, ada lembaran uang seratus ribuan diniatkan untuk qurban (kira-kira setengah harga kambing).  Ada juga sejumlah uang untuk "menikahkan" adik saya kelak. Betapa banyak urusan yang lebih diutamakan daripada kebutuhan pribadi almarhumah.....


Tahun ini anak sulung saya akan mulai mengenang berbagai peristiwa dan pelajaran dalam alam sadarnya, sel-sel otaknya akan mulai bersambungan secara sempurna, menyajikan logika, mulai paham sebab-akibat, kesimpulan dan mengambil keputusan. Saya tidak tahu jatah usia ini, semoga cukup untuk mendidik anak-anak kami menjadi insan yang bebas dari rugi.


ReAD MoRE・・・

Friday, 26 January 2018

Tentang Mubazir (di OC)

Masih tentang hidup di US, khususnya di Southern California, lebih khusus lagi di Orange County (OC). Berdasarkan pengamatan selama 3 tahun terkahir, berikut adalah hal-hal yang mubazir/tidak efisisen. 

1. Dryer. OC mendapat cahaya matahari hampir 100% sepanjang tahun. Saya tidak melihat keuntungan memakai dryer untuk cucian. Pemakaian listrik bertambah, serat pakaian lebih cepat rusak, warna baju lebih cepat pudar. Dryer berfungsi bila kita perlu baju motor jadi bersih dan dikeringkan pada hari yang sama, namun di OC, saya tidak merasa ada kebutuhan ini. Solusinya : pakai mesin cuci, jemur di bawah matahari (bila memungkinkan) atau dalam ruangan. Insyallah pakaian lebih awet dan kita telah berpartisipasi dalam penghematan energi dan biaya. 

 2. Mobil. Saya setuju bahwa mobil jadi kebutuhan wajib di amerika secara umum. Pemakai sepeda hanya sekitar 1% dari populasi. Tapi, lebih dari satu mobil dalam 1 rumah tangga tidak efisien. Secara teori kita beraktivitas bebas tanpa mobil dalam radius 3 mile (sekitar 5 km) dari rumah. Artinya tempat kerja, sekolah Dan tempat belanja harus bisa terjangkau tanpa mobil. Di OC, selain diberkahi dengan cahaya matahari juga tidak pernah turun salju. Sistem sekolah umum berdasarkan wilayah tempat tinggal ternyata tidak menjadikan kaki lebih ringan melangkah, anak tetap antar jemput dengan mobil ke sekolah. Akibatnya? Kemacetan lokal karena antrian mobil untuk ratusan siswa berlangsung bersamaan pada bel masuk Dan pulang sekolah. 

3. Commuting. Selain waktu yang terbuang, ada konsumsi energi dan pikiran (stress?), juga resiko kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan. Solusinya : cari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja. Waktu pagi akan lebih produktif untuk komunikasi keluarga, berkebun atau membereskan rumah.

4. Ruangan. Rekomendasi pemerintah (bukan regulasi) yang diterapkan sbg aturan sewa membuat sulit mencari apartment yang sesuai kebutuan. Kami yang saat ini cukup dengan 1 bedroom, harus menyewa 2 bedroom, karena max occupant utk apartement 1 kamar adalah 3 orang. (Anak2 masih balita dan tidur dlm kamar yg sama meski pisah kasur). 1 ruangan tidak terpakai. Solusinya : bila memungkinkan, jadikan alat menambah income : sewa/a**bnb. 

 5. Makanan. Secara umum, porsi makan di restaurant lebih dari kebutuhan perut, sehingga hampir selalu ada sisa. Yes, dibuang. Solusinya : bawa pulang atau pesan sesuai kebutuhan. Kebiasan meminimalisir sampah perlu diterapkan. Bila membuat memasak makanan sendiri, habiskan. Energi,waktu, pikiran untuk berbelanja, memikirkan menu, memasak dan menyajikan menguap sia-sia setara dengan makanan jadi yang masuk bak sampah. 

