Saturday, 17 April 2010

Sepanjang Islamic Center - Fukiage

Saya dihentikan polisi dalam perjalanan pulang dari islamic center. Intinya Polisi itu ingin memastikan apakah sepeda yang saya kendarai bukanlah barang curian. Sayangnya, saya tidak membawa serta surat bukti kepemilikan sepeda dan HP saya tertinggal di apartemen. Deuh. Sebenarnya nomor registrasi sepeda dan data kepemilikan bisa diakses secara online, namun lokasi saya ditangkap bukanlah kecamatan dimana sepeda yang saya kendarai terdaftar. Ribet deh...

Tiba-tiba saja Suhraj, brother dari Uzbekistan berhenti melihat saya ditahan polisi.
"Are you OK?"
"Yes. I'm fine. I just forgot to switch on the lamp of my bike, then this officer stopped me."

"Orang ini teman anda?" Polisi itu bertanya kepada Suhraj.
"Ya. Teman saya di Nagoya University." Suhraj menjawab dengan tegas.

Eh, karakter umum polisi Jepang di jalan muncul. Menghindari keributan. Interogasi berakhir dan saya bisa mengayuh kembali sepeda saya menuju rumah. Alhamdulillah. Sebelumnay saya membaca soal diskrimasi aturan terhadap warga negara asing di Jepang : asas praduga BERSALAH terhadap orang asing. Jadi, bila ada orang asing disinyalir berbuat salah, dia dianggap bersalah sampai terbukti tidak. Saya tidak kaget karena sudah sering dihentikan oleh polisi preman yang memeriksa kelengkapan Alien Card dan legalitas keberadaan saya di Jepang.

Dengan munculnya Suhraj, kondisi jadi dua lawan satu. Pak Polisi sepertinya jadi malas mengusut lebih lanjut. Hehe. Bisa pulang daahhh~~~
Dalam perjalanan pulang inilah, Suhraj tiba-tiba banyak bercerita tentang hidupnya. Termasuk Uzbekistan, idealisme dan cita-citanya.


Suhraj lulus dari Fakultas hukum dalam usia 20 tahun, bekerja di instansi pemerintah selama 3 tahun kemudian memperoleh beasiswa untuk belajar di Jepang.

"Orang Jepang itu unik yah. Di negara saya saya bertemu dengan orang Rusia, guru bahasa Inggris saya orang Amerika, namun tak ada yang karakternya seperti orang Jepang."

Ya. Dalam perjalanan ini saya lebih banyak mendengar. Suhraj terus bercerita tentang nilai-nilai islam yang ternyata tidak dijalankan oleh sebagian muslim di negaranya. Praktik politik yang kotor, aturan yang memberatkan rakyat, birokrsi yang brengsek, dll. Sementara itu orang Jepang yang tidak masuk dalam golongan agama samawi manapun ternyata mampu menerapkan aturan-aturan yang baik dalam keseharian mereka. Meskipun kadang-kadang berlebihan sih :-D

Intinya kami -Dia dan saya- punya cita-cita untuk kembali ke negara masing-masing, berkontribusi untuk membuat kondisi yang lebih baik. Tidak semua orang memperoleh kesempatan ke luar negeri, kita adalah orang yang terpilih. Begitu katanya. Yah, saya lupa. Dulu saya pernah pintar. Dulu saya pernah mengalahkan banyak orang untuk bisa lolos seleksi ke Jepang. Dulu saya termasuk orang yang terpilih, setidaknya terpilih untuk menuntut ilmu di negeri sakura ini. Negeri impian yang aman.

Suhraj lalu menceritakan program master yang tengah digelutinya sekarang. Dia banyak bersentuhan dengan para profesional di dunia kerja, orang-orang yang masuk ke Graduate School karena punya tujuan dalam dunia riil. Bukan seperti kebanyakan orang yang hanya ingin memperoleh gelar atau sedikit memanjakan diri di balik pagar universitas. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang bersemangat, yang ingin membuat peribahan yang baik di Jepang. Dia berbinar-binar karena meskipun kuliahnya berat, dia yakin bahwa ilmu yang akan dia peroleh nantinya bisa bermanfaat. Bukan sekedar teori yang berubah menjadi transkip nilai belaka...

Astaghfirullahaladzim. Saya menyesal. Saya sudah berniat untuk kuliah dengan santai dan biasa saja. Mata kuliah susah dan merepotkan dihindari, ambil yang santai tanpa ujian tulis. Untungnya batas akhir pendaftaran maat kuliah yang akan diambil semester ini masih minggu depan. Alhamdulillah ya Allah, engkau pertemukan saya dengan brother ini. Sepertinya saya akan memasukkan beberapa mata kuliah "merepotkan" yang sempat saya coret dari daftar pilihan. Ganbarimasu!! --> Diniatkan untuk meningkatkan kualitas diri dengan ilmu demi perbaikan negeri. Ternyata saya masih punya idealisme...

Rival sekaligus sahabat saya sudah jauh mendalami dunia robot hingga menjadi wakil Jepang dalam kejuaran dunia tahun lalu dan sekarang sedang bersiap untuk conference di Alaska sekaligus mempersiapkan proyek robot selanjutnya. Yay. Saya sudah kalah langkah. Dia mulai meyerap ilmu-ilmu terapan yang akan bisa dia bawa kemanapun pergi. Saatnya saya pun harus ambil bagian dalam bidang saya. Ayo Sunu, Dilarang nglokro!!!

2 comments:

Erma Suwastika said...

Alien card???

Sering2 diupdate ya blognya!!! :p
Kisah2 di luar negerinya sangat menarik...

sunuhadi said...

Yup. Tepatnya Alien Registration Card. Terjemahan bahasa Inggris untuk KTP orang asing di Jepang.

Terima kasih sudah mampir ^_^