Saturday, 12 January 2008

Telaga Soklat di Tahun Baru

Sepertinya 26 Desember menjadi tanggal yang penuh arti bagi sebagian orang di Indonesia. Bencana Tsunami di Aceh terjadi pada tanggal itu dan tahun 2007 lalu banjir yang melanda kota kelahiranku berlangsung pada hari yang sama. Banjir pertama yang aku tahu di Ponorogo! Dengar-dengar banjir kali ini terjadi setelah hujan yang sangat deras turun terus-menerus sehari semalam sehingga sungai tak mampu lagi menampung volume air yang berlipat-lipat dari biasanya. Banjir akhir tahun kali ini nampaknya tak hanya melanda kota kecilku saja, wilayah lain di Indonesia sedang mendapat kiriman yang sama dari alam.


Alhamdulillah rumah tak sempat mencicipi rendaman air di akhir tahun. Dan yang sedikit senang dengan adanya bencana ini adalah adikku yang menyamar sebagai sukarelawan ke tempat pengungsi akibat sekolah diliburkan karena jalan ke beberapa daerah putus oleh banjir atau tanah longsor. Kesempatan menyaksikan fenomena yang jarang terjadi di kota kecil. Huehe huehe huehehehehehH...


Banjir pertama yang aku kenal tentunya ada dalam kisah Nabi Nuh. Bukan hendak menyamakan bahwa banjir diturunkan sebagai hukuman melainkan lebih pada kesigapan manusia menghadapi bencana. Nah loh, bukannya ada jurusan planologi alias tata kota yang bisa mengatur sebuah kota lebih terstruktur? Teknik sipil yang memilih materi tepat untuk bangunan dan teknik arsitektur yang membuat sosoknya nyaman dipandang mata?

Jujur saja, untuk suasana dalam kota, aku cukup bisa berbangga dengan kota kecilku. Jalannya lumayan lebar dan hampir di setiap persimpangan jalan ada semacam tugu yang cukup artistik. Kenapa infrastruktur kota menjadi penting? Tentunya untuk menjamin ketentraman dan kenyamanan hidup masyarakatnya dong. Lebih dari 1000 tahun yang lalu Khalifah Umar bin Khattab pernah memerintahkan Gubernur Mesir Amr bin Ash agar 1/3 dari APBN untuk membangun sungai buatan dari Fustat (sekarang Kairo) hingga pelabuhan Suez untuk memudahkan arus barang antara Hijaz dan Mesir. Jaman itu saja sudah dirasakan pentingnya peran infrastruktur kota dalan mendukung kegiatan niaga yang menjadi pokok kegiatan ekonomi masyarakat waktu itu.


Tokyo, kota aku tinggal selama setahun pertama di Jepang, juga punya teknik khusus menghadapi ancaman banjir. Apa jadinya kalo pusat pemerintahan, ekonomi, dan mode dengan penduduk terpadat se-Jepang terendam air? Penanggulangan banjir bisa dilakukan dengan pelebaran dan pendalaman sungai. Namun hal ini cukup susah dilakukan karena wilayah Tokyo yang sempit dan padat penduduk . Tentunya terbayang berapa harga tanah yang harus dibebaskan untuk pelebaran sungai. Solusinya, pemerintah membuat terowongan bawah tanah untuk penampungan air di bawah jalan raya. Biaya pembuatannya menghabiskan dana sekitar 8,24 triliun rupiah. Mahal? Memang, namun kerugian setiap kali banjir bandang juga dalam hitungan ratusan milyar. Belum ditambah trauma psikis dan kerugian non-material lainnya.


Lalu bagaimana dengan Ponorogo? Anak kecil juga tahu kalee... masak mau membandingkan kota kecil ini dengan ibukota Jepang. Hanya saja aku berharap pemerintah bisa bertindak tepat guna untuk mengatasi, menaggulangi dan mencegah ancaman banjir agar tidak menyakiti rakyat kecil. Lain cerita dengan Jakarta. Kota yang menjadi tempat perputaran 80% uang di Indonesia ini seharusnya bisa dikelola dengan lebih baik, tidak macet dan anti banjir.
Ahh, mumpung ingat. Ada berita kalau filmnya James Bond mau mengadakan syuting di Indonesia, cuman tidak jadi karena urusan birokrasi yang -tahu sendiri lahhhh-. Sama dengan kasusu pengembangan teknologi semi konduktor, dengan penyebab tak terbeda, akhirnya tahun 80-an, investasi itu ditanam di Malaysia. Dalam industri komputer, pabrik prosesor adalah industri strategis, di Penang, Intel terbesar, akhirnya menarik banyak perusahaan komputer lainya seperti IBM, HP, DELL, Western Digital. Nah loh...


Banjir yang berlangsung mulai surut juga setelah tahun baru 1429 hijriah. Di kota kecilku tengah berlangsung Grebeg Suro dan Festival Reog Nasional ke-14 mulai 5 hingga 10 Januari 2008 (udah selesai dunk, hikz).Semoga saja Pemasukan daerah dari kegiatan itu bisa dinikmati kembali oleh masyarakat. ^__^

2 comments:

sachroel said...

gimana laptop nya sun?
terasa cepat nya nggak?
he...he...

Kujaku said...

terasa lahh. Sip!! Udah bisa kerja di kamar deh. hue hue hue...