6. Tungku Api/Pemanas. Musim dingin tidak terlalu mnggigit tulang, namun ada rumah/bangunan (tua?) yang dilengkapi dengan tungku di ruang keluarga. Biasanya memakai bahan bakar gas dan dibayar lewat HOA. Artinya dipakai atau tidak, tetap bayar iuran. saya jadi ingat kotatsu atau selimut listrik saat di Jepang, menghangatkan lokasi di sekitar manusia saja, tidak perlu seluruh ruangan. (AC terkadang masih diperlukan karena musim panas bisa panas & lembab sekali, tapi tidak perlu menyala 7 hari seminggu terus menerus) 

7. Garasi. Mobil biasa diparkir di carport atau pinggir jalan, garasi dialih fungsikan menjadi gudang. Jadi sebenarnya.... tidak perlu garasi, ya? barang-barang yang digudang sebagian besar adalah barang-barang yang tidak terpakai. Sewa gudang sebenarnya wajar bila kita pindahan, satu atau dua bulan lah ya, buat penyimpanan sementara. Tapi di Amerika sewa gudang bisa bertahun-tahun, artinya, sebenarnya barang-barang itu tidak diperlukan bukan? Saya jadi ingat tentang acara TV dimana gudang sewaan yang sudah tahunan tidak diakses pemiliknya akhirnya dilelang. Eh, jadi peluang usaha :P

 *saya termasuk yang geregetan dengan perilaku 'mubazir' : membuang makanan (bukan anak kecil); tidak menutup kulkas; menyalakan TV tanpa ditonton; naik mobil untuk jarak dekat; meyimpan barang yang tidak terpakai; setiap tindakan mubazir ada konsekuensinya, entah berupa tambahan biaya atau pemborosan energi = penghamburan harta. Dalam skala kecil kebiasan seperti ini damapak buruknya tentu tidak besar, tapi bila setiap orang dalam sebuah negara perilakunya sama, dampaknya bisa ke stabilitas ekonomi negeri itu. Bacaan : buku2 Juliet Schor*


ReAD MoRE・・・

Friday, 19 January 2018

Tentang Sewa atau Beli Rumah

Keputusan sulit bagi setiap keluarga. Kabar baiknya, NY Times pernah menuliskan artikel dan membuat simulasi keuangan untuk kebutuhan dasar manusia akan papan ini, di Amrik tentu saja. Silakan telusuri. Bisa juga diseusaikan untuk negara lain saya kira, akan sangat membantu memberi gambaran apakah uang yang akan kita bayarkan sebanding dengan biaya/harga. Ada juga versi video penjelasan soal sewa vs beli di US, silakan akses video di  khan academy, excel file juga tersedia.

Faktor pertimbangan dalam link di atas jauh lebih kompleks dibandingkan kesimpulan sementara saya selama ini :

 +=+=+=+=+ 
Sewa : kalau sewa bulanan kurang dari 0.5% nilai properti. 
Beli : kalau sewa bulanan lebih dari 1% nilai properti. 
Antara 0.5% - 1% ,nilai wajar, pertimbangkan kemampuan finansial saat itu :-) 
Nilai bangunan rumah di amrik berkisar $100-200 per square feet, atau 15-30 juta per meter persegi, karena harga tanah relatif murah, biasanya orang menaksir nilai properti dari luas bangunan saja. 

Untuk harga di Indonesia saat ini (dengan kualitas yang bagus), perkiraan saya harga per meter perseginya 2-6 juta rupiah. Bila harga suatu properti satu milyar dengan luas tanah 100 meter persegi dan luas bangunan 60 meter persegi, nilai bangunannya paling mahal 360 juta, harga tanah sekitar 6 juta per meter persegi. Ini untuk rumah baru dibangun, tentu saja.  Harga sewa yang masuk akal adalah kurang dari 60 juta setahun. (6% dari 1 Milyar).

Untuk rumah tipe 36 , luas tanah 72 m2, dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi  untuk keluarga muda, nilai intrinsiknya sekitar  300jutaan. Harga sewa yang masuk akal kurang dari 18 juta rupiah setahun.

Bila rumah sudah dibangun lebih dari sepuluh tahun yang lalu, nilainya tidak akan setinggi ini. Namun... harga tanahnya yang mahal, biasanya, karena kota berkembang. Dipilih karena lokasi...

Selanjutnya menyesuaikan dengan budget masing-masing.
 +=+=+=+=+=+


Dengan harga rumah di OC yang tinggi, secara umum, lebih baik baik menyewa, apalagi jika kurang dari 5 tahun. masalah tempat tinggal ini benar-benar menyesuaikan visi misi jangka menengah/panjang sebuah keluarga.

Rumah adalah kebutuhan dasar, memiliki sertifikat rumah adalah pilihan. Secara ideal rumah menjadi pusat aktivitas, bukan hanya sekedar tempat tidur dan menyimpan barang. Artinya, lokasinya harus cukup dekat untuk aktivitas dengan berjalan kaki atau sepeda sehari-hari : sekolah anak dan kantor orang tua, tempat belanja kebuthan sehari-hari.

Sangat tidak efisien jika untuk aktivitas sehari-hari ini perlu ditunjang kendaraan roda empat. Terkecuali darurat : ada orang tua atau anak balita. Bila anggota keluarga cukup sehat fisik dan matang akalnya untuk kegiatan mandiri, rumah yang dekat dengan fasilitas aktivitas anggota keluarga sudah jelas pilihan utama. (halaman belakang, garasi, luas rumah dkk bukan faktor pokok).

Istri saya sudah menyatakan dengan jelas keinginan memiliki (sertifikat) rumah. Artinya bila ingin memaksimalkan rumah tersebut, kegiatan sosial-ekonomi anggota keluarga harus terpusat dalam jejari 5 km, maksimal 30 menit naik sepeda. Terkadang masalah sekolah anak yang jadi pertimbangan, namun insyallah akan saya bahas di tulisan berikutnya tentang solusinya.

Pengalaman pribadi saya sendiri, SD saya berada di seberang rumah. Bila saya lupa minum susu atau sarapan, maka almarhumah ibunda akan membawa gelas/nampan ke depan gerbang sekolah, lalu teman-teman & kakak kelas (yang sebagian besar tetangga) sudah hafal kebiasaan ini dan mencari saya untuk dihadapkan ke ibunda. :-P Itu kalau saya lagi rajin. Kalau sedang malas, maka baru berangkat  5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Nyaman sekali bukan? Ortu tidak perlu antar jemput. Sebuah kemewahan sederhana.

Saya sendiri memimpikan rumah sederhana yang efektif, tidak banyak barang dan pemakaian ruang bisa maksimal. Pengalaman hidup di Jepang banyak berpengaruh. Ruang tidur dengan tatami dan futon akan menghemat ruang, tidak memerlukan dipan, jemur "kasur" lebih mudah, juga lebih sehat karena tempat tidur bisa 'disterilisasi' dengan sinar matahari. Kasur pegas? terlalu berat untuk dijemur.

Saya akan memerlukan halaman yang cukup luas untuk ternak ayam & ikan, serta menanam buah dan sayuran. Mahal donk... Mungkin saja. Namun bila tinggal di rumah seperti ini, artinya saya tidak commuting ke kantor dan bekerja 8 jam di luar lagi. Dengan memiliki sertifikat rumah dan rumahnya ditempati sendiri, kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan insyallah terpenuhi, saatnya pensiun dini, bekerja menekuni hal yang disukai. Yey! PR besar lagi :family resilient and flexibility.


Satu lagi, memilih rumah = memilih lingkungan, hal ini terkait dengan tetangga, keamanan, dan ketentraman batin. Pola  Keep up with the Joneses, tentu saja bukan pilihan lingkungan yang bagus. Saya masih mengalami lingkungan dimana kita akan meminta tolong ke tetangga sebelum memanggil tukang saat ada masalah di rumah, saling memberi/meminta bumbu dapur lalu mengembalikan dalam bentuk masakan, pengajian lingkungan dari rumah ke rumah, saling sapa saat ketemu di jalan, dsb. Interaksi dengan manusia sangat menentukan kenyamanan. Bila waktu sehari-hari dipakai untuk 3-4 jam commuter, 8 jam bekerja lalu weekend digunakan untuk jalan-jalan, akan lebih sulit membangun koneksi 'batin' dengan tetangga. Ketergantungan akan mobil lebih mengikis lagi nilai sosial ini. Fenomena tidak kenal/bicara dengan tetangga kanan kiri sudah terjadi.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 18 January 2018

Tentang Skill Dasar

Tercetus dari komentar mertua tentang pekerjaan rumah tangga dan laki-laki, pikiran saya melompat tentang keahlian manusia dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Yes, betul. Pangan, sandang dan papan. Saat ketiganya sekarang ini sudah terbeli dengan uang, bagaimana keterkaitannya dengan biaya hidup? Seberapa banyak generasi muda yang terbiasa menanam di pekarangan, menyembelih unggas dan membersihkan bulunya, memancing ikan, memasak, mencuci dan menjahit, serta memiliki skill dasar tukang kayu, tukang cat, tukang las dan tukang listrik? 

Untuk saya sendiri, alhamdulillah bisa dikatakan saya menguasai skill terkait sandang dan pangan.  Pahala untuk almarhumah ibunda yang menghadirkan lingkungan kondusif saat masa kecil saya belajar skill tsb. Tapi mengenai papan, jauh panggang dari api. Saat kecil (SD, SMP), saya bisa membetulkan atap, tapi tidak hal-hal yang berhubungan dengan kayu atau besi. Sekarang keahlian dasar mengelas (besi), tukang kayu dan tukang listrik menjadi 3 skill yang ingin saya kuasai.

Saya mendambakan sebuah keluarga yang berdikari. Hal ini sulit terwujud bila makanan yang tersaji selalu terbeli, baju yang dipakai selalu dipendekkan orang lain, dan perbaikan rumah harus selalu dimintakan bantuan orang lain.

Hal-hal mendasar seperti ini akan terasa sangat besar manfaatnya secara finansial saat hidup di amerika. Serius. Bahan-bahan mentah di Amerika boleh dikatakan lebih murah dari Indonesia. Makanan (sembako, sayur, ayam, daging sapi dan buah), baju dan tanah, boleh dikatakan lebih terjangkau. 

Bila bisa memasak sendiri, bisa me-adjust ukuran baju sendiri dan membangun rumah sendiri, biaya hidup di Amerika akan lebih ekonomis. 

Berikut hitungan kasarnya (untuk single di gretater Los Angeles) selama satu tahun: 
1. Makanan 
  Masak sendiri :Bahan pangan $20/minggu, gas/listrik untuk memasak sangat murah, $3/minggu, sebulan $92
   Beli Makan 3x sehari (murahnya $8 sekali makan) = 3x$8x30 hari = $720 (belum buah dan snack, tidak termasuk tips)
 (Penghematan : $628/bulan)
2. Angkutan (asumsi jarak rumah-kantor 10 mile)
    Bus + sepeda : $70/bulan (perlu fisik yang sehat untuk bike to work) 
    Mobil : 2 x 10 x 0.545 (biaya commuter dari IRS)x 20 hari = $218 + asuransi $100 = $318, cicilan bulanan $300 = $618 (belum PKB dan parkir, resiko kecelakaan, dkk) 
 (Penghematan : $548/bulan) 
3. Pakaian 
   Baju tidak beli tiap bulan, biaya adjustment jahit sekitar $10 dolar. (kadang jadi lebih mahal dari bajunya sendiri)
4. Rumah 
   Harga rumah jadi sangat mahal, bahkan bila beli rumah rusak dan diperbaiki dengan membayar orang lain, masih tetap mahal. Bila dilakukan sendiri, dari beberapa referensi, biayanya sekitar 20-30% dari membayar tukang. Biaya membangun rumah rata-rata $200/sq ft. Memiliki rumah masih menjadi tantangan besar saat ini.  Untuk perhitungan kali ini, harga sewa untuk apartement studio sekitar $1200/bulan. 

Sekilas biaya hidup single dengan memiliki skill dasar :$16,344 (si A) versus (si B) $30,456 (hampir 2 kali lipat!). UMR di California untuk 2018 adalah $11/jam (gross). 

B perlu bekerja setidaknya 230 jam/bulan atau 11.5 jam sehari untuk bertahan hidup. A perlu bekerja 123 jam/bulan atau 6.2 jam sehari -masih wajar- 

 Bila si A dan B bekerja dengan income yang sama namun gaya hidup yang berbeda, dalam 10 tahun perbedaan tabungannya sebear $140,000! (sayangnya $140K belum cukup untuk membeli condominium/rumah di LA atau OC :-P, intinya kalau mau bisa beli rumah dalam 10 tahun, jangan terima gaji UMR! Berita bagusnya $140K bisa dipakai DP, lalu sebagian renovasi rumah dilakukan sendiri, biaya sewa apartemen untuk cicilan bulanan, masih masuk akal, bukan?) 

Kesimpulan sementara untuk mengakali biaya hidup di Amerika : 
1. Tinggal dalam jarak kurang dari10 mile ke tempat kerja, gunakan sepeda/transportasi umum.
2. Bila perlu kendaraan, beli mobil bekas yang reliable dan hatcback (ScI0N X/H0nD@ Fit/TOY**a Y*RI*, kalau perlu sedan, Coro*a adalah salah mobil bekas terlaris, reliable dan murah). Max mileage pemakaian adalah 200K, cari yang dibawah 50K miles. 
3. Masak sendiri, bawa bekal makan siang. 
4. Bentuk mindset bahwa mobil adalah sebuah kemewahan yang dipergunakan sesekali untuk kebutuhan penting, bukan untuk dipakai setiap hari.
5. Bentuk Mindset bahwa Credit/Hutang adalah hal emergency yang harus segera di atasi (budaya gaya hidup dengan hutang = normal, di negeri ini, waspadalah!)

Terkait dengan skill dasar, semoga kami bisa mengajarkan anak-anak kami kemampuan dasar bertahan hidup dengan mengenali Tuhannya, mahir membaca lingkungannya serta punya financial literacy (baca: bebas secara finansial sebelum 30 tahun). Kemampuan ini akan membuat mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dimanapun mereka nantinya bertebaran di muka bumi.


ReAD MoRE・・・

Thursday, 11 January 2018

Tentang Kartu Kredit & Hutang

Salah satu hal yang membuat shock di tahun pertama saya di amerika adalah betapa negara ini sangat mengandalkan kredit untuk kegiatan ekonomi. Kartu kredit sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jebakan kartu kredit dan system ini sudah beberapa kali terbukti gagal meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Kesenjangan ekonomi menjadi semakin lebar.
Tahun pertama harus dilalui dengan memutar otak agar bisa menyewa apartemen atau membeli kendaraan. Alasannya? Saya tidak punya kredit score. 

Yes, dengan system perekonomian yang berdasarkan hutang, bila anda belum pernah berhutang dan membayar transaksi terkait hutang, anda tidak punya kredit skor. Tidak punya skor itu lebih buruk daripada memiliki skor yang buruk. Wew. 

Saya pada akhirnya bisa menyewa apartemen dan membeli kendaraan dengan bunga 0%, tapi pilihan untuk itu tidak banyak. 

Saya tahu bahwa krisis finansial tahun 2008 diakibatkan oleh kredit subprime, gagal bayar sebab bank mengucurkan kredit untuk masyarakat yang sebenarnya tidak sanggup membayar angsuran. Namun saya baru ‘ngeh’ bahwa krisis itu disebabkan karena keserakahan bank! Bunga untuk pinjaman ditetapkan dari credit score seseorang, secara rata-rata 5%. Tapi bila terlambat membayar akan kena administration fee dan denda. Tahun 2008 pendapatan 60% keluarga amerika ditopang oleh 2 sumber, suami dan istri yang bekerja di luar rumah, dual income family sudah menjadi hal yang lumrah.

Keluarga menengah ke bawah biasanya bekerja dengan gaji yang dihitung per jam. Bila terjadi sesuatu dalam keluarga, maka salah satu suami atau istri harus sementara tidak bekerja untuk mengurus keluarganya. Taruh anak sakit, sumber pendapatan keluarga akan berkurang karena ibu tidak bekerja, sementara tagihan bulanan (rumah, mobil, asuransi mobil, kesehatan) harus dibayar. Pada suatu titik, tagihan tersebut tidak lagi mampu dibayar karena gap pendapatan dan pengeluaran makin lebar. Salah satu penyebabnya adalah orang cenderung mengambil barang termahal yang sanggup dicicil, bukan barang paling terjangkau yang bisa berfungsi sebagai kebutuhan. 

Dalam hal cicilan rumah, bank menawarkan re-financing : melunasi hutang pada bank lain, lalu peminjam mencicil ke bank baru. Bunganya? Naik secara rata2 jadi 15%. Dengan kata lain, pencicil rumah hanya terbebas dari satu hutang, ke hutang lain yang lebih jahat, hingga akhirnya meletus lah krisis dan para pencicil gagal bayar harus kehilangan rumahnya. 85% credit sub-prime ini di re-finance. Apakah ini membantu keluarga miskin? Orang tua, keluarga muda yang tidak paham dan kaum minoritas yang akses finansialnya terbatas adalah sasaran kredit jahat ini!

Dengan gagal bayar, kredit skor seseorang menjadi jelek dan akses untuk mendapat hutang sehat menjadi tertutup. Ada solusinya? Yes, kartu kredit bisa diberikan dengan bunga sangat tinggi, hingga 41% dalam setahun. Karena kebutuhan dasar harus dipenuhi, pilihan buruk ini pun diambil dan semakian dalamlah  hutang itu tergali….

Belum selesai sampai di situ, bila kredit skor sudah sedemikian buruk, sekarang bank tidak lagi memberikan akses. Buka rekening di bank? Tidak bisa. Sementara itu gaji biasanya diberikan bukan dalam uang tunai, namun cek. Bila seseorang tidak punya rekening di bank, dia harus mencairkan cek itu ke ‘lembaga pencair cek’ dengan membayar komisi dan fee lainnya. Biaya lagi.

Dengan system perekonomian yang semakin canggih, tidak mempunyai akses rekening elektronik/digital menjadi sebuah problema sendiri. Tidak bisa membeli sesuatu dengan uang tunai, maka harus membuat ‘kartu transaksi sendiri’ dengan lembag keuangan bukan bank. Anda memasukkan uang tunai, yang kemudian diubah menjadi uang elektronik. Dan tentu saja ini tidak gratis. Terbaca polanya? Cek –uang tunai—uang elektronik. Seseorang tanpa akses perbankan harus mengeluaran biaya ekstra untuk bisa melakukan transaksi ekonomi.

Data dari biro sensus pemerintah menunjukkan bahwa gaji rata2 keluarga amerika tahun 2011 sama dengan gaji pada tahun 1989, padahal tahun 2011 lebih banyak keluarga dengan dual income.
Sekolah di amerika gratis dari TK sampai SMA, namun wilayah dibagi  menjadi distrik2 sehingga para keluarga akan berebut untuk tinggal di distrik yang ranking sekolahnya bagus. Akibatnya, harga rumah dan sewa apartemen di distrik sekolah yang bagus akan meroket. Secara rata-rata naik 70% dalam 30 tahun. Saya membaca kontrak sewa property dalam 5 tahun, tiap tahun naik 5%. Bila sewa apartemen per bulan saat ini 1500 dolar, dalam 20 tahun akan naik dua kali lipat!

Seiring dengan meroketnya harga property, sebagian besar keluarga hanya akan mampu menyewa. Kepemilikan property akan berubah dari individu ke perusahaan-perusahaan besar, sehingga control terhadap kenaikan harga property semakin dikuasai konglomerasi raksasa. Siapa yang memiliki asset riil rumah itu? Saat krisis dan Saham yang berguguran, siapa yang sekarang menjadi pemiliknya?
Bayangkan bila pendapatan stagnan, mau tidak mau harus ada sumber pendapatan lain untuk kelurga. Istri harus bekerja, bukan pilihan.

Penegluaran untuk rumah 70% up, kendaraan harus punya dua, 12% dari income untuk membayar cc, dan….kelas menengah dalam satu tahun membayar 90 milyar dolar untuk bunga kartu credit! Bunganya saja.

Untuk mencapai taraf kehidupan yang setara dengan orang tuanya, generasi milenial harus bekerja dengan sangat-sangat-sangat keras. Status kelas menengah yang dahulu bisa dicapai dengan pendidikan SMA sekarang bahkan sulit digapai dengan gelar sarjana. Sementara itu biaya pendidikan tinggi juga teramat tinggi, memunculkan solusi perampas kesejateraan masa depan : student loan.

Lulus dengan gelar sarjana belum tentu langsung mendapat kerja, para mantan mahasiswa ini akhirnya kembali tinggal dengan orang tuanya, bekerja paruh waktu untuk membayar tagihan bulanannya. Mereka yang diterima bekerja sudah terkena beban cicilan student loan, membayar cicilan mobil dan paling besar biaya tempat tinggal. Tingginya biaya hidup membuat usia menikah menjadi semakin tua, solusi lain pun hadir : tinggal bersama tanpa ikatan, terkadang beberapa anak biologis terlahir dari pola hidup seperti ini, sebaliknya ada pula, menikah dengan status DINK, double income no kid(s).

Orang tua yang menikah dan memutuskan untuk mempunyai anak akhirnya harus terus ‘berlari’ untuk sekedar survive. Bisnis daycare pun berkembang pesat.

Satu tahun ini saya merasa sangat tidak nyaman dengan system yang berlaku di negeri ini. Di negara bagian tempat sekarang saya tinggal, biaya hidup termasuk yang paling tinggi di US. Orang-orang terasa ‘berlari terus’ untuk sekedar memompa jantung keuangan. Semua dihitung dengan materi  yang sarat perangkap di sana-sini, digelembungkan dengan hutang yang menghancurkan. 

Saya jadi ingat supernova yang cahayanya akhirnya sampai bumi dan bisa dilihat  dengan mata telanjang bulan Juni 2015 di Chile. Para ilmuwan menamakannya, ASASSN-15lh: Supernova paling benderang yang pernah tercatat dalam sejarah, kalau terjadi di galaksi kita, bumi bisa mengalami siang terus selama berminggu-minggu. Alhamdulillah, bintang ini berasal dari galaksi yang jauh.

Usia bintang yang mengalami supernova ini 3.80 milyar tahun cahaya. Artinya supernova terjadi 3.8 milyar tahun yang lalu dan kita baru bisa menyaksikannya di bumi, 3 tahun lalu…. MasyaAllah.

Saya teringat dengan hutang, dia terjadi sekarang, akibatnya bisa bertahun-tahun kemudian, kita kenal dengan krisis keuangan. Krisis ini bisa terjadi di negeri yang jauh dan kita hanya mendengar beritanya saja, tidak tahu dahsyatnya seperti apa.

Bila kita tidak punya uang, tapi perlu suatu barang, kita akan berhutang. Malu-malu pinjam ke orang, perlu saksi dan tercatat, bila mengikuti ajaran islam. Hutang adalah beban, tapi di negeri ini akses hutang semudah menggesek kartu dalam genggaman. Tidak punya kartu kredit? Jangan kuatir, begitu anda punya kredit skor yang bagus, kartu kredit diantarkan sampai pintu rumah anda, tawaran datang bertubi-tubi. 

Jangan sampai budaya hutang mendarah daging hingga orang sudah tidak tahu arti “uang” lagi. Financial literacy terasa penting sekali.


ReAD MoRE・・・